MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Efek Salat Terhadap Kesehatan Dalam Perspektif Sains Kedokteran Terkini

 

Studi terbaru telah mengeksplorasi hubungan antara kesehatan dan praktik keagamaan atau spiritualitas. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa komitmen religius dan spiritualitas umumnya terkait dengan hasil kesehatan yang lebih baik. Di seluruh dunia, jutaan umat Muslim melaksanakan salat secara rutin lima kali sehari. Salat tidak hanya merupakan aktivitas fisik, tetapi juga melibatkan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an dan pelaksanaan posisi tubuh tertentu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa salat memiliki efek positif terhadap status kesehatan.

Salat adalah ibadah wajib bagi setiap Muslim yang dilakukan lima kali sehari. Ibadah shalat melibatkan serangkaian gerakan tubuh seperti berdiri, rukuk, sujud, dan duduk, yang secara keseluruhan menyerupai latihan fisik dengan intensitas ringan. Selama pelaksanaan salat, sebagian besar sendi dan otot tubuh aktif bergerak, sehingga memberikan manfaat fisik. Namun, meskipun salat telah menjadi bagian integral dari kehidupan umat Muslim, bukti ilmiah mengenai biomekanika dan efek terapeutik salat sebagai bentuk latihan fisik masih terbatas.

Tinjauan literatur dalam bukti ilmiah terkini mengenai manfaat salat terhadap kesehatan fisik membahas bagaimana salat dapat digunakan sebagai bentuk latihan fisik yang bermanfaat, baik untuk individu sehat maupun dalam konteks rehabilitasi medis. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami potensi penuh salat sebagai intervensi kesehatan yang terintegrasi.

Beberapa efek positif salat terhadap kesehatan telah diidentifikasi, meliputi:

  1. Efek Psikologis Salat terhadap Kesehatan Mental dan Saraf
    • Salat dapat memberikan rasa ketenangan dan mengurangi tingkat stres. Aktivitas ini menciptakan momen refleksi dan relaksasi, yang membantu menurunkan kecemasan dan depresi.
    • Pelaksanaan salat secara teratur juga dikaitkan dengan peningkatan kepuasan hidup dan kesejahteraan mental.
    • Banyak pasien menghadapi tekanan psikologis dan emosional ketika menghadapi penyakit atau ancaman kematian. Tingkat kecemasan yang tinggi dapat memperburuk kondisi fisik mereka. Berbagai laporan tentang penerapan doa dalam psikoterapi menunjukkan hasil positif pada individu dengan gejala patologis seperti ketegangan, kecemasan, depresi, dan kecenderungan antisosial. Sebuah studi oleh Yucel di Brigham and Women’s Hospital melibatkan 60 Muslim dewasa berusia 18–85 tahun untuk mengeksplorasi efek salat dan doa (Dua). Studi ini menemukan bahwa salat dapat mengurangi stres dan depresi, sekaligus memberikan rasa nyaman dan harapan. Hasil ini konsisten dengan penelitian sebelumnya tentang hubungan doa dan kesehatan. Sebanyak 75% peserta menyatakan bahwa Islam merupakan faktor penting dalam kehidupan mereka. Hubungan antara pikiran dan tubuh dalam salat memberikan dasar untuk mengatasi tekanan hidup, mengurangi kecemasan dan depresi, sambil mengandalkan bantuan dan bimbingan Ilahi.
    • Dalam studi lain terhadap 30 pria Muslim sehat, Doufesh meneliti efek salat terhadap daya relatif (RPa) elektroensefalografi (EEG) dan aktivitas saraf otonom. Selama salat, terjadi peningkatan signifikan (p<0,05) pada rata-rata RPa di area otak oksipital dan parietal serta peningkatan daya frekuensi tinggi yang dinormalisasi (nuHF) dari variabilitas detak jantung (HRV) sebagai indeks parasimpatis. Sebaliknya, daya frekuensi rendah yang dinormalisasi (nuLF) dan rasio LF/HF dari HRV (indeks simpatis) menurun. Peningkatan EEG di area oksipital dan parietal selama salat menunjukkan adanya perubahan positif pada fungsi otak dan kesejahteraan manusia. Perubahan ini terkait dengan peningkatan komponen parasimpatis dan penurunan komponen simpatis dalam sistem saraf otonom (ANS).
    • Praktik salat secara teratur dapat membantu mempromosikan relaksasi, meminimalkan kecemasan, dan berpotensi mengurangi risiko kardiovaskular. Dengan demikian, salat bukan hanya aktivitas spiritual, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan mental dan fisiologis yang signifikan.
  2. Efek Neurologis Salat terhadap Fungsi Kognitif dan Keseimbangan
    • Salat melibatkan fokus mental yang tinggi, yang dapat meningkatkan fungsi kognitif dan melatih perhatian.
    • Posisi sujud dalam salat meningkatkan aliran darah ke otak, yang dapat mendukung fungsi otak secara keseluruhan.
    • Selain aspek spiritual dan religius, salat adalah aktivitas yang melibatkan komponen kognitif dan motorik. Salah satu gerakan unik dalam salat adalah sujud, di mana kepala berada lebih rendah dari jantung. Posisi ini meningkatkan aliran darah ke otak, yang berpotensi memberikan efek positif pada memori, konsentrasi, kesehatan psikis, dan fungsi kognitif, yaitu proses mental yang memungkinkan seseorang untuk melakukan berbagai tugas.
    • Sebuah studi oleh Inzelberge et al. meneliti hubungan antara religiusitas dan fungsi kognitif pada 935 orang Arab di Palestina yang berusia di atas 65 tahun. Studi ini mengevaluasi hubungan antara durasi salat per bulan selama masa paruh baya dan fungsi kognitif. Dari 778 individu yang dievaluasi, 87% dari mereka yang memiliki fungsi kognitif normal rutin melaksanakan salat pada masa paruh baya, dibandingkan dengan 71% individu dengan gangguan kognitif ringan (MCI) dan 69% pada penderita Alzheimer. Hasilnya menunjukkan bahwa pelaksanaan salat secara rutin selama masa paruh baya secara signifikan mengurangi kemungkinan gangguan kognitif ringan di usia lanjut, khususnya pada wanita Arab di Palestina.
    • Penelitian lain oleh Alabdulwahab dkk membandingkan keseimbangan dinamis pada 60 pria sehat yang rutin melaksanakan salat dengan individu yang tidak melakukannya. Menggunakan alat Balance Master, penelitian ini menemukan bahwa mereka yang rutin melaksanakan salat memiliki keseimbangan dinamis yang lebih baik secara signifikan  dalam hal waktu reaksi, kecepatan gerakan, jangkauan akhir, dan kontrol arah dibandingkan individu yang tidak melaksanakan salat. Hasil ini menegaskan bahwa praktik salat secara teratur tidak hanya bermanfaat secara spiritual, tetapi juga mendukung fungsi neurologis dan keseimbangan tubuh.
  3. Salat sebagai Bentuk Meditasi dan Manfaatnya bagi Kesehatan
    • Meditasi adalah praktik yang melibatkan teknik seperti memusatkan pikiran pada objek, pikiran, atau aktivitas tertentu untuk melatih kesadaran dan mencapai keadaan mental yang jernih serta emosional yang tenang. Banyak penelitian telah melaporkan manfaat meditasi, yang dianggap sebagai tambahan yang hemat biaya untuk terapi medis tradisional. Dalam Islam, salat merupakan bentuk meditasi yang mengintegrasikan fokus perhatian pada Allah, seperti disebutkan dalam Al-Qur’an, “Dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku” (Q.S. Thaha: 14).
    • Penelitian menunjukkan bahwa salat mengaktifkan sistem saraf parasimpatis dan menurunkan aktivitas simpatis, yang menjelaskan efek relaksasi dan pengurangan kecemasan. Sebuah studi oleh Doufesh et al. melibatkan sembilan Muslim yang melakukan salat Dhuha dan menunjukkan peningkatan amplitudo gelombang alfa di area parietal dan oksipital otak, yang mengindikasikan aktivasi parasimpatis dan keadaan relaksasi. Studi lain membandingkan aktivitas gelombang gamma pada praktik salat sebenarnya dan salat tiruan (tanpa bacaan Al-Qur’an). Hasilnya menunjukkan bahwa gelombang gamma lebih tinggi pada praktik salat sebenarnya, terutama di area frontal dan parietal otak, yang menunjukkan peningkatan proses kognitif dan konsentrasi mental.
    • Salat juga terbukti memiliki manfaat psikologis dalam konteks stres pekerjaan. Sebuah studi di Kuala Lumpur terhadap 335 perawat Muslim menunjukkan bahwa salat membantu mengurangi stres pekerjaan dan meningkatkan kepuasan hidup. Dengan meningkatnya gangguan yang terkait dengan stres kronis di seluruh dunia, salat sebagai bentuk meditasi berbasis keimanan dapat menjadi pendekatan efektif untuk meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi manfaat medis salat, terutama untuk mendidik para dokter Muslim tentang potensi salat sebagai terapi holistik yang mengintegrasikan pikiran dan tubuh.
  4. Efek Kardiovaskular
    • Gerakan salat, seperti berdiri, rukuk, dan sujud, menyerupai latihan fisik ringan yang dapat meningkatkan sirkulasi darah dan menjaga kesehatan jantung.
    • Salat juga dapat membantu menurunkan tekanan darah melalui efek relaksasi yang ditimbulkannya.
    • Keterlibatan dalam aktivitas keagamaan, termasuk salat, dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular. Salat yang dilakukan minimal lima kali sehari melibatkan gerakan fisik seperti berdiri, sujud, dan duduk, yang setara dengan latihan fisik ringan. Al-Qur’an menganjurkan salat dilakukan dengan sungguh-sungguh, bukan dengan cara malas seperti yang dilakukan oleh kaum munafik. Gerakan fisik yang berulang, seperti berdiri dan duduk, sepanjang hari juga dapat membantu mencegah pembentukan trombosis vena dalam.
    • Penelitian oleh Doufesh dkk menunjukkan bahwa salat memengaruhi denyut jantung (HR) dan tekanan darah (BP). Tiga puluh subjek Muslim diminta melakukan salat secara nyata dan salat tiruan (hanya gerakan tanpa bacaan). Hasilnya menunjukkan perbedaan signifikan pada HR antara salat nyata dan tiruan, di mana posisi berdiri menghasilkan HR tertinggi dan sujud menghasilkan HR terendah. Selain itu, tekanan darah sistolik sedikit menurun setelah melakukan salat nyata
    • Penelitian lain juga menunjukkan bahwa keterlibatan dalam aktivitas keagamaan, termasuk salat, dikaitkan dengan tekanan darah yang lebih rendah. Al-Kandari menemukan bahwa individu yang rutin melaksanakan salat memiliki tekanan darah yang lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak. Aktivitas keagamaan ini memberikan dukungan sosial yang kuat, yang berkontribusi pada penurunan tekanan darah. Studi oleh dkk. juga menunjukkan bahwa individu dengan komitmen keagamaan tinggi memiliki tekanan darah ambulatori yang lebih rendah, baik saat terjaga  maupun saat tidur. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi manfaat gerakan salat bagi pasien dengan penyakit kardiovaskular.
  5. Efek Muskuloskeletal
    • Gerakan dalam salat melibatkan berbagai otot dan sendi, yang membantu menjaga fleksibilitas dan kekuatan tubuh.
    • Aktivitas ini juga dapat membantu mencegah kekakuan sendi dan meningkatkan postur tubuh.
    • Literatur yang ada menunjukkan bahwa beberapa otot tubuh, seperti biceps brachii, triceps brachii, pectoralis major, otot-otot scapular, rectus femoris, biceps femoris, tibialis anterior, dan gastrocnemius, diaktifkan selama berbagai postur dalam salat. Aktivasi otot ini memberikan kontribusi terhadap kesehatan fisik, seperti meningkatkan keseimbangan tubuh, baik pada individu sehat maupun pasien pasca-stroke. Selain itu, pelaksanaan salat secara rutin dapat mengurangi risiko berkembangnya osteoartritis lutut, meningkatkan kesehatan kardiovaskular, serta memberikan manfaat pada komposisi tubuh secara keseluruhan.
    • Sebagian besar otot dan sendi tubuh terlibat dalam pelaksanaan salat. Aktivitas ini cocok untuk hampir semua orang, termasuk lansia, karena dapat dianggap sebagai bentuk latihan peregangan. Gerakan fisik yang dilakukan selama salat bersifat sederhana dan lembut, sehingga aman untuk berbagai usia dan kondisi kesehatan. Kontraksi dan relaksasi otot yang dilakukan secara harmonis selama salat membantu meningkatkan fleksibilitas otot tanpa menyebabkan kelelahan berlebihan.
    • Sebuah studi kecil melibatkan tujuh subjek dewasa untuk meneliti aktivitas listrik pada dua otot di permukaan dorsal (otot erector spinae dan trapezius) selama salat. Hasilnya menunjukkan bahwa kedua otot tersebut mempertahankan keseimbangan antara kontraksi dan relaksasi selama posisi rukuk dan sujud.
    • Salat terdiri dari minimal dua rakaat, di mana setiap rakaat melibatkan tujuh postur. Dalam salat Subuh, misalnya, seorang Muslim harus melakukan dua rakaat atau 14 postur berturut-turut. Secara keseluruhan, seorang Muslim diwajibkan untuk melakukan setidaknya 119 postur setiap hari, 3570 postur setiap bulan, dan 42.840 postur setiap tahun. Jika seseorang mulai salat sejak baligh dan hidup hingga usia rata-rata 60 tahun, maka ia akan melakukan lebih dari 1.927.800 postur salat sepanjang hidupnya.
    • Aspek terapeutik salat dalam meningkatkan kesejahteraan fisik dan psikologis telah dibahas oleh berbagai penulis, terutama dalam kaitannya dengan manfaat muskuloskeletal. Manfaat tersebut mencakup pemeliharaan keseimbangan postural, peningkatan tonus otot, perbaikan sirkulasi darah, dan kemungkinan peran perlindungan terhadap osteoartritis (OA) pada sendi yang menanggung beban tubuh.
    • Dalam sebuah studi prospektif, 46 pasien yang telah melaksanakan salat selama minimal 10 tahun dibandingkan dengan 40 pasien yang tidak melaksanakan salat. Hasilnya menunjukkan bahwa salat tidak memiliki efek negatif terhadap osteoartritis pada lutut dan pinggul.
    • Penelitian oleh Chokkhanchitchai mempelajari pengaruh salat terhadap prevalensi dan tingkat keparahan osteoartritis lutut pada populasi lanjut usia di Thailand dengan etnis yang sama tetapi agama berbeda. Studi ini melibatkan 153 penganut agama Buddha dan 150 Muslim yang berusia di atas 50 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa prevalensi nyeri lutut lebih tinggi pada penganut Buddha dibandingkan Muslim. Prevalensi osteoartritis juga lebih rendah pada Muslim dibandingkan penganut Buddha. Hal ini diduga karena kebiasaan salat yang dilakukan sejak kecil, yang melibatkan fleksi lutut dalam, dapat meregangkan jaringan lunak di sekitar lutut dan mengurangi kekakuan tulang rawan sendi.
Penutup
Salat adalah intervensi non-farmakologis yang memiliki berbagai manfaat kesehatan. Sebagai sumber daya yang tersedia secara luas, salat dapat dimasukkan dalam program perawatan holistik dan rehabilitasi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan pasien. Studi lebih lanjut diperlukan untuk memahami mekanisme spesifik di balik efek positif salat terhadap kesehatan dan bagaimana praktik ini dapat diintegrasikan secara efektif dalam pendekatan medis modern.

Salat adalah aktivitas spiritual dan fisik yang melibatkan hampir semua otot tubuh tanpa menyebabkan kelelahan otot, sekaligus memberikan ketenangan pada tubuh dan jiwa. Interaksi antara sistem saraf pusat dan sistem saraf otonom selama salat membantu relaksasi dan mengurangi kecemasan bagi mereka yang melakukannya secara rutin. Salat mencakup komponen kognitif dan motorik, meskipun penelitian mengenai hubungan antara religiusitas dan fungsi kognitif masih terbatas. Pelaksanaan salat dapat sedikit menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik, meskipun studi yang tersedia masih sangat awal dan memerlukan penelitian lebih lanjut terkait efek salat pada sistem kardiovaskular. Praktik salat sebagai bentuk pengobatan tubuh dan pikiran dapat membantu pencegahan penyakit kronis seperti gangguan muskuloskeletal degeneratif dan meringankan gejala penyakit kronis. Aktivitas fisik dalam salat juga bermanfaat dalam proses rehabilitasi pasien geriatrik dengan disabilitas melalui peningkatan aliran darah dan kebugaran muskuloskeletal. Namun, sebagian besar penelitian tentang salat melibatkan jumlah subjek yang kecil, sehingga diperlukan penelitian kuantitatif dan kualitatif yang lebih mendalam dengan populasi yang lebih besar untuk menghasilkan data yang lebih akurat.

DAFTAR PUSTAKA

  • Chamsi-Pasha M, Chamsi-Pasha H. A review of the literature on the health benefits of Salat (Islamic prayer). Med J Malaysia. 2021 Jan;76(1):93-97. PMID: 33510116.
  • Osama M, Malik RJ. Salat (Muslim prayer) as a therapeutic exercise. J Pak Med Assoc. 2019 Mar;69(3):399-404. PMID: 30890834.
  • Saniotis A. Understanding mind/body medicine from muslim religious practices of salat and dhikr. J Relig Health 2018; 57(3): 849-57.
  • Mueller PS, Plevak DJ, Rummans TA. Religious involvement, spirituality, and medicine: implications for clinical practice. Mayo Clin Proc 2001; 76(12): 1225-35.
  • Levin JS. How religion influences morbidity and health: reflections on natural history, salutogenesis and host resistance. Soc Sci Med 1996; 43: 849-64.
  • Strawbridge WJ, Cohen RD, Shema SJ, Kaplan GA. Frequent attendance at religious services and mortality over 28 years. Am J Public Health 1997; 87: 957-61.
  • Koenig HG, Cohen HJ, George LK, Hays JC, Larson DB, Blazer Attendance at religious services, interleukin-6, and other biological parameters of immune function in older adults. Int J Psychiatry Med 1997; 27: 233-50.
  • Rasic D, Robinson JA, Bolton J, Bienvenu OJ, Sareen J.Longitudinal relationships of Religious worship attendance and spirituality with major depression, anxiety disorders, and suicidal ideation and attempts: findings from the Baltimore epidemiologic catchment area study. J Psychiatr Res 2011; 45: 848-54.
  • O’Connor PJ, Pronk NP, Tan A, Whitebird RR. Characteristics of adults who use prayer as an alternative Am J Health Promot 2005; 19(5): 369-75.
  • Al-Bar, M. A, & Chamsi-Pasha, H. Contemporary bioethics: Islamic Springer (Open access), 2015. Accessed from http://link.springer.com/book/10.1007/978-3-319-18428-9.
  • Sayeed SA, Prakash A. The Islamic prayer (Salah/Namaaz) and yoga togetherness in mental health. Indian J Psychiatry 2013; 55: 224-30.
  • Koenig HG, Al Shohaib Health and Well-Being in Islamic Societies: Background, Research, and Applications. Springer International Publishing,Switzerland ISBN 978-3-319-05873-3.2014.
  • Majeed A. Salat offset the negative health effect of stress. Inter J Adv Res 2016; 4(2): 339-43
  • Yucel S. The effects of prayer on Muslim patients’ well-being. Boston University School of Theology.2007. [cited October 2020] Accessed from https://hdl.handle.net/2144/40
  • Doufesh H, Ibrahim F, Ismail NA, Wan Ahmad WA. Effect of Muslim prayer (salat) on α electroencephalography and its relationship with autonomic nervous system J Altern Complement Med 2014; 20(7): 558-62.
  • Levine GN, Lange RA, Bairey-Merz CN, Davidson RJ, Jamerson K, Mehta PK et American Heart Association Council on Clinical Cardiology; Council on Cardiovascular and Stroke Nursing; and Council on Hypertension. Meditation and Cardiovascular Risk Reduction: A Scientific Statement from the American Heart Association. J Am Heart Assoc 2017; 6(10): e002218.
  • Doufesh H, Faisal T, Lim KS, Ibrahim EEG spectral analysis on Muslim prayers. Appl. Psychophysiol Biofeedback 2012; 37(1): 11-8.
  • Doufesh H, Ibrahim F, Safari M. Effects of Muslims praying (salat) on EEG gamma activity. Complement Ther Clin Pract 2016; 24: 6-10.
  • Achour M, Muhamad A, Syihab AH, Mohd Nor MR, Mohd Yusoff MYZ. Prayer moderating job stress among muslim nursing staff at the University of Malaya Medical Centre (UMMC). J Relig Health 2019;10.1007/s10943- 19-00834-6. doi:10.1007/s10943-019-00834-6
  • Inzelberg R, Afgin AE, Massarwa M, Schechtman E, Israeli-Korn SD, Strugatsky R et al. Prayer at midlife is associated with reduced risk of cognitive decline in Arabic Curr Alzheimer Res2013;10(3):340-6.
  • Alabdulwahab SS, Kachanathu SJ, Oluseye K. Physical activity associated with prayer regimes improves standing dynamic balance of healthy J Phys Ther Sci 2013; 25(12): 1565-8.
  • Chamsi-Pasha, H. Islam and the cardiovascular patient – pragmatism in Br J Cardiol 2013; 20(3): 1-2.
  • Doufesh H, Ibrahim F, Ismail NA, Wan Ahmad Assessment of heart rates and blood pressure in different salat positions. J Phys Ther Sci 2013, 25: 211-4.
  • Al-Kandari Religiosity and its relation to blood pressure among selected Kuwaitis. J Biosoc Sci 2003; 35(3): 463-72.
  • Byrne JT, Price JH. In sickness and in health: the effects of religion. Health Education 1979; 10(1): 6-10.
  • Steffen PR, Hinderliter AL, Blumenthal JA, Sherwood A. Religious coping, ethnicity, and ambulatory blood pressure. Psychosom Med 2001; 63(4): 523-30.
  • Rabbi MF, Ghazali KH, Mohd II, Alqahtani M, Altwijri O, Ahamed NU. Investigation of the EMG activity of erector spinae and trapezius muscles during Islamic prayer (Salat). J Back Musculoskelet Rehabil 2018; 31(6): 1097-104.
  • Imamoglu O. Benefits of prayer as a physical activity. International Journal of Science Culture and Sport (IntJSCS) 2016; (SI 1): 306-18.
  • Reza MF, Urakami Y, Mano Y. Evaluation of a new physical exercise taken from salat (prayer) as a short-duration and frequent physical activity in the rehabilitation of geriatric and disabled Ann Saudi Med 2002; 22(3-4): 177-80.
  • Al-Barzinjy N, Rasool MT, & Al-Dabbagh TQ. Islamic praying and osteoarthritis changes of weight bearing Duhok Medical 2009; 3(1): 33-44.
  • Osama M, Malik RJ. Salat (Muslim prayer) as a therapeutic exercise. J Pak Med Assoc 2019; 69(3): 399-404.
  • Yilmaz S, Kart-Köseoglu H, Guler O, Yucel E. Effect of prayer on osteoarthritis and osteoporosis. Rheumatol Int 2008; 28(5): 429-3.
  • Chokkhanchitchai S, Tangarunsanti T, Jaovisidha S, Nantiruj K, Janwityanujit S. The effect of religious practice on the prevalence of knee Clin Rheumatol 2010; 29(1): 39-44.
  • Ghous M, Malik Health benefits of salat (prayer); neurological rehabilitation. Professional Med J 2016; 23(8): 887-8.
  • Safee M KM, Wan Abas WAB, Ibrahim F, Abu Osman Electromyographic activity of the upper limb muscle during specific salat’s position and exercise. Inter J Appl Phys & Math 2012; 2(6): 433-5.
  • Pandey A, Singh AK, Kumar S, Chaturvedi M, Verma S, Agarwal P et al. The prevalence of cervical spondylosis in Muslim community with special reference to Namaz in Agra. Internet Journal of Rheumatology and Clinical Immunology (IJRCI) 2017; 5(1): 1-5
  • Silva AB, Sousa N, Azevedo LF, Martins Physical activity to improve erectile function: a systematic review of intervention studies. Sex Med 2018; 6(2): 75-89.
  • Ibrahim F, Sian TC, Shanggar K, Razack AH. .Muslim prayer movements as an alternative therapy in the treatment of erectile dysfunction: a preliminary study. J Phys Ther Sci 2013; 25(9): 1087-91.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *