Shalat Sunnah Berdasarkan Hadits Shahih: Jenis, Dalil, dan Keutamaannya
Abstrak
Shalat sunnah merupakan salah satu amalan utama yang dianjurkan dalam Islam untuk menyempurnakan kekurangan ibadah wajib. Banyak jenis shalat sunnah yang dijelaskan dalam hadits-hadits shahih, mulai dari rawatib, witir, dhuha, hingga tahajud. Artikel ini menguraikan jenis-jenis shalat sunnah yang berdasar pada hadits shahih lengkap dengan nomor sanad, keutamaan masing-masing, serta membahas shalat sunnah yang tidak sesuai tuntunan hadits shahih agar umat Islam lebih berhati-hati. Harapannya, tulisan ini menjadi panduan untuk menghidupkan sunnah dalam kehidupan sehari-hari.
Shalat sunnah memiliki posisi penting dalam Islam sebagai bentuk ibadah tambahan yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah ﷻ. Ibadah ini bukanlah pengganti kewajiban, tetapi pelengkap yang berfungsi menutupi kekurangan dari shalat wajib yang mungkin dilakukan tidak sempurna. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ banyak memberikan teladan dalam pelaksanaan berbagai shalat sunnah, baik yang terkait waktu, sebab, maupun tempat.
Banyak hadits shahih yang meriwayatkan tentang shalat-shalat sunnah dengan keutamaan yang besar di sisi Allah. Dalam hadits Qudsi, Allah ﷻ berfirman, “Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya” (HR. Bukhari no. 6502). Hal ini menunjukkan keutamaan besar shalat sunnah dalam meraih cinta dan ridha Allah ﷻ.
Namun, dalam praktiknya, sebagian umat Islam terkadang menjalankan shalat sunnah yang tidak memiliki dasar kuat dari hadits shahih, atau bahkan bertentangan dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Hal ini perlu diluruskan agar ibadah yang dilakukan benar-benar sesuai sunnah dan diterima di sisi Allah. Artikel ini mengulas hal tersebut secara rinci.
Tabel Shalat Rawatib
Shalat sunnah rawatib adalah shalat sunnah yang dikerjakan mengiringi shalat wajib, baik sebelum (qabliyah) maupun sesudahnya (ba’diyah). Shalat ini sangat dianjurkan karena Rasulullah ﷺ secara konsisten melaksanakannya sebagai pelengkap dan penyempurna kekurangan shalat wajib. Dalam hadits shahih, Nabi ﷺ bersabda: “Tidaklah seorang hamba Muslim yang shalat karena Allah setiap hari dua belas rakaat selain yang wajib, melainkan Allah bangunkan untuknya rumah di surga” (HR. Muslim no. 728). Dua belas rakaat ini adalah jumlah rawatib sunnah yang paling utama dan muakkadah (sangat ditekankan).
Rincian shalat rawatib muakkadah adalah dua rakaat sebelum Subuh, dua atau empat rakaat sebelum Dzuhur, dua rakaat setelah Dzuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dan dua rakaat setelah Isya. Dari semua rawatib ini, shalat dua rakaat sebelum Subuh memiliki keutamaan khusus. Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkannya, bahkan dalam perjalanan sekalipun. Beliau bersabda: “Dua rakaat fajar (sebelum Subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya” (HR. Muslim no. 725). Ini menunjukkan betapa agung kedudukannya di sisi Allah ﷻ.
Shalat sunnah rawatib berfungsi menambal kekurangan shalat wajib seseorang, baik dari sisi kekhusyukan, bacaan, maupun syarat-syaratnya. Selain itu, ia menjadi sebab seseorang mendapat kedudukan mulia di surga karena keistikamahannya dalam beribadah. Para ulama sangat menganjurkan rawatib dilakukan secara rutin, terutama bagi mereka yang ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan amal yang dicintai-Nya. Shalat ini juga menjadi bukti keseriusan seorang Muslim dalam menjaga hubungannya dengan Allah ﷻ di setiap waktu.
Tabel Shalat Sunnah Rawatib: Jumlah Rakaat dan Dalil
| Shalat Rawatib | Jumlah Rakaat | Dalil Shahih |
|---|---|---|
| Qabliyah Subuh | 2 rakaat | HR. Bukhari no. 1115, Muslim no. 725 |
| Qabliyah Dzuhur | 2 atau 4 rakaat | HR. Muslim no. 730 |
| Ba’diyah Dzuhur | 2 rakaat | HR. Bukhari no. 937, Muslim no. 729 |
| Ba’diyah Maghrib | 2 rakaat | HR. Bukhari no. 1180, Muslim no. 729 |
| Ba’diyah Isya | 2 rakaat | HR. Muslim no. 730 |
✅ Jumlah 12 rakaat ini berdasarkan hadits Nabi ﷺ:
“Tidaklah seorang hamba Muslim yang shalat karena Allah setiap hari dua belas rakaat selain yang wajib, melainkan Allah bangunkan untuknya rumah di surga” (HR. Muslim no. 728).
✅ Dua rakaat sebelum Subuh adalah rawatib paling utama yang sangat ditekankan.
Tabel Jenis Shalat Sunnah Berdasarkan Hadits Shahih
| Jenis Shalat Sunnah | Jumlah Rakaat | Hadits Shahih (No.) | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Shalat Rawatib Qabliyah Subuh | 2 rakaat | HR. Bukhari no. 1115, Muslim no. 725 | Sangat ditekankan, tidak pernah ditinggal Nabi ﷺ |
| Shalat Rawatib Qabliyah Dzuhur | 2 atau 4 rakaat | HR. Muslim no. 730 | Sunnah muakkadah |
| Shalat Rawatib Ba’diyah Dzuhur | 2 rakaat | HR. Bukhari no. 937, Muslim no. 729 | Sunnah muakkadah |
| Shalat Rawatib Ba’diyah Maghrib | 2 rakaat | HR. Bukhari no. 1180, Muslim no. 729 | Sunnah muakkadah |
| Shalat Rawatib Ba’diyah Isya | 2 rakaat | HR. Muslim no. 730 | Sunnah muakkadah |
| Shalat Dhuha | 2-8 rakaat | HR. Muslim no. 720 | Waktu pagi hingga menjelang zawal |
| Shalat Witir | 1-11 rakaat | HR. Bukhari no. 998, Muslim no. 736 | Penutup malam |
| Shalat Tahajud | Tidak terbatas (umumnya 8-13) | HR. Bukhari no. 1145, Muslim no. 738 | Dilakukan di malam hari |
| Shalat Tarawih | 8-20 rakaat | HR. Bukhari no. 2010 | Di bulan Ramadhan |
| Shalat Istikharah | 2 rakaat | HR. Bukhari no. 1166 | Untuk memohon petunjuk Allah |
| Shalat Tahiyatul Masjid | 2 rakaat | HR. Bukhari no. 444, Muslim no. 714 | Dilakukan saat masuk masjid |
| Shalat Gerhana (Kusuf/Khusuf) | 2 rakaat (dengan 2 ruku tiap rakaat) | HR. Bukhari no. 1043, Muslim no. 901 | Saat terjadi gerhana |
| Shalat Istisqa’ (Minta Hujan) | 2 rakaat | HR. Bukhari no. 1013, Muslim no. 894 | Dilakukan saat minta hujan |
| Shalat Jenazah | 4 takbir (tanpa ruku/sujud) | HR. Bukhari no. 1324, Muslim no. 948 | Dilakukan untuk jenazah Muslim |
| Shalat Sunnah di Rumah (Mutlak) | Tidak terbatas | HR. Bukhari no. 731, Muslim no. 781 | Sunnah menghidupkan rumah dengan shalat sunnah |
✅ Semua shalat di atas memiliki dasar hadits shahih.
✅ Jumlah rakaat sebagian fleksibel (misalnya Dhuha, Tahajud).
✅ Tata cara dan waktunya mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.
Keutamaan Shalat Sunnah Berdasarkan Hadits Shahih
Pertama, shalat sunnah menjadi sebab Allah ﷻ mencintai seorang hamba. Dalam hadits shahih yang diriwayatkan Bukhari no. 6502, Allah ﷻ menyebut bahwa amalan sunnah adalah jalan mendekat kepada-Nya sehingga Allah mencintai pelakunya. Cinta Allah ini mendatangkan penjagaan, pertolongan, dan keberkahan dalam hidup.
Kedua, shalat sunnah seperti rawatib akan menjadi pelindung dari siksa api neraka. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa menjaga 12 rakaat shalat sunnah dalam sehari semalam, Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga” (HR. Muslim no. 728). Ini menunjukkan betapa besar pahala shalat sunnah rawatib, khususnya sebelum dan sesudah shalat wajib.
Ketiga, shalat sunnah Dhuha mendatangkan keberkahan rezeki. Dalam hadits HR. Muslim no. 720, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Dhuha adalah sedekah bagi setiap persendian tubuh, dan shalat ini menjadi sebab Allah melapangkan rezeki serta mencukupi kebutuhan hambanya di hari itu.
Keempat, shalat sunnah Witir menjadi penutup yang sempurna bagi shalat malam. Rasulullah ﷺ bersabda, “Jadikanlah akhir shalat malam kalian dengan witir” (HR. Bukhari no. 998). Witir menjadi ciri khas orang beriman dan penanda kesempurnaan qiyamul lail.
Kelima, shalat sunnah seperti Tahajud adalah ibadah yang sangat dicintai Allah di waktu malam. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam” (HR. Muslim no. 1163). Shalat malam adalah ibadah yang mengangkat derajat hamba dan mendatangkan pengampunan dosa.
Shalat Sunnah yang Tidak Sesuai Hadits Shahih
Pertama, ada sebagian praktik shalat sunnah yang tidak sesuai tuntunan hadits shahih seperti shalat Raghaib (malam Jumat pertama bulan Rajab). Shalat ini tidak memiliki dalil shahih dan banyak ulama menyebutnya sebagai bid’ah yang tidak diajarkan Nabi ﷺ. Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar menyebut shalat ini batil karena tidak berdasar hadits yang valid.
Kedua, shalat sunnah khusus di malam Nisfu Sya’ban dengan jumlah rakaat tertentu (misalnya 100 rakaat) juga tidak ada dalil shahih yang mendukungnya. Mayoritas ulama ahli hadits menyatakan bahwa hadits tentang keutamaan khusus shalat di malam tersebut adalah dhaif bahkan maudhu’ (palsu). Karena itu, tidak boleh dijadikan dasar ibadah.
Ketiga, shalat sunnah yang ditentukan waktunya pada saat-saat yang dilarang (misalnya shalat sunnah setelah Ashar hingga matahari terbenam) tanpa sebab syar’i juga tidak sesuai sunnah. Dalam hal ini, Rasulullah ﷺ secara tegas melarang shalat pada waktu-waktu tersebut sebagaimana hadits shahih Bukhari no. 1197 dan Muslim no. 827.
Kesimpulan
Shalat sunnah adalah ibadah mulia yang sangat ditekankan dalam Islam, berdasarkan hadits-hadits shahih yang kuat. Dengan memahami jenis, dalil, dan tata caranya, seorang Muslim dapat memperbanyak ibadah dengan benar dan sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ. Namun, penting pula untuk menjauhi shalat sunnah yang tidak berdasar hadits shahih agar ibadah tidak sia-sia dan terhindar dari bid’ah. Marilah kita bersama-sama menghidupkan sunnah shalat dengan ilmu yang benar agar meraih cinta dan ridha Allah ﷻ.
















Leave a Reply