Pertanyaan:
Ada pernyataan jahil dari pihak tertentu dengan katakan dalam Al-Qur’an Allah bukan Tuhan tapi Rab dan Dalam Quran Tidak Ada Allah disebut Tuhan. Benarkah dalam Al-Qur’an Allah bukan Tuhan tapi disebut Rabb, sehingga Allah sebenarnya bukan Tuhan (Ilah), melainkan hanya Rabb? Bukankah Rabb dan Ilah mempunyai makna yang berbeda dalam bahasa Arab dan dalam konsep tauhid Islam?
Jawaban:
Tidak benar jika dikatakan bahwa Allah bukan Tuhan hanya karena Al-Qur’an banyak menyebut-Nya dengan istilah Rabb, atau bahwa Al-Qur’an tidak pernah menyatakan Allah sebagai Tuhan. Yang perlu dibedakan adalah istilah dan cakupan maknanya.
Rabb merupakan istilah yang menekankan Allah sebagai Pencipta, Pemilik, Penguasa, Pemelihara, dan Pengatur seluruh makhluk. Sedangkan Ilah menekankan hak untuk disembah dan diibadahi. Dengan demikian, Rabb menjelaskan siapa yang menciptakan, memiliki, menguasai, dan mengatur, sementara Ilah menjelaskan siapa yang menjadi satu-satunya sesembahan yang benar.
Al-Qur’an sendiri menghubungkan kedua konsep tersebut dengan Allah. Dalam QS. Al-A‘raf: 54 disebutkan: إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ — “Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah.” Ini menunjukkan bahwa Rabb yang dimaksud adalah Allah. Sementara itu, dalam QS. Ṭāhā: 14 Allah berfirman: إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا — “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku.”
QS. Al-Baqarah: 163 juga menegaskan: وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ — “Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Jadi, Al-Qur’an tidak hanya menggunakan istilah Rabb untuk Allah, tetapi juga secara eksplisit menggunakan konsep Ilah untuk menegaskan bahwa hanya Allah yang merupakan Tuhan yang berhak disembah.
Karena itu, bantahan terhadap anggapan bahwa “Allah hanya Rabb, bukan Tuhan” sangat jelas: Al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa Rabb manusia adalah Allah dan bahwa tidak ada Ilah selain Allah. Sebaliknya, jika seseorang menganggap Rabb dan Ilah sebagai dua Tuhan yang berbeda, hal itu juga keliru, karena keduanya menunjuk kepada Allah Yang Maha Esa, tetapi dengan penekanan makna yang berbeda.
Dalam konteks tauhid, perbedaan ini menjadi penting. Mengakui Allah sebagai Rabb berarti mengakui bahwa Dia adalah Pencipta, Pemilik, Penguasa, Pemelihara, dan Pengatur seluruh alam. Sedangkan mengakui Allah sebagai Ilah berarti mengesakan-Nya dalam ibadah dan tidak memberikan ibadah kepada selain-Nya.
Bahkan, Al-Qur’an menunjukkan bahwa seseorang dapat mengakui Allah sebagai Pencipta dan Penguasa tetapi masih melakukan kesyirikan dalam ibadah. Karena itu, pengakuan terhadap Rububiyyah saja tidak identik dengan pengesaan Allah dalam Uluhiyyah. Tauhid menuntut keduanya: Allah diakui sebagai Rabb sekaligus diesakan sebagai Ilah.
Al-Qur’an secara sangat tegas menyebut Allah sebagai Ilah. Dalam QS. Ṭāhā 20:14 Allah berfirman: إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا — “Sesungguhnya Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku.” Ayat ini secara langsung menghubungkan nama Allah dengan konsep Ilah, yaitu satu-satunya yang berhak disembah.
QS. Al-Baqarah 2:163 juga sangat jelas: وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ — “Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada tuhan selain Dia.” Jadi, Al-Qur’an sendiri menyebut Allah sebagai Ilah dan meniadakan ilah yang berhak disembah selain-Nya.
Pada saat yang sama, Allah disebut Rabb. Pembukaan Al-Fatihah berbunyi: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ — “Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.” Dengan demikian, ayat pertama Al-Fatihah setelah basmalah menyebut Allah dan Rabb al-‘Alamin dalam satu rangkaian.
Jadi, Allah, Rabb, dan Ilah tidak boleh dipertentangkan seperti tiga istilah untuk tiga entitas. Allah adalah nama khusus bagi Tuhan Yang Maha Esa; Rabb menjelaskan bahwa Dia adalah Penguasa, Pencipta, Pemelihara dan Pengatur; sedangkan Ilah berkaitan dengan pihak yang menjadi sesembahan yang benar.
QS. Al-A‘raf 7:54 bahkan menggabungkan konsep tersebut: إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ — “Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah.” Ayat itu kemudian menjelaskan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi serta memiliki penciptaan dan perintah.
QS. Al-An‘am 6:162 juga menggabungkan Allah dan Rabb sekaligus: لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ — “untuk Allah, Tuhan semesta alam.” Ayat berikutnya menegaskan, لَا شَرِيكَ لَهُ — “tidak ada sekutu bagi-Nya.”
Bahkan QS. Al-An‘am 6:164 memberikan argumentasi yang sangat eksplisit: أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ — “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu?” Artinya, mencari Rabb selain Allah justru ditolak Al-Qur’an.
Dari sini terlihat bahwa Rabb bukan lawan dari Allah. Kalimat رَبُّكُمُ اللَّهُ berarti “Tuhanmu adalah Allah”, sedangkan إِلَٰهٌ وَاحِدٌ menunjukkan bahwa Dia adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
Makna Rabb memiliki cakupan yang luas. Dalam konteks Al-Qur’an, Allah adalah Pencipta, Pemilik, Penguasa, Pemelihara dan Pengatur makhluk. QS. Az-Zumar 39:62 menyatakan: اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ — “Allah pencipta segala sesuatu.”
Sedangkan Ilah menegaskan hak Allah untuk disembah. Karena itu ungkapan لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ bukan berarti “tidak ada Rabb selain Allah” saja, tetapi menegaskan bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. Prinsip inilah yang menjadi inti tauhid uluhiyyah.
Ada pula hubungan antara Rabb dan Ilah dalam Al-Qur’an yang sangat indah. Dalam QS. An-Nas, manusia diperintahkan berlindung kepada Rabb an-Nas, Malik an-Nas, dan Ilah an-Nas—Tuhan manusia, Raja manusia, dan Tuhan/Sesembahan manusia. Ketiganya menunjuk kepada Allah yang satu, bukan tiga Tuhan.
Karena itu, mengatakan “Allah hanya Rabb, bukan Ilah” bertentangan langsung dengan QS. Ṭāhā 20:14 dan QS. Al-Baqarah 2:163. Kedua ayat tersebut secara eksplisit menggunakan konsep Ilah untuk Allah. Sebaliknya, mengatakan “Allah hanya Ilah, bukan Rabb” juga bertentangan dengan banyak ayat, termasuk Al-Fatihah 1:2 dan Al-A‘raf 7:54.
Dalam penjelasan tafsir, perbedaan istilah ini membantu memahami dua sisi tauhid. Rububiyyah berkaitan dengan pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta dan Pengatur, sedangkan uluhiyyah berkaitan dengan mengesakan Allah dalam ibadah. Tafsir terhadap QS. Al-A‘raf 7:54 menjelaskan hubungan Rabb dan Ilah tersebut sebagai dua aspek yang tidak memisahkan Allah menjadi dua konsep ketuhanan yang berbeda.
Kesimpulannya, pernyataan “Allah bukan Tuhan, tetapi hanya Rabb” adalah kekeliruan istilah. Al-Qur’an sendiri menyatakan رَبُّكُمُ اللَّهُ — “Tuhanmu adalah Allah”, dan إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا — “Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku.” Jadi Allah adalah Rabb sekaligus Ilah: Dia Rabb seluruh alam sebagai Pencipta, Pemilik dan Pengatur, dan Dia satu-satunya Ilah yang berhak disembah.
Kesimpulannya secara teologis, Allah bukan “sekadar Rabb” dan bukan pula “sekadar Ilah”; Allah adalah Rabb seluruh alam sekaligus Ilah Yang Maha Esa. Rabb menunjukkan kesempurnaan kekuasaan, kepemilikan, penciptaan, dan pengaturan-Nya, sedangkan Ilah menunjukkan keesaan-Nya sebagai satu-satunya yang berhak disembah. Karena itu, mempertentangkan Rabb dengan Ilah sehingga seolah-olah Allah bukan Tuhan merupakan kekeliruan dalam memahami istilah Al-Qur’an. Justru kedua istilah tersebut saling melengkapi dan bersama-sama menegaskan tauhid Allah sebagai satu-satunya Tuhan, Pencipta, Penguasa, dan sesembahan yang benar.














Leave a Reply