MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

10 kebiasaan buruk remaja Muslim beserta penanganannya 

10 kebiasaan buruk remaja Muslim beserta penanganannya 

Abstrak

Remaja Muslim berada pada fase perkembangan yang sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan, teknologi, dan pergaulan. Banyak kebiasaan buruk muncul seperti lalai shalat, boros, suka berbohong, atau terjebak dalam gaya hidup hedonis. Dalam Islam, kebiasaan tersebut dipandang sebagai tanda lemahnya iman dan kurangnya pengawasan spiritual. Oleh karena itu, diperlukan penanganan yang tepat, baik dari perspektif Islam yang bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan ulama, maupun dari perspektif pendidikan modern yang menekankan psikologi perkembangan, manajemen waktu, serta pembinaan akhlak remaja secara positif.

Pendekatan integratif antara nilai Islam dan ilmu pendidikan modern sangat penting untuk membimbing remaja menuju pribadi berakhlak mulia, disiplin, dan bertanggung jawab. Dengan keteladanan orangtua, penguatan iman, pengawasan teknologi, serta strategi pendidikan berbasis kasih sayang, kebiasaan buruk dapat diminimalisir. Hasilnya, remaja Muslim tidak hanya terhindar dari perilaku menyimpang, tetapi juga tumbuh menjadi generasi beriman, cerdas, dan bermanfaat bagi umat serta lingkungannya.

Pendahuluan

Remaja merupakan aset penting umat Islam, sekaligus kelompok yang paling rawan mengalami krisis identitas. Pada fase ini, mereka sering menghadapi tekanan dari dalam diri maupun dari luar, seperti pengaruh teman sebaya, media sosial, hingga budaya global yang kadang bertentangan dengan nilai Islam. Tanpa bimbingan yang tepat, remaja dapat terjebak dalam kebiasaan buruk seperti lalai shalat, berkata kasar, boros, atau terjerumus dalam pergaulan yang tidak Islami. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Dalam perspektif Islam, pendidikan akhlak dan iman harus menjadi prioritas utama agar remaja memiliki benteng dari pengaruh negatif. Al-Qur’an dan Sunnah memberikan panduan jelas tentang pentingnya menjaga shalat, berkata baik, bersikap amanah, dan menjauhi perbuatan sia-sia. Di sisi lain, ilmu pendidikan modern memberikan pendekatan praktis dalam mendidik remaja, seperti konseling sebaya, pembiasaan disiplin, serta penguatan karakter melalui kegiatan produktif. Sinergi keduanya menjadi solusi efektif untuk membentuk remaja Muslim yang berakhlak mulia, berilmu, dan mampu menghadapi tantangan zaman.

10 Kebiasaan Buruk Remaja Muslim

1. Lalai shalat lima waktu

Shalat adalah tiang agama yang menjadi pembeda utama antara iman dan kufur. Banyak remaja lalai dalam menunaikan shalat karena sibuk dengan sekolah, teman, atau gadget. Kelalaian ini jika dibiarkan dapat melemahkan iman dan membuat hati jauh dari Allah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat, maka barang siapa meninggalkannya, sungguh ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi no. 2621). Ini menunjukkan betapa berbahayanya kebiasaan meninggalkan shalat.

Dalam pendidikan modern, lalai shalat bisa dipahami sebagai bentuk kurangnya manajemen waktu dan rendahnya disiplin diri. Orangtua perlu melatih remaja dengan jadwal ibadah yang konsisten, dibarengi penjelasan manfaat spiritual dan psikologis shalat seperti menenangkan hati dan menumbuhkan fokus. Keteladanan keluarga menjadi kunci, sebab remaja lebih mudah meniru kebiasaan orangtuanya daripada sekadar mendengar nasihat.

2. Terlalu banyak bermain gadget dan media sosial

Remaja sering menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar gadget. Kebiasaan ini bukan hanya melalaikan kewajiban ibadah, tetapi juga bisa berdampak pada kesehatan mental, menurunkan prestasi belajar, bahkan menjerumuskan pada konten yang tidak Islami. Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an: “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3). Waktu adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Psikologi perkembangan menjelaskan bahwa kecanduan gadget muncul karena kurangnya aktivitas alternatif yang bermakna. Oleh karena itu, remaja perlu diarahkan pada kegiatan produktif seperti olahraga, seni Islami, atau kajian remaja. Penerapan aturan screen time yang jelas dan konsisten, serta keterlibatan orangtua dalam aktivitas digital anak, akan membantu mencegah dampak buruk penggunaan gadget berlebihan.

3. Berkata kasar atau tidak sopan pada orangtua

Perilaku berkata kasar kepada orangtua adalah dosa besar dalam Islam. Allah menegaskan: “Maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra: 23). Ayat ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga adab berbicara kepada orangtua, bahkan sekadar ucapan kecil yang menyakiti hati pun dilarang keras.

Dari sudut pandang pendidikan modern, remaja kadang berkata kasar karena sedang mengalami fase pencarian jati diri, mudah emosi, atau meniru lingkungan sekitar. Orangtua disarankan untuk merespons dengan tenang, menghindari reaksi berlebihan, serta melatih komunikasi asertif dalam keluarga. Remaja juga dapat diajak berdialog tentang perasaan mereka, agar terbiasa menyampaikan emosi dengan cara yang sopan.

4. Malas belajar dan membuang waktu sia-sia

Dalam Islam, menuntut ilmu adalah kewajiban setiap Muslim. Rasulullah ﷺ bersabda: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah no. 224). Malas belajar berarti menyia-nyiakan peluang yang Allah berikan. Waktu yang dihabiskan tanpa manfaat hanya akan membawa penyesalan di kemudian hari.

Menurut psikologi pendidikan, malas belajar biasanya dipengaruhi kurangnya motivasi internal atau eksternal. Orangtua dan guru bisa membangun motivasi dengan mengaitkan belajar dengan tujuan hidup anak, memberikan penghargaan atas usaha, dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Kegiatan belajar kelompok juga bisa meningkatkan semangat dan mengurangi kebiasaan menunda.

5. Ikut pergaulan bebas yang menjauhkan dari agama

Pergaulan bebas adalah salah satu pintu kerusakan akhlak remaja. Rasulullah ﷺ mengingatkan: “Seseorang itu mengikuti agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang dijadikan teman dekat.” (HR. Abu Dawud no. 4833). Remaja yang salah memilih teman akan mudah terbawa pada kebiasaan buruk yang jauh dari ajaran Islam.

Pendidikan modern menekankan pentingnya peer influence. Remaja lebih banyak dipengaruhi teman sebaya dibanding orangtua. Maka, orangtua perlu mengarahkan anak agar aktif dalam komunitas positif, seperti organisasi remaja masjid, klub olahraga, atau komunitas seni Islami. Dengan begitu, energi sosial remaja tersalurkan pada lingkungan yang sehat.

6. Suka menunda pekerjaan atau kewajiban

Menunda-nunda pekerjaan adalah kebiasaan buruk yang bisa menjadi penyakit kronis dalam hidup. Islam mengajarkan agar seorang Muslim memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Rasulullah ﷺ bersabda: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 6412). Kebiasaan menunda berarti menyia-nyiakan nikmat waktu.

Dari perspektif psikologi, kebiasaan menunda biasanya dipicu rasa malas, takut gagal, atau kurangnya manajemen waktu. Remaja perlu dilatih membuat prioritas harian, menggunakan jadwal atau to-do list, serta membagi tugas besar menjadi langkah kecil yang lebih mudah diselesaikan. Dengan pembiasaan ini, rasa tanggung jawab dan disiplin akan terbentuk.

7. Kurang menghargai adab dalam berbicara

Adab berbicara adalah cermin akhlak seorang Muslim. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6475, Muslim no. 47). Kurangnya adab dalam berbicara dapat melukai hati orang lain, menimbulkan konflik, dan menjatuhkan kehormatan diri.

Psikologi komunikasi menekankan bahwa kemampuan berbicara sopan harus dilatih sejak kecil melalui role model dan lingkungan. Orangtua dan guru harus konsisten menggunakan bahasa positif, sekaligus menegur dengan lembut bila anak berbicara kasar. Latihan role play juga efektif agar remaja terbiasa menyampaikan pendapat dengan adab.

8. Boros dalam penggunaan uang jajan

Islam melarang sifat boros dan mengajarkan hidup sederhana. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara setan.” (QS. Al-Isra: 27). Kebiasaan boros membuat remaja tidak pandai bersyukur dan sulit mengendalikan hawa nafsu.

Dalam psikologi keuangan, remaja yang boros biasanya kurang diajarkan keterampilan mengelola uang. Orangtua bisa memberi uang saku mingguan sambil melatih anak membuat catatan pengeluaran. Program sederhana seperti menabung untuk tujuan tertentu akan menumbuhkan rasa tanggung jawab dan keterampilan finansial sejak dini.

9. Meniru gaya hidup hedonis atau tidak Islami

Banyak remaja tergoda meniru gaya hidup selebriti, artis, atau influencer yang menonjolkan kemewahan. Hal ini bisa menjauhkan dari nilai Islam yang mengajarkan kesederhanaan dan zuhud. Rasulullah ﷺ bersabda: “Bukanlah kekayaan itu banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari no. 6446, Muslim no. 1051).

Psikologi perkembangan menjelaskan bahwa remaja sedang mencari identitas, sehingga mereka mudah meniru figur publik. Untuk menyeimbangkan hal ini, orangtua dan pendidik perlu mengenalkan teladan Islami seperti kisah para sahabat muda (Mus’ab bin Umair, Usamah bin Zaid, dll.), sekaligus mengarahkan remaja untuk mengidolakan tokoh yang membawa inspirasi positif.

10. Sering berbohong untuk menghindari tanggung jawab

Berbohong adalah kebiasaan buruk yang merusak akhlak dan kepercayaan orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Sedangkan dusta membawa kepada kefajiran, dan kefajiran membawa ke neraka.” (HR. Bukhari no. 6094, Muslim no. 2607). Remaja yang terbiasa berbohong akan sulit dipercaya dan berpotensi melakukan dosa lebih besar.

Dalam psikologi anak, kebohongan sering muncul karena rasa takut dihukum atau ingin menghindar dari masalah. Solusinya bukan dengan memarahi, melainkan menciptakan suasana aman agar anak berani jujur. Orangtua juga bisa menggunakan positive reinforcement, yakni memberi pujian saat anak berkata jujur, sehingga perilaku positif tersebut semakin menguat.

Penanganan

Pertama, Islam menekankan pendidikan iman dan shalat sebagai pondasi akhlak remaja. Orangtua dan guru perlu menanamkan cinta kepada Allah dan kesadaran bahwa shalat adalah penjaga dari perbuatan keji dan mungkar (QS. Al-Ankabut: 45). Keteladanan orangtua menjadi faktor utama agar remaja tidak lalai ibadah.

Kedua, penggunaan gadget harus diarahkan. Orangtua perlu membuat aturan waktu (screen time) dan mengisi media sosial dengan konten positif Islami. Dengan begitu, remaja tidak hanya terhibur tetapi juga mendapat nutrisi iman. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad no. 22594), sehingga remaja diarahkan menggunakan teknologi untuk kebaikan.

Ketiga, penanaman adab dan akhlak harus terus diajarkan, baik melalui nasihat, kisah para sahabat, maupun pembiasaan sopan santun dalam keluarga. Imam Ibn Qayyim dalam Tuhfatul Maudud menekankan pentingnya mendidik anak dengan kelembutan hati dan penguatan akhlak sejak kecil, agar terbiasa menghormati orangtua dan sesama.

Keempat, pembinaan remaja perlu dilengkapi pendekatan pendidikan modern seperti manajemen waktu, konseling sebaya, dan kegiatan produktif (olahraga, seni Islami, kajian remaja). Hal ini membantu mereka mengisi waktu dengan hal bermanfaat sekaligus menjauhkan dari kebiasaan buruk seperti berbohong, malas, dan boros.

Kesimpulan

Kebiasaan buruk remaja Muslim dapat muncul karena lemahnya iman, pengaruh lingkungan, dan kurangnya bimbingan orangtua. Islam telah memberi panduan melalui Al-Qur’an, Sunnah, dan teladan ulama untuk menjaga akhlak sejak dini. Dengan kombinasi keteladanan keluarga, pengawasan teknologi, penguatan iman, serta penerapan strategi pendidikan modern, remaja dapat diarahkan menuju pribadi yang berakhlak mulia, disiplin, dan bermanfaat bagi umat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *