MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Isra dan Mi’raj: Kajian Sejarah, Aqidah, dan Sains dalam Perspektif Islam

Isra dan Mi’raj: Kajian Sejarah, Aqidah, dan Sains dalam Perspektif Islam, Dr Widodo Judarwanto, Dr Audi Yudhasmara

Abstrak

Isra dan Mi’raj merupakan salah satu mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW yang menandai perjalanan spiritual beliau dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina, kemudian naik ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah shalat lima waktu. Peristiwa ini tidak hanya menjadi dasar penting dalam akidah Islam, tetapi juga menarik perhatian dari sisi sejarah, kajian ulama, serta tantangan pemahaman dari perspektif sains modern. Artikel ini mengupas Isra dan Mi’raj berdasarkan penjelasan ulama kontemporer, Al-Qur’an dan Hadits, serta memaparkan bagaimana sains modern mencoba memandang peristiwa luar biasa ini. Artikel ini juga memberikan panduan bagaimana sebaiknya umat Muslim mengambil inspirasi spiritual dan intelektual dari peristiwa Isra dan Mi’raj.


Isra dan Mi’raj adalah peristiwa transendental yang terjadi pada fase paling sulit dalam kehidupan dakwah Nabi Muhammad SAW. Setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib (dikenal sebagai Tahun Kesedihan), serta penolakan masyarakat Thaif, Allah memberikan hiburan spiritual kepada Nabi melalui perjalanan langit yang menakjubkan ini. Dalam waktu satu malam, Nabi melakukan perjalanan dari Makkah ke Palestina (Isra) dan naik ke langit (Mi’raj) hingga Sidratul Muntaha untuk bertemu langsung dengan Allah SWT.

Peristiwa ini menjadi sumber perdebatan di kalangan non-Muslim maupun sebagian orang awam yang menganggapnya tidak rasional. Namun, dalam kajian aqidah Islam, Isra dan Mi’raj adalah mukjizat yang menguji keimanan, sekaligus menyampaikan ajaran penting tentang hubungan manusia dengan Allah. Di sisi lain, ulama kontemporer dan sains modern mencoba mengkaji dimensi yang lebih luas dari peristiwa ini tanpa mengurangi nilai keimanannya.

Kisah Isra dan Mi’raj Menurut Al-Qur’an dan Hadits

Dalam Surah Al-Isra ayat 1 disebutkan:

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra:1)

Perjalanan Mi’raj ke langit dijelaskan secara rinci dalam berbagai hadits shahih. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan bagaimana Nabi Muhammad SAW dibawa oleh Malaikat Jibril dengan kendaraan Buraq dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian naik ke langit pertama hingga ketujuh, bertemu para nabi: Adam, Isa, Yahya, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim.

Setelah itu, Nabi sampai ke Sidratul Muntaha, sebuah batas akhir makhluk ciptaan Allah, di mana Nabi menerima perintah shalat lima waktu. Awalnya, Allah memerintahkan 50 kali shalat, namun setelah Nabi Muhammad berkonsultasi dengan Nabi Musa, perintah itu diringankan menjadi 5 kali, namun tetap bernilai pahala 50.

Peristiwa ini juga menggambarkan keutamaan Masjidil Aqsa sebagai tempat suci ketiga dalam Islam. Di sana, Rasulullah SAW menjadi imam bagi para nabi, menandakan posisi beliau sebagai penutup para nabi.

Beberapa hadits juga menyebutkan bahwa dalam perjalanan Mi’raj, Nabi diperlihatkan gambaran surga dan neraka, termasuk azab bagi para pezina, pemakan riba, dan orang yang lalai dari shalat. Semua itu menjadi peringatan keras bagi umat manusia.

Peristiwa ini disampaikan kepada kaum Quraisy, dan mereka mengejek Nabi. Sebagian orang murtad karena menganggapnya mustahil. Namun Abu Bakar RA langsung membenarkan Nabi, sehingga diberi gelar Ash-Shiddiq (yang selalu membenarkan).


Kisah Isra dan Mi’raj Menurut Ulama Kontemporer

Ulama kontemporer seperti Syaikh Yusuf al-Qaradawi, Dr. Zakir Naik, dan Syaikh Shalih al-Munajjid menegaskan bahwa Isra dan Mi’raj adalah perjalanan fisik dan ruhani yang sungguh-sungguh terjadi, bukan sekadar mimpi. Mereka merujuk pada redaksi Al-Qur’an dalam Surah Al-Isra:1 yang menggunakan kata Asra bi ‘abdihi (memperjalankan hamba-Nya) sebagai bukti bahwa tubuh Nabi ikut melakukan perjalanan ini, bukan hanya ruhnya.

Lebih jauh, para ulama kontemporer menganggap Isra dan Mi’raj sebagai tanda kekuasaan Allah di luar hukum fisika biasa. Allah yang menciptakan hukum alam, tentu berkuasa pula untuk menangguhkan atau membelokkannya kapan saja. Oleh karena itu, upaya untuk memaksakan peristiwa ini sepenuhnya harus sesuai kaidah sains empiris modern justru dapat mengerdilkan makna spiritualnya.

Analisis Lokasi dan Tempat Sejarah Isra Mi’raj di Dunia Modern

Peristiwa Isra dimulai dari Masjidil Haram di Mekkah, yang hingga kini tetap menjadi pusat spiritual utama umat Islam. Lokasi ini sangat jelas secara historis karena Ka’bah merupakan pusat tauhid sejak zaman Nabi Ibrahim AS, dan menjadi kiblat seluruh umat Islam hingga hari ini. Dari Masjidil Haram, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan ke Masjidil Aqsa di Yerusalem. Masjidil Aqsa sendiri dalam sejarahnya merupakan bagian dari Kompleks Al-Haram Asy-Syarif (Temple Mount), yang kini mencakup Kubah Shakhrah (Dome of the Rock) dan Masjid Al-Qibli. Di dalam Kubah Shakhrah terdapat sebuah batu besar yang menurut sebagian riwayat dipercaya sebagai tempat Nabi Muhammad SAW Mi’raj ke langit.

Dalam konteks dunia modern, Masjidil Aqsa dan sekitarnya berada dalam wilayah konflik geopolitik yang rumit antara Israel dan Palestina. Kendati demikian, bagi umat Islam, tempat ini tetap menjadi simbol kesucian, persatuan, dan sejarah yang agung. Berbagai upaya konservasi, penggalian arkeologis, dan kajian ilmiah terus dilakukan untuk memahami struktur bangunan-bangunan kuno di kawasan Al-Quds ini, meskipun ada keterbatasan akses dan ketegangan politik yang kerap membatasi penelitian bebas di sana.

Beberapa ilmuwan dan arkeolog Muslim modern mengusulkan bahwa peristiwa Mi’raj sesungguhnya tidak terkait dengan koordinat geografis duniawi sepenuhnya, melainkan sebuah perjalanan melampaui dimensi fisik menuju alam ruhani (Malakut). Karena itu, lokasi di bumi seperti Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa lebih berfungsi sebagai titik awal perjalanan fisik Nabi SAW, sementara naik ke Sidratul Muntaha berada di alam langit yang tidak terjangkau oleh manusia biasa. Dengan kemajuan teknologi astronomi, seperti teleskop James Webb yang mampu mengamati bagian terdalam alam semesta, umat manusia sedikit banyak dapat merenungi betapa luasnya ciptaan Allah SWT dan betapa menakjubkannya perjalanan Mi’raj tersebut sebagai sebuah mukjizat ilahi.

Kisah Isra dan Mi’raj Menurut Kajian Sains Modern: Analisis Ilmiah dan Data Penelitian

Peristiwa Isra dan Mi’raj, secara empiris, memang sulit dipahami oleh nalar manusia biasa karena menembus dimensi ruang dan waktu hanya dalam satu malam. Namun dalam kacamata sains modern, khususnya dalam bidang relativitas dan mekanika kuantum, beberapa penjelasan konseptual mulai membuka kemungkinan logis atas fenomena semacam ini. Teori Relativitas Khusus (Special Relativity) yang dikembangkan oleh Albert Einstein menyatakan bahwa waktu bisa melambat secara drastis (time dilation) ketika sebuah objek bergerak mendekati kecepatan cahaya (Einstein, Relativity: The Special and the General Theory, 1916). Dalam konteks ini, jarak antar bintang yang secara normal butuh jutaan tahun cahaya, secara teoritis bisa ditempuh dalam waktu singkat bila dilihat dari sudut pandang subjek yang melakukan perjalanan.

Selain relativitas, konsep wormhole (lubang cacing) yang pertama kali diperkenalkan oleh fisikawan Albert Einstein dan Nathan Rosen dalam makalah mereka The Particle Problem in the General Theory of Relativity (1935) juga memberikan skema hipotesis ilmiah bahwa dua titik berbeda dalam ruang-waktu dapat terhubung melalui saluran ruang-waktu yang terlipat. Dengan memanfaatkan wormhole, perjalanan dari Mekkah ke Yerusalem bahkan ke ujung semesta (Sidratul Muntaha) secara teoritis bisa terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Meskipun wormhole masih sebatas teori dan belum pernah dibuktikan secara eksperimental, keberadaannya didukung oleh solusi matematis dalam persamaan relativitas umum Einstein.

Sejumlah ilmuwan Muslim kontemporer seperti Dr. Zaghloul El-Naggar (profesor geologi Mesir dan penulis The Geological Concept of Mountains in the Qur’an) dan Dr. Mohammad Iqbal Kailani dalam Mukjizat Isra’ dan Mi’raj juga menafsirkan bahwa perjalanan Isra dan Mi’raj bisa jadi menggunakan jalur dimensi ekstra yang belum terdeteksi oleh sains modern. Mereka merujuk pada perkembangan teori String (String Theory) yang memperkirakan adanya 10 atau bahkan 11 dimensi di alam semesta (Greene, The Elegant Universe, 1999). Dalam dimensi ini, fenomena ruang-waktu tidak lagi bersifat linear seperti yang kita alami, melainkan jauh lebih kompleks dan memungkinkan terjadinya perjalanan supraluminal (lebih cepat dari cahaya).

Selain string theory, perkembangan teori quantum entanglement atau keterikatan kuantum juga memberi wawasan menarik. Dalam kondisi entanglement, dua partikel yang berjauhan bisa berinteraksi secara instan, seolah-olah tidak terpisah jarak sama sekali (Einstein menyebutnya “spooky action at a distance”). Ini menunjukkan bahwa pada tingkat mikroskopis, hukum kausalitas klasik bisa diatasi, memungkinkan pengiriman informasi atau eksistensi secara simultan lintas ruang. Walau masih bersifat mikroskopis, konsep ini secara teoritis memperlihatkan bahwa dalam skala tertentu, fenomena seperti Mi’raj tidaklah mustahil secara metafisik.

Lebih jauh, kajian kosmologi Islam yang disampaikan oleh Syekh Imran Hosein dan Dr. Harun Yahya menegaskan bahwa perjalanan Mi’raj terjadi di luar dimensi fisik biasa, memasuki alam malakut (alam ruhani) yang memang eksis sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an (QS. Al-Mulk: 3-4). Dalam alam malakut, waktu dan jarak tidak terikat oleh hukum fisika bumi. Oleh karena itu, perjalanan Nabi Muhammad SAW secara fisik dan ruhani mampu menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha dalam waktu sekejap.

Menurut penelitian Dr. Faouzi Al-Kaabi dalam jurnalnya Scientific Miracles in the Sunnah, perjalanan Nabi bisa juga melibatkan quantum vacuum fluctuations (fluktuasi vakum kuantum) yang memungkinkan perpindahan partikel energi secara tiba-tiba di ruang hampa. Hal ini selaras dengan kemungkinan perpindahan Nabi Muhammad SAW menembus dimensi ruang secara tiba-tiba dan cepat. Sekalipun konsep ini sangat kompleks dan spekulatif, ia memperlihatkan kesesuaian prinsip dasar mukjizat yang menembus hukum kausalitas normal.

Dalam Journal of Islamic Science (2009), disebutkan bahwa mukjizat harus dipahami sebagai fenomena yang berlaku supra-natural dalam sistem hukum Allah yang lebih tinggi. Bagi manusia, hukum ini tak terjangkau kecuali dengan keimanan. Mukjizat seperti Isra Mi’raj bukanlah “melawan” hukum alam, tetapi “melampaui” hukum alam (transcend natural law) yang berlaku hanya bagi makhluk biasa, sementara Allah Sang Pencipta bebas dari batasan hukum ciptaan-Nya.

Sementara itu, Prof. Nidhal Guessoum (ilmuwan fisika dan kosmologi Muslim) dalam bukunya Islam’s Quantum Question: Reconciling Muslim Tradition and Modern Science (2011) menyatakan bahwa meskipun sains modern masih belum mampu membuktikan mukjizat, namun semakin banyak fenomena alam yang membuktikan bahwa batas pengetahuan manusia jauh lebih sempit dibanding keluasan kekuasaan Allah SWT. Menurutnya, mukjizat bukanlah mustahil, melainkan di luar jangkauan teknologi manusia saat ini.

Pada akhirnya, penjelasan ilmiah tentang Isra dan Mi’raj bukan dimaksudkan untuk merasionalkan mukjizat sepenuhnya, melainkan untuk memperlihatkan bahwa ajaran Islam sejalan dengan prinsip “tidak bertentangan dengan akal sehat” (la ya’qilu al-aqlu), sambil tetap menempatkan iman sebagai puncak pengetahuan. Allah SWT berfirman: “Dan tidaklah kamu diberi ilmu melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra: 85), sebuah pengingat bahwa logika dan sains manusia masih sangat terbatas di hadapan kuasa Allah yang Maha Luas.

Bagaimana Umat Muslim Mengambil Inspirasi dari Isra dan Mi’raj

Pertama, umat Muslim harus memperkuat aqidah mereka bahwa kekuasaan Allah melampaui segala batas logika manusia. Isra dan Mi’raj adalah mukjizat nyata, bukan mitos atau dongeng. Hal ini mengajarkan kita untuk tunduk pada keimanan yang sejati.

Kedua, perintah shalat yang diterima Nabi SAW dalam Mi’raj menegaskan pentingnya menjaga shalat lima waktu. Shalat bukan sekadar ibadah formal, tetapi sarana spiritual yang menghubungkan hamba langsung kepada Allah, sebagaimana Nabi Muhammad SAW diperintahkan dalam pertemuannya langsung dengan Allah.

Ketiga, kisah pertemuan Nabi dengan para nabi lain dalam Mi’raj mengingatkan kita akan kesinambungan risalah tauhid sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW. Umat Islam harus menjaga persatuan dan mengikuti jalan para nabi dengan akidah yang lurus.

Keempat, perjalanan ruhani Isra dan Mi’raj memberi pelajaran bahwa kesulitan hidup akan diganjar kemuliaan oleh Allah, sebagaimana Nabi Muhammad SAW dihibur setelah menghadapi masa-masa sulit dalam dakwahnya.

Kelima, dari sudut ilmiah, Isra dan Mi’raj mengajarkan keterbatasan ilmu manusia. Mukjizat ini menjadi pelajaran bagi umat Muslim untuk selalu rendah hati dalam berilmu, sekaligus membuka wawasan bahwa sains modern perlahan mengakui banyak hal yang dulu dianggap tidak masuk akal.

Kesimpulan

Isra dan Mi’raj merupakan mukjizat besar dalam sejarah Islam yang memiliki dimensi aqidah, sejarah, dan ilmiah. Dengan keimanan yang tulus, umat Muslim meyakini bahwa perjalanan fisik dan ruhani Nabi Muhammad SAW terjadi sebagai bentuk keagungan Allah. Meskipun sains modern belum mampu menjelaskan sepenuhnya, tetapi perkembangan teori fisika masa kini justru semakin menunjukkan betapa luasnya kekuasaan Allah SWT. Umat Islam seyogianya mengambil pelajaran dari peristiwa ini untuk memperkuat aqidah, menjaga shalat, dan meneguhkan ketawadhuan dalam menghadapi keterbatasan ilmu manusia.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *