MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

“10 Tips Anti Gabut Buat Remaja Muslim di Malam Tahun Baru: Tetap Kece, Tetap Syariah!”

Malam tahun baru tuh sering banget jadi ajang godaan buat anak muda, kayak pesta-pesta yang bikin lupa sama nilai-nilai agama. Padahal, sebagai Muslim, kita bisa banget bikin malam itu jadi lebih bermakna. Salah satu caranya? Tidur lebih awal aja, biar bisa bangun pagi buat shalat Subuh. Selain bikin badan sehat, lo juga bakal terhindar dari hal-hal yang nggak penting di malam hari.

Terus, daripada ikutan rame-rame nggak jelas, coba deh manfaatin malam itu buat muhasabah alias introspeksi diri. Lo bisa mikir, apa aja yang udah lo capai selama setahun terakhir, dan bikin rencana buat jadi lebih baik di tahun depan. Bisa juga isi waktu dengan baca buku Islami, dzikir, atau bikin catatan resolusi positif. Ini jauh lebih keren daripada ikut-ikutan keramaian yang nggak ada manfaatnya.

Sebagai Muslim, penting banget buat nggak niru-niru budaya yang nggak sesuai ajaran agama, kayak pesta liar atau main petasan. Mending habisin waktu sama keluarga, ngobrolin masa depan, atau bikin kegiatan sosial kayak bagi-bagi makanan ke orang yang butuh. Dengan ngelakuin hal-hal yang bermanfaat, lo nggak cuma jaga identitas sebagai Muslim, tapi juga mulai tahun baru dengan vibe yang positif dan penuh berkah. Mantap, kan?

Hukum Perayaan Tahun Baru

Para ulama mu‘tabar sejak masa klasik hingga kontemporer sepakat bahwa perayaan Tahun Baru Masehi bukan bagian dari syariat Islam dan tidak memiliki landasan ibadah. Tradisi seperti countdown, meniup terompet, pesta kembang api, dan euforia khusus dinilai sebagai bentuk tasyabbuh (menyerupai ritual dan tradisi non-Muslim) apabila diniatkan sebagai perayaan. Kaidah fikih menyebutkan, “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka” (HR. Abu Dawud). Karena itu, banyak ulama menyatakan bahwa ikut meramaikan perayaan khas tersebut minimal makruh, dan bisa haram jika disertai keyakinan, pengagungan hari, atau ritual yang bertentangan dengan akidah Islam.

Fatwa ulama internasional dan ulama kontemporer modern—seperti Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Ibn Utsaimin, dan para ulama Lajnah Daimah—menegaskan bahwa malam tahun baru bukan hari raya dan bukan waktu ibadah dalam Islam, sehingga tidak pantas diperlakukan secara spesial. Kembang api dan terompet juga dikritik karena sering membawa unsur pemborosan, gangguan, bahaya, dan membuka pintu maksiat. Jika perayaan tersebut diiringi musik, campur baur bebas, mabuk, atau begadang tanpa faedah, maka hukumnya jelas haram karena masuk dalam larangan maksiat, bukan sekadar persoalan momen waktunya.

Pandangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Tarjih Muhammadiyah, dan Bahtsul Masail NU tentang Tahun Baru

Majelis Ulama Indonesia (MUI) memandang bahwa pergantian tahun Masehi pada dasarnya adalah peristiwa waktu yang bersifat administratif dan sosial, bukan hari raya agama. Karena itu, MUI menegaskan bahwa umat Islam tidak dilarang menyadari atau melewati pergantian tahun, namun dilarang menirukan perayaan yang mengandung unsur tasyabbuh, kemaksiatan, pemborosan, hura-hura, atau aktivitas yang melalaikan dari dzikir dan ibadah. Dalam berbagai tausiyah resminya, MUI menganjurkan agar momentum tahun baru dijadikan sarana muhasabah, evaluasi diri, dan perbaikan amal, baik secara personal maupun keluarga, sehingga waktu dipahami sebagai amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Sementara itu, Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah serta Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (NU) memiliki pendekatan yang sejalan dalam substansi. Tarjih Muhammadiyah menegaskan bahwa pergantian tahun Masehi bukan bagian dari ibadah ritual Islam, sehingga tidak perlu dirayakan secara khusus, terlebih jika menyerupai tradisi non-Islam atau mengandung unsur maksiat. Adapun Bahtsul Masail NU menjelaskan bahwa hukum aktivitas di malam tahun baru kembali kepada isi dan dampaknya: jika diisi dengan kemaksiatan, hura-hura, atau pemborosan maka hukumnya haram; jika diisi dengan hal mubah atau kebaikan seperti doa, dzikir, silaturahmi, dan muhasabah, maka hukumnya boleh bahkan dianjurkan. Dengan demikian, ketiga lembaga ini sepakat bahwa esensi sikap Muslim di tahun baru bukanlah perayaan, melainkan kesadaran waktu, pengendalian diri, dan penguatan iman.

10 Cara remaja Muslim untuk menghadapi malam tahun baru sesuai dengan ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah:


  1. Tidur Lebih Cepat dan Bangun Pagi untuk Shalat Subuh Tidur lebih awal membantu remaja menghindari aktivitas yang tidak bermanfaat di malam tahun baru dan memulai hari dengan ibadah shalat Subuh tepat waktu. Rasulullah SAW bersabda:
    “Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan Subuh. Jika mereka tahu pahala yang ada di dalamnya, mereka pasti mendatanginya walaupun harus merangkak.” (HR. Bukhari, No. 657).
  2. Menghindari Petasan dan Kembang Api Petasan dan kembang api tidak hanya membuang-buang uang tetapi juga mengganggu orang lain. Meski ada yang membolehkan tapi MUI jakarta, Sumut dan mayoritas ulama melarang menggunakan petasan dan kembang api dalam tahun baru.  Dalam Islam, membuang harta tanpa manfaat adalah dilarang. Firman Allah: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra: 26-27).
  3. Tidak Meniru Perayaan yang Tidak Islami (Tasyabbuh) Rasulullah SAW melarang umat Islam untuk meniru kebiasaan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Beliau bersabda: “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud, No. 4031). Remaja sebaiknya menghindari perayaan seperti pesta atau kegiatan lain yang tidak mencerminkan nilai-nilai Islam.
  4. Melakukan Muhasabah (Introspeksi Diri) Malam tahun baru dapat dimanfaatkan untuk merenungkan perjalanan hidup selama setahun terakhir. Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18).
  5. Memperbanyak Dzikir dan Doa Seperti malam biasanya dalam mengisi malam tahun baru dengan dzikir dan doa adalah cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang beristighfar, Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesusahan, kelapangan dari setiap kesempitan, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud, No. 1518).
  6. Membaca Al-Qur’an Tidak mengkhususkan Malam tahun baru seperti malam malam biasanya yang lain sebaiknya diisi dengan  membaca dan memahami Al-Qur’an. Firman Allah: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus.” (QS. Al-Isra: 9). Membaca Al-Qur’an dapat menjadi pengingat dan motivasi untuk memperbaiki diri.
  7. Menghabiskan Waktu Bersama Keluarga Mengisi malam tahun baru dengan aktivitas bersama keluarga, seperti berdiskusi atau berdoa bersama, adalah bentuk ibadah yang dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.” (HR. Tirmidzi, No. 3895).
  8. Melakukan Amal Sosial Menggunakan malam tahun baru untuk membantu sesama, seperti berbagi makanan atau menyantuni anak yatim, mencerminkan nilai-nilai Islam. Firman Allah: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92).
  9. Menghindari Maksiat dan Perbuatan Sia-Sia Malam tahun baru sering diisi dengan aktivitas yang melalaikan. Rasulullah SAW bersabda: “Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi, No. 2317). Remaja sebaiknya menghindari hal-hal yang tidak membawa manfaat dunia maupun akhirat.
  10. Memulai Tahun Baru dengan Ibadah Memulai tahun baru dengan shalat tahajud atau shalat Subuh berjamaah adalah langkah yang penuh berkah. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang shalat Subuh berjamaah, maka ia berada dalam jaminan Allah.” (HR. Muslim, No. 657).

Sikap Bijak Anak Muda Muslim

Islam nggak pernah minta anak muda jadi anti-sosial atau menjauh dari dunia. Islam justru ngajarin kita hidup dengan prinsip. Boleh kok bahagia, tapi bahagia yang nggak kosong dan nggak bikin lupa arah. Di saat banyak orang larut dalam euforia semu, anak muda Muslim diajak berhenti sejenak, menata hati, dan bertanya jujur pada diri sendiri: shalat mana yang masih bolong, janji kebaikan apa yang belum ditepati, dan akhlak apa yang perlu dibenahi. Karena yang benar-benar berganti bukan cuma angka tahun, tapi jatah usia yang terus berkurang dan lembar amal yang makin terisi.

Jadi keren itu bukan soal ikut semua tren, tapi berani pilih mana yang pantas diikuti dan mana yang perlu ditinggal. Anak muda Muslim yang bijak tahu kapan menikmati dunia tanpa kehilangan iman, dan kapan menahan diri demi masa depan akhirat. Di tengah gemerlap pergantian waktu, mereka memilih cahaya yang lebih tenang: muhasabah, doa, dan tekad baru untuk jadi versi diri yang lebih taat. Karena sejatinya, istiqamah di jalan iman di tengah dunia yang ramai itulah bentuk keberanian paling elegan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *