MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

MUHAMMADIYAH DAN SALAFI DALAM PERSPEKTIF ISLAM DAN SEJARAH, Berbeda manhaj, Berlomba dalam Kebaikan.

MUHAMMADIYAH DAN SALAFI DALAM PERSPEKTIF ISLAM DAN SEJARAH. Titik Temu, Perbedaan, dan Pentingnya Adab al-Ikhtilaf dalam Merawat Ukhuwah Islamiyah

Muhammadiyah dan Salafi merupakan dua corak gerakan Islam yang memiliki perhatian kuat terhadap Al-Qur’an dan Sunnah, pemurnian kehidupan beragama, pendidikan, dakwah, dan pembinaan akhlak, tetapi berkembang melalui konteks sejarah, kelembagaan, dan tradisi intelektual yang berbeda. Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada 1912 sebagai gerakan pembaruan Islam yang menekankan pemurnian akidah dan ibadah, pendidikan, pelayanan sosial, serta pengembangan kehidupan masyarakat. Sementara itu, Salafi merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan corak pemikiran dan dakwah yang menekankan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman generasi awal Islam (al-salaf al-shalih), dengan perhatian besar terhadap tauhid dan pemurnian praktik keagamaan. Keduanya memiliki sejumlah titik temu fundamental, namun juga terdapat perbedaan dalam pendekatan keilmuan, struktur gerakan, metode memahami persoalan fikih, dan respons terhadap sejumlah praktik keagamaan. Artikel ini berargumen bahwa perbedaan tersebut perlu ditempatkan dalam kerangka adab al-ikhtilaf, sehingga tidak berkembang menjadi prasangka dan konflik. Persamaan dalam fondasi keimanan dan kepentingan dakwah dapat menjadi basis kerja sama, sedangkan perbedaan dapat dipelajari sebagai bagian dari dinamika intelektual Islam.

Kata kunci: Muhammadiyah, Salafi, Islam, Sunnah, tajdid, ukhuwah Islamiyah, ikhtilaf.

Pendahuluan

Sejarah Islam menunjukkan bahwa keragaman pemikiran merupakan bagian dari perkembangan intelektual umat. Perbedaan dalam memahami teks, metode istinbat, dan praktik keagamaan telah hadir sejak masa awal sejarah Islam dan terus berkembang sesuai konteks sosial dan geografis. Dalam konteks Indonesia modern, Muhammadiyah dan komunitas Salafi merupakan dua fenomena penting yang sama-sama memiliki perhatian besar terhadap pemurnian dan pembinaan kehidupan Islam. Perbedaan di antara keduanya sering kali tampak lebih menonjol daripada persamaannya, terutama ketika pembahasan diarahkan pada persoalan praktik keagamaan. Padahal, apabila dikaji secara lebih komprehensif, terdapat banyak titik temu dalam akidah, ibadah, perhatian terhadap Al-Qur’an dan Sunnah, pendidikan, dakwah, dan pembinaan moral. Oleh sebab itu, kajian mengenai Muhammadiyah dan Salafi tidak seharusnya berhenti pada pencarian perbedaan, tetapi perlu diarahkan kepada pemahaman yang objektif mengenai sejarah, karakter keilmuan, persamaan, perbedaan, serta kemungkinan membangun hubungan yang lebih konstruktif.

Muhammadiyah: Latar Sejarah dan Karakter Gerakan

  • Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada 18 November 1912. Gerakan ini lahir dalam konteks masyarakat Muslim Indonesia yang menghadapi berbagai persoalan keagamaan, pendidikan, sosial, dan perubahan akibat kolonialisme serta modernisasi. Ahmad Dahlan mendorong umat untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sekaligus membangun sistem pendidikan dan pelayanan sosial yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Muhammadiyah kemudian berkembang menjadi gerakan Islam modern yang bergerak dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dakwah, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat. Ciri penting Muhammadiyah adalah semangat tajdid, yaitu pembaruan kehidupan keislaman melalui pemurnian dalam persoalan akidah dan ibadah serta pengembangan pemikiran dan amal sosial dalam kehidupan masyarakat.
  • Dalam perkembangannya, Muhammadiyah membangun ribuan lembaga pendidikan dan berbagai amal usaha sosial. Hal tersebut menunjukkan bahwa pembaruan Islam dalam Muhammadiyah tidak hanya diwujudkan dalam diskursus keagamaan, tetapi juga dalam institusi sosial yang konkret. Sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti sosial, lembaga zakat, dan berbagai aktivitas kemanusiaan menjadi bagian dari ekspresi keberagamaan Muhammadiyah. Karena itu, Muhammadiyah dapat dipahami sebagai gerakan Islam yang memadukan pemurnian keagamaan dengan transformasi sosial.

Salafi: Pengertian dan Perkembangan Historis

  • Istilah Salafi berkaitan dengan kata salaf, yang secara umum merujuk kepada generasi awal umat Islam yang dipandang sebagai generasi teladan, terutama para sahabat, tabi‘in, dan tabi‘ut tabi‘in. Dalam penggunaan kontemporer, Salafi merujuk pada corak pemikiran dan dakwah yang berusaha mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman generasi awal tersebut. Perhatian terhadap tauhid, Sunnah, dan pemurnian praktik keagamaan menjadi ciri yang sering menonjol dalam berbagai komunitas Salafi.
  • Secara historis, gagasan untuk kembali kepada pemahaman generasi awal memiliki akar panjang dalam tradisi Sunni. Sejumlah pemikir seperti Ibn Taymiyyah dan Ibn al-Qayyim memberikan pengaruh penting terhadap perkembangan pemikiran yang kemudian menjadi salah satu sumber inspirasi bagi gerakan Salafi. Pada periode modern, gerakan pembaruan di Jazirah Arab yang berkaitan dengan Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab juga memiliki hubungan historis dengan perkembangan salah satu bentuk Salafisme modern. Namun, istilah Salafi pada masa kini mencakup berbagai komunitas dan kecenderungan, sehingga tidak tepat menganggap seluruh kelompok Salafi memiliki karakter yang identik dalam semua persoalan.

Titik Temu Muhammadiyah dan Salafi

  • Secara teologis, terdapat sejumlah titik temu yang penting antara Muhammadiyah dan Salafi. Keduanya menekankan pentingnya tauhid, menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam, memberikan perhatian kuat terhadap Sunnah Rasulullah ﷺ, mendorong pelaksanaan ibadah, serta mengajak umat meninggalkan kemusyrikan dan kemaksiatan. Keduanya juga memiliki perhatian terhadap pendidikan agama, dakwah, pembinaan akhlak, dan upaya meningkatkan kualitas kehidupan umat. Titik temu ini penting karena menunjukkan bahwa kedua corak tersebut memiliki wilayah persamaan yang luas meskipun memiliki perbedaan dalam metode dan ekspresi keagamaan.

Tabel Persamaan Muhammadiyah dan Salafi

Aspek Muhammadiyah Salafi Titik Temu
Tauhid Menekankan pemurnian tauhid Menekankan pemurnian tauhid Sama-sama menempatkan tauhid sebagai fondasi Islam
Al-Qur’an Menjadikannya sumber utama ajaran Menjadikannya sumber utama ajaran Sama-sama berpegang kepada Al-Qur’an
Sunnah Menekankan ittiba‘ kepada Sunnah Menekankan ittiba‘ kepada Sunnah Sama-sama memberi perhatian kuat terhadap Sunnah
Akidah Menekankan pemurnian akidah Menekankan pemurnian akidah Sama-sama mengutamakan kemurnian akidah
Ibadah Mengutamakan dasar Al-Qur’an dan Sunnah Mengutamakan dasar Al-Qur’an dan Sunnah Sama-sama menekankan ibadah berdasarkan dalil
Tajdid/pemurnian Menjadi salah satu karakter utama gerakan Menjadi perhatian utama dakwah Sama-sama memiliki semangat pemurnian
Dakwah Mengembangkan dakwah pendidikan dan sosial Mengembangkan dakwah dan pengajaran Sama-sama mengajak kepada kebaikan
Pendidikan Mengembangkan sekolah dan perguruan tinggi Mengembangkan kajian, pendidikan dan lembaga dakwah Sama-sama menilai ilmu sebagai instrumen penting pembinaan umat
Akhlak Menekankan pembentukan akhlak dan amal sosial Menekankan akhlak berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Sama-sama menempatkan akhlak sebagai bagian penting agama
Kepedulian sosial Sangat kuat melalui amal usaha Dilakukan melalui sedekah dan berbagai kegiatan sosial Sama-sama mendorong kepedulian kepada sesama
Persaudaraan Muslim Menekankan ukhuwah Menekankan ukhuwah Sama-sama memiliki kepentingan menjaga persaudaraan

Tabel tersebut menunjukkan bahwa identitas organisasi dan corak gerakan tidak menghapus kenyataan bahwa terdapat fondasi keislaman yang sama. Karena itu, hubungan antarkelompok sebaiknya tidak dibangun hanya berdasarkan daftar perbedaan, tetapi berdasarkan pemahaman menyeluruh mengenai persamaan dan perbedaan.

Persamaan Muhammadiyah dan Salafi dalam Semangat Anti-TBC

Salah satu titik temu penting antara Muhammadiyah dan Salafi terdapat pada semangat pemurnian akidah dan ibadah dari takhayul, bid‘ah, dan khurafat (TBC). Muhammadiyah sejak awal kelahirannya membawa semangat tajdid, yaitu pembaruan kehidupan umat melalui pemurnian akidah dan ibadah berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, sekaligus pengembangan pemikiran dan amal sosial yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Sementara itu, gerakan Salafi juga memberikan perhatian sangat kuat terhadap pemurnian tauhid, ittiba‘ kepada Sunnah, serta upaya meninggalkan praktik keagamaan yang dinilai tidak memiliki landasan yang kuat dari Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman generasi awal Islam. Dalam titik temu ini, keduanya memiliki semangat yang sama untuk mengajak umat agar tidak menggantungkan keyakinan kepada selain Allah, menjauhi kemusyrikan, meninggalkan kepercayaan yang tidak berdasar, serta menjadikan wahyu dan tuntunan Rasulullah ﷺ sebagai pedoman utama kehidupan beragama. Dengan demikian, semangat anti-TBC dapat menjadi salah satu ruang dialog yang mempertemukan Muhammadiyah dan Salafi, meskipun keduanya tidak selalu memiliki batasan dan penilaian yang sama mengenai apakah suatu praktik tertentu termasuk bid‘ah, tradisi yang dibolehkan, atau persoalan khilafiyah. Perbedaan klasifikasi tersebut perlu dibahas dengan ilmu dan adab, bukan dengan saling menuduh.

Aspek Persamaan Muhammadiyah Salafi Titik Temu
Tauhid Pemurnian tauhid menjadi bagian penting gerakan tajdid Pemurnian tauhid merupakan tema sentral dakwah Menolak segala bentuk penyekutuan Allah
Takhayul Mengajak umat meninggalkan kepercayaan yang tidak berdasar Menolak keyakinan yang tidak memiliki dasar syar‘i Sama-sama mengutamakan keyakinan berdasarkan dalil
Bid‘ah Mengkritisi praktik ibadah yang tidak memiliki dasar yang kuat Sangat menekankan pemurnian ibadah dari bid‘ah Sama-sama menekankan pentingnya ittiba‘ kepada Sunnah
Khurafat Menolak kepercayaan dan praktik yang bertentangan dengan tauhid Menolak khurafat dan keyakinan yang dianggap tidak berdasar Sama-sama mengajak umat kepada pemurnian akidah
Al-Qur’an Menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Sama-sama kembali kepada wahyu
Sunnah Menekankan ittiba‘ kepada Rasulullah ﷺ Menekankan ittiba‘ kepada Rasulullah ﷺ dan pemahaman salaf Sama-sama menjadikan Sunnah sebagai pedoman
Dakwah Mengembangkan dakwah melalui pendidikan, sosial, dan pembaruan Menekankan dakwah tauhid dan Sunnah Sama-sama mengajak kepada kebaikan dan perbaikan umat
Pendidikan Mengembangkan sekolah, pesantren, universitas, dan lembaga pendidikan Mengembangkan kajian dan pendidikan keagamaan Sama-sama menempatkan ilmu sebagai sarana pembinaan umat
Akhlak Menekankan akhlak dan amal saleh Menekankan akhlak berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Sama-sama menghendaki terbentuknya Muslim yang berakhlak
Kemaslahatan Kuat dalam amal sosial dan pelayanan masyarakat Memiliki berbagai aktivitas dakwah dan sosial Sama-sama dapat bekerja sama dalam kemanusiaan

Catatan Ilmiah tentang TBC

Istilah takhayul, bid‘ah, dan khurafat perlu digunakan secara akademis dan tidak dijadikan label untuk menyederhanakan seluruh perbedaan antara Muhammadiyah dan Salafi. Dalam praktiknya, persoalan bid‘ah memiliki pembahasan terminologis dan metodologis yang luas dalam literatur Islam. Demikian pula tidak semua praktik budaya atau tradisi masyarakat dapat langsung dikategorikan sebagai takhayul atau khurafat tanpa melihat keyakinan yang mendasarinya, bentuk praktiknya, dan landasan syariatnya. Karena itu, pendekatan yang lebih konstruktif adalah mengajak umat kembali kepada tauhid, Al-Qur’an, dan Sunnah sambil membangun budaya dialog ilmiah terhadap persoalan yang memang diperselisihkan.

Dengan pendekatan tersebut, semangat anti-TBC justru dapat menjadi titik temu, bukan titik konflik. Muhammadiyah dan Salafi dapat bersama-sama menguatkan tauhid, meningkatkan literasi keagamaan, memberantas kepercayaan yang merusak akidah, dan membangun masyarakat yang berilmu. Adapun perbedaan mengenai rincian praktik tertentu tetap dapat dikaji melalui dalil dan metodologi masing-masing tanpa harus merusak ukhuwah.

Pesan utamanya sederhana: jangan jadikan semangat pemurnian agama sebagai alasan untuk saling memusuhi; jadikan ia sebagai kesempatan untuk bersama-sama memperkuat tauhid, ilmu, akhlak, dan kemaslahatan umat.

Perbedaan dalam Pendekatan Keagamaan

  • Meskipun memiliki banyak titik temu, Muhammadiyah dan Salafi memiliki perbedaan dalam sejumlah pendekatan. Muhammadiyah berkembang sebagai organisasi modern dengan struktur kelembagaan yang luas serta tradisi ijtihad dan tajdid yang dilembagakan melalui berbagai forum dan Majelis Tarjih. Salafi lebih dikenal sebagai corak manhaj atau gerakan dakwah yang menekankan mengikuti pemahaman salaf al-shalih dan kritik terhadap praktik keagamaan yang dinilai tidak memiliki landasan yang kuat dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam persoalan fikih dan tradisi keagamaan, perbedaan tersebut dapat menghasilkan praktik yang tidak selalu sama. Namun perbedaan metode tidak otomatis berarti perbedaan dalam seluruh prinsip agama.

Perbedaan Tidak Harus Menjadi Permusuhan

  • Perbedaan pendapat merupakan bagian dari dinamika keilmuan Islam. Yang menjadi persoalan bukan keberadaan perbedaan, melainkan cara manusia mengelolanya. Perbedaan yang dibangun dengan ilmu dapat melahirkan diskusi dan memperkaya pemahaman, sedangkan perbedaan yang dibangun dengan fanatisme dapat melahirkan prasangka dan permusuhan. Oleh sebab itu, diperlukan adab al-ikhtilaf: kemampuan untuk menyampaikan pendapat dengan argumentasi, mendengarkan pihak lain, menghindari penghinaan, dan membedakan persoalan prinsip dengan persoalan cabang.

Peran Ulama dalam Merawat Ukhuwah

  • Ulama memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan budaya perbedaan yang sehat. Ketika menjelaskan persoalan yang diperselisihkan, ulama sebaiknya tidak hanya menunjukkan argumentasi kelompoknya, tetapi juga memberikan gambaran yang adil mengenai argumentasi pihak lain. Sikap tersebut bukan berarti mencampuradukkan keyakinan, melainkan menunjukkan kedewasaan ilmiah. Ulama juga dapat memperbanyak forum bersama yang membahas persoalan umat yang bersifat universal, seperti kemiskinan, pendidikan, kesehatan, ketahanan keluarga, pemberdayaan ekonomi, dan pembinaan generasi muda.

Mengalihkan Energi Polemik Menjadi Energi Kemaslahatan

  • Umat Islam menghadapi persoalan yang jauh lebih besar daripada perbedaan praktik ibadah. Kemiskinan, ketimpangan pendidikan, krisis moral, tantangan teknologi, kesehatan masyarakat, dan masa depan generasi muda membutuhkan perhatian bersama. Muhammadiyah memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan pendidikan dan kesehatan, sementara berbagai komunitas Salafi juga memiliki aktivitas pendidikan, dakwah, kajian, dan sosial. Apabila energi positif dari berbagai kelompok tersebut dipertemukan dalam bidang-bidang kemanusiaan, manfaatnya dapat dirasakan jauh lebih luas oleh masyarakat.

Salah satu titik temu penting antara Muhammadiyah dan Salafi adalah semangat pemurnian akidah dan ibadah dari takhayul, bid‘ah, dan khurafat (TBC). Muhammadiyah sejak awal gerakan pembaruannya menekankan tajdid, yaitu usaha mengembalikan kehidupan keagamaan kepada Al-Qur’an dan Sunnah sekaligus membangun pendidikan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Salafi juga menempatkan tauhid, Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman generasi awal Islam sebagai landasan utama dalam kehidupan beragama, dengan perhatian kuat terhadap upaya meninggalkan keyakinan dan praktik yang dianggap tidak memiliki dasar syar‘i. Dalam kerangka ini, keduanya memiliki kesamaan semangat untuk menjaga kemurnian tauhid, menjauhkan umat dari keyakinan yang dapat mengarah kepada penyekutuan Allah, meninggalkan takhayul dan khurafat, serta memastikan praktik ibadah memiliki landasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Persamaan tersebut merupakan modal penting untuk membangun dialog, karena menunjukkan bahwa di balik perbedaan corak dakwah dan metode keilmuan, terdapat tujuan bersama berupa pembinaan umat yang beriman, berilmu, dan berakhlak.

Namun, semangat anti-TBC tidak berarti Muhammadiyah dan Salafi selalu memiliki penilaian yang sama terhadap setiap praktik keagamaan. Perbedaan dapat muncul dalam menentukan apakah suatu amalan termasuk bid‘ah, memiliki dasar dalam Sunnah, merupakan persoalan khilafiyah, atau berada dalam wilayah tradisi sosial yang diperbolehkan. Karena itu, istilah-istilah tersebut harus digunakan secara hati-hati dan berdasarkan kajian ilmiah, bukan sebagai alat untuk memberi stigma kepada kelompok lain. Di sinilah peran ulama menjadi sangat penting: menjelaskan dalil dengan jernih, membedakan persoalan prinsip dengan persoalan cabang, serta mengajarkan adab dalam berbeda pendapat. Jika semangat pemurnian agama diarahkan untuk memperkuat tauhid, meningkatkan ilmu, memperbaiki akhlak, memberantas kepercayaan yang tidak berdasar, dan menghadirkan kemaslahatan sosial, maka Muhammadiyah dan Salafi memiliki ruang yang luas untuk berjalan bersama. Perbedaan dalam memahami sebagian persoalan tidak harus menghapus persaudaraan; kita dapat berbeda dalam kajian, tetapi tetap bersatu dalam tauhid, Al-Qur’an, Sunnah, akhlak, dan amal kebajikan.

Peran Masjid

Masjid merupakan ruang bersama bagi umat Islam, tempat setiap Muslim mendekatkan diri kepada Allah, memperkuat ilmu, memperbaiki akhlak, dan membangun persaudaraan. Karena itu, perbedaan dalam corak pemikiran dan praktik keagamaan hendaknya tidak mengurangi rasa saling menghormati di antara sesama jamaah. Muhammadiyah dan Salafi memiliki sejumlah titik temu dalam semangat pemurnian tauhid, berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah, menjauhi takhayul dan khurafat, meningkatkan kualitas ibadah, serta membangun kehidupan umat yang berilmu dan berakhlak. Perbedaan yang masih terdapat dalam sebagian persoalan fikih dan praktik keagamaan dapat ditempatkan sebagai ruang kajian dan pembelajaran. Masjid akan semakin indah apabila perbedaan disikapi dengan ilmu, ketenangan, dan kelapangan hati. Setiap jamaah hendaknya dapat merasakan bahwa masjid adalah tempat yang menumbuhkan kedekatan kepada Allah sekaligus mempererat hubungan antarsesama Muslim.

Peran ulama dan tokoh agama sangat penting dalam membangun suasana tersebut. Mereka dapat memberikan teladan bahwa keteguhan dalam menjalankan keyakinan dapat berjalan bersama penghormatan terhadap saudara yang memiliki pandangan berbeda. Kajian keagamaan dapat memperkaya wawasan, dialog dapat memperluas pemahaman, dan kegiatan sosial dapat mempertemukan umat dalam amal nyata. Dengan demikian, perbedaan tidak perlu menjadi pusat perhatian, sementara persamaan dan kerja sama dalam kebaikan semakin diperkuat. Kita dapat berbeda dalam sebagian persoalan, tetapi tetap bersama dalam tauhid, salat, Al-Qur’an, Sunnah, akhlak, kepedulian sosial, dan kecintaan kepada umat. Inilah semangat adab al-ikhtilaf: bukan menghapus perbedaan, melainkan menghadirkannya dengan ilmu dan akhlak sehingga masjid tetap menjadi rumah bersama yang menghadirkan ketenteraman, persaudaraan, dan kemaslahatan.

Lima Pesan Utama

  • Pertama, perbesar persamaan tanpa menghapus perbedaan. Perbedaan tetap dapat dikaji secara ilmiah, tetapi persamaan dalam tauhid, Al-Qur’an, Sunnah, ibadah, akhlak, dan kepedulian sosial perlu menjadi fondasi hubungan.
  • Kedua, teguh dalam prinsip dan santun dalam perbedaan. Keyakinan terhadap suatu pendapat tidak mengharuskan seseorang merendahkan orang lain. Keteguhan ilmiah harus berjalan bersama akhlak.
  • Ketiga, ulama harus menjadi jembatan ukhuwah. Ulama tidak hanya bertugas menjelaskan hukum, tetapi juga memberikan teladan bagaimana hidup berdampingan dengan Muslim yang berbeda pendapat.
  • Keempat, alihkan energi polemik kepada amal nyata. Pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, pemberdayaan ekonomi, bantuan kepada dhuafa, dan pembinaan generasi muda merupakan ruang luas untuk bekerja bersama.
  • Kelima, jangan wariskan prasangka kepada generasi muda. Generasi berikutnya perlu diajarkan bahwa perbedaan dapat dibahas dengan ilmu tanpa harus melahirkan kebencian.

Berbeda Jalan, Bertemu dalam Ukhuwah

Muhammadiyah dan Salafi memiliki sejarah, struktur, dan pendekatan yang berbeda, tetapi keduanya memiliki sejumlah fondasi keislaman yang sama. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari dinamika pemikiran Islam dan tidak semestinya secara otomatis diterjemahkan menjadi permusuhan. Yang dibutuhkan adalah kemampuan membedakan antara perbedaan prinsip dan perbedaan cabang, antara kritik ilmiah dan penghinaan, serta antara keteguhan dalam beragama dan fanatisme kelompok.

  • Kita tidak harus sepakat dalam segala persoalan untuk dapat saling menghormati. Kita tidak harus memiliki jalan pemikiran yang sama untuk dapat berjalan bersama dalam kebaikan.
  • Muhammadiyah dapat tetap menjadi Muhammadiyah. Salafi dapat tetap menjadi Salafi. Masing-masing dapat mempertahankan tradisi keilmuan dan keyakinan metodologisnya, sambil membangun ruang dialog dan kerja sama dalam perkara yang disepakati.
  • Jangan sampai umat terlalu sibuk menghitung perbedaan hingga lupa menghitung begitu banyak persamaan. Jangan sampai waktu habis untuk memenangkan perdebatan, sementara masih banyak manusia yang membutuhkan pertolongan.
  • Berbeda jalan, bertemu dalam ukhuwah.
    Berbeda pendapat, tetap saling menghormati.
    Berbeda manhaj, tetap berlomba dalam kebaikan.
  • Karena pada akhirnya, kemuliaan umat tidak diukur dari seberapa keras kita memenangkan perdebatan, tetapi dari seberapa besar ilmu melahirkan akhlak, seberapa luas ukhuwah menghadirkan kedamaian, dan seberapa nyata agama menghadirkan kemaslahatan bagi manusia.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *