Shalat-Shalat Sunnah dalam Islam: Tinjauan Hadits, dan Ijma‘ Ulama
Abstrak
Shalat sunnah merupakan bentuk ibadah tambahan yang disyariatkan Allah ﷻ sebagai penyempurna dari shalat wajib dan sarana mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam Islam, shalat sunnah berfungsi memperbaiki kekurangan dalam ibadah wajib, menambah pahala, dan memperkokoh hubungan spiritual seorang hamba dengan Allah. Berdasarkan Al-Qur’an, hadits, ijma‘ ulama, dan qiyas, shalat sunnah mencakup berbagai bentuk: yang berkaitan dengan waktu (seperti dhuha dan tahajjud), dengan sebab (seperti tahiyyatul masjid dan istikharah), dan yang dilakukan berjamaah (seperti tarawih dan ied). Artikel ini menguraikan jenis-jenis shalat sunnah, dasar hukumnya, jumlah rakaat, serta keutamaannya dalam meningkatkan kesempurnaan iman dan akhlak seorang Muslim.
Dalam kerangka syariat Islam, ibadah tidak hanya terbatas pada kewajiban yang lima waktu, tetapi juga mencakup ibadah-ibadah tambahan (nafilah) yang berfungsi memperindah dan menyempurnakan yang wajib. Allah ﷻ berfirman:
“Dan sujudlah serta dekatkanlah dirimu kepada Allah.” (QS. Al-‘Alaq: 19).
Ayat ini menunjukkan bahwa kedekatan kepada Allah tidak hanya melalui ibadah wajib, melainkan juga melalui amalan tambahan yang mendekatkan hati kepada-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits qudsi:
“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari).
Dengan demikian, shalat sunnah adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Ia menjadi sarana menambah pahala, menggugurkan dosa, dan memperindah amal wajib. Para ulama menegaskan bahwa sunnah-sunnah ini bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian integral dari sistem ibadah Islam yang menyempurnakan hubungan vertikal (‘ubudiyyah) antara manusia dan Allah.
Tabel Lengkap Shalat-Shalat Sunnah dalam Islam
| No | Jenis Shalat Sunnah | Dalil (Qur’an & Hadits) | Ijma‘ & Qiyas Ulama | Jumlah Rakaat | Keutamaan & Keterangan |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Sunnah Rawatib Mu’akkadah | HR. Tirmidzi, Muslim: Nabi ﷺ menjaga 12 rakaat rawatib | Ijma‘ ulama disunnahkan | 12 rakaat | Menyempurnakan kekurangan shalat wajib, mendapat rumah di surga (HR. Muslim) |
| 2 | Sunnah Rawatib Ghair Mu’akkadah | HR. Abu Dawud: “Antara setiap dua azan ada shalat.” | Disunnahkan berdasarkan qiyas keutamaan shalat tambahan | Tidak tetap | Sebagai tambahan pahala di luar mu’akkadah |
| 3 | Shalat Dhuha | HR. Muslim: “Setiap pagi setiap sendi manusia wajib bersedekah…” | Disepakati sunnahnya | 2–8 rakaat | Menghapus dosa dan menjadi sedekah bagi sendi tubuh |
| 4 | Shalat Tahajjud (Qiyam al-Lail) | QS. Al-Isra’: 79; HR. Muslim | Ijma‘: sangat dianjurkan | Minimal 2 rakaat | Kedudukan mulia di sisi Allah; pintu ampunan di malam hari |
| 5 | Shalat Witir | HR. Abu Dawud: “Jadikan akhir shalat malam kalian witir.” | Disepakati sangat dianjurkan | 1–11 rakaat | Shalat penutup malam, ciri orang saleh |
| 6 | Shalat Istikharah | HR. Bukhari: “Jika salah seorang di antara kalian berniat pada suatu urusan…” | Ijma‘: disyariatkan | 2 rakaat | Memohon petunjuk Allah dalam keputusan hidup |
| 7 | Shalat Tahiyyatul Masjid | HR. Muslim: “Jika salah seorang masuk masjid, jangan duduk sebelum shalat dua rakaat.” | Ijma‘ ulama disunnahkan | 2 rakaat | Menghormati rumah Allah sebelum duduk |
| 8 | Shalat Hajat | HR. Tirmidzi (hasan): “Siapa yang memiliki kebutuhan kepada Allah…” | Qiyas atas doa dan istighfar | 2 rakaat | Untuk memohon kebutuhan dunia dan akhirat |
| 9 | Shalat Tasbih | HR. Abu Dawud (hasan lighairihi) | Sebagian ulama menganjurkan, sebagian menganggap dhaif | 4 rakaat | Dihapuskan dosa, sarana dzikir mendalam |
| 10 | Shalat Istisqa’ (Minta Hujan) | HR. Bukhari dan Muslim | Disepakati sunnah mu’akkadah | 2 rakaat | Menolak kekeringan, mendekatkan umat kepada Allah |
| 11 | Shalat Kusuf/Khusuf (Gerhana) | HR. Bukhari: “Sesungguhnya matahari dan bulan tidaklah gerhana karena kematian seseorang…” | Ijma‘: sunnah mu’akkadah | 2 rakaat | Menumbuhkan rasa takut dan kesadaran kebesaran Allah |
| 12 | Shalat Tarawih | HR. Bukhari: “Barangsiapa shalat malam di bulan Ramadan…” | Disepakati sunnah mu’akkadah berjamaah | 8–20 rakaat | Mendapat ampunan dosa, pahala besar Ramadan |
| 13 | Shalat Idul Fitri & Idul Adha | QS. Al-Kautsar: 2; HR. Bukhari | Ijma‘: sunnah mu’akkadah | 2 rakaat | Syiar Islam, memperkuat ukhuwah dan syukur |
| 14 | Shalat Awwabin (setelah Maghrib) | HR. Tirmidzi: “Shalat Awwabin adalah antara Maghrib dan Isya.” | Disunnahkan oleh banyak ulama | 6 rakaat | Mendekatkan diri bagi orang yang banyak berdzikir |
| 15 | Shalat Mutlak (tanpa sebab/waktu tertentu) | HR. Muslim: “Shalat adalah sebaik-baik perkara.” | Disepakati boleh selama tidak di waktu terlarang | Bebas | Wujud cinta dan kedekatan tanpa sebab tertentu |
Keutamaan Shalat Sunnah
- Penyempurna amalan wajib: Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya amal pertama yang dihisab pada hari kiamat adalah shalat; jika kurang, maka Allah berfirman: ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah untuk menyempurnakannya?’” (HR. Abu Dawud).
- Mendapat cinta Allah: Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa hamba yang tekun dengan amalan sunnah akan dicintai Allah.
- Penghapus dosa dan penambah derajat: Setiap rakaat shalat sunnah merupakan peluang penghapusan kesalahan dan penambah pahala.
- Menumbuhkan kedekatan spiritual: Shalat sunnah membawa ketenangan batin, memperkuat iman, dan menjauhkan dari kelalaian duniawi.
Tabel Shalat Sunnah Rawatib dalam Islam
| Jenis Shalat | Waktu Pelaksanaan | Jumlah Rakaat | Dalil Hadits | Status Hukum | Keutamaan & Keterangan |
|---|---|---|---|---|---|
| Sunnah Rawatib Mu’akkadah (Sangat Dianjurkan) | |||||
| Sebelum Subuh (Qabliyah Fajr) | Setelah adzan Subuh, sebelum iqamah | 2 rakaat | HR. Bukhari & Muslim: “Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkan dua rakaat sebelum Subuh.” | Sunnah mu’akkadah | Lebih baik dari dunia dan seisinya (HR. Muslim) |
| Sebelum Dzuhur (Qabliyah Dhuhr) | Sebelum shalat Dzuhur | 4 rakaat (2+2) | HR. Tirmidzi: “Barang siapa shalat empat rakaat sebelum Dzuhur…” | Sunnah mu’akkadah | Mendapat rumah di surga (HR. Tirmidzi) |
| Setelah Dzuhur (Ba’diyah Dhuhr) | Setelah shalat Dzuhur | 2 rakaat | HR. Muslim | Sunnah mu’akkadah | Menghapus dosa dan menambah pahala |
| Setelah Maghrib (Ba’diyah Maghrib) | Setelah shalat Maghrib | 2 rakaat | HR. Muslim: “Rasulullah ﷺ biasa shalat dua rakaat setelah Maghrib.” | Sunnah mu’akkadah | Menjaga hubungan hati setelah shalat wajib |
| Setelah Isya (Ba’diyah Isya) | Setelah shalat Isya | 2 rakaat | HR. Muslim | Sunnah mu’akkadah | Menutup hari dengan ketaatan |
| Total Sunnah Rawatib Mu’akkadah | — | 12 rakaat | — | — | Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa shalat dua belas rakaat setiap hari, Allah bangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Muslim) |
| Sunnah Rawatib Ghair Mu’akkadah (Tidak Tetap tetapi Dianjurkan) | |||||
| Sebelum Ashar (Qabliyah Ashar) | Sebelum shalat Ashar | 2 atau 4 rakaat | HR. Abu Dawud & Tirmidzi: “Allah merahmati orang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar.” | Sunnah ghair mu’akkadah | Mendapat rahmat dan perlindungan Allah |
| Sebelum Maghrib (Qabliyah Maghrib) | Setelah adzan Maghrib, sebelum iqamah | 2 rakaat | HR. Bukhari: “Shalatlah sebelum Maghrib… bagi yang mau.” | Sunnah ghair mu’akkadah | Memperbanyak amal sebelum malam dimulai |
| Sebelum Isya (Qabliyah Isya) | Setelah adzan Isya, sebelum iqamah | 2 rakaat | HR. Abu Dawud | Sunnah ghair mu’akkadah | Menambah pahala dan memperkuat kehusyukan |
| Setelah Jum‘at (Ba’diyah Jum‘at) | Setelah shalat Jum‘at | 2 atau 4 rakaat | HR. Muslim: “Apabila kamu telah shalat Jum‘at, maka shalatlah empat rakaat setelahnya.” | Sunnah mu’akkadah menurut sebagian ulama | Mengganti rawatib Dzuhur dan memperbanyak pahala |
Penjelasan Singkat
- Rawatib Mu’akkadah adalah shalat sunnah yang sangat dijaga oleh Rasulullah ﷺ setiap hari dan jarang sekali beliau tinggalkan, kecuali dalam keadaan safar.
➤ Total 12 rakaat setiap hari (2 sebelum Subuh, 4 sebelum Dzuhur, 2 sesudah Dzuhur, 2 sesudah Maghrib, 2 sesudah Isya). - Rawatib Ghair Mu’akkadah adalah shalat sunnah yang kadang dilakukan Nabi ﷺ, namun tidak secara terus-menerus.
➤ Dikerjakan untuk menambah pahala dan menjaga kekhusyukan, tidak wajib dan tidak berdosa bila ditinggalkan. - Keutamaannya:
- Menyempurnakan kekurangan shalat wajib (HR. Abu Dawud).
- Menjadi sebab Allah membangun rumah di surga (HR. Muslim).
- Mendapat rahmat dan ampunan Allah.
Kesimpulan
Shalat sunnah merupakan manifestasi rahmat Allah yang memperindah ibadah wajib dan mendekatkan hamba kepada Tuhannya. Berdasarkan Al-Qur’an, hadits, ijma‘, dan qiyas ulama, shalat sunnah mencakup berbagai bentuk dan waktu yang memberikan keluasan bagi umat Islam untuk beribadah secara kontinu. Ia bukan hanya pelengkap formal, tetapi sarana spiritual untuk mencapai maqām cinta Allah dan kesempurnaan amal. Oleh karena itu, memperbanyak shalat sunnah adalah wujud kesungguhan iman dan tanda kecintaan sejati kepada Allah ﷻ.


















Leave a Reply