AL-QUR’AN, GEOLOGI, DAN AYAT-AYAT KAUNIYAH
Membaca Tanda-Tanda Kebesaran Allah melalui Bumi, Gunung, dan Alam Semesta
Dr Widodo Judarwanto, ped
Al-Qur’an mengajak manusia memperhatikan langit, bumi, gunung, air, dan berbagai fenomena alam sebagai tanda-tanda (āyāt kauniyyah) kebesaran Allah. Salah satu ulama kontemporer yang secara serius mengembangkan kajian hubungan Al-Qur’an dan ilmu kebumian adalah Zaghloul Raghib El-Naggar, seorang ahli geologi yang banyak menulis tentang scientific interpretation Al-Qur’an. Ia menghubungkan sejumlah ayat dengan pengetahuan modern, antara lain QS Adz-Dzāriyāt [51]:47 tentang langit yang “diluaskan” dan QS An-Naba’ [78]:6–7 tentang gunung sebagai awtād atau pasak. Kajian kontemporer menunjukkan bahwa hubungan Al-Qur’an dan sains menarik untuk diteliti, tetapi harus dilakukan secara hati-hati: tafsir ilmiah tidak boleh memaksakan teori modern ke dalam ayat, karena makna ayat harus terlebih dahulu dipahami melalui bahasa, konteks, dan tafsir yang معتبر. Tafsir klasik terhadap QS 51:47, misalnya, tidak secara spesifik menjelaskan teori ekspansi alam semesta modern, sedangkan penelitian geologi modern mengenai isostasi menunjukkan bahwa ketinggian dan struktur pegunungan memang berkaitan dengan ketebalan kerak serta keseimbangan gaya apung di bawah permukaan. Dengan demikian, Al-Qur’an dapat menjadi sumber tadabbur dan inspirasi penelitian tanpa menjadikan setiap teori ilmiah sebagai “pembuktian” tunggal terhadap wahyu.
Hubungan antara wahyu dan ilmu pengetahuan merupakan salah satu bidang yang terus berkembang dalam pemikiran Islam kontemporer. Al-Qur’an tidak diturunkan sebagai buku teks geologi, astronomi, biologi, atau fisika, tetapi berulang kali mengarahkan manusia untuk memperhatikan ciptaan Allah dan menggunakan akal untuk merenungkannya. Karena itu, ayat-ayat tentang alam dapat menjadi jembatan antara iman, tafakkur, dan penelitian ilmiah. Zaghloul El-Naggar merupakan salah satu tokoh yang paling dikenal dalam pendekatan tafsīr ‘ilmī, khususnya dalam menghubungkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan geologi dan ilmu-ilmu alam. Karyanya tentang konsep geologi gunung secara khusus membahas hubungan antara deskripsi gunung dalam Al-Qur’an dan pengetahuan kebumian. Namun, kajian ilmiah yang lebih baru juga mengingatkan bahwa pendekatan tersebut harus metodologis: kesesuaian antara ayat dan temuan sains dapat menjadi bahan refleksi, tetapi tidak selalu berarti bahwa Al-Qur’an sedang memberikan formula ilmiah secara langsung.
Gunung sebagai “Pasak”: Antara Al-Qur’an dan Geologi
Allah berfirman:
- وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا
- “Dan gunung-gunung sebagai pasak.” QS An-Naba’ [78]:7
Ayat ini menggambarkan gunung dengan istilah awtād, bentuk jamak dari watad, yang berarti pasak atau sesuatu yang ditancapkan. Dalam konteks ayat, gunung disebut bersama bumi sebagai bagian dari keteraturan ciptaan Allah.
Tafsir klasik memberikan tekanan utama pada fungsi gunung sebagai bagian dari kestabilan bumi bagi kehidupan manusia. Al-Ṭabari, misalnya, menjelaskan awtād sebagai pasak bagi bumi agar tidak berguncang bersama manusia.
Dalam perspektif geologi modern, gunung bukan sekadar bentuk yang terlihat di permukaan. Struktur kerak bumi memiliki variasi ketebalan dan kepadatan, sedangkan konsep isostasi menjelaskan keseimbangan gravitasi dan daya apung kerak terhadap material di bawahnya. Penelitian tahun 2025 mengenai Pegunungan Canadian Cordillera menunjukkan bahwa hubungan antara ketinggian permukaan, ketebalan kerak, kepadatan, dan dukungan dari bagian bawah kerak merupakan persoalan geologi yang kompleks.
Di sinilah ayat tersebut dapat menjadi bahan tadabbur yang menarik. Namun, secara akademik perlu dibedakan antara makna tafsir dan interpretasi ilmiah modern. Mengatakan bahwa kata awtād secara pasti merupakan uraian teknis tentang mekanisme isostasi adalah langkah yang lebih jauh daripada yang diberikan oleh tafsir klasik. Pendekatan yang lebih hati-hati adalah mengatakan bahwa deskripsi Al-Qur’an mengenai gunung sebagai “pasak” memiliki kemungkinan reflektif yang menarik ketika dibandingkan dengan fakta bahwa struktur gunung mempunyai dimensi bawah permukaan yang jauh lebih kompleks daripada yang tampak dari permukaan.
Langit yang Dilapangkan: QS Adz-Dzāriyāt [51]:47
Allah berfirman:
- وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ
- “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan, dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” QS Adz-Dzāriyāt [51]:47
Ayat ini sering dikaitkan oleh ulama kontemporer dengan konsep ekspansi alam semesta. Kata lamūsi‘ūn menjadi salah satu fokus pembahasan karena dapat dipahami dalam makna “meluaskan” atau “memberikan keluasan”. Sejumlah kajian kontemporer tentang pemikiran El-Naggar melihat ayat ini memiliki korespondensi dengan konsep alam semesta yang mengembang.
Akan tetapi, penelitian tafsir menunjukkan perlunya kehati-hatian. Tafsir al-Ṭabari menjelaskan bi-aydin sebagai “dengan kekuatan”, sementara mengenai lamūsi‘ūn terdapat penjelasan yang berkaitan dengan kemampuan, keluasan, atau kekuasaan Allah. Tafsir Ibn Kathir juga menekankan keluasan dan kemampuan Allah dalam penciptaan langit.
Karena itu, secara ilmiah lebih tepat mengatakan bahwa ayat tersebut dapat dibaca secara harmonis dengan fakta ekspansi alam semesta, bukan bahwa tafsir klasik secara eksplisit telah mengajarkan teori kosmologi modern. Perbedaan ini penting agar umat tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai sekadar “buku sains”, melainkan tetap melihatnya sebagai kitab hidayah yang mengarahkan manusia untuk mengenal kebesaran Pencipta melalui tanda-tanda ciptaan-Nya.
El-Naggar dan Tafsir Ilmiah Al-Qur’an
Zaghloul El-Naggar memberikan kontribusi penting dalam memperkenalkan pendekatan tafsīr ‘ilmī kepada masyarakat Muslim modern. Latar belakangnya sebagai ahli geologi membuat perhatian khususnya tertuju pada bumi, gunung, struktur alam, air, dan fenomena kebumian. Karyanya tentang konsep geologi gunung dalam Al-Qur’an secara eksplisit berusaha mempertemukan teks wahyu dengan pengetahuan geologi.
Kajian akademik tahun 2026 juga menunjukkan bahwa karya El-Naggar masih menjadi objek penelitian dalam studi Al-Qur’an kontemporer, khususnya mengenai āyāt kauniyyah dan hubungan antara tafsir dengan pengetahuan ilmiah modern.
Namun, pendekatan ilmiah terhadap Al-Qur’an memiliki tantangan metodologis. Sains berkembang melalui observasi, pengujian, koreksi, dan perubahan teori; sedangkan wahyu memiliki kedudukan epistemologis yang berbeda. Karena itu, jika sebuah teori ilmiah berubah, ayat Al-Qur’an tidak boleh dianggap ikut berubah. Kajian kontemporer bahkan mengingatkan adanya risiko concordism, yaitu kecenderungan menyesuaikan makna ayat secara berlebihan agar selalu identik dengan teori ilmiah tertentu.
EMPAT INSPIRASI UNTUK UMAT
Pertama — Iman Tidak Memusuhi Ilmu
- Al-Qur’an justru mendorong manusia untuk memperhatikan alam. Seorang Muslim tidak perlu takut terhadap ilmu pengetahuan. Semakin luas pengetahuan tentang bumi dan alam semesta, semakin besar peluang manusia menyadari keteraturan ciptaan Allah. Ilmu menjadi sarana mengenal tanda-tanda-Nya, sementara iman memberikan arah dan makna terhadap ilmu.
Kedua — Tadabbur Harus Melahirkan Penelitian
- Ayat tentang gunung tidak seharusnya berhenti pada kekaguman. Ia dapat mendorong generasi Muslim mempelajari geologi, tektonik lempeng, gempa bumi, vulkanologi, hidrologi, dan perubahan lingkungan. Al-Qur’an mengajak manusia melihat; ilmu mengajarkan manusia bagaimana meneliti apa yang dilihat.
Ketiga — Jangan Memaksakan Sains ke Dalam Wahyu
- Kecintaan kepada Al-Qur’an justru menuntut ketelitian. Tidak semua teori ilmiah harus dicari pembenarannya dalam ayat. Tafsir harus memperhatikan bahasa Arab, konteks ayat, penjelasan ulama, kemudian membuka ruang dialog dengan ilmu pengetahuan. Dengan cara ini, umat terhindar dari dua ekstrem: menolak ilmu karena dianggap tidak religius, atau memaksakan setiap teori sains menjadi mukjizat Al-Qur’an.
Keempat — Dari Kekaguman Menuju Ketundukan
- Tujuan akhir mempelajari gunung, bumi, dan alam semesta bukan sekadar mengatakan, “Al-Qur’an sudah menjelaskan semuanya.” Tujuan yang lebih dalam adalah sampai pada kesadaran: alam ini tidak sia-sia, manusia tidak diciptakan tanpa tujuan, dan ilmu seharusnya membawa manusia semakin mengenal, mengagungkan, dan tunduk kepada Allah.
Penutup
Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk membaca dua kitab sekaligus: kitab wahyu dan kitab alam. Gunung, bumi, langit, dan seluruh keteraturan kosmos adalah tanda-tanda yang mengundang akal untuk berpikir dan hati untuk tunduk. Kajian Zaghloul El-Naggar memberikan salah satu contoh penting bagaimana ilmu geologi dapat digunakan untuk memperluas tadabbur terhadap ayat-ayat kauniyah, sementara penelitian modern mengingatkan agar hubungan wahyu dan sains dibangun dengan disiplin ilmiah dan kehati-hatian tafsir. **Semakin dalam manusia menggali bumi, seharusnya semakin dalam pula ia menggali kesadaran tentang kebesaran Allah; sebab ilmu yang benar bukan hanya membuat manusia mengetahui bagaimana alam bekerja, tetapi membuatnya semakin rendah hati di hadapan Sang Pencipta.**















Leave a Reply