اَيَوَدُّ اَحَدُكُمْ اَنْ تَكُوْنَ لَهٗ جَنَّةٌ مِّنْ نَّخِيْلٍ وَّاَعْنَابٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۙ لَهٗ فِيْهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِۙ وَاَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهٗ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاۤءُۚ فَاَصَابَهَآ اِ
عْصَارٌ فِيْهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَࣖ ٢٦٦a yawaddu aḫadukum an takûna lahû jannatum min nakhîliw wa a‘nâbin tajrî min taḫtihal-an-hâru lahû fîhâ ming kullits-tsamarâti wa ashâbahul-kibaru wa lahû dzurriyyatun dlu‘afâ’, fa ashâbahâ i‘shârun fîhi nârun faḫtaraqat, kadzâlika yubayyinullâhu lakumul-âyâti la‘allakum tatafakkarûn
Tafsir Ibnu Katsir
Pada suatu hari, Umar bin Khattab bertanya kepada sahabat-sahabat Nabi: “Untuk siapakah menurut kalian ayat ini (Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur) diturunkan? Mereka menjawab,”Allah lebih mengetahui” Lalu Umar marah dan berkata,”Katakanlah “Kami tahu” atau “Kami tidak tahu”. Lalu Ibnu Abbas berkata, “Ada suatu pemahaman dalam diriku mengenai ayat ini, wahai Amirul Mukminin” Umar berkata, “Wahai keponakanku, katakanlah, dan janganlah merendahkan dirimu” Ibnu Abbas berkata, “Ini adalah perumpamaan dari suatu tindakan” Umar bertanya, “Tindakan apa?” Ibnu Abbas menjawab, “Seorang kaya yang awalnya beramal taat kepada Allah, kemudian Allah mengirimkan setan kepadanya, lalu dia berbuat maksiat sehingga amalnya tenggelam.” Dalam peristiwa ini terdapat penjelasan tentang ayat ini, serta penggambaran bagaimana amal seseorang yang awalnya baik, kemudian berbalik, dan amal buruknya menggantikan amal baiknya, mari berlindung dari Allah dari hal itu. Amalnya yang kedua menghapus amal shalih sebelumnya. Dia perlu kembali kepada amalan pertama namun berada pada keadaan yang sulit, dan tidak berhasil. Dia juga dikhianati oleh sesuatu yang dia butuhkan. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman, (kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras) yaitu angin yang sangat dahsyat (yang mengandung api, lalu terbakarlah), yaitu membakar buah-buahanya, dan menghancurkan pohonnya, Keadaan seperti apa ini? Oleh karena itu Allah SWT berfirman, (Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya) yaitu agar kalian memikirkan dan memahami perumpamaan-perumpamaan dan makna-makna serta menerapkannya pada konteks yang dimaksud. Sebagaimana Dia berfirman, (Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu (43)).
Apakah salah seorang di antara kamu ingin memiliki kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, di sana dia memiliki segala macam buah-buahan. Kemudian, datanglah masa tua, sedangkan dia memiliki keturunan yang masih kecil-kecil. Lalu, kebun itu ditiup angin kencang yang mengandung api sehingga terbakar. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan(-nya)
Sekali lagi Allah memberikan perumpamaan tentang orang yang tidak ikhlas dalam berderma. Ayat ini dimulai dengan sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada siapa pun, adakah salah seorang di antara kamu yang ingin memiliki kebun yang terdapat di dalamnya pohon kurma dan pohon anggur yang mengalir di bawah pohon-pohon-nya sungai-sungai yakni memiliki sumber air yang cukup. Bahkan di sana dia memiliki segala macam buah-buahan. Kemudian datanglah masa tuanya sehingga dia tidak bisa lagi bekerja di kebun tersebut dan hanya bisa mengandalkan hasil kebun sedang dia memiliki keturunan yang masih kecil-kecil yang belum bisa bekerja dan masih membutuhkan hasil dari kebun tersebut. Lalu dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba kebun itu ditiup angin keras yang me-ngandung api, sehingga terbakar-lah kebun tersebut dan mengha-nguskan semua pohon yang ada. Begitulah perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya karena ria, membangga-banggakan pemberiannya kepada orang lain dan menyakiti hati orang yang diberi. Nanti di akhirat saat dia sangat membutuhkan ganjaran amal tersebut, dia tidak menjumpainya. Amal perbuatannya hangus dan punah karena niat yang tidak ikhlas dan sikap yang menyakiti orang lain. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkannya sehingga kamu berupaya untuk ikhlas dalam berinfak. Sifat ria merusak pahala amal seseorang seperti halnya kebakaran menghanguskan kebun.
Tafsir Tahlil
Dalam ayat ini Allah swt memberikan perumpamaan pula bagi orang yang menafkahkan hartanya bukan untuk mendapatkan rida Allah, melainkan karena ria, atau sedekahnya disertai dengan ucapan-ucapan yang melukai perasaan atau suka menyebut-nyebut sedekah yang telah diberikannya. Orang ini diumpamakan sebagai orang yang mempunyai sebidang kebun yang berisi bermacam-macam tumbuhan, dan kebun itu mendapatkan air yang cukup dari sungai yang mengalir, sehingga menghasilkan buah-buahan yang banyak. Orang tersebut sudah lanjut usianya, dan mempunyai anak-anak dan cucu-cucu yang masih kecil-kecil yang belum dapat mencari rezeki sendiri. Dengan demikian, orang itu dan anak cucunya sangat memerlukan hasil kebun itu. Tapi tiba-tiba datanglah angin samūm yang panas. Sehingga pohon-pohon dan tanaman-tanaman menjadi rusak, tidak mendatangkan hasil apa pun, padahal dia sangat mengharapkannya. Demikianlah keadaan orang yang menafkahkan hartanya bukan karena Allah. Dia mengira akan mendapatkan pahala dari sedekah dan infaknya. Akan tetapi yang sebenarnya bukan demikian, pahalanya akan hilang lenyap karena niatnya yang tidak ikhlas. Dia berinfak hanya karena riya’, mengikuti bisikan setan. Bukan karena mengharapkan rida Allah swt. Dengan keterangan-keterangan dan perumpamaan yang jelas ini Allah swt menerangkan ayat-ayatnya kepada hamba-Nya agar mereka berpikir dan dapat mengambil iktibar dan pelajaran dari perumpamaan-perumpamaan itu.
Perumpamaan “ditiup angin keras yang mengandung api sehingga terbakar-lah kebun tersebut dan menghanguskan semua pohon yang ada” adalah gambaran kehancuran amal yang dilakukan tanpa keikhlasan. Kebun yang subur melambangkan amal yang tampak baik dan bermanfaat, tetapi angin keras yang membawa api melambangkan niat buruk, seperti riya, membanggakan pemberian, atau menyakiti hati orang lain. Amal yang dilakukan dengan niat seperti itu tidak memiliki keteguhan dan mudah hancur, seperti kebun yang habis terbakar dalam sekejap.
Pesan utama dari perumpamaan ini adalah pentingnya niat yang benar dalam beramal. Amal yang dilakukan untuk mendapatkan pujian manusia atau demi kebanggaan pribadi tidak memiliki nilai di sisi Allah. Bahkan, amal seperti itu dapat menjadi dosa jika disertai dengan sikap yang merendahkan atau menyakiti orang lain. Dalam Islam, keikhlasan adalah inti dari setiap amal, karena hanya amal yang dilakukan semata-mata untuk mencari keridhaan Allah yang akan diterima dan diberi ganjaran.
Di akhirat, orang yang menginfakkan hartanya karena riya akan sangat menyesal. Ketika mereka membutuhkan ganjaran amal untuk keselamatan mereka, mereka tidak akan menemukannya. Amal yang mereka kira bermanfaat ternyata tidak memberikan apa-apa, seperti kebun yang habis terbakar dan tidak menyisakan hasil panen. Ini menjadi peringatan keras bahwa amal tanpa keikhlasan tidak hanya sia-sia, tetapi juga menjadi kerugian besar di akhirat.
Oleh karena itu, umat Islam diajarkan untuk menjaga niat mereka dalam beramal, memastikan bahwa semua perbuatan baik dilakukan semata-mata untuk Allah. Amal yang ikhlas tidak hanya mendatangkan keberkahan di dunia, tetapi juga menjadi tabungan pahala yang abadi di akhirat. Dengan niat yang tulus, amal kecil pun bisa bernilai besar, sementara amal besar tanpa keikhlasan tidak akan berarti apa-apa.
Leave a Reply