Cara Nabi Membangun Rasa Persaudaraan Muhajirin dan Anshar: Pilar Solidaritas dan Teladan Sejati Umat Islam
Abstrak
Peristiwa persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar yang diprakarsai oleh Rasulullah SAW merupakan tonggak penting dalam pembentukan masyarakat Islam di Madinah. Persaudaraan ini tidak hanya bersifat formal, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata berupa pengorbanan, solidaritas, dan keikhlasan yang mendalam. Kaum Anshar rela berbagi harta, tempat tinggal, bahkan menawarkan sebagian dari yang paling berharga demi menolong saudaranya yang berhijrah. Artikel ini mengkaji hadis-hadis sahih yang menjadi dasar ukhuwah Islamiyah, penjelasan para ulama tentang makna persaudaraan tersebut, kisah lengkap tentang bagaimana Nabi SAW mengatur persaudaraan Muhajirin dan Anshar, serta relevansi teladannya bagi umat Islam masa kini.
Ketika Rasulullah SAW dan kaum Muslimin berhijrah dari Makkah ke Madinah, mereka menghadapi tantangan besar. Kaum Muhajirin datang dalam keadaan miskin, meninggalkan seluruh harta dan keluarga mereka di Makkah. Sementara itu, kaum Anshar—penduduk asli Madinah yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj—menyambut kedatangan mereka dengan penuh keikhlasan. Padahal, sebelum masuk Islam, Aus dan Khazraj dikenal sering bermusuhan, bahkan melibatkan pihak Yahudi dan Nasrani dalam konflik mereka. Islamlah yang menyatukan keduanya dan menghapuskan fanatisme kesukuan.
Rasulullah SAW melihat bahwa untuk membangun masyarakat yang kuat, harus ada ikatan persaudaraan sejati yang melampaui sekadar hubungan darah. Karena itu, beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Prinsip dasar yang beliau tekankan adalah sabdanya:
“Setiap Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Mereka bagaikan satu tubuh, jika salah satu bagian sakit maka seluruh tubuh turut merasakan sakit.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menjadi dasar moral persaudaraan. Imam Nawawi menafsirkan bahwa cinta terhadap sesama berarti menginginkan kebaikan, keselamatan, dan kebahagiaan bagi orang lain sebagaimana untuk dirinya sendiri.
Diriwayatkan pula dari Anas bin Malik: “Ketika kaum Muhajirin datang ke Madinah, kaum Anshar membagi dua harta mereka dengan mereka.” (HR. Bukhari). Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa kaum Anshar memberikan bukan karena terpaksa, tetapi karena dorongan iman. Mereka menempatkan ukhuwah di atas kepentingan pribadi.
Al-Qur’an menegaskan dalam QS. Al-Hasyr [59]:9: “Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka juga memerlukan.” Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini adalah bentuk pujian Allah terhadap kaum Anshar yang rela berkorban meski dalam keterbatasan, sebuah teladan yang sepatutnya diikuti oleh umat. Ibn Katsir menekankan bahwa ukhuwah ini menunjukkan bahwa iman dapat melampaui ikatan darah. Hubungan antara Muhajirin dan Anshar bukan hanya bersifat sosial, tetapi juga spiritual, menegaskan pentingnya menjadikan persaudaraan sebagai bagian dari ibadah.
Kisah Lengkap Cara Nabi Membangun Rasa Persaudaraan
Rasulullah SAW mempersaudarakan sekitar 90 sahabat; setengah dari Muhajirin dan setengah dari Anshar. Salah satu kisah paling terkenal adalah persaudaraan antara Sa’ad bin Rabi’ (Anshar) dan Abdurrahman bin Auf (Muhajirin). Sa’ad dengan lapang hati menawarkan separuh hartanya dan salah satu istrinya agar Abdurrahman tidak merasa kehilangan. Namun, Abdurrahman dengan sopan menolak dan hanya meminta ditunjukkan pasar di Madinah, lalu memulai usaha hingga kembali menjadi pedagang sukses.
Salman al-Farisi dipersaudarakan dengan Abu Darda’. Hubungan mereka penuh kasih dan nasihat. Salman bahkan menegur Abu Darda’ yang terlalu banyak beribadah hingga mengabaikan keluarganya, lalu Rasulullah SAW membenarkan nasihat Salman. Kisah ini memperlihatkan bahwa persaudaraan dalam Islam bukan sekadar bantuan materi, tetapi juga saling menasehati dalam kebaikan dan keseimbangan hidup.
Persaudaraan yang diatur Nabi SAW menjadikan kaum Muhajirin tidak merasa menjadi beban, dan kaum Anshar tidak merasa dirugikan. Sebaliknya, ukhuwah ini membangun masyarakat yang bersatu, solid, dan berdaya, sehingga menjadi fondasi perkembangan dakwah Islam selanjutnya.
Menurut Ibnul Qayyim al-Jauziyyah sebagaimana dikutip Mubarakfuri dalam Ar-Rahiq al-Makhtum, proses persaudaraan ini mula-mula berlangsung di rumah Anas bin Malik. Jumlah mereka mencapai 90 orang laki-laki: setengah dari Muhajirin dan setengah dari Anshar.
Rasulullah SAW menjadikan ikatan itu lebih dari sekadar persaudaraan simbolis. Beliau mengatur agar mereka saling membantu dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sampai pada urusan warisan. Sebelum turunnya Surah al-Anfal ayat 75, warisan di antara saudara seiman ini berlaku, meski tanpa hubungan darah. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan ukhuwah Islamiyah yang diciptakan oleh Nabi SAW.
Allah SWT kemudian menegaskan dalam QS. Al-Anfal [8]:75:
وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنۢ بَعۡدُ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ مَعَكُمۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ مِنكُمۡۚ وَأُوْلُواْ ٱلۡأَرۡحَامِ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلَىٰ بِبَعۡضٖ فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٌۢ
“Dan orang-orang yang beriman sesudah itu kemudian berhijrah serta berjihad bersamamu maka mereka termasuk golonganmu. Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” Dengan turunnya ayat ini, aturan pewarisan kembali kepada garis nasab, namun persaudaraan dalam iman tetap berjalan.
Ketulusan Kaum Anshar
Kaum Anshar menunjukkan ketulusan yang luar biasa. Mereka bahkan menawarkan kepada Rasulullah SAW agar kebun kurma mereka dibagi dua untuk para Muhajirin. Namun, Rasulullah SAW menolaknya dengan penuh kebijaksanaan, seraya bersabda:
“Tidak perlu. Cukuplah kalian memberi makanan pokok saja, biarkan kami yang mengurus hasil buahnya.”
Bentuk pengorbanan lain juga tampak dalam kisah Sa’ad bin Rabi’, seorang sahabat dari Anshar, yang dipersaudarakan dengan Abdurrahman bin Auf, sahabat dari Muhajirin. Sa’ad berkata: “Wahai saudaraku, aku adalah orang Anshar yang paling kaya. Maka, separuh hartaku akan kuberikan kepadamu. Aku juga memiliki dua istri. Lihatlah siapa yang engkau sukai, akan aku ceraikan, dan setelah masa iddahnya selesai engkau dapat menikahinya.”
Namun, Abdurrahman bin Auf menolak dengan sopan dan rendah hati. Ia berkata: “Semoga Allah memberkahi harta dan keluargamu. Tunjukkanlah aku di mana pasar berada.”
Dengan kerja keras dan keberkahan Allah, Abdurrahman segera memulai usaha di pasar Madinah. Tak lama, ia menjadi seorang pedagang sukses tanpa membebani saudaranya dari Anshar.
Selain Sa’ad bin Rabi’ dan Abdurrahman bin Auf, banyak pasangan persaudaraan lain yang terbentuk. Di antaranya, Salman al-Farisi dipersaudarakan dengan Abu Darda’. Hubungan keduanya erat dan penuh nasehat. Bahkan, Salman menegur Abu Darda’ yang terlalu sibuk beribadah hingga mengabaikan keluarganya. Rasulullah SAW pun membenarkan nasihat Salman, menunjukkan bahwa persaudaraan ini bukan hanya materi, melainkan juga bimbingan spiritual.
Rasulullah SAW juga menegaskan prinsip ta’awun (tolong-menolong) dalam kebaikan dan itsar (mendahulukan orang lain). Kaum Anshar menjadi simbol ayat QS. Al-Hasyr [59]:9: “Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.”
Inspirasi bagi Umat Islam Masa Kini
- Pertama, umat Islam perlu menghidupkan kembali semangat empati dan solidaritas. Persaudaraan Muhajirin-Anshar mengajarkan kita untuk peduli pada penderitaan sesama, baik pengungsi, fakir miskin, atau korban bencana.
- Kedua, teladan Abdurrahman bin Auf mengajarkan pentingnya kemandirian. Persaudaraan bukan berarti bergantung, tetapi saling menguatkan. Membantu saudara seiman harus diiringi dengan dorongan agar mereka mampu berdiri sendiri.
- Ketiga, ukhuwah Islamiyah harus diterjemahkan dalam konteks modern: berbagi ilmu, teknologi, dan sumber daya agar umat mampu menghadapi tantangan global. Persaudaraan sejati adalah saling mendukung dalam pembangunan umat.
- Keempat, umat harus menjaga persatuan dengan menghindari perpecahan. Teladan persaudaraan Muhajirin dan Anshar menunjukkan bahwa keberagaman latar belakang dapat dipersatukan oleh iman. Semangat inilah yang sangat relevan bagi umat Islam di tengah arus individualisme dan perbedaan zaman sekarang.
Kesimpulan
Persaudaraan Muhajirin dan Anshar adalah salah satu warisan paling berharga dalam sejarah Islam. Rasulullah SAW berhasil menanamkan ukhuwah sejati yang melampaui sekadar hubungan sosial, tetapi berakar pada iman dan cinta karena Allah. Kisah-kisah sahabat menjadi teladan nyata tentang pengorbanan, solidaritas, dan kemandirian. Umat Islam masa kini hendaknya menjadikan peristiwa ini sebagai inspirasi dalam membangun masyarakat yang saling mendukung, adil, dan berdaya, sehingga ukhuwah Islamiyah benar-benar menjadi pilar peradaban yang diridhai Allah SWT.

















Leave a Reply