MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Cara Menyuci Baju Menurut Islam

Dalam Islam, menyuci baju tidak hanya bertujuan untuk kebersihan fisik, tetapi juga memastikan pakaian suci dari najis, sesuai dengan syariat. Najis adalah segala sesuatu yang dianggap kotor menurut hukum Islam, seperti darah, air kencing, atau kotoran. Jika pakaian terkena najis, maka wajib dicuci dengan air bersih hingga hilang warna, bau, dan rasanya. Jika najis tersebut sulit hilang sepenuhnya, maka cukup diupayakan sebisa mungkin hingga tidak lagi terlihat atau tercium secara wajar. Sebagai tambahan, air yang digunakan harus air mutlak, yaitu air yang suci dan mensucikan, seperti air hujan, air sumur, atau air dari keran yang bersumber dari air murni.

Islam juga menekankan pentingnya niat dalam membersihkan pakaian. Niat mencuci baju untuk menjaga kebersihan dan kesucian sesuai ajaran agama dapat menjadi ibadah. Jika pakaian hanya kotor biasa (tidak terkena najis), maka cukup dicuci seperti biasa tanpa ada aturan khusus. Namun, jika pakaian tersebut digunakan untuk shalat, pastikan benar-benar bersih dari najis agar ibadah diterima. Islam juga menganjurkan untuk tidak berlebihan dalam penggunaan air atau deterjen, karena Allah tidak menyukai perbuatan yang boros. Dengan mencuci pakaian sesuai ajaran Islam, seorang Muslim menjaga kebersihan diri sekaligus mematuhi perintah Allah.

Dalam Islam, mencuci baju tidak hanya bertujuan untuk membersihkan secara fisik, tetapi juga memastikan kesucian dari najis, terutama saat digunakan untuk ibadah.

Berdasarkan syariat islam, mencuci baju bukan hanya sekedar membersihkan dari najis tetapi harus mensucikannya terlebih dahulu dari najis.

Berikut adalah panduan mencuci baju berdasarkan Al-Qur’an, hadis, dan praktik dalam syariat:


Pentingnya Kebersihan dalam Islam (Dalil Al-Qur’an dan Hadis)

Allah memerintahkan menjaga kebersihan, termasuk pakaian:

  • “Dan pakaianmu bersihkanlah” (QS. Al-Muddassir: 4).
  • Hadis Nabi ﷺ juga menekankan kebersihan sebagai bagian dari iman: “Kebersihan adalah separuh dari iman” (HR. Muslim). Oleh karena itu, pakaian yang dikenakan untuk ibadah harus bersih dari kotoran fisik dan najis.

Membersihkan Pakaian dari Najis (Hadis dan Syariat)

Islam memiliki aturan khusus untuk membersihkan pakaian yang terkena najis, seperti air seni, darah, atau kotoran:

  • Jika terkena najis ringan (misalnya air seni bayi laki-laki yang hanya minum ASI), cukup dengan memercikkan air. Nabi ﷺ bersabda: “Air seni bayi laki-laki itu cukup dibasahi dengan percikan air, sedangkan air seni bayi perempuan harus dicuci” (HR. Abu Dawud).
  • Untuk najis berat (seperti darah haid), pakaian harus dicuci dengan air hingga hilang warna, bau, dan rasanya. Ummu Qais berkata: “Aku bertanya kepada Nabi ﷺ tentang darah haid di pakaian. Beliau bersabda: ‘Gosoklah, lalu bilas dengan air, dan shalatlah dengan pakaian itu'” (HR. Bukhari).
  • Terdapat sebuah hadist dari kisah Rasulullah, “Ketika itu ada seorang wanita bertanya kepada Rasulullah, ‘Ya Rasulullah, mohon penjelasannya apabila ada seorang dari kami yang bajunya kena darah haid. Apa yang harus kami lakukan?’. Lalu, Rasulullah menjawab, ‘Apabila pakaian salah satu dari kalian terkena haid, hendaknya digosok lalu memercikkan dengan air. Kemudian boleh digunakan untuk sholat’.” (HR. Asma binti Abi Bakar)

Panduan Praktis Mencuci Baju dalam Islam

  1. Pisahkan Pakaian Najis dan Tidak Najis:
    Pastikan baju yang terkena najis tidak dicampur dengan pakaian bersih agar najis tidak menyebar. Sebelum mencuci pakaian, pisahkan dulu baju yang sudah pasti terkena najis, seperti kotoran manusia, air kencing, dan sebagainya. Tujuannya agar najis tidak menyebar ke baju-baju yang lain.
  2. Bersihkan pakaian dari najis, Gunakan Air yang Suci dan Mensucikan
    Bersihkan najis dengan cara mengguyurnya dengan air. Tujuannya agar najis ikut mengalir ke bawah seiring dengan aliran air hingga baju benar-benar bersih. Boleh juga merendam bajunya sebentar, lalu dikucek dengan sabun, kemudian diguyur dengan air. Air yang digunakan harus memenuhi syarat thaharah, yaitu air murni (seperti air sumur, sungai, atau PAM yang tidak tercampur najis). Jika mencucinya dengan mesin cuci, pastikan saat memasukkan baju ke dalam mesin, najisnya sudah benar-benar hilang seluruhnya. Najis yang masuk ke dalam air kurang dari dua qullah akan mejadi air yang najis pula. Dalam mazhab Syafi’I, air dua qullah setara dengan volume air 216 liter atau air dalam kubus yang berukuran panjang, lebar, dan tingginya 60 sentimeter. Untuk ketentuannya, air yang kurang dari dua qullah apabila kemasukkan najis walaupun tidak ada perubahan (taghayyur) dari salah satu sifat air, maka hukumnya adalah air yang terkena najis (mutanajjis).
  3. Cuci Hingga Hilang Najisnya, Bilasl dengan air dan guyur kembali dengan air mengalir
    Cucilah bagian yang terkena najis sampai hilang warna, bau, dan rasanya. Jika masih tersisa salah satu dari tiga sifat ini, baju dianggap belum suci. Sering kali kita hanya membilas baju dengan banyak air, namun tidak mengguyurnya lagi dengan air mengalir. Mengguyur kembali pakaian dengan air mengalir berfungsi untuk memastikan agar najis-najis yang melekat ikut hanyut bersama aliran air.
  4. Gunakan Sabun sebagai Pelengkap:
    Sabun boleh digunakan untuk membantu menghilangkan kotoran, tetapi inti kesucian tetap pada penggunaan air. Cucilah pakaian dengan sabun agar kotoran maupun najis yang melekat pada baju hilang seutuhnya. Boleh mengucek dengan tangan, menyikat, atau pun mencucinya dalam mesin cuci.

Kesimpulan

Islam sangat menekankan kebersihan, termasuk pada pakaian. Al-Qur’an dan hadis memberikan panduan jelas tentang cara mencuci baju, terutama yang terkena najis. Dengan mencuci baju sesuai syariat, seorang Muslim memastikan pakaian yang dikenakan suci dan layak digunakan untuk beribadah.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *