MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Bahaya Berkata Kasar pada Orangtua: Perspektif Islam dan Pendidikan Modern dalam Membentuk Akhlak Remaja

Bahaya Berkata Kasar pada Orangtua: Perspektif Islam dan Pendidikan Modern dalam Membentuk Akhlak Remaja

Abstrak

Berkata kasar atau tidak sopan kepada orangtua merupakan perilaku tercela yang dilarang keras dalam Islam. Al-Qur’an menegaskan pentingnya berbicara dengan penuh kelembutan kepada kedua orangtua, bahkan sekadar ucapan kecil yang menyakiti hati termasuk dosa besar. Hadits Nabi ﷺ juga menekankan pentingnya menjaga lisan dan adab, yang menjadi bagian dari kesempurnaan iman seorang Muslim. Namun, dalam perkembangan psikologis remaja, perilaku ini sering muncul akibat fase pencarian jati diri, pengaruh lingkungan, dan kurangnya bimbingan komunikasi positif.

Artikel ini membahas fenomena berkata kasar pada orangtua dari perspektif Islam, Al-Qur’an, dan Sunnah, serta pandangan para ulama klasik dan kontemporer. Selain itu, tulisan ini menguraikan strategi penanganan menurut Islam serta pendekatan modern berbasis psikologi dan pedagogi. Dengan perpaduan dua perspektif ini, diharapkan muncul solusi praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membentuk akhlak remaja yang lebih baik.


Fenomena remaja yang berkata kasar kepada orangtua semakin sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, sekolah, maupun di ruang publik. Media sosial bahkan sering menampilkan contoh buruk ini yang tanpa disadari dapat menjadi “role model” negatif bagi generasi muda. Padahal, Islam menempatkan orangtua pada posisi yang sangat mulia, sehingga segala bentuk ucapan yang menyakitkan hati mereka termasuk pelanggaran besar terhadap akhlak Islami.

Dari sudut pandang psikologi perkembangan, remaja adalah individu yang sedang mencari jati diri dan mencoba menegakkan kemandirian. Hal ini kadang diwujudkan dengan sikap membantah atau berkata kasar kepada orangtua. Tanpa bimbingan yang tepat, kebiasaan ini dapat berlanjut hingga dewasa dan menurunkan kualitas hubungan keluarga. Oleh karena itu, kajian lintas perspektif, baik Islam maupun ilmu modern, diperlukan untuk memahami akar masalah serta solusi komprehensifnya.

Sikap Buruk Remaja Menurut Islam, Qur’an, Sunnah, dan Ulama

Al-Qur’an secara tegas melarang sikap kasar kepada orangtua dalam QS. Al-Isra: 23, yang menyatakan larangan mengatakan “ah” sekalipun kepada mereka. Tafsir Ibnu Katsir menegaskan bahwa larangan ini berlaku untuk semua bentuk ucapan kasar atau menyakitkan, baik secara langsung maupun sindiran. Hal ini menunjukkan betapa Islam menekankan kelembutan lisan kepada orangtua sebagai bagian dari ibadah.

Dalam Sunnah, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa durhaka kepada orangtua termasuk salah satu dosa besar. Hadits riwayat Bukhari dan Muslim menyebutkan bahwa dosa durhaka ditempatkan sejajar dengan syirik kepada Allah dan pembunuhan. Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menekankan bahwa menjaga lisan kepada orangtua adalah kewajiban yang tidak boleh diremehkan, karena ucapan kasar bisa menjadi bentuk nyata dari kedurhakaan.

Selain itu, ulama seperti Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa adab berbicara adalah bagian dari syariat yang harus dijaga. Remaja yang belum matang emosinya wajib diarahkan agar memahami bahwa orangtua adalah pintu surga. Dengan demikian, berkata kasar bukan hanya pelanggaran etika, tetapi juga ancaman terhadap keberkahan hidup seorang anak.

Tabel 10 Contoh Sehari-hari Berkata Kasar pada Orangtua

No Contoh Ucapan / Perilaku Kasar kepada Orangtua
1 Mengatakan “ah” atau mendengus dengan kesal.
2 Membentak ketika orangtua memberi nasihat.
3 Menggunakan kata kotor saat marah kepada orangtua.
4 Menyela pembicaraan dengan nada tinggi.
5 Menolak perintah dengan kata-kata kasar.
6 Menghina pendapat orangtua dengan kata “kuno” atau “nggak ngerti”.
7 Menghardik saat diminta bantuan.
8 Membandingkan orangtua dengan orang lain dengan kata merendahkan.
9 Mengabaikan panggilan dengan nada sinis.
10 Menutup pintu keras-keras di depan orangtua.

Penanganan Menurut Islam

Islam menekankan pendidikan adab sejak dini. Orangtua diperintahkan untuk mengajarkan kelembutan berbicara sebagaimana tercermin dalam doa-doa dan kisah para nabi. QS. Luqman: 14–15 mengingatkan tentang kewajiban berbakti kepada orangtua sebagai bagian dari syukur kepada Allah.

Sunnah Nabi ﷺ memberikan teladan dalam berinteraksi dengan orang yang lebih tua. Rasulullah tidak pernah membentak orang lain, bahkan kepada para sahabat yang melakukan kesalahan. Prinsip ini dapat diterapkan oleh remaja agar terbiasa bersikap lembut kepada orangtua.

Ulama menekankan pentingnya kontrol diri. Imam Ibn Qayyim dalam Madarij as-Salikin menekankan bahwa sabar adalah kunci dalam menjaga adab berbicara, termasuk kepada orangtua. Melatih kesabaran sejak remaja akan mengurangi kecenderungan berkata kasar

Penanaman konsep birrul walidain (berbakti kepada orangtua) harus terus dihidupkan. Ulama kontemporer seperti Syekh Yusuf al-Qaradawi menegaskan bahwa pendidikan keluarga adalah pilar utama dalam mencegah kedurhakaan. Dengan bimbingan spiritual, remaja lebih sadar akan konsekuensi ukhrawi dari setiap kata-katanya.

Penanganan Menurut Pendidikan Modern (Psikologi & Pedagogi)

Psikologi modern memandang bahwa berkata kasar pada orangtua adalah gejala dari kurangnya keterampilan regulasi emosi pada remaja. Oleh karena itu, pelatihan emotional regulation menjadi penting agar remaja mampu mengendalikan amarah tanpa melukai orangtua dengan ucapan.

Pedagogi modern menekankan role modeling. Orangtua dan guru harus konsisten menampilkan bahasa yang sopan dalam keseharian. Remaja belajar lebih banyak dari contoh nyata dibanding sekadar nasihat. Oleh sebab itu, lingkungan rumah dan sekolah harus menjadi teladan komunikasi positif.

Psikologi komunikasi juga menyarankan penggunaan pendekatan asertif. Orangtua perlu mendengarkan perasaan remaja, memberi ruang untuk berbicara, sekaligus menetapkan batasan tegas tentang adab berbicara. Dengan cara ini, remaja belajar menyalurkan emosi tanpa kehilangan kesopanan.

Selain itu, pedagogi modern mendukung penggunaan role play atau simulasi percakapan sopan. Melalui latihan berulang, remaja akan terbiasa memilih kata yang baik dan menghindari kebiasaan berkata kasar. Strategi ini efektif ketika dilakukan konsisten dengan dukungan keluarga dan guru.

Tabel Strategi Penanganan dalam Kehidupan Sehari-hari

Perspektif Islam Perspektif Pendidikan Modern
Membiasakan doa memohon kelembutan lisan (QS. Al-Isra: 23). Latihan role play berbicara sopan.
Menanamkan konsep birrul walidain. Terapi regulasi emosi.
Mengingatkan ancaman dosa besar bagi yang durhaka. Komunikasi asertif dalam keluarga.
Menghidupkan teladan Nabi ﷺ dalam kelembutan berbicara. Role model dari orangtua & guru.
Pembiasaan adab sejak kecil melalui pengajaran fiqih adab. Pendekatan psikologi perkembangan remaja.

Kesimpulan

Berkata kasar atau tidak sopan kepada orangtua adalah perilaku tercela dan termasuk dosa besar dalam Islam. Al-Qur’an dan Sunnah menekankan pentingnya menjaga lisan kepada orangtua sebagai wujud birrul walidain. Ulama juga menegaskan bahwa ucapan kasar merupakan bentuk kedurhakaan yang dapat mengurangi keberkahan hidup anak.

Dari perspektif modern, perilaku ini merupakan bagian dari dinamika psikologis remaja yang membutuhkan bimbingan komunikasi dan regulasi emosi. Dengan menggabungkan pendekatan Islam dan ilmu pendidikan modern, solusi yang lebih komprehensif dapat diwujudkan.

Maka, sinergi antara bimbingan spiritual dan psikologis harus dikuatkan agar remaja tidak hanya tahu bahwa berkata kasar adalah dosa, tetapi juga memiliki keterampilan nyata untuk menghindarinya. Hal ini akan melahirkan generasi yang berakhlak mulia dan berbakti kepada orangtua.

Saran

Pertama, keluarga Muslim perlu menghidupkan kembali pendidikan adab di rumah, dengan menekankan pentingnya sopan santun kepada orangtua. Kedua, sekolah dan lembaga pendidikan harus menyeimbangkan pengajaran agama dengan keterampilan komunikasi yang membangun. Ketiga, masyarakat perlu menampilkan teladan nyata melalui tokoh dan figur publik yang menekankan pentingnya adab.

Dengan pendekatan ini, remaja akan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kuat akhlaknya. Integrasi nilai Islam dengan psikologi modern akan memperkuat ikatan keluarga sekaligus memperbaiki kualitas sosial umat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *