MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Buruknya Etos Kerja Generasi Z dan Cara Mengatasi Menurut Parenting Islam dan Sains Kedokteran

Dr Widodo Judarwanto, pediatrician

Generasi Z (Gen Z), yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, saat ini mulai mendominasi pasar tenaga kerja. Namun, berbagai survei dan penelitian menunjukkan bahwa mereka sering dianggap memiliki etos kerja yang rendah. Kritik terhadap Gen Z sebagai pekerja muda meliputi kurangnya profesionalisme, rendahnya inisiatif, kesulitan bekerja dalam tim, hingga ketidakmampuan menghadapi tekanan kerja. Salah satu survei yang dilakukan oleh Intelligent menemukan bahwa sebagian besar pemimpin bisnis merasa kurang puas dengan kinerja Gen Z dan bahkan enggan merekrut mereka kembali.

Namun, sebelum menyimpulkan bahwa Gen Z memiliki etos kerja yang buruk, kita perlu memahami faktor-faktor yang mempengaruhi pola kerja mereka. Bagaimana pendekatan Islam dan sains kedokteran dapat membantu memperbaiki etos kerja generasi ini? Artikel ini akan mengupasnya secara mendalam.

Buruknya Etos Kerja Generasi Z

Beberapa tahun terakhir, muncul banyak kekhawatiran mengenai etos kerja generasi Z di tempat kerja. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Intelligent, sebuah platform konsultasi pendidikan dan pengembangan karier, terhadap hampir seribu pemimpin bisnis, ditemukan bahwa banyak dari mereka merasa tidak puas dengan kinerja lulusan perguruan tinggi yang baru direkrut. Sebagian besar menyatakan bahwa generasi ini kurang memiliki inisiatif, tidak siap mengikuti ritme kerja formal, serta sulit menangani beban kerja. Mereka juga dinilai kurang memiliki keterampilan profesional yang dibutuhkan, termasuk dalam pemecahan masalah, kemampuan komunikasi, dan kerja tim. Akibatnya, beberapa perusahaan bahkan enggan merekrut mereka kembali dan memilih untuk memberhentikan mereka lebih awal.

Sejumlah media massa daring ramai memberitakan dan menyorot Gen Z dengan mengutip survei terhadap hampir seribu pemimpin bisnis dan sejumlah perusahaan yang dilakukan Intelligent, salah satu platform konsultasi pendidikan dan pengembangan karier. Hasil survei tersebut, sebagian atau bahkan semua lulusan perguruan tinggi yang direkrut dalam satu tahun terakhir dinilai tidak memuaskan sehingga enggan merekrut lagi karena ragu untuk memperkerjakan Gen Z. Bahkan, sudah banyak perusahaan disinyalir memecat mereka.

Etos kerja Gen Z Dari survei yang dilakukan lembaga yang sama sebelumnya pada Mei lalu, terhadap hampir seribu tiga ratus pemimpin bisnis terungkap sejumlah temuan yang mengkhawatirkan tentang Gen Z sebagai pekerja muda. Di antaranya, tidak profesional karena kurangnya inisiatif, ketidaksiapan mengikuti irama kerja formal, tidak sanggup menangani beban kerja, tidak bisa diandalkan, tidak kompeten atau kurang memiliki keterampilan profesional. Tidak hanya kurang dalam pengalaman kerja yang relevan, tapi juga keterampilan teknis tidak memadai, kemampuan buruk dalam pemecahan masalah. Begitu pula dengan kurang kemampuan berorganisasi dan berkomunikasi, kesulitan bekerja dalam tim dan kurang adaptif budaya.

Hasil survei juga mengungkap Gen Z sebagai pekerja yang sulit diatur, semangat dan motivasi kerja rendah, kesulitan menerima umpan balik (feedback), tapi banyak menuntut terutama menuntut gaji yang tinggi. Selain itu, Gen Z juga dinilai sangat politis dan suka terlibat politik, semisal, unjuk rasa terkait masalah politik.

Lebih dari separuh pemimpin bisnis yang disurvei menyatakan bahwa pekerja muda Gen Z harus terlebih dahulu menjalani pelatihan etiket. Sebagai perbandingan, Vilma Estrellado dalam laman Outsource Accelerator, 19 April 2024, menyatakan sejumlah karakteristik etos kerja Gen Z yang diakui sendiri oleh mereka. Beberapa di antaranya adalah pekerja keras, bahkan jauh lebih keras daripada generasi lain karena situasi saat ini dianggap jauh lebih sulit. Mereka juga mengakui lebih menyukai komunikasi langsung, meski terlahir di era digital dan internet. Selain itu, mereka lebih menyukai kerja individual, meski tak keberatan dengan lingkungan tim. Lebih menyukai perusahaan yang membolehkan jadwal kerja fleksibel dan menghargai inklusivitas, keberagaman, dan rasa hormat.

Gen Z juga sangat menyukai dan menginginkan didukung perusahaan dalam pengembangan diri profesional, meski sudah berpendidikan menengah dan tinggi, selain sangat menghargai adanya pengakuan dan apresiasi di tempat kerja.

Hasil survei Intelligent juga mengungkap bahwa banyak pekerja Gen Z dinilai sulit diatur, Dalam memiliki motivasi kerja, serta kesulitan menerima kritik atau umpan balik. Selain itu, generasi ini cenderung menuntut lebih banyak, terutama dalam hal gaji yang tinggi dan kebijakan kerja yang fleksibel. Sebagian pemimpin bisnis bahkan menyatakan bahwa Gen Z lebih tertarik pada isu-isu politik daripada pada pekerjaan mereka sendiri, yang terkadang mengarah pada keterlibatan dalam aksi-aksi protes yang dapat mengganggu produktivitas. Lebih dari separuh pemimpin yang disurvei percaya bahwa pekerja muda ini membutuhkan pelatihan etiket dan profesionalisme sebelum benar-benar siap memasuki dunia kerja.

Di sisi lain, penelitian dari Outsource Accelerator pada 2024 menunjukkan bahwa Gen Z juga memiliki perspektif berbeda tentang etos kerja mereka sendiri. Mereka mengklaim bahwa mereka adalah pekerja keras, tetapi dalam cara yang berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Gen Z lebih memilih bekerja secara individu, meskipun tetap terbuka untuk kerja tim. Mereka juga lebih menyukai lingkungan kerja yang fleksibel dan mengutamakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Selain itu, mereka sangat menghargai tempat kerja yang mendukung pengembangan diri dan memberikan apresiasi terhadap kontribusi mereka. Studi dari University of Phoenix tahun 2022 menyoroti bahwa Gen Z lebih termotivasi ketika pekerjaan mereka sesuai dengan nilai dan minat pribadi, bukan sekadar tuntutan perusahaan.

Untuk membangun dan meningkatkan etos kerja Gen Z, para ahli menyarankan pendekatan yang lebih adaptif. Pendampingan (mentoring) dan komunikasi yang efektif menjadi kunci dalam membentuk etos kerja yang lebih baik. Pemimpin diharapkan dapat memberikan contoh yang baik, serta memberikan umpan balik yang membangun secara rutin. Selain itu, organisasi perlu menciptakan lingkungan kerja yang memungkinkan Gen Z merasa didengarkan dan dihargai, dengan memberikan mereka ruang untuk berkontribusi dalam pengambilan keputusan. Dengan memahami karakteristik unik mereka dan menyesuaikan strategi pengelolaan sumber daya manusia, perusahaan dapat mengoptimalkan potensi generasi ini, sehingga mereka menjadi tenaga kerja yang produktif dan berdedikasi di masa depan.


Faktor Penyebab Etos Kerja Gen Z Dinilai Buruk

  1. Perubahan Pola Asuh dan Lingkungan Digital Gen Z tumbuh di era digital yang menawarkan kemudahan akses informasi dan komunikasi. Namun, hal ini juga menyebabkan mereka terbiasa dengan kenyamanan dan kurang menghadapi tantangan nyata dalam kehidupan. Orang tua yang terlalu protektif juga berkontribusi pada rendahnya daya tahan terhadap tekanan kerja.
  2. Kurangnya Kesiapan Mental dalam Dunia Kerja. Banyak Gen Z yang kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja karena sistem pendidikan yang lebih menitikberatkan pada prestasi akademik daripada keterampilan praktis. Akibatnya, mereka kurang memiliki keterampilan komunikasi, problem-solving, dan adaptasi budaya kerja.
  3. Preferensi terhadap Fleksibilitas dan Makna dalam Pekerjaan Berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih fokus pada stabilitas pekerjaan, Gen Z lebih mengutamakan fleksibilitas dan makna dalam pekerjaan. Mereka cenderung meninggalkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan passion mereka.
  4. Tingkat Stres dan Kesehatan Mental
    Beberapa studi menunjukkan bahwa Gen Z memiliki tingkat stres dan kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya. Beban mental ini berpengaruh pada motivasi kerja dan daya tahan terhadap tekanan.
  5. Ketergantungan pada Teknologi. Meskipun mereka unggul dalam keterampilan teknologi, ketergantungan berlebihan pada perangkat digital dapat menghambat keterampilan interpersonal dan kerja sama tim.

Cara Mengatasi Etos Kerja Gen Z Berdasarkan Parenting Islam dan Sains Kedokteran

Menanamkan Nilai-Nilai Islam dalam Etos Kerja Dalam Islam, etos kerja yang baik merupakan bagian dari ibadah. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, ia menyempurnakan pekerjaannya.” (HR. Thabrani)

Orang tua dan pemimpin dapat menerapkan beberapa prinsip Islam dalam membangun etos kerja Gen Z:

  1. Ikhlas dan Tawakal: Mengajarkan mereka untuk bekerja dengan niat yang benar dan tidak mudah menyerah.
  2. Disiplin dan Amanah: Memberikan pemahaman bahwa bekerja adalah bentuk tanggung jawab dan amanah yang harus dijalankan dengan baik.
  3. Sabar dan Pantang Menyerah: Mengajarkan mereka untuk tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan kerja.
  4. Keseimbangan Dunia dan Akhirat: Menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan ibadah.

Pendekatan Ilmiah dalam Penguatan Mental dan Kesehatan

Dari sudut pandang kedokteran, kesehatan mental dan fisik yang baik sangat berperan dalam meningkatkan etos kerja. Beberapa langkah yang bisa diterapkan:

  1. Manajemen Stres: Mendorong gaya hidup sehat, seperti olahraga, tidur cukup, dan meditasi untuk mengurangi kecemasan.
  2. Meningkatkan Ketahanan Mental: Pelatihan coping mechanism dan keterampilan problem-solving dapat membantu mereka menghadapi tekanan kerja.
  3. Pendampingan Psikologis: Menyediakan mentor atau psikolog di tempat kerja untuk membantu mereka mengatasi tekanan mental.

Menerapkan Pola Asuh Berbasis Islam Parenting Islam menekankan pada keseimbangan antara kasih sayang dan disiplin:

  1. Menanamkan Nilai Kemandirian Sejak Dini: Anak-anak harus diajarkan tanggung jawab dan disiplin sejak kecil agar tidak mudah menyerah saat dewasa.
  2. Menerapkan Pendidikan Akhlak: Akhlak kerja seperti jujur, amanah, dan tanggung jawab harus ditanamkan sejak dini.
  3. Melibatkan Anak dalam Kegiatan Sosial: Mendorong mereka untuk berinteraksi dalam komunitas agar lebih memahami arti kerja sama dan kepemimpinan.

Strategi di Dunia Kerja untuk Meningkatkan Etos Kerja Gen Z Bagaimana membangun dan mempertahankan etos kerja Gen-Z? Etos kerja Gen Z biasa diperbandingkan dengan generasi sebelumnya. Maka, untuk mencapai tingkat etos kerja yang sama, para ahli dan peneliti menyarankan untuk menggali dari para Gen Z dan mengembangkannya dengan cara berbeda. Agar Gen Z bisa berkembang dan memiliki etos kerja yang lebih baik, perusahaan perlu menyesuaikan strategi kerja mereka:

  1. Memberikan Peluang Pengembangan Diri: Menyediakan pelatihan dan mentoring agar mereka bisa terus belajar dan berkembang.
  2. Menciptakan Lingkungan Kerja yang Fleksibel: Mengakomodasi kebutuhan Gen Z akan fleksibilitas tanpa mengorbankan produktivitas.
  3. Menggunakan Pendekatan Positif dalam Memberikan Feedback: Menghindari kritik yang terlalu keras dan lebih fokus pada solusi.
  4. Memberikan Pengakuan atas Kontribusi: Memberikan apresiasi atas pencapaian mereka untuk meningkatkan motivasi kerja.
  5. Pekerjaan disesuaikan dengan gairah (passion).  Tim Elmore dalamsitus web Growing Leader, 27 Juni 2023, pengakuan para pekerja Gen Z seperti dikutip Vilma Estrellado, dan disertasi Tami tra G. Cole tahun 2022 di University of Phoenix, : Pekerjaan disesuaikan dengan gairah (passion). Berbeda dengan generasi sebelumnya yang tetap bekerja keras dalam pekerjaannya sekalipun mereka tak menyukai, Gen Z ingin menyukai dan mencintai pekerjaan terlebih dahulu baru kemudian akan bekerja keras. Untuk itu, organisasi perlu menyelaraskan pekerjaan dengan nilai-nilai pribadi karyawan agar etos kerja meningkat.
  6. Pendampingan (mentoring) dan relasi antarpribadi. Gen Z ingin dikenal oleh atasan dan pemberi kerja yang membuat mereka bertahan dan memberi lebih kepada pekerjaan dan tempat kerja. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang bekerja keras dalam pekerjaan, meski tidak memiliki hubungan personal dengan pemilik dan pimpinan perusahaan. Gen Z sangat dipengaruhi oleh panutan, baik dalam kehidupan pribadi maupun di ranah profesional. Untuk itu, pemimpin dan senior hendaknya mendorong untuk mengembangkan diri, memberikan umpan balik dengan penguatan positif, memimpin dengan memberi contoh, teladan dalam etos kerja yang tinggi. Melalui saluran komunikasi yang efektif, umpan balik rutin, dan evaluasi kinerja membantu peluang bagi karyawan Gen Z untuk tumbuh secara profesional. Dilibatkan dan didengarkan. Gen Z ingin didengarkan suara dan ide-idenya serta dilibatkan dalam pemecahan masalah dan keputusan yang membuat mereka mendukung dan menjalankannya dengan sebaik-baiknya. Dengan memberikan ‘ruang’ bagi mereka, semisal, memberikan masukan dan mendorong dialog terbuka, mereka cenderung bekerja lebih keras, merasa memiliki dan memiliki tekad yang kuat.
  7. Otonomi dan fleksibilitas. Gen Z lebih menyukai sistem, model dan lingkungan kerja hybrid, yakni bekerja di kantor dan lokasi atau tempat lain yang berbeda. Misalnya dari rumah atau ruang kerja bersama (remote working) untuk mengurangi kemonotonan dan mereka merasakan memiliki kendali atas waktu dan hari dalam kehidupan kerjanya. Makna dalam pekerjaan dan sumbangsih. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung termotivasi oleh penilaian kinerja, pencapaian target, dan tujuan eksternal lainnya, Gen Z lebih didorong oleh keinginan mendapatkan makna dalam pekerjaan. Gen Z juga dikenal sebagai orang yang sadar sosial dan berkomitmen untuk berkontribusi nyata. Atasan dan pemberi kerja perlu mengapresiasi kontribusi mereka pada misi dan visi perusahaan, bahkan pada dunia yang lebih baik yang membuat hati mereka menjadi tersentuh. Perasaan aman dan mantap. Meski terdorong berwirausaha dan menilai tinggi kewirausahaan, bila menjadi pekerja Gen Z ternyata lebih menginginkan gaji tetap dengan pekerjaan yang aman. Karenanya, pemberi kerja dan atasan menetapkan dengan jelas harapan, tanggung jawab, dan hasil saat merekrut mereka dan sedapat mungkin menjamin job security dan keselamatan dalam pekerjaan.
  8. Kurikulum pendidikan. Memasukkan pendidikan etos kerja dalam kurikulum sekolah dan program perguruan tinggi juga sangat penting. Utamanya kepemimpinan, keuletan dan ketekunan, disiplin tinggi, menghargai dan mengelola waktu dengan baik. Lainnya adalah memiliki inisiatif dan responsif, bertanggungjawab, dedikasi dan loyalitas yang tinggi, hidup hemat dan sederhana, bekerja keras, motivasi kerja yang tinggi dan berorientasi ke masa depan.

Pendekatan Psikologis

  1. Memahami Gen Z dan konteks uniknya Gen Z akan menjadi seperempat hingga sepertiga dari angkatan kerja dan mendominasi pasar kerja di seluruh dunia tak lama lagi. Kehadiran mereka memunculkan beragam perspektif, talenta, dan keterampilan. Setiap generasi memiliki motivasi dan kekuatannya sendiri sehingga tak perlu diperbandingkan terus menerus selain bahwa kemiripan juga nyata. Misalnya, etos kerja Gen Z mirip dengan kaum Millenial. Bedanya, Gen Z tampaknya lebih asertif dan agresif dalam mendapatkan apa yang dihasratkan. Adanya kekhawatiran tentang etos kerja Gen Z bukan berarti menjadi ajang mempersalahkan, menghakimi, bahkan menghukum mereka dengan tidak merekrut atau memecat mereka dari pekerjaan.
  2. Empati, dan komitmen untuk membimbing dan membina. Dibutuhkan pemahaman, empati, dan komitmen untuk membimbing dan membina agar memiliki fondasi kuat bagi kerja profesional dengan mempertimbangkan konteks unik mereka sebagai generasi muda. Konteks unik dimaksud di antaranya adalah generasi digital mula-mula, tapi rentan berperilaku berisiko terkait penggunaan teknologi dan internet. Terlahir dalam zaman hidup yang serba mudah, tapi merasakan lebih banyak bahaya dalam hidupnya bila dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Selain itu, mereka memprioritaskan keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan, juga sadar akan pentingnya kesehatan mental. Dengan menerapkan strategi yang diuraikan di atas didasari prinsip merangkul kualitas unik yang dibawa ke dalam pasar kerja, Gen Z akan menjadi tenaga kerja dengan etos kerja yang tinggi, berdaya, selalu meningkatkan kualitas diri dan bekerja secara optimal.

Kesimpulan

  • Meskipun Gen Z sering dikritik karena etos kerja mereka yang dinilai rendah, sebenarnya tantangan ini dapat diatasi dengan pendekatan yang tepat.
  • Islam mengajarkan pentingnya disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras, yang bisa diterapkan dalam membangun etos kerja mereka. Sementara itu, dari sudut pandang kedokteran dan psikologi, penguatan mental dan keseimbangan hidup dapat membantu mereka bekerja lebih optimal.

Dengan kombinasi strategi parenting Islam dan pendekatan ilmiah modern, Gen Z bisa menjadi tenaga kerja yang produktif, inovatif, dan bertanggung jawab. Dibutuhkan pemahaman dan bimbingan yang tepat agar mereka dapat berkembang dan memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat dan dunia kerja di masa depan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *