MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

HADIS TEMATIK: MENJAGA LISAN Berkata Baik atau Diam

HADIS TEMATIK: MENJAGA LISAN Berkata Baik atau Diam

  • Hadis utama “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” HR. al-Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47
  • Pesan utama: Jangan menyebarkan ucapan yang merugikan.

Lisan merupakan salah satu nikmat Allah yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan manusia. Perkataan dapat menjadi sarana menyampaikan ilmu, nasihat, kasih sayang, dan kebaikan. Sebaliknya, perkataan juga dapat menjadi sumber dosa, permusuhan, fitnah, dan kerusakan hubungan sosial. Nabi ﷺ memberikan prinsip yang sangat ringkas namun luas: siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata baik atau diam. Kajian hadis tematik ini menghimpun sejumlah hadis yang berkaitan dengan pengendalian lisan, larangan dusta, ghibah, namimah, celaan, perkataan sia-sia, serta kewajiban menjaga kehormatan sesama. Melalui takhrij, penilaian kualitas hadis, syarah muhaddits, fiqih hadis, dan analisis tematik, kajian ini menunjukkan bahwa menjaga lisan bukan sekadar meninggalkan perkataan buruk. Ia merupakan bentuk tanggung jawab moral seorang Muslim terhadap Allah dan terhadap manusia.

Manusia berkomunikasi melalui perkataan setiap hari. Satu kalimat dapat menenangkan hati, menyelesaikan konflik, dan memberikan manfaat. Sebaliknya, satu kalimat juga dapat melukai seseorang, menimbulkan permusuhan, merusak kehormatan, bahkan memicu konflik yang panjang. Karena itu, Islam memberikan perhatian besar terhadap lisan. Nabi ﷺ tidak hanya melarang kebohongan dan penghinaan, tetapi memberikan prinsip umum bahwa seorang yang beriman hendaknya berkata baik atau memilih diam. Prinsip ini menunjukkan bahwa seorang Muslim tidak dituntut untuk berbicara sebanyak mungkin. Ia justru dituntut untuk mempertimbangkan kebenaran, manfaat, kebutuhan, dan dampak perkataannya.

Landasan Al-Qur’an

Al-Qur’an memberikan pedoman yang jelas mengenai komunikasi manusia.

  • Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” QS. al-Ahzab: 70 Ayat ini menunjukkan hubungan antara ketakwaan dan perkataan yang benar.
  • Allah juga berfirman: “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” QS. Qaf: 18 Ayat tersebut mengingatkan bahwa ucapan manusia memiliki konsekuensi dan dicatat.
  • Allah berfirman: “Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” QS. al-Hujurat: 12 Larangan ghibah menunjukkan bahwa menjaga lisan merupakan bagian dari menjaga kehormatan manusia.
  • Allah juga berfirman: “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” QS. al-Isra’: 53 Ayat ini memberikan prinsip memilih ucapan yang terbaik ketika berkomunikasi.

Kumpulan Hadis Utama

  • Berkata baik atau diam
    • “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.”
    • HR. al-Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47
    • Hadis ini merupakan prinsip utama dalam pembahasan menjaga lisan.
  • Seorang Muslim menjaga orang lain dari lisannya
    • “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
    • HR. al-Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40
    • Hadis ini memperluas pembahasan dari sekadar pengendalian diri menuju perlindungan terhadap orang lain.
  • Larangan berdusta
    • Nabi ﷺ bersabda:
    • “Jauhilah kebohongan.”
    • HR. al-Bukhari dan Muslim
    • Dalam hadis yang panjang, Nabi ﷺ menjelaskan bahwa kejujuran membawa kepada kebaikan, sedangkan kebohongan membawa kepada kejahatan.
  • Larangan ghibah
    • Nabi ﷺ bersabda:
    • “Ghibah adalah engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia tidak sukai.”
    • HR. Muslim no. 2589
    • Hadis ini menunjukkan bahwa perkataan yang benar sekalipun dapat menjadi dosa apabila disampaikan dalam bentuk ghibah.
  • Larangan namimah
    • Nabi ﷺ bersabda:
    • “Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.”
    • HR. al-Bukhari no. 6056 dan Muslim no. 105
    • Namimah menunjukkan bahaya perkataan yang digunakan untuk merusak hubungan antara manusia.
  • Larangan mencela
    • Nabi ﷺ bersabda:
    • “Mencela seorang Muslim adalah kefasikan.”
    • HR. al-Bukhari no. 48 dan Muslim no. 64
    • Hadis ini menunjukkan bahwa penghinaan terhadap sesama bukan persoalan ringan dalam Islam.
  • Bahaya ucapan yang tidak dipikirkan
    • Nabi ﷺ bersabda:
    • “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang diridhai Allah, ia tidak menganggapnya penting, tetapi Allah mengangkatnya beberapa derajat karena perkataan itu. Dan seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang dimurkai Allah, ia tidak menganggapnya penting, tetapi karenanya ia terjerumus ke dalam neraka.”
    • HR. al-Bukhari
    • Hadis ini menunjukkan bahwa manusia dapat meremehkan suatu perkataan, sementara dampaknya di sisi Allah sangat besar.

Takhrij Hadis

Hadis-hadis utama tema menjaga lisan berasal dari sumber hadis primer dan sebagian besar terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.

Tema Sumber Utama Status
Berkata baik atau diam Bukhari dan Muslim Sahih
Muslim lain selamat dari lisan Bukhari dan Muslim Sahih
Larangan dusta Bukhari dan Muslim Sahih
Larangan ghibah Muslim Sahih
Larangan namimah Bukhari dan Muslim Sahih
Larangan mencela Bukhari dan Muslim Sahih
Dampak perkataan Bukhari dan Muslim dalam beberapa riwayat Sahih

Takhrij yang teliti perlu mencantumkan sumber primer, kitab, bab, nomor hadis sesuai edisi yang digunakan, serta variasi redaksi apabila terdapat perbedaan antarriwayat.

Status dan Kualitas Hadis

  • Hadis utama “berkata baik atau diam” merupakan hadis sahih yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Hadis-hadis pendukung dalam tema ini juga banyak berasal dari kedua kitab tersebut.
  • Penggunaan hadis dalam kajian tematik tetap harus mengikuti prinsip penelitian hadis. Setiap riwayat dinilai secara individual. Sebuah hadis tidak menjadi sahih hanya karena temanya sesuai dengan hadis lain.
  • Apabila kajian diperluas dengan riwayat dari kitab hadis lain, penilaian para ulama hadis terhadap sanad dan matannya perlu dicantumkan. Hal ini penting agar kajian tematik tidak mencampurkan hadis sahih dengan riwayat lemah tanpa penjelasan.

Syarah Muhaddits

  • Imam al-Nawawi
    • Dalam penjelasan terhadap hadis “berkata baik atau diam”, Imam al-Nawawi menerangkan bahwa hadis tersebut memberikan prinsip penting dalam menjaga ucapan. Perkataan yang baik mencakup perkataan yang memiliki manfaat dan kebaikan. Apabila seseorang tidak memiliki sesuatu yang baik untuk disampaikan, diam menjadi pilihan yang lebih selamat.
    • Prinsip ini bukan berarti Islam memerintahkan manusia untuk selalu diam. Islam justru mengajarkan agar manusia berbicara ketika perkataan tersebut membawa kebaikan, ilmu, nasihat, atau manfaat yang dibenarkan.
  • Ibn Hajar al-‘Asqalani
    • Ibn Hajar dalam Fath al-Bari menjelaskan hubungan hadis ini dengan iman kepada Allah dan hari akhir. Penyebutan iman menunjukkan bahwa pengendalian lisan merupakan bagian dari konsekuensi iman.
    • Orang yang meyakini adanya pertanggungjawaban di hadapan Allah akan lebih berhati-hati terhadap perkataannya karena setiap ucapan memiliki konsekuensi.
  • Imam al-Nawawi tentang ghibah
    • Dalam pembahasan ghibah, Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa ghibah adalah menyebut seseorang dengan sesuatu yang tidak ia sukai apabila ia mengetahuinya. Jika yang disebutkan tidak benar, maka persoalannya menjadi lebih berat karena termasuk buhtan.
    • Penjelasan ini menunjukkan bahwa kebenaran informasi tidak selalu membuat penyebarannya menjadi halal. Tujuan, kebutuhan, konteks, dan dampak perkataan juga harus diperhatikan.

Fiqih Hadis

  • Hadis “berkata baik atau diam” memberikan kaidah akhlak yang luas. Perkataan dapat memiliki hukum yang berbeda bergantung pada kandungannya dan keadaan.
  • Perkataan yang mengandung kewajiban seperti memberikan kesaksian yang benar atau memberikan nasihat dalam keadaan tertentu tidak dapat disamakan dengan perkataan sia-sia.
  • Perkataan yang mengandung kebaikan dapat menjadi ibadah. Sebaliknya, dusta, fitnah, ghibah, namimah, penghinaan, dan perkataan yang menimbulkan kerusakan dapat menjadi perbuatan yang dilarang.
  • Karena itu, “diam” dalam hadis bukan tujuan pada dirinya sendiri. Tujuannya adalah menghindari ucapan yang tidak baik. Jika berbicara menghasilkan manfaat yang jelas dan dibenarkan, maka berbicara dapat lebih utama daripada diam.

Perbedaan Pendapat Ulama

  • Para ulama membahas keadaan ketika seseorang boleh menyebut keburukan orang lain. Ghibah pada dasarnya dilarang, tetapi terdapat keadaan tertentu yang dibahas sebagai pengecualian karena adanya kebutuhan yang dibenarkan syariat.
  • Imam al-Nawawi menyebut antara lain pengaduan terhadap kezaliman, meminta bantuan untuk menghilangkan kemungkaran, meminta fatwa, meminta nasihat, memberikan peringatan terhadap bahaya, dan beberapa keadaan lain yang memiliki kebutuhan yang sah.
  • Pengecualian tersebut tidak boleh dipahami sebagai izin umum untuk membuka aib manusia. Prinsip dasarnya tetap menjaga kehormatan. Penyebutan keburukan harus memiliki alasan yang dibenarkan dan dilakukan sebatas kebutuhan.

Analisis Tematik

Jika hadis-hadis tentang menjaga lisan dikumpulkan, terlihat bahwa persoalan lisan memiliki beberapa tingkatan.

Bentuk Ucapan Prinsip Islam
Perkataan yang benar dan bermanfaat Dianjurkan
Nasihat yang baik Dianjurkan
Mengajarkan ilmu Bernilai kebaikan
Perkataan biasa yang mubah Diperbolehkan selama tidak mengandung larangan
Perkataan sia-sia Sebaiknya ditinggalkan
Dusta Dilarang
Ghibah Dilarang
Namimah Dilarang
Celaan dan penghinaan Dilarang
Fitnah dan tuduhan palsu Dilarang
Perkataan yang menimbulkan kerusakan Dilarang

Hadis-hadis tersebut menunjukkan bahwa menjaga lisan bukan hanya menghindari kata-kata kasar. Ia mencakup kemampuan memilih apa yang perlu dikatakan, kapan harus berbicara, kapan harus diam, dan bagaimana menyampaikan sesuatu.

Aplikasi Kehidupan Modern

Prinsip menjaga lisan semakin penting pada era komunikasi digital. Seseorang kini dapat berbicara kepada banyak orang tanpa bertemu langsung. Komentar dapat dibaca berulang kali dan unggahan dapat disebarkan kembali tanpa kendali penuh dari pembuatnya. Karena itu, prinsip “berkata baik atau diam” dapat diterapkan sebelum menulis komentar, membuat unggahan, meneruskan pesan, mengirim rekaman suara, atau membagikan video. Sebelum berbicara atau menulis, seorang Muslim dapat bertanya:

  • Apakah ini benar?
  • Apakah ini bermanfaat?
  • Apakah ini diperlukan?
  • Apakah ada orang yang akan dirugikan?
  • Apakah saya menyampaikan sesuatu yang seharusnya menjadi privasi?
  • Apakah cara penyampaiannya sesuai dengan akhlak Islam?

Prinsip tersebut juga berlaku dalam kehidupan keluarga. Banyak konflik rumah tangga tidak bermula dari persoalan besar, tetapi dari ucapan yang kasar, sindiran, membuka kesalahan masa lalu, atau menyampaikan perkataan dalam keadaan marah. Dalam lingkungan kerja, menjaga lisan berarti menghindari fitnah terhadap rekan, menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, merusak reputasi seseorang, atau menyampaikan kritik dengan cara yang merendahkan. Dalam pendidikan anak, orang tua juga perlu memberikan contoh. Anak belajar bukan hanya dari nasihat tentang sopan santun, tetapi dari cara orang tua berbicara kepada pasangan, anak, tetangga, guru, dan orang lain.

Pesan Penting

  • Tidak semua yang benar harus disampaikan kepada semua orang.
  • Tidak semua yang ingin dikatakan harus dipublikasikan.
  • Diam dapat menjadi ibadah ketika diam mencegah keburukan.
  • Berbicara dapat menjadi ibadah ketika ucapan membawa kebenaran dan manfaat.
  • Jaga lisan karena perkataan memiliki konsekuensi di hadapan Allah.

Penutup

  • Hadis “barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam” merupakan salah satu prinsip penting dalam akhlak Islam. Hadis ini menghubungkan kualitas ucapan dengan iman dan kesadaran terhadap pertanggungjawaban di hadapan Allah.
  • Kajian tematik terhadap hadis-hadis tentang lisan memperlihatkan bahwa Islam memberikan perhatian terhadap berbagai bentuk komunikasi. Dusta, ghibah, namimah, celaan, fitnah, dan ucapan yang menyakiti orang lain harus dihindari. Sebaliknya, perkataan yang benar, bermanfaat, menenangkan, mendidik, dan mendatangkan kebaikan merupakan bagian dari akhlak seorang Muslim.
  • Menjaga lisan bukan berarti kehilangan keberanian untuk berbicara. Seorang Muslim tetap dapat menyampaikan kebenaran, memberikan kritik, menasihati, bersaksi, mengingatkan kesalahan, dan membela orang yang dizalimi. Yang dijaga adalah cara, kebenaran, kebutuhan, dan tujuan perkataan.
  • Lisan yang terjaga bukan lisan yang selalu diam. Lisan yang terjaga adalah lisan yang berbicara ketika ada kebaikan dan diam ketika perkataan justru membawa keburukan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *