Abstrak
Perdebatan tentang posisi Isa (Yesus) dalam Islam dan Kristen merupakan tema sentral dalam dialog lintas agama. Islam secara tegas memposisikan Isa sebagai nabi dan rasul Allah, sementara Kristen menjadikannya sebagai Anak Allah dan bagian dari Trinitas. Artikel ini membahas posisi Isa menurut Al-Qur’an dan Injil, serta mengkaji perkembangan konsep keilahian Yesus dalam sejarah Kristen, terutama pengaruh Paulus. Kajian ini juga menyoroti bagaimana kedua umat menyikapi perbedaan tersebut dalam kehidupan sosial, akademik, serta ranah dakwah dan apologetik modern.
Persoalan siapa Yesus (Isa as) menjadi pembeda paling mendasar antara ajaran Islam dan Kristen. Kedua agama sama-sama menghormati Isa, namun dengan posisi teologis yang sangat berbeda. Islam menempatkan Isa sebagai hamba Allah, utusan-Nya yang membawa Injil, dilahirkan secara mukjizat oleh Maryam, namun tetap manusia biasa. Sebaliknya, mayoritas Kristen memandang Yesus sebagai Tuhan inkarnasi, Anak Allah, bagian dari Trinitas.
Perbedaan pemahaman ini bukan sekadar isu akademik, melainkan berakar pada ajaran kitab suci masing-masing. Al-Qur’an secara eksplisit menolak keilahian Isa, sementara Injil kanonik memberikan narasi yang beragam. Perkembangan sejarah Gereja, terutama pengaruh Paulus, turut mempengaruhi bagaimana ajaran tentang Yesus berkembang hingga menjadi doktrin resmi Kristen.
Nabi Isa Bukan Tuhan Menurut Islam
Dalam ajaran Islam, Nabi Isa a.s. diposisikan secara tegas sebagai hamba dan rasul Allah, bukan sebagai Tuhan. Allah berfirman dalam QS. An-Nisa (4): 171: “Sesungguhnya Al-Masih, Isa putra Maryam, hanyalah seorang rasul Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya… maka berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah mengatakan: (Tuhan itu) tiga.” Ayat ini secara eksplisit membantah konsep ketuhanan Isa dan Trinitas, serta menyeru umat manusia untuk tetap berpegang pada akidah tauhid murni.
Mukjizat kelahiran Isa a.s. tanpa ayah memang menjadi bukti kekuasaan Allah, namun bukan dasar ketuhanan. Allah menegaskan dalam QS. Ali Imran (3): 47, ketika Maryam bertanya tentang kelahiran tanpa ayah, Allah berfirman: “Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia berkehendak menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: ‘Jadilah!’, maka jadilah ia.” Bahkan, dalam QS. Ali Imran (3): 59, Allah menyamakan penciptaan Isa dengan Adam yang diciptakan tanpa ayah maupun ibu, memperlihatkan bahwa mukjizat kelahiran Isa tetap dalam kendali kehendak dan kuasa Allah.
Al-Qur’an juga secara gamblang menegaskan sifat kemanusiaan Isa. Dalam QS. Al-Maidah (5): 75 disebutkan: “Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang telah didahului oleh beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar. Keduanya biasa makan makanan.” Kebutuhan Isa dan Maryam untuk makan menunjukkan dengan jelas bahwa keduanya adalah makhluk, karena Tuhan tidak bergantung pada makan, minum, atau kebutuhan fisik lainnya.
Di akhirat kelak, Isa a.s. akan secara terbuka mengingkari setiap klaim yang menjadikannya sebagai Tuhan. Dalam QS. Al-Maidah (5): 116-117, Allah mengabadikan dialog-Nya dengan Isa: “Apakah engkau (Isa) mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah? Isa menjawab: Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku…” Ayat ini menunjukkan sikap Isa yang senantiasa menjaga kemurnian tauhid dalam risalahnya.
Islam juga menolak keyakinan penyaliban Isa yang menjadi dasar utama doktrin penebusan dosa dalam Kekristenan. Dalam QS. An-Nisa (4): 157-158 ditegaskan bahwa Isa tidak disalib, melainkan diangkat oleh Allah. “Mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka… tetapi Allah telah mengangkatnya kepada-Nya.” Ini membuktikan bahwa ide pengorbanan Isa sebagai Tuhan penebus dosa tidak sesuai dengan keyakinan Islam.
Dalam berbagai hadits shahih, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa Isa akan kembali di akhir zaman sebagai hamba Allah. Di antaranya, HR. Bukhari no. 3448 dan HR. Muslim no. 2937 menyebutkan bahwa Isa akan turun kembali untuk mematahkan salib, membunuh Dajjal, menegakkan keadilan, dan meneguhkan tauhid. Misi Isa saat kembali pun menegaskan bahwa ia bukan Tuhan, melainkan makhluk Allah yang melanjutkan tugas kenabian.
Seluruh nabi yang diutus oleh Allah, termasuk Nabi Isa a.s., memiliki misi utama yang sama: menyeru manusia untuk menyembah Allah semata. QS. Al-Anbiya (21): 25 menegaskan: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah Aku.” Dengan demikian, ajaran Isa sesungguhnya sejalan dengan tauhid murni sebagaimana diajarkan oleh seluruh nabi.
Kesimpulannya, dari berbagai nash Al-Qur’an maupun hadits shahih, Islam dengan sangat jelas mengajarkan bahwa Nabi Isa a.s. bukanlah Tuhan, melainkan manusia yang dimuliakan, dilahirkan secara mukjizat, dan diutus sebagai rasul yang menyeru umatnya kepada tauhid. Setiap bentuk pengkultusan terhadap dirinya merupakan penyimpangan dari misi aslinya.
Nabi Isa a.s. (Yesus) Berpendapat Bahwa Dirinya Bukan Tuhan Menurut Al-Qur’an dan Injil
Dalam Al-Qur’an, Nabi Isa a.s. secara tegas dan gamblang menolak anggapan bahwa dirinya adalah Tuhan. Hal ini tampak jelas dalam QS. Al-Maidah: 116-117, di mana Allah berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku dua Tuhan selain Allah?’ Isa menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau mengetahuinya.'” Ayat ini menjadi bukti kuat dalam keyakinan umat Islam bahwa Isa hanya seorang nabi dan hamba Allah yang menyeru manusia kepada tauhid.
Dalam Injil, banyak pula perkataan Nabi Isa a.s. (Yesus) yang menunjukkan secara eksplisit keterbatasannya sebagai manusia biasa, bukan sebagai Tuhan. Salah satu contohnya terdapat dalam Markus 10:18, ketika Yesus berkata: “Mengapa engkau menyebut Aku baik? Tidak ada yang baik selain dari pada Allah saja.” Ungkapan ini menegaskan bahwa kebaikan hakiki hanyalah milik Allah, sedangkan Nabi Isa a.s. (Yesus) memposisikan dirinya di bawah kesempurnaan Allah, bukan sebagai Zat Yang Mahabaik.
Keterbatasan Nabi Isa a.s. (Yesus) juga tampak dalam pengakuannya terkait ketidaktahuannya akan waktu terjadinya kiamat. Dalam Markus 13:32, Yesus menyatakan: “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja.” Fakta bahwa Yesus tidak mengetahui hari kiamat membuktikan bahwa ia bukanlah Tuhan yang Maha Mengetahui segala sesuatu (Al-‘Alim), sifat yang mutlak dimiliki Allah semata.
Dalam Yohanes 14:28, Nabi Isa a.s. (Yesus)secara eksplisit menunjukkan adanya perbedaan kedudukan antara dirinya dan Allah: “Bapa lebih besar daripada Aku.” Pernyataan ini sangat penting, karena secara logis menafikan konsep kesetaraan antara Yesus dengan Tuhan dalam doktrin Trinitas. Jika Yesus sendiri mengakui bahwa Allah lebih besar darinya, maka jelas bahwa ia bukanlah Tuhan yang sejajar dengan Allah.
Kehambaan Nabi Isa a.s. (Yesus) juga sangat tampak dalam doanya yang penuh ketundukan kepada Allah. Dalam Matius 26:39, Yesus berdoa: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu daripada-Ku; tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Doa ini menunjukkan bahwa Yesus tunduk sepenuhnya pada kehendak Allah, sebagaimana layaknya seorang hamba yang memohon kepada Tuhannya.
Lebih jauh, Nabi Isa a.s. (Yesus) mengajarkan murid-muridnya untuk berdoa langsung kepada Allah, bukan kepada dirinya. Dalam Matius 6:9, Yesus berkata: “Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu.” Ia tidak pernah memerintahkan umatnya untuk berdoa kepadanya atau menyembah dirinya, melainkan mengarahkan seluruh ibadah kepada Allah Yang Maha Esa.
Keseluruhan ajaran Nabi Isa a.s. (Yesus)sesungguhnya konsisten dengan ajaran tauhid yang murni. Dalam Markus 12:29, Yesus mengutip hukum utama dari Taurat: “Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa.” Ini sejalan dengan ajaran tauhid dalam Islam yang menegaskan keesaan Allah secara mutlak (QS. Al-Ikhlas: 1-4). Dengan demikian, baik Al-Qur’an maupun Injil sama-sama menunjukkan bahwa Isa a.s. atau Yesus tidak pernah mengklaim dirinya sebagai Tuhan, melainkan hanya sebagai hamba dan utusan Allah.
Tabel perbandingan Nabi Isa (Yesus) Mengaku Bukan Tuhan tapi Nabi menurut Al-Qur’an dan Injil:
| Sumber | Ayat/Kutipan | Isi Pernyataan | Penjelasan |
|---|---|---|---|
| Al-Qur’an | QS. Al-Maidah: 116-117 | “Maha Suci Engkau (Allah), tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku.” | Isa menegaskan bahwa ia tidak pernah mengaku Tuhan, hanya menyampaikan risalah tauhid. |
| Al-Qur’an | QS. Maryam: 30 | “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku kitab (Injil) dan menjadikanku seorang nabi.” | Isa secara jelas menyebut dirinya hamba Allah dan seorang nabi, bukan Tuhan. |
| Al-Qur’an | QS. An-Nisa: 171 | “Sesungguhnya Al-Masih, Isa putra Maryam itu, hanyalah utusan Allah.” | Menegaskan status Isa sebagai utusan (rasul), bukan Tuhan atau anak Tuhan. |
| Injil | Markus 10:18 | “Mengapa engkau menyebut Aku baik? Tidak ada yang baik selain dari pada Allah saja.” | Yesus menolak disamakan dengan Allah dalam kesempurnaan kebaikan. |
| Injil | Markus 13:32 | “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu… Anak pun tidak, hanya Bapa saja.” | Yesus mengakui ketidaktahuannya atas waktu kiamat, menunjukkan keterbatasannya sebagai makhluk. |
| Injil | Yohanes 14:28 | “Bapa lebih besar daripada Aku.” | Yesus menyatakan kedudukan Allah lebih tinggi dari dirinya. |
| Injil | Matius 26:39 | “Ya Bapa-Ku… janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” | Yesus menunjukkan ketundukan penuh kepada kehendak Allah, ciri seorang hamba, bukan Tuhan. |
| Injil | Markus 12:29 | “Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa.” | Yesus mengajarkan tauhid murni, konsisten dengan ajaran tauhid dalam Islam. |
Isa (Yesus) Menurut Konsep Paulus dan Sejarah
Dalam Al-Qur’an, Nabi Isa a.s. secara eksplisit menolak klaim ketuhanan yang dinisbatkan kepadanya oleh sebagian manusia. Allah berfirman dalam QS. Al-Maidah: 116-117, mengisahkan dialog kelak di hari kiamat: “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku dua Tuhan selain Allah?’ Isa menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau mengetahuinya.'” Ayat ini menunjukkan dengan tegas bahwa Isa tidak pernah mengajarkan ketuhanan dirinya maupun ibunya, melainkan hanya menyampaikan tauhid.
Di dalam Injil pun terdapat banyak perkataan Nabi Isa a.s. (Yesus) yang justru menegaskan dirinya bukan Tuhan. Dalam Markus 10:18, Yesus berkata, “Mengapa engkau menyebut Aku baik? Tidak ada yang baik selain dari pada Allah saja.” Pernyataan ini sangat penting, karena Yesus sendiri menegaskan bahwa hanya Allah yang berhak disifati dengan kebaikan mutlak, sedangkan dirinya tunduk pada kesempurnaan Allah.
Nabi Isa a.s. (Yesus) juga menunjukkan keterbatasannya sebagai manusia dalam pengetahuannya. Dalam Markus 13:32, ia berkata, “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja.” Ketidaktahuan Yesus terhadap waktu kiamat menegaskan bahwa ia bukanlah Zat Yang Maha Mengetahui (Al-‘Alim), suatu sifat mutlak ketuhanan.
Dalam Injil Yohanes 14:28, Nabi Isa a.s. (Yesus) secara gamblang menyatakan adanya derajat yang berbeda antara dirinya dan Allah: “Bapa lebih besar daripada Aku.” Pernyataan ini menafikan konsep kesetaraan antara Bapa dan Anak yang menjadi pokok ajaran Trinitas. Jika Yesus sendiri mengakui posisi Allah lebih tinggi darinya, maka bagaimana mungkin ia disembah sebagai Tuhan?
Lebih jauh, dalam Matius 26:39, Nabi Isa a.s. (Yesus) berdoa dengan penuh ketundukan: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu daripada-Ku; tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Doa ini menegaskan kehambaan Yesus dan ketergantungannya sepenuhnya kepada kehendak Allah. Sifat kehambaan ini adalah ciri khas seorang nabi, bukan Tuhan.
Selain itu, Yesus mengajarkan umatnya untuk berdoa langsung kepada Allah, sebagaimana dalam doa yang masyhur dalam Matius 6:9: “Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu.” Ia tidak pernah memerintahkan umatnya untuk berdoa kepada dirinya, melainkan selalu mengarahkan kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan.
Keseluruhan ajaran Nabi Isa a.s. (Yesus) dalam Injil menekankan tauhid, sebagaimana pernyataannya dalam Markus 12:29: “Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa.” Ini sejalan sepenuhnya dengan ajaran Islam tentang keesaan Allah (tauhid). Maka jelaslah bahwa baik menurut Al-Qur’an maupun Injil, Isa a.s. tidak pernah mengklaim dirinya sebagai Tuhan, melainkan mengajak manusia kepada tauhid yang murni.
Bagaimana Umat Menyikapinya
Pertama, dalam konteks dialog lintas agama, sebagian kalangan dari umat Kristen dan Islam berusaha mencari titik temu dengan sama-sama mengakui Isa (Yesus) sebagai sosok yang sangat dihormati. Bagi umat Islam, Isa adalah nabi mulia yang membawa risalah tauhid, sementara bagi umat Kristen, Yesus adalah figur sentral iman mereka. Melalui dialog yang saling menghargai ini, upaya untuk membangun pemahaman bersama terus dilakukan demi memperkuat hubungan antar umat beragama di tengah masyarakat plural.
Kedua, sebagian kelompok Kristen Unitarian serta kalangan akademisi liberal Kristen mulai mempertanyakan kembali validitas dogma Trinitas. Mereka meninjau ulang ajaran gereja awal dan Injil kanonik maupun non-kanonik untuk meninjau kembali ajaran Yesus yang lebih menekankan tauhid murni. Beberapa di antara mereka bahkan mengadopsi pandangan yang sangat dekat dengan prinsip keesaan Tuhan dalam Islam, yakni mengesakan Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan pribadi lain.
Ketiga, di sisi lain, umat Kristen konservatif tetap berpegang teguh pada doktrin resmi gereja bahwa Yesus adalah Tuhan yang berinkarnasi dalam wujud manusia, bagian dari Trinitas: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Kendati doktrin ini kerap menuai kritik dari sisi logika dan rasionalitas ketuhanan, umat konservatif meyakininya sebagai bagian dari misteri iman yang melampaui nalar manusia. Perdebatan teologis ini sering menjadi titik krusial dalam dialog lintas agama.
Keempat, dalam dunia akademik, media sosial, dan berbagai forum debat lintas agama, isu keilahian Yesus menjadi salah satu topik yang paling banyak diperdebatkan. Perdebatan ini berlangsung baik secara ilmiah dengan argumen-argumen historis, filologis, dan teologis, maupun secara emosional yang sering melibatkan sentimen keimanan. Platform debat ini sering menjadi sarana bagi masing-masing pihak untuk menjelaskan keyakinannya sekaligus menanggapi argumen dari pihak lain.
Kelima, sebagian komunitas lintas agama memilih untuk mengedepankan etika toleransi sosial tanpa memperdebatkan perbedaan aqidah secara tajam dalam kehidupan sehari-hari. Mereka lebih menekankan pentingnya hidup berdampingan secara damai, menghormati keyakinan masing-masing, serta berfokus pada kerja sama sosial dan kemanusiaan. Pendekatan ini dinilai sebagai jalan tengah yang memungkinkan umat berbeda keyakinan untuk tetap hidup harmonis di tengah keragaman.
Bagaimana Umat Muslim Menyikapinya
Pertama, umat Islam mengimani Nabi Isa a.s. sebagai salah satu nabi ulul azmi yang memiliki kedudukan mulia dalam Islam. Ia diutus khusus kepada Bani Israil untuk mengajarkan tauhid, mengajak mereka kembali ke jalan Allah, dan memperbaiki penyimpangan dalam syariat yang sebelumnya dibawa oleh Nabi Musa a.s. Allah menganugerahkan kepada Isa berbagai mukjizat, seperti berbicara saat bayi, menyembuhkan orang buta dan lepra, serta menghidupkan orang mati dengan izin Allah (QS. Ali Imran: 49). Namun, semua keistimewaan itu tetap dalam bingkai bahwa Isa hanyalah makhluk dan hamba Allah, bukan Tuhan.
Kedua, umat Islam dengan tegas menolak pengkultusan Isa sebagai Tuhan atau bagian dari konsep Trinitas. Dalam Islam, keyakinan semacam itu dianggap sebagai syirik besar, yaitu menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya, yang merupakan dosa yang tidak akan diampuni jika tidak bertobat (QS. An-Nisa: 48). Allah menegaskan bahwa Dia Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan (QS. Al-Ikhlas: 1-4), serta menolak secara tegas konsep ketuhanan Isa yang dikembangkan dalam ajaran Kristen.
Ketiga, dalam aktivitas dakwah Islam, isu ketuhanan Isa sering menjadi salah satu topik utama dalam mengajak non-Muslim, khususnya umat Kristen, kepada tauhid. Para da’i Islam menjelaskan ajaran-ajaran Isa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Injil, serta menunjukkan kesesuaian misi tauhid yang diserukan semua nabi. Dakwah ini dilakukan bukan untuk mencela, tetapi sebagai bentuk seruan kebenaran agar manusia kembali mengesakan Allah tanpa sekutu.
Keempat, dalam melakukan dialog keagamaan, umat Islam diperintahkan untuk berdakwah dengan cara yang penuh hikmah, nasihat yang baik, dan debat secara santun serta argumentatif (QS. An-Nahl: 125). Tujuan utama dari dialog ini adalah untuk menjelaskan kebenaran Islam tanpa memaksakan keyakinan, serta menjaga akhlak mulia dalam berdiskusi. Pendekatan yang hikmah ini banyak diterapkan dalam berbagai forum dialog lintas agama di berbagai belahan dunia.
Kelima, dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat, umat Islam tetap menjaga hubungan baik dengan umat Kristen dalam ranah muamalah duniawi. Islam mengajarkan toleransi, keadilan, dan perdamaian dalam hubungan sosial, seperti bekerja sama dalam urusan ekonomi, pendidikan, dan kemanusiaan. Namun demikian, umat Islam tetap menjaga batas aqidah dengan tidak mencampuradukkan keyakinan, khususnya dalam hal ibadah, akidah, dan pengakuan ketuhanan Isa. Dengan demikian, prinsip toleransi berjalan seiring dengan penjagaan kemurnian tauhid.
Kesimpulan
Perbedaan pandangan tentang kedudukan Nabi Isa a.s. (Yesus) antara Islam dan Kristen merupakan salah satu perbedaan teologis yang paling mendasar dalam diskursus lintas agama. Islam secara tegas menempatkan Isa a.s. sebagai seorang nabi, rasul, dan hamba Allah yang diutus untuk menegakkan tauhid dan menyeru manusia menyembah Allah semata. Berbagai ayat Al-Qur’an, seperti dalam QS. An-Nisa: 171, QS. Al-Maidah: 75, dan QS. Maryam: 30, memberikan penegasan bahwa Isa bukanlah Tuhan, melainkan makhluk yang dimuliakan oleh Allah.
Sebaliknya, dalam tradisi Kristen, terutama pasca ajaran Paulus dan hasil konsili-konsili gereja seperti Konsili Nicea (325 M), muncul dogma ketuhanan Yesus sebagai bagian dari Trinitas: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Padahal, dalam Injil sendiri terdapat banyak pernyataan Yesus yang menunjukkan keterbatasannya sebagai manusia dan ketergantungannya kepada Tuhan (Markus 10:18, Markus 13:32, Yohanes 14:28, dan Matius 26:39). Hal ini menunjukkan bahwa konsep keilahian Yesus bukanlah ajaran asli yang dia sampaikan, melainkan hasil interpretasi dan konstruksi teologi gereja yang berkembang kemudian, dipengaruhi oleh pemikiran Paulus dan politik Kekaisaran Romawi.
Walaupun perbedaan ini bersifat prinsipil dalam keyakinan, dialog lintas agama tetap memiliki urgensi besar dalam membangun pemahaman, toleransi, serta menjaga hubungan damai antarumat beragama. Dengan pendekatan ilmiah, akhlak mulia, dan penuh hikmah, diskusi mengenai sosok Nabi Isa a.s. dapat menjadi pintu menuju saling pengertian, sekaligus menjaga kemurnian aqidah masing-masing tanpa saling menistakan keyakinan pihak lain.
Perbedaan pandangan tentang Nabi Isa a.s. (Yesus) antara Islam dan Kristen merupakan perbedaan prinsipil dalam aqidah. Islam memposisikan Isa sebagai nabi mulia, hamba Allah, dan utusan yang menyeru umat manusia kepada tauhid, bukan Tuhan. Sementara itu, dalam Kristen, Yesus dijadikan sebagai bagian dari Tuhan dalam konsep Trinitas: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Padahal, dalam Injil sendiri, Yesus tidak pernah mengaku sebagai Tuhan. Justru, banyak perkataannya yang menunjukkan keterbatasannya sebagai manusia biasa yang tunduk kepada Allah. Yang memposisikan Yesus sebagai Tuhan adalah pengaruh ajaran Paulus, hasil-hasil konsili gereja, dan intervensi politik dari Kekaisaran Romawi pada masa-masa awal perkembangan Kekristenan. Meskipun perbedaan ini bersifat mutlak dalam keyakinan masing-masing, dialog lintas agama tetap penting dilakukan dengan akhlak, hikmah, dan saling memahami secara ilmiah. Melalui diskusi yang terbuka dan ilmiah, kebenaran bisa dijelaskan dengan cara yang santun, menghindari kebencian, dan tetap menjunjung perdamaian.
“Nabi Isa a.s. (Yesus) adalah hamba Allah yang mulia, utusan pembawa tauhid, bukan Tuhan, sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur’an dan dikuatkan oleh banyak pernyataan Yesus sendiri dalam Injil.”

















Leave a Reply