MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

YESUS (ISA) DALAM AL-QUR’AN DAN BIBLE SAMA: TIDAK KATAKAN AKU TUHAN

YESUS (ISA) DALAM AL-QUR’AN DAN BIBLE SAMA: TIDAK KATAKAN AKU TUHAN

Perbandingan Pernyataan tentang Utusan Allah dan Ketuhanan Yesus

Yesus dalam Kekristenan dan Isa dalam Islam merupakan figur yang sangat penting. Islam dan Kekristenan sama-sama menghormati Yesus/Isa, tetapi memberikan penjelasan teologis yang berbeda mengenai identitasnya. Al-Qur’an secara tegas menyebut Isa sebagai Al-Masih, putra Maryam, dan Rasul Allah, sedangkan Kekristenan arus utama meyakini Yesus sebagai Anak Allah dan bagian dari doktrin Trinitas.

Dalam dialog Islam-Kristen, salah satu pertanyaan penting adalah: apakah Yesus sendiri dalam Bible pernah secara eksplisit mengatakan, “Aku adalah Tuhan, sembahlah aku”? Jika pertanyaan ini dibandingkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebut Isa sebagai utusan Allah, ditemukan sejumlah teks yang menjadi bahan perdebatan teologis.

Isa dalam Al-Qur’an: Rasul Allah

Al-Qur’an secara konsisten memberikan kedudukan yang sangat mulia kepada Isa, tetapi tidak menjadikannya sebagai Tuhan. Isa disebut sebagai Al-Masih Isa putra Maryam, seorang rasul Allah.

QS An-Nisa’ 4:171 menyatakan bahwa Al-Masih Isa putra Maryam adalah utusan Allah, kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, dan roh dari-Nya. Ayat tersebut juga memperingatkan agar manusia tidak mengatakan “tiga” dan menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa.

QS Al-Ma’idah 5:75 juga menyatakan bahwa Al-Masih dan ibunya adalah manusia yang keduanya memakan makanan. Al-Qur’an menggunakan fakta tersebut sebagai salah satu argumentasi bahwa Isa bukan Tuhan, karena Tuhan tidak bergantung kepada makanan sebagaimana manusia.

Yesus (Isa) Katakan Dalam Quran Aku Bukan Tuhan

Dalam Al-Qur’an, Isa عليه السلام digambarkan dengan sangat jelas bukan sebagai Tuhan, melainkan sebagai hamba dan utusan Allah. QS Maryam 19:30 merekam perkataan Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Kitab dan Dia menjadikan aku seorang nabi.” Al-Qur’an juga menegaskan dalam QS An-Nisa’ 4:171 bahwa Al-Masih Isa putra Maryam adalah utusan Allah, bukan Allah. Bahkan QS Al-Ma’idah 5:72–75 menolak anggapan bahwa Al-Masih adalah Allah dan menegaskan bahwa Isa dan Maryam adalah manusia yang keduanya makan makanan. Dengan demikian, menurut Al-Qur’an, Isa memiliki kedudukan yang sangat mulia—Al-Masih, nabi, rasul, dan salah satu tanda kekuasaan Allah—tetapi bukan Tuhan dan bukan objek penyembahan.

Penegasan tersebut semakin kuat dalam QS Al-Ma’idah 5:116–117, ketika Allah menggambarkan dialog dengan Isa pada Hari Kiamat. Isa menyatakan bahwa ia tidak pernah mengatakan kepada manusia, “Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah,” dan menegaskan bahwa ia hanya menyampaikan apa yang diperintahkan Allah kepadanya: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” Jadi, gambaran Al-Qur’an mengenai Isa sangat tegas: Isa menyembah Allah, Allah adalah Tuhannya, dan Isa adalah utusan-Nya. Dalam kerangka tauhid Islam, inilah inti kedudukan Isa: manusia pilihan Allah yang membawa wahyu dan menyeru manusia agar menyembah hanya Allah Yang Maha Esa.

Yesus dalam Bible: “Yang Mengutus Aku”

Dalam Bible terdapat sejumlah perkataan Yesus yang menunjukkan adanya hubungan antara dirinya dan Allah yang mengutusnya.

Dalam Yohanes 17:3, Yesus berdoa kepada Bapa dan menyebut Bapa sebagai “satu-satunya Allah yang benar”, kemudian menyebut dirinya sebagai pribadi yang diutus oleh Allah. Ayat ini sangat penting dalam diskusi Islam-Kristen karena Yesus membedakan antara Allah yang benar dan dirinya sebagai orang yang diutus.

Dalam Yohanes 20:17, setelah kebangkitan, Yesus berkata kepada Maria Magdalena bahwa ia pergi kepada “Allah-Ku dan Allahmu” serta “Bapa-Ku dan Bapamu.” Dari perspektif Islam, pernyataan seperti ini menunjukkan bahwa Yesus mempunyai Tuhan yang ia sembah.

Dalam Yohanes 14:28 Yesus juga berkata, “Bapa lebih besar daripada Aku.” Ayat tersebut sering digunakan dalam apologetika Islam untuk menunjukkan bahwa Yesus membedakan dirinya dari Allah.

Yesus Berdoa kepada Allah

  • Salah satu perbedaan penting antara Allah dan Yesus yang sering dibahas adalah tindakan Yesus berdoa.
  • Dalam Matius 26:39, Yesus berdoa kepada Allah dan berkata, “Ya Bapa-Ku,” kemudian menyerahkan kehendaknya kepada kehendak Bapa. Dalam Lukas 6:12, Yesus bahkan disebut pergi ke gunung untuk berdoa dan menghabiskan malam dalam doa kepada Allah.
  • Dari perspektif Islam, tindakan berdoa kepada Allah merupakan indikasi bahwa Yesus adalah seorang hamba dan utusan Allah, bukan Allah itu sendiri. Isa dalam Islam juga digambarkan sebagai hamba Allah. QS Maryam 19:30 menyatakan bahwa Isa berkata, “Sesungguhnya aku ini hamba Allah.”

Yesus Mengajarkan Keesaan Tuhan

  • Dalam Markus 12:29, ketika ditanya mengenai perintah yang paling utama, Yesus menjawab dengan mengutip Shema dari Taurat:
  • “Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa.”
  • Pernyataan ini memiliki kedekatan konseptual dengan prinsip tauhid dalam Islam. Al-Qur’an juga berulang kali menegaskan bahwa Allah adalah satu.
  • QS Al-Ikhlas 112:1 menyatakan:
  • “Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa.”
  • Karena itu, dalam perspektif Islam, ajaran dasar Yesus mengenai keesaan Allah sejalan dengan prinsip tauhid yang kemudian ditegaskan kembali oleh Nabi Muhammad.

Yesus Mengaku sebagai Utusan

  • Dalam Yohanes 8:42, Yesus berbicara tentang Allah yang mengutus dirinya. Dalam Yohanes 12:49, Yesus mengatakan bahwa ia tidak berbicara dari dirinya sendiri, melainkan Bapa yang mengutusnya memberikan perintah mengenai apa yang harus dikatakan dan dibicarakan.
  • Yohanes 5:30 juga mencatat perkataan Yesus:
  • “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri.”
  • Kemudian ia berbicara mengenai kehendak yang mengutusnya.
  • Ayat-ayat tersebut menjadi dasar argumentasi bahwa Yesus menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang menerima tugas, perintah, dan misi dari Allah.

Apakah Yesus Pernah Mengatakan “Aku Tuhan”?

Di sinilah diperlukan ketelitian akademik. Tidak terdapat kalimat literal dalam Bible yang berbunyi persis, “Aku Tuhan” sebakiknya justru katakan  “Aku hanya utusan.” Karena itu, tidak tepat jika dikatakan bahwa Bible memuat kalimat tersebut secara harfiah.

Namun, terdapat banyak pernyataan Yesus yang menunjukkan bahwa ia membedakan dirinya dari Allah, menyebut Bapa sebagai Allah, berdoa kepada Allah, menerima perintah dari Allah, dan menyatakan dirinya diutus oleh Allah.

Karena itu, argumen yang lebih tepat adalah: Bible tidak mencatat Yesus mengucapkan kalimat eksplisit “Aku adalah Tuhan, sembahlah aku”, sementara terdapat sejumlah perkataan Yesus yang menunjukkan pembedaan antara dirinya dan Allah.

Bagaimana Kekristenan Memahami Ayat-Ayat Tersebut?

  • Kekristenan Trinitarian memberikan penafsiran berbeda. Menurut teologi Kristen, Yesus memiliki dua natur, yaitu natur ilahi dan natur manusia. Karena itu, ketika Yesus berdoa kepada Bapa, menyebut Bapa lebih besar, atau mengatakan dirinya diutus, hal tersebut tidak dianggap sebagai bukti bahwa Yesus bukan Tuhan.
  • Teologi Kristen memahami hubungan Bapa dan Anak dalam kerangka Trinitas: satu hakikat ilahi dalam tiga pribadi. Karena itu, umat Kristen dapat menerima bahwa Yesus berdoa kepada Bapa sekaligus meyakini keilahian Yesus.
  • Dengan demikian, persoalannya bukan hanya mengenai ayat, tetapi juga mengenai kerangka penafsiran teologis yang digunakan untuk memahami ayat tersebut.

Ayat-Ayat yang Dipakai Kekristenan untuk Keilahian Yesus

Agar perbandingan ini adil, perlu disebutkan pula teks Bible yang digunakan umat Kristen untuk mendukung keilahian Yesus.

  • Yohanes 1:1 menyatakan bahwa Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Yohanes 20:28 mencatat Tomas berkata kepada Yesus, “Ya Tuhanku dan Allahku!”
  • Filipi 2:6–11 juga menjadi salah satu teks penting dalam kristologi Kristen. Karena itu, tidak tepat secara akademik mengatakan bahwa Bible sama sekali tidak memiliki dasar tekstual yang digunakan untuk menyatakan keilahian Yesus.

Perdebatan sebenarnya adalah bagaimana ayat-ayat tersebut harus dipahami dan apakah keseluruhan Bible mengajarkan doktrin Trinitas dalam bentuk yang kemudian dirumuskan oleh gereja.

Titik Pertemuan Al-Qur’an dan Perkataan Yesus

  • Dari perspektif Islam, terdapat sejumlah titik pertemuan yang sangat menarik antara Al-Qur’an dan perkataan Yesus dalam Bible.
  • Keduanya menempatkan Allah sebagai Tuhan yang menjadi pusat ibadah. Keduanya juga menggambarkan Yesus/Isa dalam hubungan dengan Allah dan misi yang diberikan kepadanya.
  • Al-Qur’an menyebut Isa sebagai Rasul Allah, sedangkan Bible mencatat Yesus berbicara tentang dirinya sebagai pribadi yang diutus oleh Allah.
  • Al-Qur’an menyebut Isa sebagai hamba Allah dalam QS Maryam 19:30, sementara Bible menggambarkan Yesus berdoa kepada Allah, berbicara mengenai Allah yang mengutusnya, dan menyebut Bapa sebagai Allah.
  • Dari sudut pandang Islam, kesamaan-kesamaan tersebut dipahami sebagai bukti bahwa Isa membawa ajaran tauhid dan bahwa Islam datang bukan untuk menolak Isa, melainkan untuk mengembalikan manusia kepada pengesaan Allah.

Perbedaan Utama

Pokok Al-Qur’an Bible dan Teologi Kristen
Identitas Isa/Yesus Al-Masih dan Rasul Allah Anak Allah dan, dalam Kekristenan arus utama, pribadi ilahi
Allah Esa secara mutlak Satu Allah dalam doktrin Trinitas
Isa berdoa kepada Allah Ya Ya
Isa diutus Allah Ya Ya, terdapat sejumlah ayat tentang pengutusan
Isa adalah Tuhan Ditolak Diterima dalam Kekristenan Trinitarian
“Aku adalah Tuhan” Tidak ada Tidak ada kalimat literal tersebut
Dasar keilahian Yesus Ditolak Dibangun dari sejumlah teks Bible dan tradisi teologis
Posisi Isa Hamba dan Rasul Allah Anak Allah dan pribadi kedua dalam Trinitas

Kesimpulan

Jika dilihat dari perspektif Islam, Isa dalam Al-Qur’an dan Yesus dalam sejumlah perkataannya di Bible mempunyai titik temu penting: Allah adalah pusat penyembahan, Yesus berdoa kepada Allah, dan Yesus menyatakan bahwa dirinya diutus oleh Allah. Al-Qur’an kemudian memberikan formulasi yang lebih eksplisit dengan menyebut Isa sebagai Rasul Allah dan hamba Allah.

Namun, secara akademik harus dibedakan antara “Yesus mengatakan dirinya diutus Allah” dan “Yesus mengatakan secara literal bahwa dirinya bukan Tuhan.” Pernyataan pertama mempunyai sejumlah dasar tekstual dalam Bible, sedangkan pernyataan kedua bukan kutipan literal dari Bible. Sebaliknya, umat Kristen menunjuk kepada teks seperti Yohanes 1:1 dan Yohanes 20:28 sebagai dasar keilahian Yesus.

Dengan demikian, perbedaan Islam dan Kekristenan terletak terutama pada interpretasi identitas Yesus. Islam membaca Yesus sebagai Al-Masih, hamba dan Rasul Allah yang menyeru kepada penyembahan kepada Allah Yang Esa. Kekristenan Trinitarian membaca keseluruhan kesaksian Bible sebagai dasar keyakinan bahwa Yesus memiliki keilahian sekaligus kemanusiaan. Dialog yang ilmiah harus menyampaikan kedua sisi tersebut secara jujur, kemudian membandingkan dalil-dalilnya tanpa mengubah pendapat salah satu agama menjadi seolah-olah merupakan pernyataan yang tidak pernah dibuatnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *