MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Shalat-Shalat Sunnah dalam Islam: Tinjauan Hadits, dan Ijma‘ Ulama

Shalat-Shalat Sunnah dalam Islam: Tinjauan Hadits, dan Ijma‘ Ulama

Abstrak

Shalat sunnah merupakan bentuk ibadah tambahan yang disyariatkan Allah ﷻ sebagai penyempurna dari shalat wajib dan sarana mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam Islam, shalat sunnah berfungsi memperbaiki kekurangan dalam ibadah wajib, menambah pahala, dan memperkokoh hubungan spiritual seorang hamba dengan Allah. Berdasarkan Al-Qur’an, hadits, ijma‘ ulama, dan qiyas, shalat sunnah mencakup berbagai bentuk: yang berkaitan dengan waktu (seperti dhuha dan tahajjud), dengan sebab (seperti tahiyyatul masjid dan istikharah), dan yang dilakukan berjamaah (seperti tarawih dan ied). Artikel ini menguraikan jenis-jenis shalat sunnah, dasar hukumnya, jumlah rakaat, serta keutamaannya dalam meningkatkan kesempurnaan iman dan akhlak seorang Muslim.


Dalam kerangka syariat Islam, ibadah tidak hanya terbatas pada kewajiban yang lima waktu, tetapi juga mencakup ibadah-ibadah tambahan (nafilah) yang berfungsi memperindah dan menyempurnakan yang wajib. Allah ﷻ berfirman:

“Dan sujudlah serta dekatkanlah dirimu kepada Allah.” (QS. Al-‘Alaq: 19).
Ayat ini menunjukkan bahwa kedekatan kepada Allah tidak hanya melalui ibadah wajib, melainkan juga melalui amalan tambahan yang mendekatkan hati kepada-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits qudsi:
“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari).

Dengan demikian, shalat sunnah adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Ia menjadi sarana menambah pahala, menggugurkan dosa, dan memperindah amal wajib. Para ulama menegaskan bahwa sunnah-sunnah ini bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian integral dari sistem ibadah Islam yang menyempurnakan hubungan vertikal (‘ubudiyyah) antara manusia dan Allah.

Tabel Lengkap Shalat-Shalat Sunnah dalam Islam

No Jenis Shalat Sunnah Dalil (Qur’an & Hadits) Ijma‘ & Qiyas Ulama Jumlah Rakaat Keutamaan & Keterangan
1 Sunnah Rawatib Mu’akkadah HR. Tirmidzi, Muslim: Nabi ﷺ menjaga 12 rakaat rawatib Ijma‘ ulama disunnahkan 12 rakaat Menyempurnakan kekurangan shalat wajib, mendapat rumah di surga (HR. Muslim)
2 Sunnah Rawatib Ghair Mu’akkadah HR. Abu Dawud: “Antara setiap dua azan ada shalat.” Disunnahkan berdasarkan qiyas keutamaan shalat tambahan Tidak tetap Sebagai tambahan pahala di luar mu’akkadah
3 Shalat Dhuha HR. Muslim: “Setiap pagi setiap sendi manusia wajib bersedekah…” Disepakati sunnahnya 2–8 rakaat Menghapus dosa dan menjadi sedekah bagi sendi tubuh
4 Shalat Tahajjud (Qiyam al-Lail) QS. Al-Isra’: 79; HR. Muslim Ijma‘: sangat dianjurkan Minimal 2 rakaat Kedudukan mulia di sisi Allah; pintu ampunan di malam hari
5 Shalat Witir HR. Abu Dawud: “Jadikan akhir shalat malam kalian witir.” Disepakati sangat dianjurkan 1–11 rakaat Shalat penutup malam, ciri orang saleh
6 Shalat Istikharah HR. Bukhari: “Jika salah seorang di antara kalian berniat pada suatu urusan…” Ijma‘: disyariatkan 2 rakaat Memohon petunjuk Allah dalam keputusan hidup
7 Shalat Tahiyyatul Masjid HR. Muslim: “Jika salah seorang masuk masjid, jangan duduk sebelum shalat dua rakaat.” Ijma‘ ulama disunnahkan 2 rakaat Menghormati rumah Allah sebelum duduk
8 Shalat Hajat HR. Tirmidzi (hasan): “Siapa yang memiliki kebutuhan kepada Allah…” Qiyas atas doa dan istighfar 2 rakaat Untuk memohon kebutuhan dunia dan akhirat
9 Shalat Tasbih HR. Abu Dawud (hasan lighairihi) Sebagian ulama menganjurkan, sebagian menganggap dhaif 4 rakaat Dihapuskan dosa, sarana dzikir mendalam
10 Shalat Istisqa’ (Minta Hujan) HR. Bukhari dan Muslim Disepakati sunnah mu’akkadah 2 rakaat Menolak kekeringan, mendekatkan umat kepada Allah
11 Shalat Kusuf/Khusuf (Gerhana) HR. Bukhari: “Sesungguhnya matahari dan bulan tidaklah gerhana karena kematian seseorang…” Ijma‘: sunnah mu’akkadah 2 rakaat Menumbuhkan rasa takut dan kesadaran kebesaran Allah
12 Shalat Tarawih HR. Bukhari: “Barangsiapa shalat malam di bulan Ramadan…” Disepakati sunnah mu’akkadah berjamaah 8–20 rakaat Mendapat ampunan dosa, pahala besar Ramadan
13 Shalat Idul Fitri & Idul Adha QS. Al-Kautsar: 2; HR. Bukhari Ijma‘: sunnah mu’akkadah 2 rakaat Syiar Islam, memperkuat ukhuwah dan syukur
14 Shalat Awwabin (setelah Maghrib) HR. Tirmidzi: “Shalat Awwabin adalah antara Maghrib dan Isya.” Disunnahkan oleh banyak ulama 6 rakaat Mendekatkan diri bagi orang yang banyak berdzikir
15 Shalat Mutlak (tanpa sebab/waktu tertentu) HR. Muslim: “Shalat adalah sebaik-baik perkara.” Disepakati boleh selama tidak di waktu terlarang Bebas Wujud cinta dan kedekatan tanpa sebab tertentu

Keutamaan Shalat Sunnah

  1. Penyempurna amalan wajib: Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya amal pertama yang dihisab pada hari kiamat adalah shalat; jika kurang, maka Allah berfirman: ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah untuk menyempurnakannya?’” (HR. Abu Dawud).
  2. Mendapat cinta Allah: Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa hamba yang tekun dengan amalan sunnah akan dicintai Allah.
  3. Penghapus dosa dan penambah derajat: Setiap rakaat shalat sunnah merupakan peluang penghapusan kesalahan dan penambah pahala.
  4. Menumbuhkan kedekatan spiritual: Shalat sunnah membawa ketenangan batin, memperkuat iman, dan menjauhkan dari kelalaian duniawi.

Tabel Shalat Sunnah Rawatib dalam Islam

Jenis Shalat Waktu Pelaksanaan Jumlah Rakaat Dalil Hadits Status Hukum Keutamaan & Keterangan
Sunnah Rawatib Mu’akkadah (Sangat Dianjurkan)
Sebelum Subuh (Qabliyah Fajr) Setelah adzan Subuh, sebelum iqamah 2 rakaat HR. Bukhari & Muslim: “Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkan dua rakaat sebelum Subuh.” Sunnah mu’akkadah Lebih baik dari dunia dan seisinya (HR. Muslim)
Sebelum Dzuhur (Qabliyah Dhuhr) Sebelum shalat Dzuhur 4 rakaat (2+2) HR. Tirmidzi: “Barang siapa shalat empat rakaat sebelum Dzuhur…” Sunnah mu’akkadah Mendapat rumah di surga (HR. Tirmidzi)
Setelah Dzuhur (Ba’diyah Dhuhr) Setelah shalat Dzuhur 2 rakaat HR. Muslim Sunnah mu’akkadah Menghapus dosa dan menambah pahala
Setelah Maghrib (Ba’diyah Maghrib) Setelah shalat Maghrib 2 rakaat HR. Muslim: “Rasulullah ﷺ biasa shalat dua rakaat setelah Maghrib.” Sunnah mu’akkadah Menjaga hubungan hati setelah shalat wajib
Setelah Isya (Ba’diyah Isya) Setelah shalat Isya 2 rakaat HR. Muslim Sunnah mu’akkadah Menutup hari dengan ketaatan
Total Sunnah Rawatib Mu’akkadah 12 rakaat Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa shalat dua belas rakaat setiap hari, Allah bangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Muslim)
Sunnah Rawatib Ghair Mu’akkadah (Tidak Tetap tetapi Dianjurkan)
Sebelum Ashar (Qabliyah Ashar) Sebelum shalat Ashar 2 atau 4 rakaat HR. Abu Dawud & Tirmidzi: “Allah merahmati orang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar.” Sunnah ghair mu’akkadah Mendapat rahmat dan perlindungan Allah
Sebelum Maghrib (Qabliyah Maghrib) Setelah adzan Maghrib, sebelum iqamah 2 rakaat HR. Bukhari: “Shalatlah sebelum Maghrib… bagi yang mau.” Sunnah ghair mu’akkadah Memperbanyak amal sebelum malam dimulai
Sebelum Isya (Qabliyah Isya) Setelah adzan Isya, sebelum iqamah 2 rakaat HR. Abu Dawud Sunnah ghair mu’akkadah Menambah pahala dan memperkuat kehusyukan
Setelah Jum‘at (Ba’diyah Jum‘at) Setelah shalat Jum‘at 2 atau 4 rakaat HR. Muslim: “Apabila kamu telah shalat Jum‘at, maka shalatlah empat rakaat setelahnya.” Sunnah mu’akkadah menurut sebagian ulama Mengganti rawatib Dzuhur dan memperbanyak pahala

Penjelasan Singkat

  1. Rawatib Mu’akkadah adalah shalat sunnah yang sangat dijaga oleh Rasulullah ﷺ setiap hari dan jarang sekali beliau tinggalkan, kecuali dalam keadaan safar.
    ➤ Total 12 rakaat setiap hari (2 sebelum Subuh, 4 sebelum Dzuhur, 2 sesudah Dzuhur, 2 sesudah Maghrib, 2 sesudah Isya).
  2. Rawatib Ghair Mu’akkadah adalah shalat sunnah yang kadang dilakukan Nabi ﷺ, namun tidak secara terus-menerus.
    ➤ Dikerjakan untuk menambah pahala dan menjaga kekhusyukan, tidak wajib dan tidak berdosa bila ditinggalkan.
  3. Keutamaannya:
    • Menyempurnakan kekurangan shalat wajib (HR. Abu Dawud).
    • Menjadi sebab Allah membangun rumah di surga (HR. Muslim).
    • Mendapat rahmat dan ampunan Allah.

Kesimpulan

Shalat sunnah merupakan manifestasi rahmat Allah yang memperindah ibadah wajib dan mendekatkan hamba kepada Tuhannya. Berdasarkan Al-Qur’an, hadits, ijma‘, dan qiyas ulama, shalat sunnah mencakup berbagai bentuk dan waktu yang memberikan keluasan bagi umat Islam untuk beribadah secara kontinu. Ia bukan hanya pelengkap formal, tetapi sarana spiritual untuk mencapai maqām cinta Allah dan kesempurnaan amal. Oleh karena itu, memperbanyak shalat sunnah adalah wujud kesungguhan iman dan tanda kecintaan sejati kepada Allah ﷻ.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *