MAB Portal Islam

MAB MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. "Membangun Umat dengan Iman, Ilmu, Sains, dan Teknologi."

PARENTING ISLAM: Ulama dan Sains Terkini Ungkap Traveling Jadikan Anak Tangguh

Abstrak

Traveling atau safar merupakan aktivitas yang tidak hanya memberikan pengalaman baru, tetapi juga membentuk karakter tangguh, mandiri, dan berwawasan luas pada anak. Dalam perspektif Islam, perjalanan memiliki dimensi ibadah, ilmu, dan tarbiyah yang sangat bernilai, sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Hadits-hadits Nabi menjelaskan bahwa perjalanan membuka wawasan, mempererat ukhuwah, serta melatih kesabaran. Di sisi lain, penelitian ilmiah modern menunjukkan bahwa anak yang sering melakukan perjalanan memiliki daya adaptasi lebih baik, kesehatan mental lebih stabil, serta keterampilan sosial yang berkembang. Artikel ini membahas traveling dalam pandangan Islam, ulama kontemporer, serta manfaatnya bagi perkembangan anak menurut sains, sekaligus memberikan strategi praktis agar keluarga dapat traveling secara murah meriah.


Traveling atau safar merupakan aktivitas yang telah dilakukan manusia sejak dahulu untuk tujuan perdagangan, dakwah, ilmu, maupun rekreasi. Dalam kehidupan modern, traveling sering dipandang sebagai sarana hiburan, padahal sesungguhnya ia memiliki manfaat mendalam bagi pembentukan karakter, khususnya pada anak. Melalui perjalanan, anak belajar beradaptasi dengan lingkungan baru, menghadapi tantangan, serta memperluas wawasan tentang budaya, bahasa, dan alam.

Islam memberikan perhatian besar terhadap perjalanan, baik dalam konteks ibadah seperti haji dan umrah, maupun dalam pencarian ilmu. Rasulullah ﷺ sendiri menempuh berbagai perjalanan yang sarat hikmah, dan umat Islam didorong untuk menjelajahi bumi guna mengambil pelajaran. Hal ini selaras dengan penelitian modern yang menegaskan bahwa perjalanan memberikan stimulus penting bagi perkembangan otak, kecerdasan emosional, dan ketahanan mental anak.

Traveling Menurut Hadits dan Ulama Kontemporer

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa safar (perjalanan) bukan hanya rekreasi, tetapi mengandung pelajaran, kesulitan, dan nilai ibadah. Beliau bersabda:
حديث ١
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ:
«السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ نَوْمَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ، فَإِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ»
(رواه البخاري رقم ١٨٠٤، ومسلم رقم ١٩٢٧، صحيح)
Artinya: “Safar itu adalah potongan dari adzab. Ia menghalangi seseorang dari tidur, makanan, dan minumannya. Maka apabila salah seorang di antara kalian telah selesai dari kebutuhannya, hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya.” (HR. Bukhari no. 1804 dan Muslim no. 1927, shahih).

Hadits ini menunjukkan bahwa perjalanan melatih kesabaran, ketangguhan, serta mengingatkan agar perjalanan tidak hanya untuk hiburan, tetapi diarahkan pada tujuan yang bermanfaat

Abdullah Nashih Ulwan dalam kitabnya Tarbiyatul Aulad fil Islam menekankan bahwa anak membutuhkan pengalaman langsung dalam proses pendidikan. Beliau menyebutkan pentingnya melatih anak dengan pembiasaan, praktik nyata, dan menghadapkan mereka pada berbagai situasi kehidupan untuk melatih kemandirian dan akhlak. Konsep ini selaras dengan gagasan traveling sebagai sarana tarbiyah bil hal.

Syekh Muhammad al-Ghazali (ulama kontemporer Mesir) menegaskan bahwa pendidikan tidak cukup hanya dengan teori, tetapi harus dengan pengalaman nyata agar anak mampu menghadapi kehidupan dengan lebih matang.

Yusuf al-Qaradawi dalam beberapa karya tarbiyahnya menyinggung bahwa safar dan interaksi dengan lingkungan baru termasuk cara efektif membentuk pemikiran yang luas, akhlak sosial, serta pemahaman Islam yang mendalam.

Prof. Dr. Abdurrahman an-Nahlawi dalam bukunya Ushul at-Tarbiyah al-Islamiyyah juga menggarisbawahi pentingnya pendidikan melalui interaksi langsung dengan lingkungan, yang membantu anak belajar nilai-nilai Islam secara praktis, bukan hanya teoritis.

Dalam konteks pendidikan anak, para pakar tarbiyah modern seperti Abdullah Nashih Ulwan, Yusuf al-Qaradawi, Muhammad al-Ghazali, dan Abdurrahman an-Nahlawi melihat traveling sebagai media tarbiyah bil hal (pendidikan melalui pengalaman langsung). Anak-anak yang diajak melakukan perjalanan akan lebih cepat belajar kemandirian, menghargai perbedaan, serta terbiasa menghadapi situasi yang tidak nyaman dengan sikap positif. Traveling juga membentuk mental tangguh, kepekaan sosial, dan rasa ingin tahu yang sehat. Dengan demikian, traveling dapat menjadi bagian dari pendidikan integral yang sesuai dengan tuntunan Islam dan kebutuhan zaman.

Manfaat Traveling pada Anak Menurut Penelitian Ilmiah

Penelitian dalam bidang psikologi perkembangan menunjukkan bahwa anak yang sering melakukan perjalanan memiliki kemampuan adaptasi lebih baik. Lingkungan baru memaksa otak anak untuk bekerja lebih fleksibel, sehingga memperkuat kreativitas, imajinasi, dan kemampuan problem solving. Studi dari Journal of Applied Developmental Psychology (2023) bahkan menegaskan bahwa pengalaman lintas lingkungan mempercepat perkembangan kognitif karena otak anak belajar merespons berbagai situasi yang dinamis.

Traveling juga terbukti memberikan dampak positif bagi kesehatan mental anak. Pengalaman baru yang menyenangkan menurunkan risiko stres, kecemasan, dan depresi, sekaligus meningkatkan rasa bahagia. Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology (2024) menemukan bahwa anak yang terpapar aktivitas outdoor dan perjalanan lebih jarang mengalami gejala burnout akademik, karena mereka memiliki stimulasi mental yang seimbang antara belajar dan rekreasi. Anak-anak ini juga lebih bersemangat dalam belajar karena terbiasa melihat dunia dengan perspektif yang lebih luas.

Selain itu, traveling memperkuat keterampilan sosial anak. Interaksi dengan orang baru, budaya yang berbeda, dan lingkungan yang beragam membentuk pribadi yang lebih terbuka, toleran, serta memiliki empati tinggi. Studi dalam Child Development (2023) menunjukkan bahwa anak-anak yang sering bepergian memiliki kemampuan komunikasi sosial lebih baik dan tingkat kepekaan emosional yang lebih tinggi dibandingkan anak yang hanya tumbuh di lingkungan homogen. Hal ini membuktikan bahwa perjalanan mampu menjadi media efektif dalam pendidikan karakter sosial.

Manfaat traveling juga tampak pada aspek kesehatan fisik. Aktivitas perjalanan biasanya melibatkan jalan kaki, eksplorasi alam, dan kegiatan luar ruang yang bermanfaat bagi perkembangan motorik. Selain itu, anak belajar menjaga pola makan, tidur, dan kebersihan di tempat berbeda, yang pada akhirnya meningkatkan daya tahan tubuh. Riset dari International Journal of Environmental Research and Public Health (2024) menyebutkan bahwa anak-anak yang rutin melakukan aktivitas outdoor melalui traveling menunjukkan perkembangan fisik lebih seimbang, risiko obesitas lebih rendah, dan sistem imun yang lebih kuat dibandingkan dengan anak yang jarang beraktivitas di luar rumah.

PARENTING ISLAM: Ulama dan Sains Terkjni Ungkap Traveling Jadikan Anak Tangguh

Tabel Tips Strategi Traveling Murah Meriah

Strategi Penjelasan
Pilih Waktu Low Season Biaya transportasi dan akomodasi lebih murah di luar musim liburan.
Gunakan Transportasi Publik Kereta, bus, atau carpooling lebih hemat dibanding pesawat.
Bawa Bekal Sendiri Mengurangi biaya makan sekaligus menjaga kesehatan anak.
Pilih Destinasi Edukatif Dekat Taman, museum, atau alam sekitar kota bisa jadi alternatif berbiaya rendah.
Manfaatkan Promo & Diskon Gunakan aplikasi atau platform wisata yang sering memberikan penawaran khusus.
Menginap di Homestay/Guesthouse Lebih hemat daripada hotel, sekaligus memberi pengalaman lokal yang hangat.

Kesimpulan

Traveling bagi anak bukan sekadar rekreasi, melainkan media pendidikan karakter yang bernilai tinggi. Dalam Islam, perjalanan memiliki kedudukan istimewa karena menjadi sarana ibadah, dakwah, dan pembelajaran. Hadits Nabi dan pandangan ulama kontemporer menekankan pentingnya safar untuk memperluas wawasan dan melatih ketangguhan. Penelitian ilmiah modern pun menguatkan bahwa traveling mendukung perkembangan mental, sosial, fisik, dan kognitif anak. Dengan strategi yang tepat, traveling bisa dilakukan secara murah meriah tanpa kehilangan nilai edukatif dan spiritual. Oleh karena itu, orang tua hendaknya menjadikan traveling sebagai bagian dari pendidikan keluarga yang Islami, sehat, dan berdaya guna.


 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *