DAFTAR MUADZIN MASJIDIL HARAM : JEJAK SUARA DARI BAITULLAH. Dari Ali Mulla hingga Ibrahim Al-Madani: Ketika Azan Menjadi Warisan yang Menghidupkan Hati
Azan di Masjidil Haram bukan sekadar penanda masuknya waktu shalat, tetapi bagian dari tradisi ibadah yang diwariskan lintas generasi. Para muazin dengan karakter suara dan lantunan yang khas telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Baitullah pada era modern. Di antara nama yang dikenal luas terdapat Syekh Ali Ahmad Mulla, Ahmad Ali An-Nahas, Majid Ibrahim Al-Abbas, Sa’id Umar Falatah, hingga Syekh Ibrahim bin Adel Al-Madani. Pergantian generasi para muazin memperlihatkan bahwa suara dapat berhenti pada seorang manusia, tetapi syiar yang dibawanya terus berlanjut.
Masjidil Haram adalah salah satu pusat spiritual umat Islam sedunia, dan azan yang berkumandang dari tempat suci tersebut memiliki kedudukan emosional yang sangat kuat bagi kaum Muslimin. Di balik setiap lantunan Allahu Akbar terdapat seorang muazin yang mengemban amanah menyeru manusia menuju shalat. Dalam perjalanan era kontemporer, sejumlah muazin Masjidil Haram dikenal luas melalui rekaman dan siaran langsung, sementara sebagian lainnya melanjutkan tugas tersebut sebagai bagian dari sistem muazin yang bertugas secara bergiliran. Karena itu, sejarah mereka bukan sekadar sejarah suara, melainkan juga sejarah pengabdian kepada syiar Islam.
Bisa. Namun untuk daftar “dari masa ke masa” perlu hati-hati: dokumentasi sejarah muazin Masjidil Haram tidak selengkap daftar imam, dan daftar yang tersedia secara daring terutama mendokumentasikan era modern. Saya menemukan sumber yang mencatat beberapa nama berikut.
Muazin Masjidil Haram yang terdokumentasi
Era sebelum dan awal masa modern
- Syekh Abdul Hafizh/Khoja — termasuk nama yang tercatat dalam sejarah muazin Masjidil Haram.
- Syekh Abdullah Basnawi — tercatat dalam daftar muazin Masjidil Haram.
- Syekh Farooq Hadrawi — tercatat sebagai muazin Masjidil Haram.
- Syekh Abdullah bin As’ad Reis — salah satu muazin senior; dilaporkan mulai bertugas pada 1365 H dan berhenti karena usia dan kondisi kesehatan.
Generasi berikutnya
Syekh Muhammad Siraj Ma’ruf — diangkat sebagai muazin pada 1403 H dan terus bertugas hingga wafat pada Desember 2015.
Syekh Ali Ahmad Mulla (Ali Mulla) — salah satu suara azan Masjidil Haram yang sangat dikenal pada era modern; menurut sumber yang tersedia, beliau mulai mengumandangkan azan sejak usia muda dan kemudian diangkat sebagai muazin resmi pada 1975.
- Syekh Muhammad Ali Syakir
- Syekh Majid Ibrahim Al-Abbas — diangkat sebagai muazin pada 2001.
- Syekh Ahmad Ali Nahhas — diangkat sebagai muazin pada 2009.
- Syekh Sa’id bin Umar Fallatah — diangkat sebagai muazin pada Ramadan 2013.
Generasi kontemporer
Syekh Ibrahim bin Adel Al-Madani — termasuk muazin generasi kontemporer Masjidil Haram dan wafat pada 21 September 2026. Sumber resmi/berita Saudi menyebut beliau sebagai salah satu dari jajaran muazin utama Masjidil Haram dan anggota Makbariyah.
Pada masa kini, sistem muazin Masjidil Haram terdiri dari sejumlah muazin yang bertugas secara bergiliran, bukan satu orang yang menjadi muazin tunggal. Laporan terbaru mengenai Syekh Ibrahim menyebut terdapat 24 muazin utama, dengan sebagian bertugas bergantian setiap hari.
Muazin Masjidil Haram — era kontemporer dan tahun yang terdokumentasi
| Muazin | Tahun pengangkatan yang terdokumentasi |
|---|---|
| Syekh Ali bin Ahmad Mulla (علي بن أحمد ملا) | 1975 |
| Syekh Majid bin Ibrahim Al-Abbas (ماجد بن إبراهيم العباس) | 2001 |
| Syekh Ahmad bin Ali An-Nahas (أحمد بن علي النحاس) | 2009 |
| Syekh Ahmad bin Yunus Khuja (أحمد بن يونس خوجة) | 2009 |
| Syekh Isam bin Ali Khan (عصام بن علي خان) | 2009 |
| Syekh Muhammad bin Ahmad Al-Maghribi (محمد بن أحمد المغربي) | 2013 |
| Syekh Sa’id bin Umar Falatah (سعيد بن عمر فلاته) | 2013 |
| Syekh Hamad bin Ahmad Ad-Daghreeri (حمد بن أحمد الدغريري) | 2013 |
| Syekh Ibrahim bin Adel Al-Madani (إبراهيم بن عادل المدني) | era kontemporer; tahun pengangkatan perlu sumber primer |
| Syekh Husain bin Hasan Shahat (حسين بن حسن شحات) | tahun pengangkatan perlu sumber primer |
| Syekh Turki bin Talal Al-Hasani (تركي بن طلال الحسني) | tahun pengangkatan perlu sumber primer |
| Syekh Tawfiq bin Abdulhafizh Khouj (توفيق بن عبدالحفيظ خوج) | tahun pengangkatan perlu sumber primer |
| Syekh Hashim bin Muhammad As-Saqqaf (هاشم بن محمد السقاف) | tahun pengangkatan perlu sumber primer |
| Syekh Muhammad bin Ali Al-Umari (محمد بن علي العمري) | tahun pengangkatan perlu sumber primer |
| Syekh Ahmad bin Abdullah Basnawi (أحمد بن عبدالله بصنوي) | tahun pengangkatan perlu sumber primer |
| Syekh Muhammad bin Ali Syakir (محمد بن علي شاكر) | tahun pengangkatan perlu sumber primer |
| Syekh Abdullah bin Ahmad Ba’afif (عبدالله بن أحمد باعفيف) | tahun pengangkatan perlu sumber primer |
| Syekh Muhammad bin Ahmad Basa’ad (محمد بن أحمد باسعد) | tahun pengangkatan perlu sumber primer |
| Syekh Suhail bin Abdulmalik Hafizh (سهيل بن عبدالمالك حافظ) | tahun pengangkatan perlu sumber primer |
| Syekh Nayif bin Saleh Faidah (نايف بن صالح فيده) | tahun pengangkatan perlu sumber primer |
| Syekh Imad bin Ali Baqri (عماد بن علي بقري) | tahun pengangkatan perlu sumber primer |
| Syekh Muhammad bin Yusuf Mu’azzin (محمد بن يوسف مؤذن) | tahun pengangkatan perlu sumber primer |
| Syekh Sami bin Abdulrahim Reis (سامي بن عبدالرحيم ريس) | tahun pengangkatan perlu sumber primer |
| Syekh Abdullah bin … | perlu verifikasi sumber primer |
Untuk tahun pengangkatan, terdapat dokumentasi yang cukup kuat untuk beberapa nama. Pada 2009, misalnya, tiga muazin—Isam bin Ali Khan, Ahmad bin Ali An-Nahas, dan Ahmad bin Yunus Khuja—resmi diangkat, sehingga jumlah muazin Masjidil Haram saat itu menjadi 14 orang. Pada 2013, tiga nama baru kembali ditetapkan, yaitu Muhammad bin Ahmad Al-Maghribi, Sa’id bin Umar Falatah, dan Hamad bin Ahmad Ad-Daghreeri.
Yang menarik, daftar resmi terbaru yang saya temukan mencantumkan Ibrahim bin Adel Al-Madani, Ali bin Ahmad Mulla, Sa’id bin Umar Falatah, Ahmad bin Ali An-Nahas, Majid bin Ibrahim Al-Abbas, dan banyak nama lainnya sebagai muazin Masjidil Haram. Jadi, Ali Mulla bukan satu-satunya muazin, melainkan salah satu muazin paling dikenal dari generasi modern.
Jadi, tidak tepat membuat satu daftar linear seolah-olah setiap nama menggantikan nama sebelumnya. Masjidil Haram memiliki banyak muazin yang bertugas bersamaan dan bergiliran. Bahkan sumber sejarah yang tersedia belum cukup untuk menyusun daftar lengkap sejak masa Rasulullah ﷺ hingga sekarang.
Untuk daftar sejarah yang benar-benar lengkap, sebaiknya dibuat dalam bentuk “Sejarah Muazin Masjidil Haram dari Masa Nabi ﷺ, Khulafaur Rasyidin, Dinasti Islam, Kesultanan Utsmani, Syarif Makkah, hingga Kerajaan Saudi”, karena sistem azan dan kelembagaan muazin berubah dari masa ke masa.
Menariknya, kabar wafatnya Syekh Ibrahim Al-Madani pada 21 September 2026 juga memperlihatkan bahwa beliau bukan muazin tunggal, melainkan bagian dari tradisi panjang Makbariyah Masjidil Haram yang telah berlangsung lintas generasi.
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
🤲 Syekh Ibrahim bin Adel Al-Madani, salah satu muazin Masjidil Haram, dikabarkan wafat pada Senin, 21 September 2026, dalam usia 51 tahun.
🕋 Yang begitu menyentuh hati, menurut laporan yang beredar, azan Subuh yang beliau kumandangkan pada Senin dini hari menjadi azan terakhirnya di Masjidil Haram—suara yang selama ini menyeru manusia, “Hayya ‘alash-shalah, hayya ‘alal-falah,” akhirnya terdiam setelah sang muazin memenuhi panggilan yang lebih agung: panggilan Rabbul ‘Alamin. 🕊️ Semoga setiap “Allahu Akbar” yang pernah beliau lantunkan menjadi saksi amal saleh, setiap langkah jamaah menuju shalat menjadi pahala yang terus mengalir, dan setiap gema azannya menjadi cahaya di alam barzakh.
🤲 Syekh Ibrahim dahulu memanggil kita untuk menghadap Allah; kini beliau telah lebih dahulu menghadap-Nya. Semoga kepergiannya menjadi renungan bagi kita semua: sebelum tiba azan terakhir dalam kehidupan, mari memenuhi setiap panggilan Allah dengan sebaik-baiknya. 🕌❤️
Inspirasi: Ketika Suara Menjadi Amal
Ada suara yang hanya terdengar sesaat, lalu hilang bersama angin; tetapi ada suara yang masuk ke dalam hati dan tinggal sebagai kenangan. Suara para muazin Masjidil Haram adalah salah satunya. 🕋 Ketika Syekh Ali Mulla mengumandangkan Allahu Akbar, ketika generasi setelahnya meneruskan panggilan itu, hingga Syekh Ibrahim bin Adel Al-Madani menggemakan azan dari Baitullah, sesungguhnya yang berpindah bukanlah amanahnya—hanya manusia yang membawanya. Dan ketika sang muazin wafat, seperti yang diberitakan tentang Syekh Ibrahim Al-Madani, suara itu memang berhenti dari lisannya, tetapi seruan kepada Allah tidak pernah berhenti. 🕊️ Hayya ‘alash-shalah… hayya ‘alal-falah—marilah menuju shalat, marilah menuju kemenangan. Betapa indah kehidupan seorang manusia apabila lisannya digunakan untuk mengajak manusia mengingat Allah; dan betapa indah pula akhir perjalanan apabila setelah bertahun-tahun menyeru manusia memenuhi panggilan-Nya, ia sendiri akhirnya memenuhi panggilan Rabbul ‘Alamin. 🤲 Azan bukan sekadar suara. Ia adalah panggilan. Bukan sekadar panggilan untuk orang lain, tetapi pengingat bahwa suatu hari setiap kita akan mendengar panggilan terakhir dan kembali kepada-Nya.
Penutup
Suara para muazin mungkin berganti dari satu generasi ke generasi berikutnya, tetapi makna azan tetap sama: Allah Mahabesar, shalat adalah jalan menuju kemenangan, dan manusia pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. 🕌 Semoga kisah para muazin Masjidil Haram mengajarkan kita bahwa umur manusia terbatas, suara akan berhenti, tetapi amal yang mengajak manusia kepada kebaikan dapat terus hidup. Hari ini kita mendengar azan; suatu hari nanti kita sendiri akan menjadi bagian dari keheningan setelah panggilan itu selesai. Maka, selagi suara azan masih terdengar, marilah menjawabnya dengan langkah menuju Allah. 🤲❤️













Leave a Reply