MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Salat dan Disfungsi Ereksi: Potensi Manfaat Gerakan Salat untuk Kesehatan Pria

dr Widodo Judarwanto Pediatrician

Disfungsi ereksi (ED) atau impotensi sering kali disebabkan oleh gangguan arteri, dengan penyakit kardiovaskular sebagai komorbiditas yang paling umum. Aktivitas fisik terbukti menjadi faktor pelindung terhadap masalah ereksi dan dapat meningkatkan fungsi ereksi pada pria yang mengalami ED akibat gangguan vaskular. Terapi latihan fisik, terutama yang melibatkan otot dasar panggul, telah menunjukkan efek positif dalam meningkatkan sirkulasi darah dan mengurangi gejala ED. Dalam konteks ini, gerakan salat dianggap dapat menjadi bentuk latihan otot dasar panggul yang bermanfaat.

Sebuah studi kecil melibatkan 10 relawan yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama (Muslim) diminta melaksanakan salat harian mereka dan menambahkan intervensi baru berupa 12 siklus gerakan salat tambahan tiga sesi per minggu selama empat bulan. Kelompok kedua (non-Muslim) diajarkan untuk meniru gerakan salat tanpa membaca bacaan, dan diminta melakukan total 12 siklus gerakan dengan frekuensi yang sama. Parameter ereksi diukur menggunakan alat nocturnal electrobioimpedance volume assessment (NEVA), yang mencatat perubahan volume penis selama tidur. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan pada semua parameter, terutama pada perubahan volumetrik maksimum yang meningkat dari 138% menjadi 222% dari baseline.

Hasil awal ini menunjukkan bahwa salat dan gerakan meniru salat dapat memberikan manfaat bagi pasien dengan disfungsi ereksi. Gerakan-gerakan ini diduga membantu meningkatkan sirkulasi darah di area panggul dan memperkuat otot dasar panggul, yang berkontribusi pada perbaikan fungsi ereksi. Meski demikian, penelitian lebih lanjut dengan populasi yang lebih besar diperlukan untuk memvalidasi temuan ini, terutama dalam mengkaji efektivitasnya sebagai terapi tambahan bagi pengobatan farmakologis seperti inhibitor PDE5.

Sebagai langkah awal, temuan ini memberikan wawasan baru tentang potensi manfaat kesehatan dari praktik ibadah seperti salat. Selain aspek spiritual, salat juga dapat berperan sebagai latihan fisik yang mendukung kesehatan pria, khususnya dalam mengatasi masalah disfungsi ereksi. Penelitian yang lebih mendalam dapat membuka peluang untuk mengintegrasikan gerakan salat sebagai bagian dari pendekatan holistik dalam pengelolaan ED.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua parameter yang diukur mengalami peningkatan yang signifikan, dengan perubahan volumetrik maksimum yang paling besar, dari 138% menjadi 222% dari baseline. Penelitian awal ini menyarankan bahwa pendekatan alternatif melalui salat dan meniru gerakan serta postur salat dapat memberikan efek yang bermanfaat bagi pasien dengan disfungsi ereksi. Temuan ini membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut guna mengonfirmasi manfaat salat sebagai terapi tambahan dalam pengelolaan ED.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerakan salat memberikan efek yang bermanfaat pada pasien disfungsi ereksi (ED) sebagai pengobatan tambahan. Woo KW39) menyebutkan bahwa salat adalah bentuk latihan moderat yang lambat dan membuktikan bahwa rentang aktivasi otot pada kontraksi maksimal sukarela selama latihan otot dasar panggul (Kegel) dan gerakan yang meniru salat tidak memiliki perbedaan signifikan. Ini menunjukkan bahwa gerakan salat setara dengan latihan Kegel. Penelitian kami menunjukkan peningkatan signifikan pada volume penis pada pasien ED, yang mengindikasikan peningkatan aliran darah ke jaringan ereksi penis.

Secara dasar, terlepas dari faktor risiko yang ada, ada dua mekanisme utama yang mendasari ED non-psikogenik, yaitu mekanisme vaskulogenik atau neurogenik. Pada sebagian besar pasien, kedua komponen ini berperan. Gerakan salat, yang bekerja mirip dengan latihan dasar panggul, membantu memperbaiki ED dengan meningkatkan aliran darah ke daerah panggul, yang pada gilirannya dapat meningkatkan aliran darah ke jaringan ereksi seiring waktu. Mekanisme pasti bisa disebabkan oleh dilatasi pembuluh darah individu atau peningkatan neovaskularisasi (pembentukan pembuluh darah baru). Inhibitor PDE5 seperti sildenafil, tadalafil, dan vardenafil juga bekerja dengan menyebabkan vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah), yang meningkatkan aliran darah ke jaringan ereksi.

Peningkatan yang terlihat dalam periode intervensi empat bulan menunjukkan kemungkinan besar bahwa perubahan ini dapat semakin membaik jika intervensi diperpanjang hingga enam bulan. Selain itu, karena biaya yang sangat minimal dalam melakukan gerakan ini, serta kemudahan dalam melakukannya (terutama untuk subjek Muslim, karena gerakan ini hanya tambahan dari salat wajib mereka), sangat mungkin bahwa rejimen pengobatan tambahan ini akan dilakukan secara konsisten dalam jangka waktu yang lebih lama. Namun, seperti halnya dengan resep latihan dasar panggul, gerakan fisik ini harus diberikan sebagai pelengkap pengobatan ED yang rutin diresepkan.

Batasan utama dari penelitian ini adalah jumlah subjek yang kecil, serta durasi intervensi yang singkat. Di masa depan, penting untuk melakukan studi yang lebih besar sebelum intervensi saat ini dapat direkomendasikan sebagai pengobatan tambahan pada pasien dengan ED. Studi masa depan perlu mencakup kriteria berikut: i) populasi besar, ii) kelompok Muslim dengan salat rutin saja, iii) kelompok Muslim dengan salat rutin ditambah latihan panggul, iv) kelompok non-Muslim dengan latihan panggul saja, dan v) kelompok kontrol non-Muslim. Penelitian lebih besar juga mungkin dilakukan dengan hanya menggunakan IIEF sebagai alat penilaian tanpa pemindaian NEVA.

Salat adalah intervensi non-farmakologis yang memiliki berbagai manfaat kesehatan. Sebagai sumber daya yang tersedia secara luas, salat dapat dimasukkan dalam program perawatan holistik dan rehabilitasi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan pasien. Studi lebih lanjut diperlukan untuk memahami mekanisme spesifik di balik efek positif salat terhadap kesehatan dan bagaimana praktik ini dapat diintegrasikan secara efektif dalam pendekatan medis modern.

Salat adalah aktivitas spiritual dan fisik yang melibatkan hampir semua otot tubuh tanpa menyebabkan kelelahan otot, sekaligus memberikan ketenangan pada tubuh dan jiwa. Interaksi antara sistem saraf pusat dan sistem saraf otonom selama salat membantu relaksasi dan mengurangi kecemasan bagi mereka yang melakukannya secara rutin. Salat mencakup komponen kognitif dan motorik, meskipun penelitian mengenai hubungan antara religiusitas dan fungsi kognitif masih terbatas. Pelaksanaan salat dapat sedikit menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik, meskipun studi yang tersedia masih san

DAFTAR PUSTAKA

  • Silva AB, Sousa N, Azevedo LF, Martins Physical activity to improve erectile function: a systematic review of intervention studies. Sex Med 2018; 6(2): 75-89.
  • Ibrahim F, Sian TC, Shanggar K, Razack AH. .Muslim prayer movements as an alternative therapy in the treatment of erectile dysfunction: a preliminary study. J Phys Ther Sci 2013; 25(9): 1087-91.
  • Chamsi-Pasha M, Chamsi-Pasha H. A review of the literature on the health benefits of Salat (Islamic prayer). Med J Malaysia. 2021 Jan;76(1):93-97. PMID: 33510116.
  • Osama M, Malik RJ. Salat (Muslim prayer) as a therapeutic exercise. J Pak Med Assoc. 2019 Mar;69(3):399-404. PMID: 30890834.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *