TRINITAS DALAM AL-QUR’AN ADA DAN BIBLE TIDAK ADA: Analisis Tekstual, Teologis, dan Historis tentang Konsep Ketuhanan dalam Islam dan Kekristenan
Trinitas merupakan salah satu doktrin paling fundamental dalam teologi Kristen. Dalam pemahaman Kristen arus utama, Allah adalah satu, tetapi berada dalam tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Gereja Katolik secara eksplisit menyebut Trinitas sebagai misteri sentral iman Kristen, sedangkan Kredo Nicea mengakui satu Allah, Yesus Kristus sebagai Anak Allah, dan Roh Kudus yang bersama Bapa dan Anak disembah dan dimuliakan.
Dalam Islam, konsep tersebut ditolak karena bertentangan dengan prinsip tauhid, yaitu keyakinan bahwa Allah adalah satu dan tidak mempunyai sekutu, anak, maupun bagian dalam ketuhanan. Al-Qur’an bahkan secara langsung memberikan peringatan kepada Ahlul Kitab agar tidak mengatakan “tiga” dan menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. QS An-Nisa’ 4:171 menyatakan bahwa Al-Masih Isa putra Maryam adalah utusan Allah, kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, dan roh dari-Nya, kemudian memerintahkan agar tidak mengatakan “tiga”.
Karena itu, pernyataan bahwa “Trinitas ada dalam Al-Qur’an tetapi tidak ada dalam Bible” harus dipahami secara hati-hati. Yang lebih tepat adalah: Al-Qur’an menyebut dan menolak konsep “tiga”, sedangkan Bible tidak menggunakan istilah teknis “Trinitas” dan tidak memiliki satu ayat yang memberikan rumusan lengkap “satu Allah dalam tiga pribadi”. Namun, teologi Trinitas Kristen dibangun berdasarkan sejumlah ayat Bible yang berbicara tentang Bapa, Anak, dan Roh Kudus serta ketuhanan Kristus.
Istilah “Trinitas” Tidak Terdapat Secara Literal dalam Bible
Secara tekstual, istilah “Trinitas” bukanlah istilah yang muncul sebagai satu kata dalam kitab-kitab Bible. Tidak terdapat satu ayat yang berbunyi secara persis: “Allah adalah satu hakikat dalam tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus.”
Hal ini merupakan poin penting dalam kajian perbandingan agama. Doktrin Trinitas tidak disampaikan dalam Bible melalui satu definisi sistematis, melainkan dibangun melalui sintesis sejumlah teks mengenai Allah, Yesus Kristus, dan Roh Kudus.
Misalnya, Injil Yohanes menyatakan tentang Logos: “Firman itu bersama-sama dengan Allah” dan “Firman itu adalah Allah” (Yohanes 1:1). Yohanes kemudian menghubungkan Firman tersebut dengan inkarnasi. Dalam Yohanes 20:28, Tomas berkata kepada Yesus, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Teks-teks tersebut menjadi salah satu dasar penting bagi kristologi Kristen mengenai keilahian Kristus.
Dengan demikian, secara akademik tidak tepat mengatakan bahwa Bible “tidak mempunyai dasar sama sekali” bagi Trinitas. Yang tepat adalah bahwa rumusan Trinitas sebagai doktrin teologis tidak ditulis secara eksplisit dalam bentuk definisi sistematis di dalam Bible.
Al-Qur’an Secara Eksplisit Menyebut “Tiga”
Berbeda dengan Bible, Al-Qur’an secara eksplisit menggunakan konsep “tiga” dalam kritiknya terhadap keyakinan tertentu mengenai Allah.
QS An-Nisa’ 4:171 menyatakan:
“…janganlah kamu mengatakan, ‘Tuhan itu tiga.’ Berhentilah… Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa…”
Ayat ini sangat penting dalam dialog Islam-Kristen karena Al-Qur’an tidak sekadar berbicara tentang keesaan Allah, tetapi secara langsung menghubungkan pembahasan tersebut dengan seruan kepada Ahlul Kitab dan larangan mengatakan “tiga”.
Ayat yang sama juga menjelaskan posisi Isa dalam Islam. Isa disebut sebagai Al-Masih, putra Maryam, utusan Allah, kalimat Allah yang disampaikan kepada Maryam, dan roh dari-Nya. Karena itu, Islam memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada Isa, tetapi tidak menjadikannya sebagai bagian dari hakikat ketuhanan.
QS Al-Ma’idah 5:72–73 dan Kritik terhadap Ketuhanan Isa
Kritik Al-Qur’an terhadap doktrin ketuhanan Isa juga muncul dalam QS Al-Ma’idah.
Al-Qur’an mengecam pernyataan bahwa Allah adalah Al-Masih putra Maryam dan juga mengecam orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari tiga. Dengan demikian, tauhid Islam ditempatkan berhadapan secara tegas dengan konsep ketuhanan yang memasukkan Isa ke dalam ketuhanan.
Dari perspektif Islam, masalah utamanya bukan sekadar angka “tiga”, melainkan pertanyaan yang lebih mendasar: siapakah Allah, dan apakah manusia dapat menyandarkan sifat ketuhanan kepada selain Allah?
Islam menjawabnya dengan prinsip tauhid: Allah adalah satu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan-Nya.
Apakah Bible Mengajarkan Bapa, Anak, dan Roh Kudus?
Salah satu teks yang paling sering digunakan dalam teologi Trinitas adalah Matius 28:19, yang menyebut baptisan “dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”. Teks ini menjadi salah satu dasar penting bagi formulasi Trinitarian.
Demikian pula, 2 Korintus 13:13 menyebut secara bersama-sama kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus.
Namun, perlu dibedakan antara “tiga disebut bersama” dan “doktrin Trinitas telah didefinisikan secara sistematis.”
Menyebut Bapa, Anak, dan Roh Kudus dalam satu formula tidak dengan sendirinya merupakan definisi filosofis lengkap mengenai bagaimana ketiganya berhubungan dalam satu hakikat Allah. Formulasi seperti “satu esensi dan tiga pribadi” merupakan bahasa teologis yang berkembang dalam sejarah gereja bukan yang tersirat dalam bible
Dasar Bible untuk Keilahian Yesus
Jika merujuk pada pendekatan yang sering digunakan pakar perbandingan agama, argumennya adalah bahwa tidak ada pernyataan Yesus dalam Bible yang secara eksplisit dan langsung berbunyi, “Akulah Tuhan, sembahlah aku”. Dalam beberapa ayat, Yesus justru berdoa kepada Allah, menyebut Bapa lebih besar daripada dirinya (Yohanes 14:28), dan dalam Markus 12:29 mengutip Shema: “Tuhan itu esa.” Karena itu, Zakir Naik berpendapat bahwa jika Yesus benar-benar mengajarkan dirinya sebagai Tuhan yang harus disembah, pernyataan tersebut semestinya dapat ditemukan secara jelas dan tegas dalam Bible.
Dalam Injil Yohanes terdapat beberapa teks yang mempunyai posisi sangat penting dalam teologi Kristen.
Yohanes 1:1 menyatakan bahwa Firman bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Yohanes 1 kemudian menghubungkan Firman dengan menjadi manusia.
Yohanes 20:28 juga mencatat pengakuan Tomas kepada Yesus sebagai “Tuhanku dan Allahku.”
Karena itu, dari perspektif Kristen, terdapat dasar tekstual yang kuat untuk menghubungkan Yesus dengan keilahian. Teologi Kristen kemudian menggabungkan kesaksian tersebut dengan teks mengenai Bapa dan Roh Kudus untuk membangun doktrin Trinitas.
Dari perspektif Islam, ayat-ayat tersebut ditafsirkan berbeda. Islam menerima Isa sebagai Al-Masih dan rasul Allah, tetapi menolak kesimpulan bahwa Isa adalah Allah atau bagian dari hakikat Allah.
Roh Kudus dalam Bible dan Islam
- Bible juga berbicara tentang Roh Kudus sebagai figur yang memiliki peran khusus dalam karya Allah. Dalam teologi Kristen, Roh Kudus bukan sekadar kekuatan impersonal, melainkan pribadi ilahi.
- Kredo Nicea-Konstantinopel secara eksplisit menyatakan iman kepada Roh Kudus sebagai “Lord, the giver of life” dan menyatakan bahwa Roh Kudus bersama Bapa dan Anak disembah dan dimuliakan.
- Islam menggunakan konsep “Ruh” dengan kerangka teologis yang berbeda. Dalam QS An-Nisa’ 4:171, Isa disebut sebagai “roh dari-Nya”, tetapi ayat tersebut tidak menjadikan “roh dari-Nya” sebagai pribadi ilahi yang setara dengan Allah. Karena itu, menerjemahkan istilah “Roh Kudus” dalam kedua agama secara langsung seolah-olah memiliki pengertian teologis yang identik akan menimbulkan kekeliruan.
Trinitas dalam Sejarah Kekristenan
Salah satu aspek penting yang sering terlewat dalam diskusi populer adalah sejarah perumusan doktrin.
Gereja tidak memiliki sejak awal sebuah kalimat tunggal yang berbunyi “satu Allah dalam tiga pribadi” di dalam Bible. Doktrin tersebut berkembang melalui proses refleksi teologis dan perdebatan mengenai hubungan antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Konsili Nicea pada tahun 325 menjadi salah satu tonggak utama. Kredo tersebut kemudian dikembangkan dalam Konsili Konstantinopel pada tahun 381. Gereja mengajarkan bahwa Anak adalah “consubstantial” atau sehakikat dengan Bapa.
Dalam tradisi Kristen kemudian berkembang rumusan bahwa Allah adalah satu dalam hakikat atau substansi tetapi tiga dalam pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Gereja Katolik sampai sekarang menyatakan bahwa tiga pribadi ilahi itu benar-benar berbeda satu sama lain dalam relasi, tetapi mempunyai satu hakikat ilahi.
Dengan demikian, dari perspektif sejarah doktrin, Trinitas sebagai formulasi teologis formal merupakan hasil perkembangan doktrin gereja berdasarkan pembacaan dan sintesis terhadap kesaksian kitab-kitab Kristen.
Apakah Trinitas Baru Muncul Setelah Konsili Nicea?
- Sebelum Nicea, sudah terdapat tradisi Kristen yang berbicara mengenai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Konsili Nicea tidak menciptakan keberadaan ketiga istilah tersebut.
- Yang dilakukan Nicea adalah memberikan formulasi teologis dan terminologi yang lebih presisi terhadap persoalan hubungan Yesus dengan Allah Bapa, terutama dalam menghadapi kontroversi Arianisme.
- Dengan demikian, perlu dibedakan antara ajaran atau bahan-bahan teologis yang sudah ada sebelumnya dengan formulasi dogmatis yang kemudian ditetapkan secara konsili.
Bagaimana dengan 1 Yohanes 5:7?
- Salah satu ayat yang sering digunakan dalam diskusi Trinitas adalah 1 Yohanes 5:7 dalam tradisi King James Version:
- “…the Father, the Word, and the Holy Ghost: and these three are one.”
- Jika dibaca demikian, ayat tersebut tampak memberikan dukungan langsung terhadap rumusan Trinitas.
- Namun, persoalan tekstualnya sangat penting. Banyak terjemahan modern tidak memasukkan bagian “Bapa, Firman, dan Roh Kudus” tersebut ke dalam teks utama. Catatan kritis dalam NIV menyatakan bahwa frasa tersebut terdapat dalam manuskrip Latin yang lebih kemudian dan tidak ditemukan dalam manuskrip Yunani sebelum abad ke-14.
- Karena itu, 1 Yohanes 5:7 tidak seharusnya dijadikan satu-satunya atau bahkan bukti utama untuk membuktikan Trinitas. Kajian akademik terhadap teks Bible harus memperhatikan sejarah manuskrip dan kritik tekstual.
Perbedaan Mendasar antara Islam dan Kekristenan
- Perbedaan Islam dan Kekristenan mengenai Trinitas bukan hanya perbedaan terminologi, melainkan menyangkut konsep dasar tentang Tuhan.
- Dalam Islam, Allah adalah satu secara mutlak. Tauhid tidak mengenal pembagian “pribadi” dalam hakikat ketuhanan. Isa adalah manusia sekaligus rasul dan Al-Masih, tetapi bukan Tuhan.
- Dalam Kekristenan Trinitarian, Allah juga disebut satu, tetapi keesaan tersebut dipahami sebagai satu hakikat ilahi yang ada dalam tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Gereja menegaskan bahwa ini bukan tiga Allah, melainkan satu Allah dalam tiga pribadi.
- Perbedaan ini penting karena seorang Muslim tidak dapat menerima Trinitas hanya dengan mengatakan bahwa “Kristen percaya satu Tuhan”. Muslim akan menanyakan bagaimana keesaan itu didefinisikan.
- Sebaliknya, seorang Kristen tidak menerima kritik Islam hanya dengan mengatakan bahwa “tiga berarti tiga Allah”, karena doktrin Trinitas secara resmi justru menolak triteisme dan menegaskan satu Allah.
Tabel Perbandingan
| Aspek | Islam | Kekristenan Trinitarian |
|---|---|---|
| Tuhan | Allah Yang Esa | Satu Allah |
| Isa/Yesus | Rasul dan Al-Masih | Anak Allah dan pribadi ilahi |
| Roh Kudus | Tidak dipahami sebagai pribadi ilahi dalam Trinitas | Pribadi ilahi |
| Trinitas | Ditolak | Diterima |
| “Tiga” | QS An-Nisa’ 4:171 melarang mengatakan “tiga” | Bapa, Anak, Roh Kudus |
| Hakikat Allah | Esa secara mutlak | Satu hakikat, tiga pribadi |
| Anak Allah | Ditolak dalam pengertian literal ketuhanan | Diterima dalam pengertian teologis |
| Sumber utama | Al-Qur’an dan Sunnah | Bible dan tradisi gereja |
| Rumusan formal | Tauhid | Trinitas |
Persamaan yang Sering Terlupakan
Meskipun terdapat perbedaan fundamental, terdapat pula sejumlah titik temu.
- Islam dan Kekristenan sama-sama berbicara mengenai Allah sebagai pencipta, mengakui keberadaan wahyu, malaikat, hari akhir, dan memiliki penghormatan yang sangat tinggi terhadap Isa/Yesus.
- Islam bahkan tidak menolak Isa. Al-Qur’an menyebut Isa sebagai Al-Masih, putra Maryam, kalimat Allah, dan rasul Allah. Yang ditolak adalah menjadikan Isa sebagai Tuhan atau bagian dari ketuhanan.
- Dengan demikian, perdebatan Islam-Kristen seharusnya tidak dibangun di atas kesalahpahaman bahwa Islam “tidak mengenal Yesus”. Islam mengenal Isa dengan sangat kuat, tetapi memberikan status teologis yang berbeda secara fundamental dari Kekristenan.
Kesimpulan
Secara ilmiah, pernyataan “Trinitas dalam Al-Qur’an ada, tetapi dalam Bible tidak ada” telah dianalisa secara Tekstual, Teologis, dan Historis tentang Konsep Ketuhanan dalam Islam dan Kekristenan
Pertama, istilah teknis “Trinitas” tidak terdapat secara literal sebagai istilah doktrinal dalam Al-Qur’an maupun Bible.
Kedua, Al-Qur’an secara eksplisit menyebut larangan mengatakan “tiga” dalam QS An-Nisa’ 4:171 dan menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Al-Qur’an juga menempatkan Isa sebagai Al-Masih dan rasul Allah, bukan sebagai Tuhan.
Ketiga, Bible memang tidak mempunyai satu ayat yang secara sistematis berbunyi “Allah adalah satu hakikat dalam tiga pribadi”. Namun, Bible mempunyai sejumlah teks yang kemudian menjadi dasar bagi doktrin Trinitas, antara lain teks mengenai Bapa, Anak, Roh Kudus, ketuhanan Kristus, dan formula baptisan.
Keempat, Trinitas sebagai doktrin formal merupakan hasil perkembangan teologi gereja dan kemudian dirumuskan secara dogmatis melalui kredo-kredo gereja, khususnya Nicea dan Konstantinopel. Kredo tersebut secara eksplisit mengakui satu Allah serta Bapa, Anak, dan Roh Kudus dalam kerangka iman Trinitarian.
Kelima, dari perspektif Islam, persoalan utama bukan sekadar apakah angka “tiga” terdapat dalam kitab, tetapi apakah ketuhanan dapat memiliki pribadi-pribadi yang berbeda. Tauhid Islam memberikan jawaban negatif: Allah adalah Esa dan tidak memiliki sekutu.
Dengan demikian, rumusan akademik yang paling kuat adalah:
“Al-Qur’an secara eksplisit menyebut dan menolak konsep ‘tiga’, sedangkan Bible tidak menggunakan istilah teknis ‘Trinitas’ dan tidak memberikan definisi sistematis ‘satu Allah dalam tiga pribadi’; namun doktrin Trinitas Kristen dibangun dari sintesis sejumlah kesaksian Bible mengenai Bapa, Anak, dan Roh Kudus, kemudian dirumuskan secara formal dalam tradisi dan kredo gereja.”
Rumusan ini lebih kuat secara ilmiah karena tidak mengingkari teks Bible yang memang digunakan umat Kristen sebagai dasar Trinitas, tetapi juga tidak mengaburkan fakta bahwa formula dogmatis Trinitas tidak muncul sebagai definisi literal dalam Bible.











Leave a Reply