TAFSIR TEMATIK: QS. AZ-ZUMAR AYAT 9: ILMU, IBADAH, DAN PERADABAN
Tafsir Tematik dalam Perspektif Tauhid, Syukur, Perubahan, Dakwah, Keluarga, dan Peradaban Modern
Integrating the Major Themes of the Quran with Spiritual, Social, Scientific, and Civilizational Perspectives
QS. Az-Zumar ayat 9 merupakan salah satu ayat penting Al-Qur’an yang menghubungkan ibadah, ilmu, kesadaran akhirat, penggunaan akal, dan kemampuan mengambil pelajaran. Ayat ini tidak hanya berbicara mengenai keutamaan orang berilmu, tetapi terlebih dahulu menggambarkan manusia yang tunduk kepada Allah, beribadah pada malam hari, takut kepada akhirat, dan berharap rahmat-Nya. Setelah itu muncul pertanyaan retoris: “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Kemudian ayat ditutup dengan penegasan bahwa hanya ulul albab, orang-orang yang memiliki akal yang sehat dan mampu merenungkan tanda-tanda Allah, yang dapat mengambil pelajaran. Para mufasir klasik dan modern memberikan penekanan yang berbeda-beda terhadap unsur-unsur tersebut, tetapi bertemu pada hubungan erat antara iman, ilmu, akal, ibadah, dan amal.
- أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
- “Apakah orang yang beribadah pada waktu malam dalam keadaan sujud dan berdiri, takut kepada akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya, sama dengan orang yang tidak demikian? Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.”
Makna Umum Ayat
Ayat ini berada dalam rangkaian pembicaraan tentang perbedaan antara manusia yang mengesakan dan menaati Allah dengan manusia yang menyimpang dari tauhid. Karena itu, pertanyaan “hal yastawī” bukan semata-mata perbandingan tingkat pendidikan formal, tetapi sebuah penegasan bahwa keadaan manusia yang memiliki iman, ketaatan, kesadaran akhirat, ilmu dan akal yang digunakan untuk menerima petunjuk tidak sama dengan keadaan manusia yang tidak memiliki kesadaran tersebut. Al-Tabari menjelaskan bahwa orang yang mengetahui adalah mereka yang memahami konsekuensi ketaatan kepada Allah dan akibat kemaksiatan, sedangkan orang yang tidak mengetahui digambarkan seperti orang yang berjalan tanpa arah.
Tafsir Al-Tabari
- Al-Tabari menjelaskan qanit sebagai orang yang taat, dan ana’al-lail sebagai waktu-waktu malam. Sujud dan berdiri menggambarkan aktivitas ibadah, sedangkan rasa takut terhadap akhirat dan harapan terhadap rahmat Allah menunjukkan kesadaran spiritual yang mengiringi ibadah tersebut. Menurut Al-Tabari, orang yang mengetahui memahami apa yang diperoleh dari ketaatan kepada Allah dan apa akibat dari kemaksiatan kepada-Nya. Dengan demikian, ilmu dalam ayat ini bukan sekadar mengetahui informasi, tetapi pengetahuan yang menghasilkan kesadaran terhadap konsekuensi moral dan spiritual.
Tafsir Ibnu Katsir
- Ibnu Katsir menempatkan ayat ini sebagai perbandingan antara manusia yang taat kepada Allah dengan orang yang mempersekutukan-Nya. Ia menjelaskan bahwa qanit dapat bermakna orang yang taat, tunduk dan khusyuk kepada Allah. Ibnu Katsir juga menekankan keseimbangan khauf dan raja’, yaitu takut terhadap akhirat sekaligus berharap rahmat Allah. Kemudian kalimat tentang orang yang mengetahui dan yang tidak mengetahui dipahami sebagai penegasan bahwa keduanya tidak sama, dan yang mampu memahami perbedaan tersebut adalah orang yang mempunyai akal.
Tafsir Al-Qurthubi
- Dalam tradisi tafsir Al-Qurthubi, ayat ini dibaca dalam konteks keutamaan ketaatan, ibadah malam, dan ilmu. Struktur ayat memperlihatkan bahwa ilmu tidak dipisahkan dari penghambaan kepada Allah. Orang yang benar-benar mengetahui bukan hanya mempunyai pengetahuan, tetapi pengetahuannya mengantarkan kepada kesadaran, ketundukan dan amal. Dengan pendekatan ini, ayat tidak dapat dijadikan sekadar slogan bahwa orang berpendidikan lebih tinggi pasti lebih mulia, karena ukuran Qur’ani terkait dengan kualitas pengetahuan dan dampaknya terhadap iman serta amal. Tafsir Al-Qurthubi juga termasuk salah satu tafsir utama yang membahas QS. Az-Zumar secara luas.
Tafsir Al-Baghawi
- Al-Baghawi menempatkan makna ayat dalam kerangka penjelasan tentang orang yang qanit, yaitu orang yang taat kepada Allah, beribadah pada waktu malam, takut terhadap akhirat dan mengharapkan rahmat-Nya. Dari sini terlihat bahwa karakter orang berilmu dalam perspektif Al-Qur’an berkaitan dengan kemampuan mengenali petunjuk dan mengambil manfaat darinya. Ilmu yang membawa manusia kepada kesadaran dan ketaatan memiliki fungsi yang lebih tinggi daripada pengetahuan yang hanya menjadi kumpulan informasi.
Tafsir As-Sa’di
- As-Sa’di menekankan bahwa perbedaan antara orang yang mengetahui dan yang tidak mengetahui adalah perbedaan dalam petunjuk dan kemampuan mengambil pelajaran. Pengetahuan yang bermanfaat mengarahkan seseorang kepada iman, amal saleh dan kesadaran terhadap kehidupan akhirat. Karena itu, ayat ini sekaligus memberikan penghargaan terhadap ilmu yang bermanfaat. Dalam kerangka pendidikan, ilmu tidak berhenti pada kemampuan mengetahui, tetapi harus membentuk perilaku dan menghasilkan kebaikan.
Tafsir Wahbah Az-Zuhaili – Al-Munir
- Dalam Tafsir Al-Munir, Wahbah az-Zuhaili memberikan perhatian pada hubungan antara ibadah, ilmu dan amal. Sosok yang digambarkan ayat adalah manusia yang tunduk kepada Allah, beribadah, memiliki rasa takut terhadap akhirat sekaligus berharap rahmat-Nya. Kemudian Al-Qur’an mengangkat persoalan ilmu dengan pertanyaan tentang kesamaan antara orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui. Maknanya menunjukkan keutamaan ilmu yang membawa manusia kepada pengenalan terhadap kebenaran dan pengamalannya. Dengan demikian, ilmu yang ideal dalam perspektif Al-Munir bukan sekadar akumulasi informasi, melainkan ilmu yang membentuk iman, kesadaran, akhlak dan amal.
Tafsir Ibnu ‘Asyur
- Ibnu ‘Asyur dalam At-Tahrir wa At-Tanwir memberikan perhatian besar terhadap struktur bahasa, hubungan antarayat, aspek pendidikan dan tujuan sosial Al-Qur’an. Dalam konteks ayat ini, gambaran manusia yang beribadah, takut kepada akhirat, berharap rahmat, kemudian disebut sebagai orang yang mengetahui, memperlihatkan bahwa ilmu dan kesadaran spiritual ditempatkan dalam satu rangkaian. Penutup ayat dengan ulul albab menunjukkan pentingnya penggunaan akal secara benar. Karena itu, ilmu dalam perspektif Qur’ani bukan hanya persoalan memiliki informasi, tetapi kemampuan memahami, merenungkan dan mengambil pelajaran untuk memperbaiki kehidupan.
TAFSIR TEMATIK: TUJUH PILAR QS. AZ-ZUMAR 39:9
| Tema | Pesan Qur’ani | Implementasi modern |
|---|---|---|
| Tauhid | Hanya Allah tujuan pengabdian | Sains dan teknologi tidak menggantikan Tuhan |
| Syukur | Menyadari nikmat Allah | Menggunakan ilmu untuk kemaslahatan |
| Perubahan | Dari jahil menuju kesadaran | Pendidikan dan pembentukan karakter |
| Dakwah | Menyampaikan kebenaran dengan ilmu | Dakwah berbasis literasi dan verifikasi |
| Keluarga | Membentuk manusia berilmu dan beriman | Rumah sebagai pusat pendidikan |
| Sains | Menghargai pengetahuan | Penelitian, inovasi, teknologi dan AI |
| Peradaban | Ilmu harus melahirkan amal | Membangun masyarakat adil, beradab dan bertanggung jawab |
Tauhid
- Fondasi ayat ini adalah tauhid. Manusia yang digambarkan sebagai qanit bukan manusia yang hanya memiliki kecerdasan, melainkan manusia yang mengarahkan penghambaan kepada Allah. Dalam konteks QS. Az-Zumar secara keseluruhan, tauhid merupakan tema besar surah ini. Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa tujuan utama surah Az-Zumar antara lain menegaskan keesaan Allah dalam ketuhanan dan membatalkan berbagai bentuk syirik.
- Karena itu, semakin tinggi ilmu seseorang seharusnya tidak membuatnya merasa menjadi pusat segala sesuatu. Ilmu justru dapat memperkuat kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan dan bahwa seluruh kemampuan berpikir, meneliti dan menemukan merupakan bagian dari amanah kehidupan. Ilmu yang benar tidak menggantikan tauhid; ilmu ditempatkan di bawah tanggung jawab kepada Allah.
Syukur
- Syukur tidak disebut secara langsung dalam lafaz ayat, tetapi dapat dikembangkan sebagai konsekuensi tematik dari kesadaran manusia terhadap Allah. Orang yang mengetahui menyadari bahwa kemampuan berpikir, belajar, mengembangkan ilmu, menggunakan teknologi dan membangun kehidupan merupakan nikmat yang harus dipertanggungjawabkan.
- Syukur dalam kerangka ini bukan sekadar ucapan alhamdulillah, tetapi penggunaan nikmat secara benar. Ilmu kedokteran digunakan untuk membantu manusia, teknologi digunakan untuk kemaslahatan, pendidikan digunakan untuk mencerdaskan generasi, dan kekayaan digunakan dengan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, syukur mengubah nikmat menjadi amanah.
- Ayat ini memang tidak menggunakan kata syukur secara langsung, tetapi secara tematik sikap orang yang mengenal Allah, beribadah, takut kepada akhirat dan mengharapkan rahmat-Nya menunjukkan kesadaran manusia terhadap hubungan dengan Pemberi nikmat. Orang berilmu memahami bahwa akal adalah nikmat, kesehatan adalah nikmat, keluarga adalah nikmat, waktu adalah nikmat, ilmu adalah nikmat, dan teknologi adalah amanah; karena itu ilmu tidak seharusnya hanya digunakan untuk memperoleh kekuasaan, status atau keuntungan pribadi, tetapi menghasilkan syukur yang produktif, yaitu syukur → menjaga nikmat → menggunakan nikmat untuk kebaikan. Ilmu kedokteran, misalnya, digunakan untuk menyelamatkan kehidupan; teknologi digunakan untuk mempermudah kehidupan; dan ilmu pendidikan digunakan untuk mencerdaskan manusia, sehingga ilmu menjadi sarana menghadirkan kemaslahatan.
ILMU HARUS MELAHIRKAN AMAL.
- Menurut Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir, ayat ini menggambarkan kontras antara orang yang berpaling dari Allah dan orang beriman yang qanit—taat, tunduk dan khusyuk kepada Allah—yang beribadah pada malam hari, takut terhadap akhirat sekaligus berharap rahmat Allah. Az-Zuhaili menekankan hubungan antara العلم والعمل — ilmu dan amal, bahwa orang berilmu bukan sekadar memiliki informasi, tetapi memiliki pengetahuan yang membawanya kepada mengenal Allah, mengetahui jalan yang benar, kemudian mengamalkannya. Karena itu, orang yang memiliki ilmu tetapi tidak mengambil manfaat dan tidak mengamalkannya belum mencapai kesempurnaan yang dimaksudkan ayat. QS. Az-Zumar 39:9 tidak tepat dipahami hanya sebagai slogan “Islam memuliakan orang pintar”, tetapi mengandung pesan yang lebih dalam: ilmu → kesadaran → ketundukan kepada Allah → amal → perubahan kehidupan.
Perubahan
- PERUBAHAN: DARI JAHIL MENUJU ULUL ALBAB Bagian yang sangat penting dari QS. Az-Zumar ayat 9 adalah firman Allah, إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُوا الْأَلْبَابِ — “Sesungguhnya hanya orang-orang yang mempunyai akal sehat yang dapat menerima pelajaran.” Ulul albab bukan sekadar orang yang memiliki banyak informasi atau pengetahuan, tetapi orang yang menggunakan akalnya untuk memahami, merenungkan, membedakan kebenaran dari kesalahan, serta mengambil pelajaran untuk memperbaiki kehidupan. Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa mereka mampu memahami perbedaan antara orang yang berilmu dan yang tidak berilmu, serta antara orang yang taat dan orang yang bermaksiat. Dengan demikian, perubahan manusia dalam perspektif Al-Qur’an dimulai dari perubahan cara berpikir: informasi → ilmu → pemahaman → kesadaran → amal → perubahan. Inilah salah satu prinsip pendidikan Qur’ani: ilmu tidak berhenti pada bertambahnya pengetahuan, tetapi harus melahirkan kesadaran, akhlak, tindakan dan perubahan kehidupan menuju kebaikan.
- Ayat ini memberikan gambaran tentang perubahan manusia dari keadaan tidak sadar menjadi manusia yang mengetahui dan mampu mengambil pelajaran. Frasa “innamā yatadhakkaru ulul albāb” menunjukkan bahwa kemampuan mengambil pelajaran merupakan ciri orang yang menggunakan akalnya dengan benar. Al-Tabari menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang memahami hujah-hujah Allah, mengambil pelajaran dan merenungkannya.
- Perubahan yang dikehendaki Al-Qur’an bukan hanya perubahan pengetahuan, tetapi perubahan manusia secara utuh: dari tidak tahu menjadi tahu, dari tahu menjadi sadar, dari sadar menjadi beramal, dan dari amal individual menuju perbaikan kehidupan.
Dakwah
- DAKWAH: DARI ILMU MENUJU PETUNJUK. QS. Az-Zumar 39:9 memiliki implikasi penting bagi dakwah karena dakwah tidak cukup hanya dengan memperbanyak informasi agama, tetapi perlu membentuk manusia yang mengenal Allah, berpikir sehat, memahami ilmu, mampu membedakan benar dan salah, kemudian mengamalkan kebenaran. Karena itu, dakwah di era digital tidak cukup hanya dengan “menyampaikan banyak konten”, tetapi perlu membangun literasi agama + literasi ilmu + akhlak + kemampuan berpikir kritis, sehingga seseorang tidak hanya mengetahui banyak dalil atau informasi keagamaan, tetapi mampu memahami maknanya, mengambil pelajaran dan menerapkannya dalam kehidupan. Hal ini selaras dengan penekanan Al-Qur’an terhadap karakter ulul albab, yaitu manusia yang mampu menerima pelajaran dengan menggunakan akal secara benar dan bertanggung jawab.
- Ayat ini juga memberikan fondasi bagi dakwah berbasis ilmu. Dakwah tidak cukup hanya menghasilkan banyak pesan keagamaan, tetapi harus membantu manusia memahami kebenaran dan mampu mengambil pelajaran. Dakwah pada era digital menghadapi masyarakat yang menerima informasi dalam jumlah sangat besar sehingga diperlukan kemampuan membedakan ilmu, pendapat, berita, dugaan dan informasi yang belum terverifikasi.
- Karena itu, dakwah Qur’ani di zaman modern dapat menggabungkan tauhid, ilmu, akhlak, literasi, dialog dan kemampuan berpikir kritis. Dakwah tidak menjadikan banyaknya informasi sebagai tujuan akhir, tetapi menjadikan informasi sebagai jalan menuju kesadaran dan amal.
DIMENSI SPIRITUAL: TAKUT DAN BERHARAP.
- Ayat ini menggambarkan keseimbangan spiritual melalui dua sikap, yaitu يَحْذَرُ الْآخِرَةَ — takut terhadap akhirat dan وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ — mengharapkan rahmat Tuhannya. Az-Zuhaili menjelaskan keseimbangan khauf dan raja’, yaitu rasa takut dan harapan, sebagai bagian penting dalam kesempurnaan ibadah karena seorang mukmin tidak hanya takut terhadap akibat dosa dan pertanggungjawaban di akhirat, tetapi juga berharap kepada rahmat Allah. Secara spiritual, keseimbangan ini mencegah dua keadaan ekstrem: takut tanpa harapan dapat membawa kepada keputusasaan, sedangkan harapan tanpa rasa takut dapat membawa kepada kelalaian, sehingga khauf dan raja’ bersama-sama melahirkan kesadaran, kehati-hatian, optimisme, ketundukan dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan.
Keluarga
- KELUARGA: MEMBANGUN GENERASI ULUL ALBAB. Keluarga merupakan lingkungan pertama tempat nilai ayat ini ditanamkan. Anak tidak hanya membutuhkan pendidikan agar memperoleh nilai akademik yang baik, tetapi membutuhkan lingkungan yang mengajarkan bahwa mencari ilmu merupakan bagian dari pengabdian kepada Allah. Orang tua dapat memperkenalkan kebiasaan membaca, bertanya, berdiskusi, memeriksa informasi, menghargai guru dan ilmuwan, serta menghubungkan ilmu dengan akhlak dan tanggung jawab.
- Dengan demikian, keluarga dapat menjadi tempat bertemunya iman dan ilmu. Anak tidak diarahkan menjadi manusia yang hanya pintar, tetapi menjadi manusia yang memiliki ilmu, karakter, tanggung jawab dan kesadaran bahwa pengetahuan harus digunakan untuk kebaikan.
Sains dan Teknologi
- QS. Az-Zumar 39:9 bukan ayat tentang teknologi modern secara langsung. Karena itu, tidak tepat memaksakan ayat ini menjadi prediksi tentang internet, kecerdasan buatan atau teknologi tertentu. Namun secara tafsir tematik, prinsip penghargaan terhadap ilmu dan penggunaan akal dapat diterapkan pada kehidupan ilmiah modern.
- Manusia modern membutuhkan kemampuan untuk membaca data, menguji informasi, memahami bukti, menyadari keterbatasan pengetahuan dan mempertimbangkan konsekuensi etis dari suatu teknologi. Dalam penggunaan AI, misalnya, manusia tetap membutuhkan penilaian, verifikasi dan tanggung jawab. Teknologi dapat memperbesar kemampuan manusia, tetapi tidak otomatis menentukan apakah penggunaan kemampuan tersebut benar atau salah.
- SAINS DAN TEKNOLOGI: ULUL ALBAB DI ERA AI. Dalam konteks abad ke-21, karakter ulul albab dapat diwujudkan melalui manusia yang menghargai bukti, berpikir kritis, tidak mudah percaya hoaks, memahami keterbatasan pengetahuan, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dan tetap memiliki kesadaran spiritual. Hal ini termasuk dalam penggunaan Artificial Intelligence (AI), yang dapat membantu manusia mengolah informasi tetapi tidak menggantikan tanggung jawab manusia untuk melakukan verifikasi → penalaran → pertimbangan etis → tanggung jawab. Manusia perlu mampu membedakan ilmu dengan opini, fakta dengan hoaks, bukti dengan propaganda, serta pengetahuan dengan kebijaksanaan, sehingga kemajuan teknologi tidak membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir dan tanggung jawab moral. Dalam pengertian kontekstual, kemampuan menggunakan AI secara kritis, etis dan bertanggung jawab dapat menjadi salah satu bentuk aktualisasi nilai ulul albab dalam masyarakat digital
Peradaban Modern
- PERADABAN MODERN: “HAL YASTAWI” SEBAGAI ETIKA ILMU. Firman Allah, هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ — “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” menunjukkan kemuliaan ilmu, tetapi ayat ini tidak boleh dipersempit menjadi anggapan bahwa manusia yang memiliki pendidikan formal selalu lebih mulia daripada manusia yang tidak memiliki pendidikan formal. Dalam konteks Tafsir Al-Munir, ilmu yang dimaksud berkaitan dengan pengetahuan yang membawa manusia kepada pengenalan terhadap kebenaran dan amal, bukan sekadar banyaknya informasi atau gelar akademik. Karena itu, peradaban Qur’ani membutuhkan العلم + العمل — ilmu + amal, sebab ilmu tanpa moral dapat menghasilkan teknologi yang disalahgunakan, sedangkan moral tanpa ilmu dapat menghasilkan niat baik yang tidak efektif; peradaban yang sehat membutuhkan keduanya agar pengetahuan menghasilkan kemaslahatan dan tanggung jawab.
- Jika ilmu hanya menghasilkan kemampuan teknis tanpa moral, perkembangan peradaban dapat menghadirkan persoalan baru. Sebaliknya, moral tanpa pengetahuan dapat membuat manusia memiliki niat baik tetapi tidak mampu menyelesaikan persoalan kompleks. QS. Az-Zumar 39:9 memberikan fondasi bagi integrasi keduanya melalui gambaran manusia yang beribadah, berilmu, berpikir dan mengambil pelajaran.
- Dari sini dapat dirumuskan paradigma peradaban Qur’ani: TAUHID → ILMU → AKAL → AKHLAK → AMAL → KEMASLAHATAN → PERADABAN
- Peradaban modern yang berorientasi Qur’ani bukan berarti menolak modernitas, melainkan menempatkan ilmu dan kemajuan dalam kerangka tanggung jawab moral dan spiritual
Pesan Penting
- Ilmu bukan sekadar banyak mengetahui, tetapi mengetahui untuk memahami kebenaran dan memperbaiki kehidupan.
- Kecerdasan tanpa tauhid dapat kehilangan arah; ilmu tanpa akhlak dapat disalahgunakan; teknologi tanpa tanggung jawab dapat menjadi sumber persoalan baru.
- Muslim modern idealnya tidak mempertentangkan iman dan ilmu. Tauhid memberikan arah, ilmu memberikan kemampuan, akal memberikan pertimbangan, akhlak memberikan batas, dan amal memberikan bukti.
- Keluarga membentuk kecintaan terhadap ilmu, sekolah mengembangkan pengetahuan, masjid membangun kesadaran spiritual, dan masyarakat menggunakan ilmu untuk kemaslahatan.
- Di era banjir informasi, menjadi “ulul albab” berarti tidak sekadar mengetahui banyak hal, tetapi mampu berpikir, memeriksa, merenungkan, membedakan yang benar dari yang keliru, lalu mengambil pelajaran.
Penutup
- QS. Az-Zumar ayat 9 memberikan gambaran yang sangat utuh mengenai manusia berilmu. Ia bukan hanya manusia yang menguasai informasi, tetapi manusia yang qanit, tunduk kepada Allah; memiliki khauf, kesadaran terhadap akhirat; memiliki raja’, harapan terhadap rahmat Allah; memiliki ilmu; menggunakan akal; dan mampu mengambil pelajaran. Enam mufasir—Al-Tabari, Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, Al-Baghawi, As-Sa’di dan Wahbah az-Zuhaili, dengan perspektif linguistik dan sosial yang diperkaya Ibnu ‘Asyur—memberikan titik-titik penekanan yang dapat dibaca bersama: ilmu memiliki kedudukan tinggi ketika mengantarkan manusia kepada petunjuk, kesadaran dan amal.
- Dalam konteks generasi Muslim modern, pesan ayat ini dapat dirumuskan secara sederhana: jangan memilih antara menjadi religius atau menjadi ilmiah. Jadilah manusia yang bertauhid sekaligus mencintai ilmu; beribadah sekaligus berpikir; menguasai teknologi sekaligus berakhlak; membangun keluarga sekaligus membangun peradaban. Itulah semangat ulul albab: akal yang tercerahkan oleh iman dan ilmu yang diterjemahkan menjadi amal.












Leave a Reply