MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Dzikir Istimewa di 10 Hari Pertama Zulhijjah: Panduan Ibadah Berdasarkan Al-Qur’an, Hadits, dan Ulama

 

Sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah merupakan momen yang sangat dimuliakan dalam Islam, bahkan disebut dalam hadits sebagai hari-hari terbaik untuk beramal shalih. Di antara ibadah yang sangat dianjurkan pada hari-hari ini adalah dzikir kepada Allah secara lisan dan hati. Artikel ini membahas keutamaan dzikir dalam sepuluh hari pertama Zulhijjah berdasarkan dalil dari Al-Qur’an dan hadits shahih, serta pandangan sepuluh ulama besar. Selain itu, dijelaskan pula bagaimana seharusnya umat Islam memanfaatkan momen ini secara maksimal untuk meraih keutamaan yang luar biasa.


Sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah adalah waktu yang penuh kemuliaan dan keutamaan dalam syariat Islam. Allah bersumpah dalam Al-Qur’an dengan “wal-fajr, wa layalin ‘ashr” (QS. Al-Fajr: 1-2), yang oleh banyak mufassir diartikan sebagai sepuluh malam pertama Zulhijjah. Hal ini menunjukkan betapa besar nilai dan keberkahan hari-hari tersebut dalam pandangan Allah. Di antara berbagai amal yang dianjurkan pada masa ini, dzikir menempati posisi sangat penting sebagai bentuk penghambaan yang paling ringan di lisan namun paling berat di timbangan amal.

Ibadah dzikir di sepuluh hari Zulhijjah bukan hanya sekadar rutinitas, tetapi merupakan bentuk ekspresi kecintaan, pengagungan, dan kesadaran spiritual kepada Allah. Dalam kondisi dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, momentum sepuluh hari ini mengajak umat Islam untuk kembali kepada fitrah ruhani dengan memperbanyak takbir, tahmid, tahlil, dan tasbih. Menghidupkan dzikir pada masa ini adalah cara terbaik untuk mendapatkan ridha dan pahala besar dari Allah SWT.

Keutamaan Dzikir di 10 Hari Zulhijjah Menurut Al-Qur’an dan Hadits 

Pertama, dalil utama tentang keutamaan dzikir pada 10 hari Zulhijjah terdapat dalam hadits shahih riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada hari-hari yang amal shalih padanya lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari ini (Zulhijjah)”. Sahabat bertanya, “Tidak juga jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun.” Dzikir termasuk amal shalih yang paling utama, sebagaimana ditegaskan dalam banyak hadits lain.

Kedua, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Hibban, Rasulullah ﷺ bersabda: “Perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid.” (HR. Ahmad). Hadits ini menunjukkan bahwa dzikir seperti mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar sangat dianjurkan untuk diperbanyak pada hari-hari tersebut. Bahkan para sahabat seperti Ibnu Umar dan Abu Hurairah disebutkan mengumandangkan takbir di pasar-pasar pada hari-hari itu.

Ketiga, dalam Al-Qur’an surat Al-Hajj ayat 28, Allah berfirman: “…dan menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan…” Yang dimaksud dengan “hari-hari yang ditentukan” menurut mayoritas mufassir adalah 10 hari Zulhijjah. Ini memperkuat bahwa dzikir pada hari-hari tersebut adalah perintah langsung dari Allah, bukan hanya anjuran.

Keempat, dzikir memiliki banyak keutamaan umum yang berlipat pada waktu-waktu mulia seperti Zulhijjah. Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda: “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan yang tidak berdzikir, seperti orang hidup dan orang mati.” Ini berarti bahwa memperbanyak dzikir di hari-hari penuh kehidupan spiritual seperti Zulhijjah akan menghidupkan jiwa dan mendekatkan kepada Allah.

Kelima, dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Allah berfirman: “Aku bersama hamba-Ku ketika ia mengingat-Ku.” Maka ketika umat Islam memperbanyak dzikir di 10 hari pertama Zulhijjah, berarti ia sedang meraih kedekatan yang sangat intens dengan Allah SWT. Ini adalah waktu emas untuk mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya.

Pandangan Ulama tentang Dzikir di 10 Hari Zulhijjah:

  1. Imam al-Nawawi mengatakan bahwa memperbanyak dzikir di hari-hari Zulhijjah termasuk amalan yang paling utama dan sunnah yang sangat dianjurkan.
  2. Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa takbir muqayyad dan mutlaq adalah bagian dari sunnah yang dihidupkan oleh salaf dalam 10 hari ini.
  3. Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa dzikir di waktu yang disyariatkan seperti 10 Zulhijjah lebih utama dari dzikir di waktu lainnya.
  4. Imam Syafi’i menganjurkan umat Islam memperbanyak takbir setelah shalat pada hari-hari tasyriq dan sepuluh awal Zulhijjah.
  5. Imam Malik memandang bahwa amal dzikir, termasuk takbir dan tahlil, merupakan ibadah yang sangat dianjurkan selama hari-hari mulia ini.
  6. Imam Abu Hanifah tidak menolak dzikir pada hari-hari ini, bahkan menyebutnya sebagai bentuk ibadah terbaik bila dilakukan ikhlas.
  7. Syaikh Utsaimin menjelaskan dalam Syarh Riyadhus Shalihin, bahwa keutamaan dzikir pada sepuluh hari Zulhijjah melebihi hari-hari biasa bahkan lebih dari Lailatul Qadar dalam beberapa aspek.
  8. Imam Ahmad bin Hanbal membolehkan mengeraskan takbir dan menyebarkan dzikir secara berjamaah sebagai bentuk syiar.
  9. Syaikh Abdul Aziz bin Baz menganjurkan umat untuk memperbanyak dzikir ringan seperti tasbih, tahmid, dan istighfar, terutama pada waktu pagi dan petang.
  10. Dr. Yusuf al-Qaradawi dalam bukunya Fiqh al-Awlawiyat, menyebut bahwa dzikir pada 10 Zulhijjah adalah bentuk ibadah prioritas karena tidak memerlukan syarat tertentu dan bisa dilakukan kapan saja.

Bagaimana Sebaiknya Umat Menyikapi Momentum Ini (3 Paragraf):

Pertama, umat Islam sebaiknya menyusun rencana dzikir harian khusus selama 10 hari pertama Zulhijjah. Dengan disiplin, dzikir seperti takbir, tahmid, dan tahlil bisa menjadi rutinitas yang menghidupkan hati dan meningkatkan kesadaran spiritual di tengah kesibukan dunia.

Kedua, dzikir sebaiknya dilakukan secara individual maupun kolektif. Misalnya, keluarga bisa memulai pagi bersama dengan takbir dan dzikir bersama, atau komunitas masjid bisa menyemarakkan suasana dengan kumandang takbir setiap selesai shalat. Hal ini menghidupkan sunnah dan mengikat kebersamaan dalam semangat ibadah.

Ketiga, selain lisan, dzikir juga harus meresap ke dalam hati dan perilaku. Artinya, mengucap “Allahu Akbar” harus mendorong sikap tunduk, sabar, dan berserah diri dalam kehidupan. Dzikir bukan sekadar bacaan, tapi pancaran kesadaran tentang keagungan Allah yang diwujudkan dalam perbuatan.


Dzikir pada sepuluh hari pertama Zulhijjah adalah amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam, berdasarkan dalil kuat dari Al-Qur’an, hadits shahih, dan pendapat para ulama terkemuka. Momen ini adalah waktu emas untuk mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak amalan lisan dan hati, serta memperkuat kesadaran spiritual di tengah hiruk pikuk dunia. Umat Islam hendaknya tidak menyia-nyiakan keutamaan ini, tetapi menghidupkannya dengan dzikir yang konsisten, penuh makna, dan penuh cinta kepada Allah SWT.


 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *