MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

BUKU FITNATUL WAHABIYYAH: Uji Fakta atas Kritik Buku Ahmad Zaini Dahlan terhadap Wahhabi

BUKU FITNATUL WAHABIYYAH: Uji Fakta atas Kritik Buku Ahmad Zaini Dahlan terhadap Wahhabi

Ringkasan Eksekutif

  • Fitnat al-Wahhābiyyah (فتنة الوهابية) karya Ahmad Zaini Dahlan merupakan salah satu risalah polemik keagamaan yang penting untuk memahami perdebatan antara ulama Makkah dari tradisi Syafi‘iyyah-Asy‘ariyyah dengan gerakan yang kemudian dikenal sebagai Wahhabisme. Ahmad Zaini Dahlan hidup pada 1816/1817–1886 dan dikenal sebagai ulama besar Makkah, Mufti Syafi‘iyyah, serta tokoh keilmuan yang mempunyai pengaruh kuat di lingkungan Masjidil Haram. National Library of Israel mencatat kedudukan Dahlan sebagai Grand Mufti mazhab Syafi‘i di Makkah, Shaykh al-Islam di Hijaz, dan Imam al-Haramayn.
  • Fitnat al-Wahhābiyyah ditulis dalam konteks pertentangan intelektual, teologis, sosial dan politik terhadap gerakan Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab serta ekspansi kekuatan Saudi-Najdi pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. Karya tersebut membahas persoalan tauhid, syirik, bid‘ah, tawassul, ziarah kubur, takfir dan berbagai peristiwa politik-militer yang berkaitan dengan Najd dan Hijaz.
  • Karena merupakan karya polemik, kitab tersebut tidak tepat diperlakukan sebagai laporan sejarah yang sepenuhnya netral. Namun menyebut seluruh isinya sebagai “fitnah” juga tidak dapat dipertahankan hanya berdasarkan fakta bahwa Dahlan merupakan lawan teologis Wahhabisme. Beberapa peristiwa yang dikisahkan atau dikritik oleh Dahlan mempunyai dukungan dari sumber sejarah lain, termasuk penaklukan Thaif, penguasaan Makkah, penghancuran sejumlah struktur makam dan tempat ziarah, serta serangan terhadap Karbala.
  • Prinsip utama dalam membaca karya tersebut adalah membedakan antara fakta sejarah, kesaksian penulis, interpretasi teologis, angka korban, atribusi motif dan tuduhan individual. Dengan prinsip tersebut, Fitnatul Wahabiyyah tetap merupakan sumber sejarah yang penting, tetapi tidak dapat dijadikan satu-satunya sumber untuk menentukan seluruh sejarah Wahhabisme.

Kedudukan Ahmad Zaini Dahlan dalam Sejarah Keilmuan Makkah

  • Ahmad Zaini Dahlan merupakan ulama Makkah dari lingkungan mazhab Syafi‘i dan tradisi teologi Asy‘ari. Ia hidup pada masa ketika Makkah menjadi pusat perjumpaan berbagai tradisi intelektual Islam dari dunia Arab, India, Nusantara, Afrika, Turki dan wilayah Muslim lainnya. Kedudukannya sebagai Mufti Syafi‘iyyah membuat pandangannya mempunyai pengaruh besar dalam lingkungan keagamaan Makkah pada abad ke-19.
  • Dahlan bukan seorang pengamat netral dalam pengertian historiografi modern. Ia mempunyai posisi teologis yang jelas dan berada dalam tradisi keagamaan yang mempertahankan praktik seperti tawassul, tabarruk dan ziarah kubur. Karena itu, ketika ia memberikan penilaian terhadap Wahhabi, pembaca perlu memahami latar belakang intelektual tersebut.
  • Namun posisi polemis tidak sama dengan kebohongan. Dalam penelitian sejarah, seorang penulis yang mempunyai keberpihakan tetap dapat memberikan informasi faktual yang sangat berharga. Sebaliknya, status seorang ulama besar juga tidak membuat seluruh pernyataannya otomatis menjadi fakta sejarah.
  • Karena itu harus dibedakan antara pernyataan bahwa “Ahmad Zaini Dahlan mengatakan suatu peristiwa terjadi” dengan pernyataan bahwa “peristiwa tersebut telah terbukti secara independen”. Pernyataan pertama merupakan fakta mengenai isi sumber, sedangkan pernyataan kedua merupakan kesimpulan historiografis yang membutuhkan pemeriksaan sumber lain.

Karakter dan Tujuan Fitnatul Wahabiyyah

  • Fitnat al-Wahhābiyyah pada dasarnya merupakan karya polemik keagamaan dan sejarah. Dahlan tidak menulisnya semata-mata untuk menyusun kronologi objektif mengenai perkembangan politik Najd dan Hijaz, tetapi untuk menjawab dan membantah pandangan keagamaan yang diasosiasikan dengan gerakan Wahhabi.
  • Kritiknya menyentuh persoalan tawassul, tabarruk, ziarah kubur, penghormatan kepada orang saleh, bid‘ah, syirik dan takfir. Di samping itu, Dahlan membicarakan ekspansi politik-militer kekuatan Saudi-Najdi serta dampaknya terhadap Makkah, Madinah, Thaif dan wilayah lainnya.
  • Karena itu, membaca kitab ini hanya sebagai “buku sejarah” akan menghilangkan karakter polemisnya. Sebaliknya, menganggapnya hanya sebagai “propaganda” juga akan menghilangkan informasi sejarah yang mungkin terkandung di dalamnya.
  • Cara yang lebih tepat adalah membacanya sebagai sumber yang memiliki beberapa lapisan sekaligus, yaitu sumber sejarah, kesaksian keagamaan, argumentasi teologis dan kritik politik.

Perbedaan Teologis antara Dahlan dan Gerakan Wahhabi

  • Perdebatan antara Dahlan dan gerakan Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab tidak dapat dilepaskan dari persoalan tauhid dan batas-batas praktik keagamaan yang dianggap dapat membawa kepada syirik.
  • Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab mengembangkan gerakan reformasi keagamaan di Najd yang sangat menekankan pemurnian tauhid dan menolak praktik tertentu yang menurutnya dapat menjadi bentuk atau sarana menuju syirik. Kritik terhadap pengagungan makam, doa kepada selain Allah, dan praktik tertentu di sekitar makam merupakan bagian penting dari pemikirannya.
  • Dahlan berasal dari lingkungan keagamaan yang mempunyai pandangan berbeda mengenai tawassul, tabarruk dan ziarah kubur. Dalam tradisi yang ia wakili, terdapat bentuk-bentuk tawassul dan ziarah yang dianggap memiliki dasar dalam tradisi keilmuan Islam.
  • Dengan demikian, perbedaan tersebut merupakan perbedaan teologis yang nyata. Ia bukan sekadar hasil rekayasa Ahmad Zaini Dahlan.
  • Namun perbedaan tersebut tidak boleh disederhanakan menjadi tuduhan bahwa satu pihak “menyembah kuburan” atau pihak lain “membenci Rasulullah”. Pernyataan seperti itu mengubah perdebatan teologis yang kompleks menjadi slogan polemik.

Penaklukan Thaif: Antara Narasi Dahlan dan Sumber Sejarah Lain

  • Salah satu bagian penting dalam narasi anti-Wahhabi adalah penaklukan Thaif. Dahlan menggambarkan peristiwa tersebut sebagai tindakan militer yang sangat keras dan menyebut pembunuhan terhadap penduduk.
  • Bahwa Thaif dikuasai oleh kekuatan Saudi-Wahhabi pada awal abad ke-19 bukan sekadar cerita yang hanya terdapat dalam karya Dahlan. J. G. Lorimer dalam Gazetteer of the Persian Gulf, Oman and Central Arabia juga mencatat bahwa Thaif direbut pada 1802 dan menggambarkan terjadinya pembunuhan dalam penaklukan tersebut.
  • Dengan demikian, klaim mengenai penguasaan Thaif mempunyai dasar sejarah yang kuat di luar karya Dahlan. Terjadinya kekerasan dalam proses tersebut juga mendapatkan dukungan dari sumber lain.
  • Namun setiap rincian mengenai jumlah korban dan setiap cerita individual harus tetap diperiksa secara terpisah. Tidak semua detail yang terdapat dalam sebuah narasi otomatis mempunyai tingkat kepastian yang sama.
  • Kesimpulan yang paling aman adalah bahwa penaklukan Thaif dan terjadinya kekerasan merupakan fakta historis yang mempunyai dukungan sumber lain, sementara rincian tertentu harus tetap ditempatkan dalam kategori laporan yang memerlukan kritik sumber.

Penguasaan Makkah dan Perubahan Keagamaan

  • Setelah Thaif, kekuatan Saudi-Najdi bergerak menuju Makkah. Sumber sejarah lain mencatat bahwa Makkah berada di bawah kekuasaan mereka pada 1803.
  • J. G. Lorimer mencatat konflik dan tekanan terhadap Makkah sebelum penguasaan tersebut. Ia juga mencatat perubahan dalam praktik sosial-keagamaan setelah kota berada di bawah kekuasaan baru. Sumber tersebut mencatat adanya penghancuran makam-makam yang menjadi tujuan ziarah.
  • Fakta bahwa Makkah mengalami perubahan kekuasaan pada awal abad ke-19 dengan demikian bukan semata-mata klaim Ahmad Zaini Dahlan.
  • Namun gambaran mengenai apa yang terjadi di kota tersebut perlu dibaca dengan hati-hati. Penguasaan politik, perubahan praktik keagamaan dan kekerasan terhadap penduduk merupakan tiga persoalan berbeda yang tidak boleh otomatis disamakan.
  • Hal ini penting karena sumber-sumber sejarah juga menunjukkan bahwa karakter kekerasan pada masa penaklukan tidak selalu identik pada setiap tempat dan setiap fase konflik.

Penghancuran Makam dan Tempat Ziarah

  • Salah satu bagian kritik Dahlan yang mempunyai dukungan dari sumber lain adalah mengenai penghancuran sejumlah bangunan makam dan tempat yang digunakan untuk ziarah.
  • Lorimer mencatat penghancuran sejumlah makam yang menjadi tempat kunjungan masyarakat selama periode kekuasaan Saudi-Wahhabi di Hijaz.
  • Dengan demikian, tidak tepat menyatakan bahwa seluruh cerita mengenai penghancuran makam hanyalah hasil propaganda Dahlan.
  • Namun fakta sejarah tersebut harus dipisahkan dari penilaian teologisnya. Dari perspektif gerakan Wahhabi, penghancuran struktur tertentu di atas makam dikaitkan dengan upaya mencegah pengkultusan makam dan menjaga kemurnian tauhid. Dari perspektif ulama seperti Dahlan, tindakan tersebut dipandang sebagai tindakan terhadap tradisi keagamaan yang telah berkembang di lingkungan Muslim.
  • Peristiwa fisiknya dapat diteliti secara historis, sedangkan penilaian apakah tindakan tersebut benar atau salah menurut syariat merupakan persoalan teologis yang membutuhkan pembahasan dalil.

Serangan terhadap Karbala

  • Persoalan Karbala merupakan salah satu bagian paling penting dalam sejarah hubungan antara gerakan Wahhabi dengan dunia Syiah.
  • Serangan terhadap Karbala terjadi pada awal abad ke-19. Literatur sering menyebut tahun 1802, tetapi Encyclopaedia Iranica mencatat tanggal 21 April 1801, berdasarkan kronologi sumber yang digunakannya. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa penulisan sejarah harus memperhatikan kalender, kronologi dan sumber yang digunakan.
  • Encyclopaedia Iranica mencatat bahwa pasukan Najdi-Wahhabi menyerang Karbala, menjarah kota dan tempat suci Husain serta menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar. Salah satu sumber yang digunakan memperkirakan sekitar 5.000 orang terbunuh.
  • Karena angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan sumber tertentu, tidak tepat mengubahnya menjadi angka absolut. Formulasi yang lebih ilmiah adalah bahwa terdapat sumber sejarah yang memperkirakan korban sekitar 5.000 orang.
  • Yang lebih kuat secara historiografis adalah fakta bahwa serangan terjadi, Karbala mengalami penjarahan, tempat suci Husain menjadi sasaran, dan terdapat korban jiwa dalam jumlah besar.
  • Dengan demikian, tidak tepat menyebut keseluruhan cerita mengenai Karbala sebagai “fitnah Ahmad Zaini Dahlan”, karena peristiwa tersebut juga tercatat dalam sumber lain.

Persoalan Takfir dan Tuduhan terhadap Muslim Lain

  • Salah satu tuduhan yang paling sering muncul dalam polemik mengenai Wahhabisme adalah bahwa gerakan tersebut mudah mengkafirkan Muslim yang berbeda.
  • Persoalan ini harus dibahas secara lebih hati-hati daripada slogan “Wahhabi mengkafirkan semua orang”.
  • Kajian akademik mengenai diskursus takfir pada generasi awal Wahhabi menunjukkan bahwa penggunaan konsep takfir memang merupakan bagian yang penting untuk diteliti dalam sejarah pemikiran gerakan tersebut. Tarik K. Firro, misalnya, membahas secara khusus konteks politik dan perkembangan diskursus takfir pada generasi awal Wahhabi dalam Middle Eastern Studies. Penelitiannya menunjukkan bahwa posisi mengenai takfir mengalami perkembangan dan tidak dapat begitu saja dipukul rata antara Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab dan seluruh generasi berikutnya.
  • Karena itu, formulasi ilmiah yang lebih tepat adalah bahwa dalam literatur dan praktik gerakan Wahhabi awal terdapat penggunaan kategori syirik, bid‘ah dan takfir terhadap kelompok tertentu, tetapi fakta tersebut tidak membuktikan bahwa setiap individu yang kemudian disebut Wahhabi atau Salafi selalu mengkafirkan setiap Muslim yang berbeda pendapat.
  • Perbedaan generasi, tokoh, konteks politik dan perkembangan pemikiran harus tetap diperhitungkan.

Tuduhan Kekerasan dan Masalah Generalisasi

  • Sejarah memang mencatat adanya kekerasan dalam ekspansi Saudi-Najdi pada awal abad ke-19. Namun dari fakta tersebut tidak dapat disimpulkan bahwa seluruh pengikut Wahhabi pada semua masa merupakan pelaku kekerasan.
  • Demikian pula, tindakan sekelompok pasukan pada suatu periode sejarah tidak otomatis dapat dibebankan kepada setiap individu yang pada masa modern disebut Wahhabi atau Salafi.
  • Prinsip ini berlaku untuk semua kelompok. Kesalahan individu atau kelompok tertentu tidak boleh secara otomatis menjadi kesalahan seluruh komunitas.
  • Karena itu, kalimat seperti “semua Wahhabi adalah pembunuh” tidak memenuhi standar penelitian sejarah.
  • Begitu pula kalimat “tidak pernah ada kekerasan yang dilakukan oleh kekuatan Wahhabi” juga tidak sesuai dengan catatan sejarah mengenai konflik Thaif, Hijaz dan Karbala.

Kisah Orang Buta Dipancung

  • Bagian mengenai orang buta yang disebut dipancung perlu ditempatkan dalam kategori yang berbeda.
  • Jika kisah tersebut terdapat dalam edisi tertentu Fitnatul Wahabiyyah, maka penelitian yang bertanggung jawab harus memeriksa teks Arab asli, edisi yang digunakan, halaman, konteks cerita, identitas korban, identitas pelaku, sumber informasi yang digunakan Dahlan, serta kemungkinan adanya sumber sezaman yang mengonfirmasi peristiwa tersebut.
  • Tanpa pemeriksaan tersebut, tidak tepat menjadikannya sebagai fakta sejarah yang sudah pasti.
  • Formulasi yang paling aman adalah bahwa Ahmad Zaini Dahlan meriwayatkan atau menuduhkan adanya tindakan tersebut, sedangkan status historis klaim spesifik tersebut masih membutuhkan verifikasi silang.
  • Sikap ini bukan pembelaan terhadap pelaku. Ini adalah konsekuensi dari standar kritik sumber.

Klaim Penduduk Makkah Memakan Anjing

  • Klaim bahwa penduduk Makkah sampai memakan anjing juga membutuhkan kehati-hatian.
  • Adanya kesulitan pangan dalam konteks konflik dan pengepungan mempunyai dasar historis. Sumber sejarah mengenai periode tersebut menggambarkan tekanan terhadap pasokan makanan dan kondisi sulit yang dialami penduduk.
  • Namun klaim khusus bahwa penduduk Makkah secara luas sampai memakan anjing memerlukan bukti yang lebih spesifik. Tidak tepat mengubah fakta mengenai kesulitan pangan menjadi klaim ekstrem tanpa verifikasi.
  • Dalam historiografi, semakin luar biasa suatu klaim, semakin kuat bukti yang diperlukan.

Memisahkan Fakta Sejarah dari Penilaian Teologis

  • Salah satu pelajaran penting dari Fitnatul Wahabiyyah adalah perlunya membedakan antara peristiwa dan penilaian terhadap peristiwa.
  • Penghancuran struktur makam merupakan peristiwa sejarah yang dapat diverifikasi melalui sumber.
  • Tetapi apakah tindakan tersebut merupakan “pemurnian tauhid” atau “penghancuran tradisi Islam” merupakan penilaian teologis yang berbeda.
  • Demikian pula, menyebut seseorang sebagai musyrik merupakan kategori teologis, bukan sekadar deskripsi sejarah.
  • Karena itu, penelitian yang baik harus memisahkan: apa yang terjadi; siapa yang melakukan; kapan terjadi; bagaimana sumber mengetahuinya; apa motif yang diklaim; dan bagaimana masing-masing pihak menafsirkan peristiwa tersebut.

Apakah Fitnatul Wahabiyyah Merupakan Fitnah?

  • Jika kata “fitnah” digunakan untuk berarti bahwa seluruh isi kitab merupakan kebohongan yang tidak mempunyai dasar sejarah, kesimpulan tersebut terlalu jauh.
  • Sejumlah peristiwa penting yang dikritik Ahmad Zaini Dahlan ternyata memiliki dukungan dari sumber sejarah lain. Penguasaan Thaif, penguasaan Makkah, penghancuran sejumlah struktur makam dan serangan terhadap Karbala tidak hanya muncul dalam satu tradisi sumber.
  • Sebaliknya, apabila “fitnah” digunakan untuk menunjukkan bahwa karya tersebut merupakan karya polemik yang ditulis dari posisi teologis tertentu, maka karakter tersebut memang perlu diperhitungkan.
  • Karena itu, istilah yang lebih akademis adalah: “Fitnatul Wahabiyyah merupakan sumber polemik sejarah-keagamaan yang mengandung informasi faktual, kesaksian, interpretasi teologis dan sejumlah klaim yang perlu diverifikasi secara silang.”

Metodologi Membaca Fitnatul Wahabiyyah

  • Pembacaan pertama harus dilakukan melalui kritik tekstual. Peneliti harus memastikan teks Arab yang digunakan, edisi kitab, halaman dan konteks kutipan. Potongan teks yang beredar di media sosial tidak cukup untuk membangun kesimpulan akademik.
  • Pembacaan kedua adalah kritik sumber. Klaim Dahlan perlu dibandingkan dengan kronik dari Najd, sumber Hijaz, sumber Ottoman, sumber Irak, sumber Persia, catatan perjalanan, arsip dan penelitian sejarah modern.
  • Pembacaan ketiga adalah kritik interpretasi. Satu peristiwa dapat dipahami berbeda oleh dua kelompok yang berkonflik. Perbedaan interpretasi harus disebutkan secara terbuka.
  • Pembacaan keempat adalah kritik generalisasi. Tindakan seseorang atau kelompok pada abad ke-18 dan ke-19 tidak boleh secara otomatis dibebankan kepada seluruh individu yang menggunakan label Wahhabi atau Salafi pada masa sekarang.

Mengapa Sumber yang Berbeda Harus Dibandingkan?

Sejarah gerakan Wahhabi tidak dapat dibangun hanya dari satu sumber.

  • Karya Ahmad Zaini Dahlan penting karena memperlihatkan perspektif ulama Makkah yang menentang gerakan tersebut. Namun karya-karya dari lingkungan Najd memberikan perspektif berbeda. Sumber Ottoman memberikan perspektif politik lain. Sumber Irak dan Persia penting untuk memahami Karbala. Sementara sumber Eropa dan arsip perjalanan dapat memberikan kesaksian eksternal.
  • Tidak satu pun sumber tersebut boleh dianggap sempurna hanya karena sesuai dengan posisi kita.
  • Metode sejarah yang sehat justru mencari titik pertemuan di antara sumber-sumber yang berbeda.
  • Apabila Dahlan mengatakan suatu peristiwa terjadi dan sumber yang berasal dari tradisi berbeda juga mencatatnya, tingkat keyakinan terhadap fakta peristiwa tersebut menjadi lebih kuat.
  • Sebaliknya, jika suatu cerita hanya ditemukan dalam satu sumber polemik dan tidak mendapatkan konfirmasi dari sumber lain, tingkat kepastiannya harus diturunkan.

Sumber tambahan yang dapat dijadikan pendukung

  • J. G. Lorimer, Gazetteer of the Persian Gulf, Oman and Central Arabia merupakan salah satu sumber dokumenter penting untuk kronologi politik Arabia pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19. Arsip Qatar Digital Library memuat bagian yang secara khusus mencatat penaklukan Thaif pada 1802 dan penguasaan Makkah pada 1803, termasuk penghancuran makam yang menjadi objek ziarah. Lorimer juga mencatat bahwa setelah memasuki Makkah, pasukan Wahhabi melakukan perubahan terhadap praktik keagamaan dan pemerintahan kota. Karena karya ini berasal dari awal abad ke-20 dan mempunyai konteks kolonial-Britania, ia sebaiknya dipakai sebagai sumber pembanding, bukan sebagai satu-satunya sumber.
  • Encyclopaedia Iranica, artikel “Karbala” memberikan sumber akademik yang sangat berguna untuk memeriksa serangan terhadap Karbala. Artikel tersebut mencatat serangan pasukan Wahhabi Najd pada 21 April 1801 menurut kronologi yang digunakannya, serta penjarahan kota dan tempat suci dan perkiraan sekitar 5.000 orang terbunuh. Namun terdapat perbedaan tanggal dalam literatur sejarah—sejumlah karya menyebut 1802—sehingga artikel ilmiah sebaiknya menyatakan adanya perbedaan kronologi sumber, bukan menetapkan satu angka secara mutlak.
  • Menariknya, Cambridge History of Egypt juga memasukkan serangan terhadap Karbala pada 1801 dalam pembahasan operasi Wahhabi dan perkembangan kekuasaan Muhammad Ali di Arabia. Ini memberikan dukungan independen bahwa konflik tersebut bukan hanya narasi polemik Ahmad Zaini Dahlan, tetapi bagian dari sejarah politik Arabia-Irak pada periode tersebut.
  • Untuk memahami asal-usul gerakan, Michael Cook dalam artikel akademiknya, On the Origins of Wahhābism, menempatkan kemunculan gerakan Ibn ‘Abd al-Wahhab pada pertengahan abad ke-18 dan menjelaskan hubungan antara gagasan keagamaannya dengan pembentukan negara Saudi pertama. Artikel ini diterbitkan dalam Journal of the Royal Asiatic Society dan berguna sebagai sumber akademik untuk memisahkan sejarah gerakan dari polemik para penentangnya.
  • Sementara itu, Natana J. DeLong-Bas dalam Wahhabi Islam: From Revival and Reform to Global Jihad secara khusus menggunakan tulisan-tulisan awal Muhammad ibn Abd al-Wahhab sebagai bahan utama untuk membahas doktrin, hukum, jihad, dan perkembangan gerakan. Ini penting karena kritik terhadap Wahhabi sebaiknya tidak hanya dibangun berdasarkan tulisan lawan-lawan Wahhabi, tetapi juga dibandingkan dengan karya-karya asli pendirinya.
  • Untuk kajian yang lebih mutakhir, Cole M. Bunzel, dalam Wahhabism: The History of a Militant Islamic Movement yang diterbitkan Princeton University Press, menggunakan berbagai sumber primer dan membahas perkembangan gerakan dari kemunculannya pada abad ke-18, negara Saudi pertama, hingga perubahan pada abad ke-19 dan ke-20. Bunzel juga menempatkan tulisan-tulisan para penentang Ibn Abd al-Wahhab sebagai sumber penting untuk memahami polemik awal, tetapi tetap memperlakukannya sebagai bagian dari sejarah polemik yang harus dikritisi.
  • David Commins, dalam The Wahhabi Mission and Saudi Arabia, juga penting karena menggunakan sumber-sumber Arab dan membahas hubungan antara doktrin Wahhabi dan perkembangan politik keluarga Al Saud. Buku ini dapat dipakai untuk menghindari penyederhanaan bahwa gerakan tersebut hanya merupakan persoalan teologi; sejak awal terdapat hubungan erat antara reformasi keagamaan dan pembentukan kekuasaan politik.
  • Ada pula sumber primer yang sangat menarik untuk penguasaan Makkah, yaitu risalah ‘Abdullah ibn Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab mengenai masuknya pasukan ke Makkah pada 1218 H/1803 M. Karya ini tercatat dalam katalog CiNii Books sebagai Risālat al-Shaykh ʿAbd Allāh ibn Muḥammad ibn ʿAbd al-Wahhāb ḥawla dukhūl Makkah al-Mukarramah sanat 1218 H/1803 M, diterbitkan dalam edisi penelitian dan tahqiq pada 2019. Sumber semacam ini sangat penting karena memberikan kesempatan untuk membandingkan narasi pihak Wahhabi sendiri dengan narasi Ahmad Zaini Dahlan dan sumber-sumber eksternal.

Dengan demikian, bagian “uji fakta” dapat diperkuat

  • Untuk penaklukan Thaif, fakta bahwa Thaif jatuh kepada kekuatan Wahhabi pada 1802 memperoleh dukungan dari Lorimer dan sumber sejarah lainnya. Namun rincian mengenai jumlah korban, siapa yang dibunuh, serta cerita-cerita kekerasan tertentu harus diperiksa secara terpisah dan tidak otomatis dianggap terbukti hanya karena peristiwa penaklukannya sendiri memang tercatat.
  • Untuk penguasaan Makkah, terdapat bukti sejarah yang cukup kuat mengenai masuknya kekuatan Wahhabi ke Makkah pada 1803. Lorimer mencatat pengepungan, kesulitan pangan dan air, pengambilalihan kota, penghancuran makam-makam yang menjadi tujuan ziarah, serta penerapan aturan keagamaan baru. Bahkan terdapat sumber primer dari pihak keluarga Ibn Abd al-Wahhab sendiri mengenai masuknya Makkah pada 1218 H/1803 M.
  • Untuk penghancuran makam, persoalannya juga mempunyai dasar historis yang lebih kuat daripada sekadar tuduhan polemis. Lorimer secara eksplisit mencatat bahwa makam yang menjadi objek ziarah dihancurkan setelah penguasaan Makkah. Karena itu, yang perlu diperdebatkan secara ilmiah bukan lagi apakah perubahan tersebut pernah terjadi, tetapi makna teologisnya, ruang lingkupnya, lokasi yang dihancurkan, dan bagaimana peristiwa tersebut harus ditafsirkan dalam konteks pemikiran Ibn Abd al-Wahhab.
  • Untuk Karbala, sumber-sumber akademik memberikan dukungan yang lebih jelas lagi bahwa serangan tersebut memang terjadi. Perbedaan terutama muncul pada kronologi dan angka korban. Encyclopaedia Iranica menggunakan tanggal 21 April 1801 dan menyebut sekitar 5.000 korban, sedangkan literatur lain sering menggunakan tahun 1802. Karena itu, penulisan ilmiah sebaiknya menggunakan formulasi seperti “serangan Karbala pada awal abad ke-19, yang dalam sejumlah sumber diberi tanggal 1801 dan dalam sumber lain 1802”, kemudian menjelaskan bahwa jumlah korban merupakan perkiraan.
  • Untuk takfir, sumber akademik modern juga menunjukkan bahwa persoalannya memang merupakan bagian penting dalam sejarah pemikiran Wahhabi. Michael Cook menggambarkan gagasan awal Ibn Abd al-Wahhab mengenai kemusyrikan dan perlunya memerangi pihak yang dipandang telah keluar dari tauhid, sedangkan Cole Bunzel menempatkan perkembangan sikap tersebut dalam sejarah yang lebih panjang dan kompleks. Karena itu, tuduhan Dahlan mengenai takfir tidak sebaiknya langsung ditolak sebagai “fitnah”, tetapi juga tidak boleh diterima tanpa membedakan antara doktrin, teks, penerapan politik, dan tindakan kelompok pada periode tertentu.

Satu prinsip penting untuk artikel

Dengan tambahan sumber tersebut, artikel Fitnatul Wahabiyyah akan jauh lebih kuat jika menggunakan prinsip:

  • “Satu peristiwa sejarah tidak dinilai berdasarkan satu buku saja, tetapi melalui perbandingan sumber yang berbeda, termasuk sumber yang mendukung, menolak, dan berasal dari pihak yang terlibat langsung.”
  • Dengan pendekatan tersebut, Ahmad Zaini Dahlan tetap penting sebagai saksi dan penulis polemik dari lingkungan ulama Makkah, tetapi kesaksiannya harus ditempatkan berdampingan dengan sumber Wahhabi, arsip sejarah regional, karya akademik modern, dan sumber dari pihak lain. Penelitian Cole Bunzel sendiri menunjukkan bahwa tulisan-tulisan para penentang awal Wahhabi merupakan sumber berharga untuk merekonstruksi sejarah gerakan, sekaligus memperlihatkan betapa kerasnya polemik keagamaan pada masa itu.
  • Daftar sumber utama yang layak ditambahkan ke artikel: Ahmad Zaini Dahlan, Fitnat al-Wahhābiyya; J. G. Lorimer, Gazetteer of the Persian Gulf, Oman and Central Arabia; Encyclopaedia Iranica, “Karbala”; Michael Cook, “On the Origins of Wahhābism”; Natana J. DeLong-Bas, Wahhabi Islam; David Commins, The Wahhabi Mission and Saudi Arabia; Cole M. Bunzel, Wahhabism: The History of a Militant Islamic Movement; serta risalah ‘Abdullah ibn Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab tentang masuknya Makkah tahun 1218 H/1803 M.
  • Struktur sumber seperti ini memungkinkan narasinya tetap tajam terhadap fakta sejarah, tetapi adil terhadap sumber dan tidak berubah menjadi propaganda dari salah satu pihak.

Pelajaran Teologis dan Etis

  • Kritik terhadap penggunaan takfir merupakan persoalan yang layak diperhatikan. Menuduh seorang Muslim sebagai kafir atau musyrik bukan perkara ringan dalam tradisi Islam dan harus didasarkan pada ilmu, dalil serta kehati-hatian.
  • Kritik terhadap kekerasan atas nama agama juga merupakan persoalan penting. Apabila tindakan kekerasan benar-benar terjadi, ia harus dibahas berdasarkan bukti sejarah, bukan dibenarkan hanya karena pelakunya berasal dari kelompok yang kita sukai.
  • Sebaliknya, jika suatu tuduhan belum terbukti, ia tidak boleh diperlakukan sebagai fakta hanya karena cocok dengan narasi kelompok kita.
  • Perbedaan mengenai tawassul, ziarah, tabarruk, bid‘ah dan berbagai persoalan aqidah dapat dibahas dengan dalil dan tradisi keilmuan tanpa harus berubah menjadi penghinaan terhadap kelompok lain.

Kesimpulan

  • Fitnatul Wahabiyyah merupakan dokumen penting dalam sejarah intelektual Islam abad ke-19. Karya Ahmad Zaini Dahlan memperlihatkan bagaimana seorang ulama besar Makkah dari tradisi Syafi‘i-Asy‘ari memahami, mengkritik dan menilai gerakan Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab serta ekspansi politik Saudi-Najdi.
  • Kitab tersebut tidak tepat diperlakukan sebagai satu-satunya sumber sejarah dan tidak tepat pula ditolak seluruhnya sebagai fitnah.
  • Uji silang menunjukkan bahwa beberapa peristiwa penting yang terdapat dalam narasi anti-Wahhabi memang memiliki dukungan dari sumber lain. Penaklukan Thaif, penguasaan Makkah, penghancuran sejumlah bangunan makam dan tempat ziarah serta serangan terhadap Karbala mempunyai dokumentasi historis di luar karya Dahlan.
  • Pada saat yang sama, rincian tertentu—terutama angka korban, kisah individual, atribusi motif dan cerita ekstrem seperti pemancungan orang buta atau penduduk memakan anjing—harus diperlakukan dengan tingkat kehati-hatian yang lebih tinggi sampai tersedia verifikasi tekstual dan sumber independen yang memadai.
  • Dengan demikian, kesimpulan ilmiah bukanlah bahwa Dahlan benar seluruhnya, dan bukan pula bahwa Dahlan memfitnah seluruhnya.

Kesimpulan yang lebih bertanggung jawab adalah:

  • Ahmad Zaini Dahlan merupakan sumber polemik yang penting, tetapi setiap klaim historis dalam karyanya harus diuji satu per satu melalui kritik teks, kritik sumber, perbandingan kesaksian dan penelitian historiografi modern.
  • Yang terbukti harus disebut terbukti. Yang merupakan kesaksian harus disebut sebagai kesaksian. Yang merupakan interpretasi harus disebut interpretasi. Yang berupa tuduhan harus disebut tuduhan. Dan yang belum terverifikasi tidak boleh dipastikan.
  • Dengan cara demikian, sejarah tidak dijadikan alat untuk membenci kelompok lain, tetapi menjadi sarana untuk memahami masa lalu secara lebih jujur.
  • Membaca sejarah dengan adil tidak berarti membela Wahhabi dan tidak berarti membela Dahlan. Membaca sejarah dengan adil berarti memberikan kepada setiap sumber hak untuk diuji dengan standar ilmiah yang sama.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *