MAB MASJID AL-FALAH BENHIL

MAB PORTAL ISLAM: “Dari Masjid untuk Umat, Berbagi Ilmu dan Kebaikan”

Pandangan tentang Yesus (Isa)Tidak Disalib: Kajian Al-Qur’an, Literatur Kuno, dan Perspektif Sejarah Akademik Modern

Pandangan tentang Yesus Tidak Disalib: Kajian Al-Qur’an, Literatur Kuno, dan Perspektif Sejarah Akademik Modern

Abstrak

Peristiwa penyaliban Yesus merupakan salah satu isu yang paling banyak diperdebatkan dalam kajian agama dan sejarah. Islam berdasarkan Al-Qur’an meyakini bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam tidak dibunuh dan tidak disalib, sedangkan mayoritas tradisi Kristen mengajarkan bahwa Yesus wafat melalui penyaliban dan kemudian bangkit. Di sisi lain, dalam sejarah terdapat sejumlah literatur kuno maupun modern yang mengemukakan pandangan bahwa Yesus tidak benar-benar disalib. Artikel ini bertujuan mengkaji pandangan tersebut melalui pendekatan studi kepustakaan dengan menelaah Al-Qur’an, kitab-kitab tafsir klasik, literatur Gnostik kuno, serta kajian akademik modern. Hasil kajian menunjukkan bahwa keyakinan Islam mengenai tidak disalibnya Nabi Isa bersumber dari wahyu Al-Qur’an, sedangkan dalam literatur kuno pandangan serupa ditemukan pada beberapa kelompok Gnostik. Dalam kajian sejarah modern, pandangan bahwa Yesus tidak disalib masih merupakan pendapat minoritas, sementara mayoritas sejarawan tetap menerima penyaliban sebagai peristiwa historis berdasarkan sumber-sumber kuno yang tersedia. Oleh karena itu, penting membedakan antara pendekatan teologis dan pendekatan historis dalam memahami persoalan ini.

Kata kunci: Nabi Isa, Yesus, penyaliban, Al-Qur’an, Gnostik, sejarah Kristen, studi perbandingan agama.

Pendahuluan

Peristiwa penyaliban Yesus menjadi salah satu titik perbedaan paling mendasar antara Islam dan Kristen. Dalam teologi Kristen, penyaliban, kematian, dan kebangkitan Yesus merupakan inti ajaran keselamatan. Sebaliknya, Islam melalui Al-Qur’an menegaskan bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam tidak dibunuh dan tidak disalib, melainkan Allah menyelamatkan serta mengangkat beliau kepada-Nya. Perbedaan tersebut telah menjadi objek kajian para ulama, sejarawan, teolog, dan peneliti sejak masa klasik hingga era modern.

Selain perbedaan antara Islam dan Kristen, sejarah mencatat bahwa tidak semua kelompok Kristen awal memiliki pandangan yang sama mengenai penyaliban. Beberapa kelompok Gnostik pada abad kedua Masehi juga mengajarkan bahwa Yesus tidak benar-benar mengalami penyaliban sebagaimana dipahami gereja arus utama. Pada era modern, sejumlah penulis Muslim maupun peneliti independen kembali mengkaji kemungkinan tersebut melalui analisis terhadap Al-Qur’an, Alkitab, dan berbagai dokumen sejarah. Oleh karena itu, pembahasan mengenai penyaliban Yesus perlu dilakukan secara ilmiah dengan membedakan antara wahyu sebagai dasar akidah dan rekonstruksi sejarah berdasarkan dokumen kuno.

Kajian Al-Qur’an

Landasan utama keyakinan Islam terdapat dalam firman Allah SWT:

“Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka…. Sebenarnya Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. An-Nisā’ [4]:157–158)

Ayat ini secara tegas membantah klaim bahwa Nabi Isa berhasil dibunuh atau disalib. Mayoritas ulama tafsir Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti Imam ath-Thabari, Al-Baghawi, Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, dan Asy-Syaukani menjelaskan bahwa Allah menyelamatkan Nabi Isa dari upaya pembunuhan tersebut dan mengangkat beliau kepada-Nya. Mereka berbeda pendapat mengenai siapa yang diserupakan dengan Nabi Isa, namun sepakat bahwa identitas orang tersebut bukan bagian dari pokok akidah karena tidak dijelaskan secara tegas dalam Al-Qur’an maupun hadis sahih. Dengan demikian, yang menjadi keyakinan umat Islam adalah bahwa Nabi Isa tidak dibunuh dan tidak disalib sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur’an.

Kajian Beberapa Ayat Alkitab yang Dianggap Mendukung Pandangan Bahwa Yesus Tidak Disalib atau Tidak Wafat di Kayu Salib

Selain merujuk kepada Al-Qur’an, sebagian penulis Muslim juga mengkaji beberapa bagian Alkitab yang menurut mereka dapat dipahami sebagai indikasi bahwa Yesus tidak benar-benar wafat di kayu salib. Pendekatan ini merupakan kajian perbandingan agama dan bukan merupakan penafsiran resmi dalam teologi Kristen.

1. Matius 12:40 (Tanda Nabi Yunus)

“Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.”

Ayat ini merupakan dasar argumentasi yang paling sering digunakan. Sebagian penulis Muslim berpendapat bahwa Nabi Yunus tetap hidup ketika berada di dalam perut ikan. Karena Yesus menyamakan dirinya dengan Nabi Yunus, mereka menyimpulkan bahwa Yesus juga tetap hidup ketika berada di dalam kubur. Sebaliknya, mayoritas penafsir Kristen memahami ayat ini sebagai nubuat mengenai kematian, penguburan, dan kebangkitan Yesus.

2. Markus 15:44–45

Markus mencatat bahwa Pontius Pilatus merasa heran karena Yesus dinyatakan telah meninggal dalam waktu yang relatif singkat. Pilatus kemudian meminta konfirmasi kepada kepala pasukan sebelum menyerahkan jenazah Yesus kepada Yusuf dari Arimatea. Sebagian penulis Muslim menilai keheranan Pilatus menunjukkan adanya keraguan mengenai kematian Yesus, sedangkan penafsiran Kristen memandang konfirmasi tersebut justru memperkuat bahwa Yesus benar-benar telah wafat.

3. Yohanes 19:33–34

Dalam ayat ini disebutkan bahwa tentara tidak mematahkan kaki Yesus karena menganggap Ia telah meninggal, tetapi salah seorang menikam lambung-Nya hingga keluar darah dan air. Sebagian penulis Muslim berpendapat bahwa keluarnya darah menunjukkan masih adanya tanda kehidupan. Namun mayoritas penafsir Kristen dan banyak ahli medis menjelaskan bahwa keluarnya darah dan cairan masih dapat terjadi setelah kematian akibat perubahan fisiologis tubuh.

4. Yohanes 20:17

“Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa.”

Sebagian penulis Muslim memahami ayat ini sebagai petunjuk bahwa Yesus masih hidup secara fisik setelah peristiwa penyaliban. Sebaliknya, dalam teologi Kristen ayat ini dipahami sebagai salah satu penampakan Yesus setelah kebangkitan.

5. Lukas 23:46

“Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.”

Sebagian penulis Muslim menilai ayat ini lebih menunjukkan penyerahan diri kepada Allah daripada uraian eksplisit mengenai kematian Yesus. Namun, mayoritas tafsir Kristen memahami kalimat tersebut sebagai ucapan terakhir Yesus sebelum wafat.

Analisis Akademik

Dalam studi perbandingan agama, ayat-ayat di atas sering dijadikan bahan diskusi oleh sebagian penulis Muslim untuk menunjukkan kemungkinan bahwa Yesus tidak wafat di kayu salib. Akan tetapi, mayoritas ahli sejarah dan seluruh arus utama gereja Kristen tidak menjadikan ayat-ayat tersebut sebagai bukti bahwa Yesus selamat dari penyaliban. Mereka menafsirkan keseluruhan narasi Injil sebagai kesaksian bahwa Yesus benar-benar disalib, wafat, dikuburkan, dan bangkit pada hari ketiga. Oleh karena itu, pembacaan tersebut harus dipahami sebagai salah satu pendekatan dalam kajian perbandingan agama, bukan sebagai konsensus akademik maupun doktrin resmi Kekristenan.

Kajian Sejarah dan Literatur Kuno

Di luar Al-Qur’an, pandangan bahwa Yesus tidak disalib telah muncul dalam beberapa kelompok Gnostik pada abad kedua Masehi. Naskah The Second Treatise of the Great Seth dari koleksi Nag Hammadi menggambarkan bahwa yang mengalami penderitaan di kayu salib bukanlah Yesus yang sejati, sedangkan Yesus berada di atas mereka sebagai sosok ilahi yang tidak tersentuh penderitaan. Demikian pula Apocalypse of Peter menggambarkan bahwa sosok yang disalib hanyalah penampakan fisik, sedangkan Yesus yang sesungguhnya tetap hidup.

Pandangan serupa dikaitkan dengan Basilides, seorang guru Gnostik abad kedua, yang menurut laporan Irenaeus dalam Against Heresies mengajarkan bahwa Simon dari Kirene diserupakan dengan Yesus dan disalib menggantikannya. Meskipun demikian, tulisan-tulisan Gnostik tersebut ditolak oleh gereja arus utama sebagai ajaran yang menyimpang dan tidak dipandang memiliki otoritas yang sama dengan Injil kanonik. Dari sudut pandang sejarah, naskah-naskah tersebut menunjukkan bahwa pada abad kedua memang telah ada kelompok yang menolak penyaliban Yesus, walaupun pandangan itu tidak menjadi arus utama dalam Kekristenan.

Kajian Akademik Modern

Pada era modern, beberapa penulis Muslim dan peneliti independen kembali mengemukakan hipotesis bahwa Yesus tidak wafat di kayu salib. Mirza Ghulam Ahmad dalam Jesus in India berpendapat bahwa Yesus selamat dari penyaliban dan kemudian melakukan perjalanan ke Kashmir. Pendapat ini kemudian dikembangkan oleh Khwaja Nazir Ahmad dalam Jesus in Heaven on Earth, Ahmed Deedat melalui kajian perbandingan Al-Qur’an dan Alkitab, serta Holger Kersten dalam Jesus Lived in India. Mereka mencoba menggabungkan data sejarah, tradisi lokal, dan analisis teks untuk mendukung hipotesis bahwa Yesus selamat dari penyaliban.

Namun demikian, mayoritas sejarawan modern tetap menyimpulkan bahwa penyaliban Yesus merupakan salah satu peristiwa sejarah yang paling mungkin terjadi. Kesimpulan tersebut didasarkan pada kesaksian Injil-Injil kanonik, surat-surat Paulus, serta sumber non-Kristen seperti Flavius Josephus dan Tacitus. Oleh karena itu, dalam kajian sejarah akademik, pandangan bahwa Yesus tidak disalib masih dipandang sebagai hipotesis minoritas dan belum memperoleh dukungan luas di kalangan sejarawan.

Analisis Ilmiah

Perbedaan pandangan mengenai penyaliban Yesus menunjukkan adanya dua pendekatan metodologis yang berbeda. Dalam Islam, dasar keyakinan adalah wahyu Al-Qur’an yang memiliki otoritas tertinggi sehingga tidak bergantung pada rekonstruksi sejarah manusia. Sebaliknya, dalam disiplin sejarah, suatu peristiwa dinilai berdasarkan kritik sumber, kronologi, serta kesesuaian berbagai dokumen yang tersedia.

Dengan demikian, kesimpulan teologis dan kesimpulan historis tidak selalu identik. Bagi umat Islam, QS. An-Nisā’ ayat 157–158 merupakan dalil yang bersifat pasti mengenai keselamatan Nabi Isa. Adapun dalam kajian sejarah modern, mayoritas akademisi menerima penyaliban sebagai peristiwa historis berdasarkan bukti tekstual yang ada, sementara teori bahwa Yesus tidak disalib tetap menjadi pandangan alternatif yang belum menjadi konsensus.

Kesimpulan

Pandangan bahwa Yesus tidak disalib memiliki dasar yang berbeda-beda menurut sumbernya. Dalam Islam, keyakinan tersebut bersumber dari wahyu Al-Qur’an dan menjadi bagian dari akidah. Dalam literatur kuno, pandangan serupa ditemukan pada beberapa kelompok Gnostik abad kedua Masehi, meskipun tidak diterima oleh gereja arus utama. Pada era modern, sejumlah penulis Muslim dan peneliti independen kembali mengajukan hipotesis tersebut melalui analisis sejarah dan perbandingan agama. Namun, mayoritas sejarawan tetap berpendapat bahwa penyaliban Yesus merupakan peristiwa historis berdasarkan sumber-sumber kuno yang tersedia. Oleh karena itu, pembahasan mengenai penyaliban Yesus hendaknya selalu membedakan antara perspektif teologis dan perspektif sejarah agar menghasilkan kajian yang objektif, ilmiah, dan menghormati perbedaan keyakinan.

Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an al-Karim, QS. An-Nisā’ [4]:157–158.
  2. Ath-Thabari. Jāmi’ al-Bayān.
  3. Ibnu Katsir. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm.
  4. Al-Qurthubi. Al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān.
  5. Irenaeus. Against Heresies.
  6. Robinson JM (ed.). The Nag Hammadi Library.
  7. Mirza Ghulam Ahmad. Jesus in India.
  8. Khwaja Nazir Ahmad. Jesus in Heaven on Earth.
  9. Holger Kersten. Jesus Lived in India.
  10. Bart D. Ehrman. Did Jesus Exist?
  11. E.P. Sanders. The Historical Figure of Jesus.
  12. John P. Meier. A Marginal Jew.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *