MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

7 TUDUHAN TERHADAP DAKWAH SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB: Analisis Teologis dan Historis Perspektif Dakwah Salafi

7 TUDUHAN TERHADAP DAKWAH SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB: Analisis Teologis dan Historis Perspektif Dakwah Salafi

DrWJped

Abstrak

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (1703–1792 M) merupakan salah satu tokoh pembaruan Islam yang paling berpengaruh dalam sejarah dunia Islam modern. Dakwah beliau yang berfokus pada pemurnian tauhid dan pemberantasan praktik-praktik yang dianggap menyimpang telah melahirkan dukungan sekaligus penentangan dari berbagai kalangan. Sejak abad ke-18 hingga masa kontemporer, muncul berbagai tuduhan terhadap dakwah beliau, mulai dari tuduhan sebagai Khawarij, gemar mengkafirkan kaum Muslimin, memiliki akidah tajsim dan tasybih, melarang shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, membenci Ahlul Bait, melarang ziarah kubur, hingga tuduhan mengaku sebagai nabi.

Artikel ini bertujuan menganalisis tuduhan-tuduhan tersebut berdasarkan penjelasan para ulama Salafi serta karya-karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan teologis-historis. Hasil kajian menunjukkan bahwa sebagian besar tuduhan tersebut dianggap tidak sesuai dengan pernyataan resmi dan karya tulis Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Dalam perspektif pendukung dakwah Salafi, tuduhan tersebut muncul akibat kesalahpahaman, perbedaan metodologi dalam memahami nash agama, serta konflik pemikiran yang berkembang dalam sejarah Islam.

Kata Kunci: Wahabi, Salafi, Muhammad bin Abdul Wahhab, Tauhid, Akidah Islam.

Pendahuluan

Perjalanan sejarah Islam menunjukkan bahwa setiap gerakan pembaruan keagamaan hampir selalu menghadapi tantangan, kritik, dan bahkan penolakan yang keras. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada masa para nabi dan ulama terdahulu, tetapi juga pada tokoh-tokoh pembaru Islam di era modern. Salah satu figur yang paling banyak diperbincangkan adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, seorang ulama Najd yang menyerukan kembali kepada kemurnian tauhid berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah menurut pemahaman generasi Salafus Shalih.

Dakwah beliau berkembang pesat melalui kerja sama dengan Muhammad bin Saud yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Daulah Saudi. Namun seiring meluasnya pengaruh dakwah tersebut, muncul berbagai tuduhan yang menempel pada istilah “Wahabi”. Sebagian pihak menuduh gerakan ini sebagai kelompok ekstrem, mudah mengkafirkan, anti tradisi Islam, bahkan dianggap sebagai ancaman bagi keragaman umat Islam. Oleh karena itu, penting dilakukan kajian ilmiah untuk memahami hakikat tuduhan tersebut berdasarkan sumber primer yang berasal dari karya-karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan penjelasan para ulama yang mengikuti manhaj beliau.

Sistematika Tuduhan Terhadap Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

1. Tuduhan Wahabi Adalah Khawarij

Salah satu tuduhan paling sering diarahkan kepada kaum Salafi-Wahabi adalah bahwa mereka merupakan kelompok Khawarij modern. Dalam sejarah Islam, Khawarij dikenal sebagai kelompok yang memberontak kepada pemerintahan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, mengkafirkan pelaku dosa besar, dan menganggap para sahabat tertentu telah keluar dari Islam. Oleh sebab itu, istilah Khawarij memiliki konotasi yang sangat negatif dalam literatur Islam klasik.

Menurut penjelasan para ulama Salafi, tuduhan tersebut dianggap tidak tepat karena prinsip-prinsip utama Khawarij justru bertentangan dengan ajaran yang diajarkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Dakwah beliau menekankan kewajiban mendengar dan taat kepada pemerintah Muslim selama tidak diperintahkan bermaksiat kepada Allah. Selain itu, beliau tidak mengkafirkan pelaku dosa besar secara mutlak sebagaimana keyakinan Khawarij. Oleh karena itu, pendukung dakwah Salafi memandang penyematan label Khawarij kepada mereka sebagai bentuk kesalahpahaman terhadap prinsip-prinsip dasar yang mereka yakini.

2. Tuduhan Gemar Mengkafirkan Kaum Muslimin

Tuduhan kedua yang sangat populer adalah bahwa kaum Wahabi mudah mengkafirkan sesama Muslim. Kritik ini muncul karena dakwah tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sangat keras dalam mengingkari praktik-praktik syirik seperti meminta pertolongan kepada penghuni kubur atau memohon kepada selain Allah.

Dalam berbagai karya beliau, dijelaskan bahwa pengkafiran terhadap individu tertentu tidak boleh dilakukan kecuali setelah terpenuhi syarat-syarat yang ditetapkan syariat dan hilang berbagai penghalang yang menghalangi penetapan hukum tersebut. Beliau juga membedakan antara vonis umum terhadap suatu perbuatan yang termasuk kekufuran dan vonis terhadap individu tertentu yang melakukannya. Pendukung dakwah Salafi menilai bahwa prinsip kehati-hatian dalam takfir justru menjadi ciri utama manhaj mereka, berbeda dengan kelompok-kelompok ekstrem yang mudah menjatuhkan vonis kafir kepada sesama Muslim.

3. Tuduhan Memiliki Akidah Tajsîm dan Tasybîh

Tuduhan berikutnya adalah bahwa kaum Wahabi menganut akidah tajsim (menjadikan Allah sebagai jasad) dan tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk). Tuduhan ini muncul karena mereka menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis, seperti tangan, wajah, dan istiwa’ di atas Arsy.

Menurut penjelasan ulama Salafi, menetapkan sifat-sifat Allah bukan berarti menyerupakan Allah dengan makhluk. Mereka berpegang pada prinsip “menetapkan tanpa menyerupakan dan mensucikan tanpa menolak”. Dengan demikian, sifat-sifat Allah diyakini sesuai dengan kebesaran-Nya dan tidak sama dengan makhluk sedikit pun. Mereka juga mengutip berbagai pernyataan imam-imam mazhab seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan Imam Abu Hanifah yang menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana terdapat dalam nash tanpa membahas hakikat dan bentuknya.

4. Tuduhan Melarang Shalawat kepada Nabi ﷺ

Sebagian kalangan menuduh kaum Wahabi sebagai kelompok yang tidak mencintai Nabi Muhammad ﷺ sehingga melarang pembacaan shalawat. Tuduhan ini berkembang terutama karena kritik mereka terhadap beberapa bentuk shalawat yang dianggap mengandung unsur ghuluw (berlebihan) terhadap Nabi.

Dalam perspektif Salafi, shalawat merupakan ibadah yang sangat dianjurkan dan memiliki banyak keutamaan. Mereka hanya mengkritik bentuk-bentuk shalawat tertentu yang dianggap tidak memiliki dasar syariat atau mengandung makna yang bertentangan dengan tauhid. Oleh sebab itu, mereka membedakan antara penolakan terhadap praktik yang dianggap bid’ah dan penolakan terhadap shalawat itu sendiri.

5. Tuduhan Membenci Ahlul Bait

Ahlul Bait memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam. Karena itu, tuduhan bahwa kaum Wahabi membenci keluarga Nabi Muhammad ﷺ menjadi isu yang cukup sensitif dalam perdebatan antar kelompok Islam.

Pendukung dakwah Salafi menolak tuduhan tersebut dengan menunjukkan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri sangat menghormati Ahlul Bait. Bahkan beberapa putra dan putri beliau diberi nama Hasan, Husain, Ali, dan Fatimah. Dalam berbagai karya ulama Salafi juga dijelaskan kewajiban mencintai Ahlul Bait tanpa berlebihan dan tanpa merendahkan mereka. Menurut mereka, kecintaan kepada Ahlul Bait merupakan bagian dari akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

6. Tuduhan Melarang Ziarah Kubur

Ziarah kubur merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam untuk mengingat kematian dan akhirat. Akan tetapi, kaum Wahabi sering dituduh melarang ziarah kubur secara mutlak.

Menurut penjelasan para ulama Salafi, yang mereka larang bukanlah ziarah kubur itu sendiri, melainkan praktik-praktik yang menyertai ziarah yang dianggap menyelisihi syariat, seperti meminta pertolongan kepada orang yang telah meninggal, bernazar kepada penghuni kubur, atau menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah. Dengan demikian, mereka membedakan antara ziarah kubur yang sesuai sunnah dan ziarah kubur yang bercampur dengan praktik-praktik yang dianggap syirik atau bid’ah.

7. Tuduhan Mengaku Sebagai Nabi

Tuduhan paling ekstrem yang pernah diarahkan kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah bahwa beliau mengaku sebagai nabi. Tuduhan ini pernah beredar di sejumlah literatur polemik yang menentang dakwah beliau.

Namun dalam berbagai tulisan beliau ditemukan penegasan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah nabi terakhir dan penutup seluruh nabi. Beliau bahkan menyatakan bahwa siapa saja yang mengaku sebagai nabi setelah Nabi Muhammad ﷺ atau membenarkan pengakuan tersebut termasuk dalam kekufuran. Oleh karena itu, para pendukung beliau menganggap tuduhan tersebut sebagai fitnah yang tidak memiliki dasar historis maupun dokumentasi ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kesimpulan

Kajian terhadap tuduhan-tuduhan yang diarahkan kepada dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menunjukkan adanya perbedaan pandangan yang cukup tajam di kalangan umat Islam mengenai metode pemurnian akidah dan ibadah. Dalam perspektif pendukung dakwah Salafi, tuduhan-tuduhan tersebut tidak sesuai dengan ajaran yang sebenarnya diajarkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para ulama penerusnya.

Meskipun demikian, diskusi mengenai gerakan Wahabi tetap menjadi salah satu tema penting dalam studi pemikiran Islam modern. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan ilmiah, objektif, dan berbasis sumber primer agar penilaian terhadap suatu gerakan keagamaan tidak hanya didasarkan pada propaganda, sentimen kelompok, atau informasi yang tidak terverifikasi.

Saran

  1. Kajian tentang dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sebaiknya merujuk langsung kepada karya-karya beliau dan sumber primer yang otoritatif.
  2. Perbedaan pandangan antar kelompok Islam hendaknya disikapi dengan adab ilmiah dan menghindari saling menyesatkan tanpa dasar yang kuat.
  3. Akademisi dan peneliti perlu melakukan penelitian yang lebih objektif dengan melibatkan sumber dari berbagai perspektif agar menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif.
  4. Umat Islam perlu membedakan antara kritik ilmiah terhadap suatu pemikiran dan penyebaran tuduhan yang tidak memiliki dasar akademik yang jelas.
  5. Dialog ilmiah yang konstruktif perlu dikedepankan untuk memperkuat persatuan umat di tengah keberagaman pemahaman keagamaan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *