MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Kesederhanaan Utsman bin Affan dalam Cahaya Puasa

Kesederhanaan Utsman bin Affan dalam Cahaya Puasa

Kesederhanaan adalah napas puasa. Siang hari terasa panjang. Perut kosong. Hati belajar cukup. Puasa mengajarkan bahwa hidup tidak membutuhkan banyak hal untuk merasa tenang. Dalam kehidupan sosial di Indonesia yang dekat dengan budaya kebersamaan, puasa sering mengingatkan kembali nilai hidup sederhana dan saling peduli.

Rasa lapar membuat seseorang memahami nikmat yang sering terlupakan. Air putih terasa sangat berharga. Sepotong kurma atau makanan sederhana saat berbuka terasa cukup. Banyak keluarga di Indonesia berbuka dengan hidangan sederhana. Namun kebersamaan membuat suasana terasa hangat dan penuh syukur.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah hati yang merasa cukup.” Hadits riwayat Bukhari dan Muslim. Puasa menghidupkan rasa cukup itu. Jiwa belajar menahan keinginan yang sering dipicu gaya hidup konsumtif.

Dalam sejarah Islam, Utsman bin Affan dikenal sebagai sahabat yang sangat kaya. Ia memiliki jaringan perdagangan luas dari Hijaz hingga Syam. Kekayaan besar itu tidak membuatnya hidup berlebihan. Ia hidup sederhana dan menjadikan harta sebagai amanah untuk melayani umat.

Salah satu wakaf paling terkenal adalah sumur Raumah di Madinah. Ketika kota itu mengalami krisis air, Utsman membeli sumur tersebut lalu mewakafkannya untuk masyarakat. Airnya bebas digunakan siapa saja. Tanah di sekitarnya kemudian berkembang menjadi kebun kurma. Dalam sejarah pengelolaan wakaf di Arab Saudi, kebun itu tetap menjadi aset wakaf yang hasilnya disalurkan untuk kepentingan umat hingga masa kini.

Riwayat lain menyebutkan bahwa hasil kebun wakaf itu terus dikelola oleh lembaga wakaf selama berabad abad. Sebagian hasilnya disimpan dalam bentuk investasi modern yang tetap membawa nama wakaf Utsman bin Affan. Keuntungan dari aset itu digunakan untuk kegiatan sosial dan pembangunan fasilitas bagi masyarakat. Wakaf itu menjadi contoh bahwa kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas dapat terus berjalan melampaui zaman. Harta berubah menjadi manfaat yang hidup lama di tengah umat, dan pahala sedekah jariyah terus mengalir sepanjang masa.

Ketika Madinah mengalami kesulitan air, ia membeli sumur Raumah lalu memberikannya untuk masyarakat. Ketika kaum Muslimin membutuhkan bantuan, ia menginfakkan hartanya tanpa ragu. Sikap ini menjadi teladan bahwa kekayaan dapat menjadi jalan kebaikan bagi masyarakat.

Cendekiawan Muslim kontemporer Yusuf al-Qaradawi dalam bukunya Fiqh al-Zakah menjelaskan bahwa kekayaan dalam Islam bukan untuk kemewahan pribadi, tetapi amanah sosial. Harta memiliki fungsi ibadah. Harta menjadi sarana membantu orang lain dan memperkuat keadilan sosial.

Puasa menanamkan pelajaran itu. Lapar mengingatkan bahwa dunia hanya tempat singgah. Manusia belajar menahan diri dari sikap berlebihan. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia nilai ini tampak dalam tradisi berbagi makanan, memberi takjil, dan membantu tetangga yang membutuhkan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Makanlah, minumlah, dan bersedekahlah tanpa berlebih dan tanpa kesombongan.” Hadits riwayat Ahmad dan Nasa’i. Ketika kesederhanaan tumbuh, manusia menjadi lebih peka terhadap orang lain. Puasa tidak hanya menahan lapar. Puasa membentuk hati yang lembut, tangan yang ringan memberi, dan kehidupan sosial yang lebih hangat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *