TUJUAN SHALAT :“SHALAT MENCEGAH PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR”
Shalat bukan sekadar kewajiban yang selesai ketika salam diucapkan. Di balik gerakan dan bacaannya terdapat tujuan besar: membentuk manusia yang semakin dekat kepada Allah dan semakin jauh dari keburukan. Allah berfirman bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Ayat ini menunjukkan bahwa shalat memiliki hubungan dengan kehidupan moral manusia. Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya “Apakah kita sudah shalat?”, tetapi juga “Apa yang terjadi pada diri kita setelah shalat?”
Tafsir QS. Al-‘Ankabut: 45
Allah berfirman:
- إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
- Innaṣ-ṣalāta tanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkar, wa lażikrullāhi akbar, wallāhu ya‘lamu mā taṣna‘ūn.
- “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan mengingat Allah itu lebih besar keutamaannya. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS. Al-‘Ankabut: 45.
- Ayat ini tidak sekadar mengatakan bahwa shalat merupakan aktivitas ritual. Allah menyebutkan salah satu buah pentingnya, yaitu mencegah fahsya’ dan munkar. Shalat yang dilakukan dengan benar semestinya menanamkan kesadaran bahwa Allah selalu melihat manusia. Kesadaran tersebut kemudian menjadi kekuatan moral ketika seseorang berada di luar masjid, sendirian, berada di tempat kerja, menggunakan telepon, berbisnis, berbicara dengan keluarga, ataupun menghadapi godaan.
Apa yang Dimaksud Fahsya’?
- Fahsya’ berasal dari kata yang menunjukkan sesuatu yang sangat buruk dan melampaui batas dalam keburukan. Dalam penggunaan Al-Qur’an, kata ini dapat berkaitan dengan perbuatan keji dan dosa yang buruk, termasuk berbagai bentuk kemaksiatan yang merusak kehormatan dan moral manusia.
- Dengan demikian, fahsya’ bukan hanya persoalan satu jenis dosa tertentu. Ia mencakup berbagai keburukan yang secara syariat dan moral merupakan perbuatan tercela. Shalat mendidik seorang hamba untuk memiliki rasa malu kepada Allah dan menjauhkan dirinya dari perbuatan yang tidak layak dilakukan oleh seorang hamba yang baru saja berdiri di hadapan Rabb-nya.
Apa yang Dimaksud Mungkar?
- Munkar adalah segala sesuatu yang diingkari dan ditolak oleh syariat, terutama perbuatan yang bertentangan dengan ketaatan kepada Allah. Ia mencakup kemaksiatan, kezaliman, pengkhianatan, kebohongan, pelanggaran hak, dan berbagai tindakan yang merusak kehidupan manusia.
- Jika fahsya’ menggambarkan keburukan yang keji, maka munkar memiliki cakupan yang lebih luas. Karena itu, shalat seharusnya tidak hanya membuat seseorang menjauhi dosa-dosa yang bersifat pribadi, tetapi juga mendorongnya meninggalkan kezaliman dan perilaku buruk terhadap orang lain.
Mengapa Shalat Seharusnya Mencegah Dosa?
- Di dalam shalat seseorang berkali-kali membaca Al-Fatihah, mengucapkan bahwa hanya Allah yang disembah dan hanya kepada-Nya meminta pertolongan, mengagungkan Allah dalam rukuk, merendahkan diri dalam sujud, serta memohon petunjuk menuju jalan yang lurus. Semua itu membangun kesadaran tauhid.
- Jika kesadaran tersebut benar-benar hidup dalam hati, ia seharusnya memengaruhi perilaku. Seseorang yang baru saja mengatakan “Iyyaka na‘budu”—“hanya kepada-Mu kami menyembah”—akan merasa malu jika setelah keluar dari masjid ia sengaja melakukan sesuatu yang Allah larang. Inilah hubungan antara ibadah dan akhlak.
Apakah Setiap Orang yang Shalat Otomatis Terbebas dari Maksiat?
- Tidak. Ayat “shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar” tidak berarti setiap orang yang melakukan shalat secara otomatis menjadi manusia yang tidak pernah berdosa. Manusia tetap memiliki hawa nafsu, kelemahan, godaan, dan kemungkinan jatuh dalam kesalahan.
- Namun shalat yang benar seharusnya menjadi kekuatan yang terus menarik seseorang kembali kepada Allah. Ketika ia jatuh dalam dosa, shalat mengingatkannya untuk bertobat. Ketika ia hampir melakukan maksiat, kesadaran terhadap Allah dapat menahannya. Ketika ia berbuat salah, shalat menjadi pintu untuk kembali.
- Karena itu, jangan menggunakan keberadaan dosa pada seseorang sebagai alasan untuk mengatakan bahwa shalat tidak berguna. Justru shalat harus terus dijaga agar menjadi sarana perbaikan. Orang yang masih berjuang melawan dosa tetap membutuhkan shalat, bahkan mungkin lebih membutuhkannya daripada orang yang merasa dirinya sudah baik.
Ketika Shalat Belum Mengubah Akhlak
- Jika seseorang rajin shalat tetapi masih sering berbohong, menzalimi orang lain, mengkhianati amanah, berkata kasar, atau melakukan kemaksiatan, persoalannya bukan berarti ayat Al-Qur’an tidak benar. Yang perlu dievaluasi adalah kualitas penghayatan dan pelaksanaan shalatnya serta bagaimana ia menghubungkan ibadah dengan kehidupannya.
- Mungkin shalat masih dilakukan sebagai rutinitas tubuh. Mungkin bacaan belum dipahami. Mungkin tidak ada usaha menghadirkan hati. Mungkin shalat dilakukan terburu-buru. Atau mungkin seseorang belum berusaha membawa nilai-nilai shalat ke dalam kehidupan sehari-hari.
- Shalat harus menjadi titik evaluasi: apakah setelah berdiri di hadapan Allah kita menjadi lebih jujur, lebih amanah, lebih sabar, dan lebih mampu mengendalikan diri?
Hubungan Kualitas Shalat dan Kualitas Kehidupan
- Kualitas shalat tidak hanya terlihat dari panjangnya bacaan atau lamanya seseorang berada di masjid. Ia juga terlihat dari dampaknya terhadap kehidupan. Shalat yang membentuk kesadaran kepada Allah semestinya memiliki pengaruh terhadap keputusan, ucapan, hubungan sosial, pekerjaan, keluarga, dan cara seseorang menghadapi masalah.
- Semakin hidup hubungan seorang hamba dengan Allah, semakin kuat pula seharusnya pengaruh nilai-nilai ibadah terhadap perilakunya. Bukan berarti seorang yang baik tidak pernah salah, tetapi ketika salah ia lebih cepat menyadari, menyesal, bertobat, dan memperbaiki diri.
SHALAT DAN PERUBAHAN AKHLAK
Shalat dan Kejujuran
- Shalat mengajarkan manusia untuk hidup di bawah pengawasan Allah. Ketika berdiri menghadap kiblat, kita mengakui bahwa Allah adalah Rabb seluruh alam dan bahwa tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya. Kesadaran ini seharusnya dibawa ke tempat kerja, pasar, rumah, dan ruang pribadi.
- Kejujuran yang sesungguhnya diuji bukan ketika orang lain melihat, tetapi ketika seseorang memiliki kesempatan untuk berbohong dan tidak ada manusia yang mengetahuinya. Orang yang menghayati shalat akan berusaha menghadirkan keyakinan bahwa Allah tetap melihat meskipun manusia tidak melihat.
Shalat dan Amanah
- Dalam shalat kita berulang kali menyatakan penghambaan kepada Allah. Penghambaan menuntut tanggung jawab. Karena itu, seseorang yang benar-benar menghayati shalat seharusnya semakin sadar terhadap amanah: amanah pekerjaan, keluarga, jabatan, harta, ilmu, dan tanggung jawab terhadap sesama.
- Amanah bukan hanya mengembalikan barang yang dititipkan. Ia juga berarti tidak menyalahgunakan jabatan, tidak mengambil hak orang lain, tidak memanipulasi informasi, dan tidak menggunakan kepercayaan untuk kepentingan pribadi secara zalim.
Shalat dan Kesabaran
- Allah berfirman:
- وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
- Wasta‘īnū biṣ-ṣabri waṣ-ṣalāh.
- “Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat.”
QS. Al-Baqarah: 45. - Ayat ini menunjukkan hubungan erat antara sabar dan shalat. Shalat bukan hanya dilakukan ketika kehidupan sedang mudah. Justru ketika tekanan datang, seorang mukmin kembali kepada Allah. Shalat menjadi ruang untuk menenangkan diri, mengingat kebesaran Allah, dan memperoleh kekuatan untuk menghadapi keadaan.
Shalat dan Pengendalian Hawa Nafsu
- Hawa nafsu tidak selalu berbentuk keinginan besar. Ia bisa hadir dalam kemarahan, keinginan membalas, keserakahan, dorongan untuk dipuji, keinginan memperoleh sesuatu dengan cara yang tidak halal, atau keinginan mengikuti kesenangan sesaat.
- Shalat lima waktu membangun disiplin spiritual. Berkali-kali dalam sehari manusia meninggalkan aktivitas dunia, mengambil wudhu, menghadap kiblat, dan berdiri di hadapan Allah. Rutinitas ini melatih kemampuan untuk mengatakan “berhenti” kepada diri sendiri. Ia belajar bahwa tidak semua keinginan harus diikuti.
Shalat dan Kerendahan Hati
- Dalam rukuk kita membaca:
- سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ
- Subḥāna rabbiyal-‘aẓīm.
- “Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Agung.”
- Dalam sujud kita membaca:
- سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى
- Subḥāna rabbiyal-a‘lā.
- “Maha Suci Rabb-ku Yang Mahatinggi.”
- Tubuh yang setiap hari rukuk dan sujud seharusnya belajar merendahkan hati. Jika seseorang semakin rajin shalat tetapi semakin sombong, meremehkan orang lain, merasa paling suci, atau tidak mau menerima nasihat, ia perlu kembali merenungkan makna rukuk dan sujudnya.
- Kerendahan hati bukan berarti rendah diri. Tawaduk berarti menyadari kelebihan yang diberikan Allah tanpa menjadikannya alasan untuk merendahkan orang lain.
Shalat dan Kasih Sayang
- Shalat yang benar seharusnya melahirkan kelembutan hati. Seorang yang setiap hari mengucapkan pujian kepada Allah, memohon rahmat-Nya, dan mendoakan keselamatan bagi hamba-hamba Allah yang saleh seharusnya tidak menjadikan agama sebagai alasan untuk menyakiti orang lain.
Dalam tasyahud kita membaca:
- السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَىٰ عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
- As-salāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn.
- “Semoga keselamatan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh.”
- Doa ini mengandung pendidikan sosial. Kita tidak hanya meminta keselamatan untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain.
Shalat yang Melahirkan Akhlak Sosial
- Shalat berjamaah mengajarkan bahwa manusia berdiri dalam satu barisan. Kaya dan miskin, pejabat dan rakyat, tua dan muda, semuanya berdiri menghadap Rabb yang sama. Tidak ada tempat bagi kesombongan status ketika semua orang berdiri sebagai hamba Allah.
- Shalat juga mengajarkan disiplin, kebersamaan, kepedulian, dan persaudaraan. Namun nilai tersebut baru benar-benar hidup apabila dibawa keluar dari masjid. Jika seseorang mampu berdiri rapat dalam satu saf tetapi setelah shalat tidak peduli terhadap penderitaan tetangganya, ada nilai sosial shalat yang belum sepenuhnya dihayati.
SHALAT SEBAGAI TEMPAT MEMINTA PERTOLONGAN
Iyyaka Na‘budu Wa Iyyaka Nasta‘in
- إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
- Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn.
- “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
- Ayat ini merupakan salah satu inti hubungan seorang hamba dengan Allah. Kita beribadah kepada Allah, tetapi kita juga mengakui bahwa kita tidak mampu menjalankan kehidupan tanpa pertolongan-Nya. Kita membutuhkan pertolongan Allah untuk bekerja, mendidik anak, menjaga keluarga, melawan hawa nafsu, menghadapi penyakit, menyelesaikan persoalan, dan tetap istiqamah dalam ketaatan.
- Meminta pertolongan kepada Allah tidak berarti meninggalkan ikhtiar. Seorang Muslim tetap bekerja, berobat, belajar, bermusyawarah, meminta nasihat, dan menggunakan sebab-sebab yang dibenarkan. Tetapi hatinya mengetahui bahwa keberhasilan seluruh ikhtiar pada akhirnya berada dalam kehendak Allah.
Shalat Ketika Menghadapi Kesulitan
- Ketika menghadapi masalah berat, manusia sering mencari tempat untuk mengadu. Shalat mengajarkan bahwa tempat pertama untuk mengadu adalah Allah. Kita dapat membawa kesulitan kita ke dalam sujud dan mengatakannya kepada Allah dengan penuh kerendahan.
- Allah berfirman:
- وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
- “Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat.”
QS. Al-Baqarah: 45. - Shalat tidak selalu langsung mengubah keadaan di luar diri kita, tetapi shalat dapat mengubah cara kita menghadapi keadaan. Hati menjadi lebih tenang, arah berpikir menjadi lebih jernih, dan seseorang memperoleh kekuatan untuk melanjutkan ikhtiar.
Shalat Ketika Sedih
- Kesedihan adalah bagian dari kehidupan manusia. Nabi ﷺ dan para nabi sebelumnya juga menghadapi kehilangan, penolakan, kesulitan, dan berbagai ujian. Islam tidak mengajarkan bahwa seorang mukmin harus berpura-pura tidak sedih. Yang diajarkan adalah membawa kesedihan itu kepada Allah.
- Ketika hati terasa berat, berwudhulah, shalatlah, dan berdoalah. Jangan hanya meminta agar masalah hilang, tetapi mintalah agar Allah memberikan kekuatan untuk melewatinya. “Ya Allah, jika keadaan ini belum berubah, kuatkan aku untuk menjalaninya.”
Shalat Ketika Takut
- Rasa takut dapat membuat manusia kehilangan ketenangan. Dalam keadaan tertentu bahkan syariat memberikan tuntunan khusus mengenai shalat khauf. Hal ini menunjukkan bahwa shalat tetap memiliki tempat dalam kondisi sulit dan penuh ancaman, dengan tata cara yang disesuaikan dengan keadaan.
- Secara spiritual, shalat mengingatkan bahwa sebesar apa pun ancaman manusia, Allah tetap lebih besar. Takbir pertama yang kita ucapkan adalah:
- اللَّهُ أَكْبَرُ
- Allāhu akbar.
- “Allah Mahabesar.”
- Kalimat ini bukan sekadar pembuka shalat. Ia adalah deklarasi iman: ketakutan boleh besar, tetapi Allah lebih besar.
Shalat Ketika Mendapat Musibah
- Ketika mendapatkan musibah, seorang mukmin tidak hanya bertanya, “Mengapa ini terjadi kepadaku?” Ia juga belajar bertanya, “Bagaimana aku harus menghadapinya sebagai seorang hamba Allah?”
- Allah berfirman:
- الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
- “Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.’”
QS. Al-Baqarah: 156. - Shalat membantu manusia mengembalikan perspektif. Kita mengingat bahwa hidup ini milik Allah dan pada akhirnya kita semua kembali kepada-Nya. Kesadaran tersebut tidak menghilangkan kesedihan, tetapi dapat memberikan makna dan keteguhan di tengah kesulitan.
Shalat sebagai Sumber Keteguhan
- Allah berfirman:
- يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
- “Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
QS. Al-Baqarah: 153. - Shalat memberikan titik kembali. Ketika dunia terasa kacau, kita kembali kepada Allah. Ketika keputusan sulit harus dibuat, kita kembali kepada Allah. Ketika hati dipenuhi ketakutan, kita kembali kepada Allah. Ketika mendapatkan nikmat, kita kembali kepada Allah untuk bersyukur.
- Dengan demikian, shalat bukan pelarian dari kehidupan, tetapi sumber kekuatan untuk menghadapi kehidupan.
Cara Praktis Menjadikan Shalat sebagai Tempat Meminta Pertolongan
- Ketika menghadapi masalah, jangan menunggu hati benar-benar tenang baru shalat. Jadikan shalat sebagai jalan menuju ketenangan. Sebelum takbir, kenali apa yang sedang membebani hati. Setelah itu, serahkan persoalan tersebut kepada Allah melalui doa. Dalam Al-Fatihah, baca Iyyaka na‘budu wa iyyaka nasta‘in dengan kesadaran bahwa kita benar-benar membutuhkan pertolongan Allah.
- Ketika sujud, perbanyak doa yang sesuai dengan kebutuhan. Mintalah dengan jelas dan jujur. Tidak perlu menggunakan bahasa yang indah. Allah mengetahui isi hati kita. Setelah salam, lanjutkan ikhtiar: cari solusi, belajar, bekerja, berkonsultasi, berobat bila diperlukan, memperbaiki kesalahan, dan mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang.
Shalat Tidak Menghapus Kewajiban untuk Berikhtiar
- Berserah diri kepada Allah bukan berarti pasif. Tawakal bukan meninggalkan sebab. Seorang yang sakit tetap berobat. Orang yang memiliki masalah keuangan tetap berusaha mencari penghasilan halal. Orang yang memiliki konflik tetap berusaha berdialog dan mencari penyelesaian. Orang yang menghadapi masalah ilmu tetap belajar dan bertanya kepada orang yang berkompeten.
- Shalat memberikan fondasi batin agar ikhtiar tidak berubah menjadi keputusasaan. Kita bekerja sekuat tenaga, tetapi tidak menggantungkan hati kepada kemampuan diri semata. Kita menggunakan sebab, tetapi meyakini bahwa Allah adalah Penguasa seluruh sebab dan akibat.
Renungan: Setelah Salam, Apa yang Berubah?
- Jika shalat benar-benar menjadi tempat kita menghadap Allah, maka seharusnya ada sesuatu yang berubah setelah salam. Mungkin masalah belum selesai, tetapi hati lebih kuat. Mungkin orang yang menyakiti kita belum berubah, tetapi kita lebih mampu mengendalikan kemarahan. Mungkin rezeki belum bertambah, tetapi kita lebih yakin untuk mencari yang halal. Mungkin musibah belum berakhir, tetapi kita tidak lagi merasa sendirian.
- Inilah salah satu tujuan besar shalat: membentuk manusia yang mampu kembali kepada Allah dalam segala keadaan.
Penutup
- Shalat bukan hanya kewajiban lima kali sehari. Ia adalah sekolah kehidupan. Di dalamnya kita belajar tauhid, disiplin, kesabaran, kerendahan hati, pengendalian diri, syukur, doa, dan keteguhan. Kita berdiri sebagai hamba, rukuk dalam pengagungan, sujud dalam ketundukan, lalu bangkit kembali menghadapi kehidupan.
- Shalat yang hidup tidak berhenti di atas sajadah. Ia ikut berjalan bersama kita. Ia masuk ke rumah dan mengubah cara kita memperlakukan keluarga. Ia masuk ke tempat kerja dan menguatkan kejujuran. Ia masuk ke pasar dan menjaga amanah. Ia masuk ke dalam ujian dan melahirkan kesabaran. Ia masuk ke dalam kesedihan dan memberikan harapan.
- Karena itu, tujuan shalat bukan sekadar agar kita memiliki kewajiban yang telah ditunaikan, tetapi agar kita menjadi manusia yang lebih dekat kepada Allah dan lebih baik dalam menjalani kehidupan.
- Shalat dimulai dengan takbir, tetapi pengaruhnya seharusnya terus hidup setelah salam.

- KETIKA SHALAT MENJADI KEBUTUHAN
- SHALAT DAN HUBUNGAN DENGAN MANUSIA
- SHALAT DAN KEHIDUPAN: SETELAH SALAM: APA YANG BERUBAH?
- TUJUAN SHALAT :“SHALAT MENCEGAH PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR”
- KHUSYUK: RUH SHALAT. APA ITU KHUSYUK?
- TAFSIR BACAAN SHALAT: TASYAHUD DAN SHALAWAT
- TAFSIR BACAAN SHALAT: BACAAN RUKUK, I‘TIDAL, DAN SUJUD
- TAFSIR BACAAN SHALAT: AL-FATIHAH: DIALOG ANTARA HAMBA DAN RABB-NYA
- TAFSIR BACAAN SHALAT: DOA DI ANTARA DUA SUJUD
- TAFSIR BACAAN SHALAT. DOA ISTIFTAH: MEMBUKA PERJUMPAAN DENGAN ALLAH
- QUNUT SUBUH MENURUT Sunnah, Empat Mazhab, Fatwa Ulama, dan Sikap Umat dalam Menghadapi Khilafiyah
- TASYAHUD AWAL: BERHENTI PADA SYAHADAT ATAU DILANJUTKAN SHALAWAT? Sunnah Nabi dan Khilaf Empat Mazhab
- Perbedaan Fikih Empat Mazhab dalam Salat Sunnah
- Fikih Perbedaan Salat Empat Mazhab: Kajian Komparatif Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali
- 100 ARTIKEL SHALAT LAINNYA
















Leave a Reply