MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Ketika Anak Merasa Asing di Rumah: Kurangnya Masa Berkualitas Akibat Kesibukan Kantor dan Gadget Orangtua


Abstrak:

Fenomena kurangnya masa berkualitas antara orang tua dan anak kian marak di era modern. Tidak hanya karena kesibukan pekerjaan, tetapi juga karena penggunaan gawai (gadget) yang berlebihan di rumah. Waktu bersama anak kerap tersita oleh layar ponsel, menyebabkan interaksi emosional dan spiritual dalam keluarga menjadi kering dan hampa. Dalam Islam, orang tua adalah pendidik pertama dan utama yang bertanggung jawab atas pertumbuhan jiwa dan akhlak anak. Artikel ini membahas pentingnya kehadiran orang tua dalam kehidupan anak menurut Al-Qur’an, hadits Nabi Muhammad SAW, pandangan ulama, serta solusi yang dapat diambil umat Islam untuk memperbaiki situasi ini.


Dalam kesibukan sehari-hari, banyak orang tua merasa telah menunaikan tanggung jawab hanya dengan menyediakan kebutuhan materi anak. Namun, mereka lupa bahwa anak juga membutuhkan sentuhan emosional, perhatian, dan waktu berkualitas bersama orang tuanya. Ironisnya, ketika berada di rumah pun, kehadiran orang tua sering kali hanya bersifat fisik. Ponsel di tangan, mata di layar, hati tidak bersama anak. Anak-anak pun tumbuh dengan rasa hampa, kesepian, dan akhirnya mencari perhatian dari dunia luar.

Ketidakhadiran emosional ini berdampak besar terhadap perkembangan spiritual dan psikologis anak. Mereka tidak memiliki tempat untuk bertanya, mencurahkan isi hati, atau meniru teladan. Akibatnya, nilai-nilai agama dan akhlak mudah terkikis. Inilah mengapa masa berkualitas antara orang tua dan anak adalah kebutuhan mutlak, bukan sekadar pilihan. Islam menekankan pentingnya kehadiran yang bermakna dalam mendidik generasi.


Menurut Al-Qur’an:

  • Allah SWT berfirman dalam QS. At-Tahrim ayat 6: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
    Ayat ini memberi tanggung jawab langsung kepada orang tua untuk menjaga akidah dan akhlak anak-anaknya. Pendidikan ini tidak bisa dilakukan tanpa interaksi yang intens dan hubungan yang dekat. Tidak cukup dengan perintah, harus ada kedekatan dan contoh nyata.
  • Dalam QS. Luqman ayat 13–19, Allah merekam dialog penuh kasih antara Luqman dan anaknya. Luqman tidak sekadar memberi perintah, tapi berdialog, menjelaskan, dan membimbing dengan lemah lembut. Ini menegaskan pentingnya komunikasi yang berkualitas. Dalam konteks hari ini, hubungan semacam ini hanya bisa terjalin bila orang tua bersedia melepaskan gadget dan hadir sepenuhnya untuk anak.

Menurut Hadits:

  • Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam memberikan perhatian kepada anak-anak. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi pernah memangku cucunya saat salat dan mempercepat salat karena mendengar anak kecil menangis. Ini menunjukkan bahwa perhatian beliau terhadap perasaan anak sangat tinggi, bahkan dalam ibadah.
  • Rasulullah juga tak segan bermain dan bercanda dengan cucu-cucunya. Dalam hadits riwayat Ahmad, disebutkan bahwa beliau pernah berlari kecil bersama Hasan dan Husain sambil bersabda, “Sesungguhnya anak-anak ini adalah wewangian (kebahagiaan) dunia.” Ini menunjukkan bahwa waktu berkualitas dengan anak adalah bagian dari sunnah dan cinta yang diajarkan Nabi.
  • Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda:
    “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak-anak kecil dan tidak menghormati orang tua.” (HR. Tirmidzi)
    Kasih sayang dalam Islam tidak bisa dipisahkan dari waktu dan perhatian. Sayang kepada anak bukan hanya ucapan, tetapi juga kehadiran yang nyata dan bermakna.

Menurut Ulama:

  • Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menekankan bahwa anak adalah amanah dan permata yang harus dijaga sejak dini. Menurut beliau, anak belajar lebih banyak dari perilaku dan kehadiran orang tua daripada dari nasihat lisan semata. Oleh karena itu, orang tua tidak boleh terlalu larut dalam dunia luar hingga mengabaikan anak di dalam rumah.
  • Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Tuhfatul Maudud menyebutkan bahwa anak membutuhkan perhatian lebih daripada nasihat. Jika anak merasa diabaikan, mereka bisa tumbuh dengan rasa kurang percaya diri atau bahkan memberontak. Maka, waktu berkualitas adalah bentuk perhatian yang utama.
  • Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menegaskan bahwa mendidik anak bukan hanya tanggung jawab guru atau sekolah, tetapi orang tua secara langsung. Menurut beliau, banyak kerusakan moral terjadi karena orang tua terlalu sibuk dan tidak hadir dalam kehidupan anak.
  • Imam Nawawi mengingatkan bahwa komunikasi dan kedekatan emosional sangat penting dalam keluarga. Anak yang tumbuh tanpa kedekatan akan lebih mudah terseret pengaruh negatif. Gadget bisa menjadi penghalang terbesar hubungan ini jika tidak dikendalikan dengan bijak.
  • Syekh Yusuf Al-Qaradawi dalam banyak ceramahnya menyerukan agar umat Islam tidak menggantikan cinta dan perhatian dengan materi atau hiburan digital. Anak-anak butuh figur yang mereka percayai, bukan hanya mainan atau layar. Maka, waktu bersama anak adalah bentuk investasi spiritual jangka panjang.

Bagaimana Sebaiknya Umat Menyikapi:

  • Pertama, orang tua Muslim harus menyadari bahwa gadget bukan pengganti kehadiran emosional. Penting untuk menetapkan aturan penggunaan gadget dalam rumah tangga, termasuk waktu khusus tanpa layar agar anak mendapat perhatian penuh dari orang tuanya.
  • Kedua, orang tua sebaiknya mengatur waktu harian untuk kegiatan bersama anak, seperti makan malam bersama tanpa gangguan ponsel, membaca buku Islam, atau bermain permainan edukatif. Hal kecil ini memberi dampak besar terhadap kedekatan emosional.
  • Ketiga, umat perlu membangun kesadaran bahwa pendidikan akhlak dan spiritual anak harus dimulai dari rumah. Jangan terlalu bergantung pada sekolah atau guru agama. Orang tua adalah pendidik utama dan pertama, dan itu hanya efektif jika ada interaksi nyata dan konsisten.
  • Keempat, ajak anak untuk terlibat dalam ibadah harian bersama, seperti salat berjamaah di rumah, membaca Al-Qur’an, atau mengikuti kajian. Ini bukan hanya menambah waktu berkualitas, tapi juga memperkuat iman anak sejak dini.
  • Kelima, mari kita jadikan rumah sebagai tempat yang penuh cinta dan keteladanan. Kurangi layar, tambah pelukan. Kurangi perintah, tambah pelukan. Anak-anak yang merasa dicintai dan didengar akan tumbuh menjadi pribadi yang tenang, percaya diri, dan berakhlak mulia.

Kesimpulan:

Kurangnya masa berkualitas bersama anak bukan hanya disebabkan oleh kesibukan pekerjaan, tetapi juga oleh keasyikan orang tua terhadap gadget. Akibatnya, anak merasa diabaikan secara emosional dan spiritual. Islam menekankan pentingnya kehadiran orang tua dalam kehidupan anak, sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an dan teladan Rasulullah SAW. Para ulama pun menegaskan bahwa pendidikan anak yang sukses harus dimulai dari rumah dengan kehadiran dan perhatian orang tua. Umat Islam harus menyadari bahwa gadget bukan alasan untuk mengabaikan amanah Allah, yakni anak-anak kita. Hanya dengan cinta, waktu, dan bimbingan yang tulus, kita dapat membentuk generasi yang kuat iman dan jiwanya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *