MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Penelitian Ilmiah Terkini: Efek Shalat Pada Kesehatan Muskuloskeletal (Otot dan Tulang) 

dr Widodo Judarwanto

Gerakan dalam salat melibatkan berbagai otot dan sendi, yang membantu menjaga fleksibilitas dan kekuatan tubuh. Aktivitas ini juga dapat membantu mencegah kekakuan sendi dan meningkatkan postur tubuh. Gerakan dalam salat melibatkan hampir semua otot dan sendi tubuh, mulai dari posisi berdiri, rukuk, sujud, hingga duduk. Setiap transisi antara posisi ini memberikan kesempatan bagi tubuh untuk bergerak secara dinamis, menjaga kelenturan otot, dan memperkuat sendi. Aktivitas fisik ini tidak hanya berfungsi untuk menjaga kebugaran, tetapi juga dapat membantu mencegah kekakuan pada sendi, terutama pada bagian tubuh yang sering tidak bergerak dalam aktivitas sehari-hari.

Selain itu, salat juga berperan dalam meningkatkan postur tubuh. Posisi berdiri yang tegak, diikuti dengan gerakan rukuk dan sujud, melatih tubuh untuk menjaga keseimbangan dan memperbaiki keselarasan tubuh. Gerakan-gerakan ini membantu memperkuat otot-otot inti dan punggung, yang pada gilirannya dapat meningkatkan postur tubuh secara keseluruhan. Dengan rutin melaksanakan salat, tubuh akan terlatih untuk tetap fleksibel dan kuat, mendukung kesehatan muskuloskeletal dalam jangka panjang.

Literatur yang ada menunjukkan bahwa beberapa otot tubuh, seperti biceps brachii, triceps brachii, pectoralis major, otot-otot scapular, rectus femoris, biceps femoris, tibialis anterior, dan gastrocnemius, diaktifkan selama berbagai postur dalam salat. Aktivasi otot ini memberikan kontribusi terhadap kesehatan fisik, seperti meningkatkan keseimbangan tubuh, baik pada individu sehat maupun pasien pasca-stroke. Selain itu, pelaksanaan salat secara rutin dapat mengurangi risiko berkembangnya osteoartritis lutut, meningkatkan kesehatan kardiovaskular, serta memberikan manfaat pada komposisi tubuh secara keseluruhan.

Sebagian besar otot dan sendi tubuh terlibat dalam pelaksanaan salat. Aktivitas ini cocok untuk hampir semua orang, termasuk lansia, karena dapat dianggap sebagai bentuk latihan peregangan. Gerakan fisik yang dilakukan selama salat bersifat sederhana dan lembut, sehingga aman untuk berbagai usia dan kondisi kesehatan. Kontraksi dan relaksasi otot yang dilakukan secara harmonis selama salat membantu meningkatkan fleksibilitas otot tanpa menyebabkan kelelahan berlebihan.

Sebuah studi kecil melibatkan tujuh subjek dewasa untuk meneliti aktivitas listrik pada dua otot di permukaan dorsal (otot erector spinae dan trapezius) selama salat. Hasilnya menunjukkan bahwa kedua otot tersebut mempertahankan keseimbangan antara kontraksi dan relaksasi selama posisi rukuk dan sujud.

Salat terdiri dari minimal dua rakaat, di mana setiap rakaat melibatkan tujuh postur. Dalam salat Subuh, misalnya, seorang Muslim harus melakukan dua rakaat atau 14 postur berturut-turut. Secara keseluruhan, seorang Muslim diwajibkan untuk melakukan setidaknya 119 postur setiap hari, 3570 postur setiap bulan, dan 42.840 postur setiap tahun. Jika seseorang mulai salat sejak baligh dan hidup hingga usia rata-rata 60 tahun, maka ia akan melakukan lebih dari 1.927.800 postur salat sepanjang hidupnya.

Aspek terapeutik salat dalam meningkatkan kesejahteraan fisik dan psikologis telah dibahas oleh berbagai penulis, terutama dalam kaitannya dengan manfaat muskuloskeletal. Manfaat tersebut mencakup pemeliharaan keseimbangan postural, peningkatan tonus otot, perbaikan sirkulasi darah, dan kemungkinan peran perlindungan terhadap osteoartritis (OA) pada sendi yang menanggung beban tubuh.

Dalam sebuah studi prospektif, 46 pasien yang telah melaksanakan salat selama minimal 10 tahun dibandingkan dengan 40 pasien yang tidak melaksanakan salat. Hasilnya menunjukkan bahwa salat tidak memiliki efek negatif terhadap osteoartritis pada lutut dan pinggul.

Penelitian oleh Chokkhanchitchai mempelajari pengaruh salat terhadap prevalensi dan tingkat keparahan osteoartritis lutut pada populasi lanjut usia di Thailand dengan etnis yang sama tetapi agama berbeda. Studi ini melibatkan 153 penganut agama Buddha dan 150 Muslim yang berusia di atas 50 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa prevalensi nyeri lutut lebih tinggi pada penganut Buddha dibandingkan Muslim. Prevalensi osteoartritis juga lebih rendah pada Muslim dibandingkan penganut Buddha. Hal ini diduga karena kebiasaan salat yang dilakukan sejak kecil, yang melibatkan fleksi lutut dalam, dapat meregangkan jaringan lunak di sekitar lutut dan mengurangi kekakuan tulang rawan sendi.

Rehabilitasi fisik menjadi penting dalam menjaga kesehatan jangka panjang, dan diketahui bahwa bahkan aktivitas dengan intensitas moderat yang dilakukan setiap hari dapat memberikan manfaat kesehatan. Selama berbagai posisi dan transisi dalam salat, hampir semua sendi tubuh terlibat dalam gerakan. Salat, dengan berbagai postur dan gerakannya, dapat berperan dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis, termasuk harga diri, meningkatkan kebugaran muskuloskeletal, dan aliran darah ke otak, yang semuanya dapat bermanfaat dalam program rehabilitasi pasien lansia dan penyandang disabilitas.

Manfaat salat juga dapat dirasakan oleh pasien dengan kondisi spesifik, seperti spondilosis servikal. Spondilosis servikal adalah kondisi yang umum terjadi seiring bertambahnya usia, yang memengaruhi sendi dan cakram pada tulang belakang leher. Praktik salat dapat meningkatkan kekuatan otot leher. Salah satu penelitian kecil yang dilakukan pada 14 subjek sehat menunjukkan bahwa aktivitas otot leher selama salat tidak menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan dengan latihan khusus. Salat mungkin bisa dianggap sebagai alat yang berguna dalam latihan pemanasan atau dalam program rehabilitasi. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa salat juga dapat bermanfaat dalam meningkatkan kesejahteraan pasien dengan spondilosis servikal, dengan temuan bahwa mereka yang rutin melakukan salat memiliki prevalensi yang lebih rendah terhadap kondisi ini.

Proses Rehabilitasi

Praktik salat juga dapat membantu dalam proses rehabilitasi pada pasien dengan gangguan neurologis atau muskuloskeletal karena melibatkan usaha minimal dan mempromosikan kesehatan mental dan fisik. Berbagai postur dalam salat (berdiri, rukuk, sujud, dan duduk) dapat melawan postur adaptif yang mungkin diadopsi pasien setelah mengalami gangguan neurologis. Gerakan-gerakan ini memberikan manfaat dalam menjaga fleksibilitas tubuh dan meningkatkan mobilitas, yang sangat penting dalam pemulihan pasien.

Salat diakhiri dengan melihat ke kanan dan kiri, yang melibatkan gerakan rotasi leher. Gerakan ini dapat berkontribusi pada kebugaran neuromuskular. Efek terapeutik yang mungkin terjadi dari salat ini menunjukkan bahwa salat bisa menjadi latihan ringan yang dapat dimasukkan dalam program rehabilitasi. Meskipun demikian, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menentukan efek bermanfaat salat secara penuh dalam proses rehabilitasi pasien penyandang disabilitas.

Salat adalah intervensi non-farmakologis yang memiliki berbagai manfaat kesehatan. Sebagai sumber daya yang tersedia secara luas, salat dapat dimasukkan dalam program perawatan holistik dan rehabilitasi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan pasien. Studi lebih lanjut diperlukan untuk memahami mekanisme spesifik di balik efek positif salat terhadap kesehatan dan bagaimana praktik ini dapat diintegrasikan secara efektif dalam pendekatan medis modern.

Salat adalah aktivitas spiritual dan fisik yang melibatkan hampir semua otot tubuh tanpa menyebabkan kelelahan otot, sekaligus memberikan ketenangan pada tubuh dan jiwa. Interaksi antara sistem saraf pusat dan sistem saraf otonom selama salat membantu relaksasi dan mengurangi kecemasan bagi mereka yang melakukannya secara rutin

DAFTAR PUSTAKA

  1. Rabbi MF, Ghazali KH, Mohd II, Alqahtani M, Altwijri O, Ahamed NU. Investigation of the EMG activity of erector spinae and trapezius muscles during Islamic prayer (Salat). J Back Musculoskelet Rehabil 2018; 31(6): 1097-104.
  2. Imamoglu O. Benefits of prayer as a physical activity. International Journal of Science Culture and Sport (IntJSCS) 2016; (SI 1): 306-18.
  3. Reza MF, Urakami Y, Mano Y. Evaluation of a new physical exercise taken from salat (prayer) as a short-duration and frequent physical activity in the rehabilitation of geriatric and disabled Ann Saudi Med 2002; 22(3-4): 177-80.
  4. Al-Barzinjy N, Rasool MT, & Al-Dabbagh TQ. Islamic praying and osteoarthritis changes of weight bearing Duhok Medical 2009; 3(1): 33-44.
  5. Osama M, Malik RJ. Salat (Muslim prayer) as a therapeutic exercise. J Pak Med Assoc 2019; 69(3): 399-404.
  6. Yilmaz S, Kart-Köseoglu H, Guler O, Yucel E. Effect of prayer on osteoarthritis and osteoporosis. Rheumatol Int 2008; 28(5): 429-3.
  7. Chokkhanchitchai S, Tangarunsanti T, Jaovisidha S, Nantiruj K, Janwityanujit S. The effect of religious practice on the prevalence of knee Clin Rheumatol 2010; 29(1): 39-44.
  8. Ghous M, Malik Health benefits of salat (prayer); neurological rehabilitation. Professional Med J 2016; 23(8): 887-8.
  9. Safee M KM, Wan Abas WAB, Ibrahim F, Abu Osman Electromyographic activity of the upper limb muscle during specific salat’s position and exercise. Inter J Appl Phys & Math 2012; 2(6): 433-5.
  10. Pandey A, Singh AK, Kumar S, Chaturvedi M, Verma S, Agarwal P et al. The prevalence of cervical spondylosis in Muslim community with special reference to Namaz in Agra. Internet Journal of Rheumatology and Clinical Immunology (IJRCI) 2017; 5(1): 1-5

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *