AI MENGGUNCANG DUNIA KAMPUS: 12.200 PRODI CHINA DIPANGKAS, AKANKAH PENDIDIKAN ISLAM BERUBAH DI INDONESIA?
Ketika mesin belajar semakin cepat, apakah manusia—dan umat Islam—masih mau belajar?
Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sedang memasuki titik balik peradaban. Ia bukan lagi sekadar teknologi di laboratorium, tetapi telah masuk ke ruang kerja, penelitian, industri, pendidikan, kesehatan, media, ekonomi, bahkan kehidupan sosial dan keagamaan. AI mampu menerjemahkan bahasa, menulis, membuat kode, menganalisis data, membantu penelitian, menghasilkan gambar dan mengotomatisasi berbagai tugas intelektual yang dahulu membutuhkan waktu manusia. Dampaknya mulai terasa pada pendidikan tinggi. China melakukan restrukturisasi besar-besaran terhadap program studi untuk menyesuaikan pendidikan dengan perkembangan teknologi, kebutuhan industri, strategi nasional, dan perubahan pasar kerja. Selama sekitar dua belas tahun, sekitar 12.000 titik program studi di China telah dihentikan atau ditangguhkan karena dinilai tidak lagi sesuai dengan kebutuhan ekonomi dan sosial.
Pada 2024 saja, 1.428 program dicabut dan 2.220 program dihentikan penerimaannya, sementara 1.839 program baru disetujui. Namun, angka tersebut tidak tepat disebut sebagai “12.200 prodi dihapus karena AI”. AI hanyalah salah satu kekuatan yang mempercepat perubahan. Fenomena yang sesungguhnya jauh lebih besar: perubahan hubungan antara universitas, teknologi, industri, pasar kerja dan strategi pembangunan. Bagi Indonesia dan dunia Islam, pertanyaannya bukan sekadar apakah kita harus meniru China, tetapi apakah pendidikan kita sedang menyiapkan manusia untuk masa depan atau hanya mengulang kebutuhan masa lalu.
Ketika Mesin Belajar, Dunia Kerja Berubah
AI sedang mengubah cara manusia bekerja. Mesin dapat merangkum ribuan halaman, menerjemahkan bahasa, menulis kode, membaca pola data, membuat gambar, membantu penelitian dan mengerjakan berbagai tugas yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam. World Economic Forum memperkirakan hingga 2030 sekitar 170 juta pekerjaan baru dapat tercipta, sementara 92 juta pekerjaan mengalami displacement, sehingga secara bersih terdapat pertambahan sekitar 78 juta pekerjaan. Hampir 40 persen keterampilan yang dibutuhkan dalam pekerjaan diperkirakan berubah. Angka tersebut memberikan pesan penting bahwa masa depan bukan hanya tentang pekerjaan yang hilang, tetapi juga tentang pekerjaan yang berubah dan tugas-tugas yang berpindah dari manusia kepada mesin. Dokter tidak otomatis hilang karena AI, guru tidak otomatis hilang, demikian pula pengacara, insinyur, akuntan, peneliti, wartawan maupun ulama. Yang berubah terutama adalah cara mereka bekerja. Karena itu, persoalan terbesar pendidikan bukan sekadar mencetak lulusan yang menguasai pengetahuan hari ini, tetapi melahirkan manusia yang mampu terus belajar ketika dunia berubah.
AI Tidak Sekadar Menggantikan Manusia
Salah satu kekeliruan dalam membaca revolusi AI adalah menganggap teknologi selalu datang untuk mengambil pekerjaan manusia. Penelitian Erik Brynjolfsson, Danielle Li dan Lindsey Raymond terhadap 5.179 pekerja layanan pelanggan justru menunjukkan bahwa bantuan AI meningkatkan produktivitas rata-rata sekitar 14%, dengan manfaat yang lebih besar bagi pekerja baru dan berketerampilan lebih rendah. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa AI dapat menjadi pengungkit kemampuan manusia. Seorang peneliti dapat memetakan literatur lebih cepat, seorang guru dapat menyiapkan bahan ajar lebih efisien, seorang dokter dapat memperoleh bantuan membaca pola data, dan seorang pekerja dapat menyelesaikan tugas administratif dalam waktu lebih singkat. Namun di sinilah paradoksnya: ketika AI membuat sebagian pekerja jauh lebih produktif, pekerja yang tidak mampu menggunakan AI dapat semakin tertinggal. Kompetisi masa depan bukan lagi sekadar manusia melawan mesin, melainkan manusia yang mampu menggunakan mesin melawan manusia yang tidak mampu beradaptasi dengan mesin. Universitas yang hanya memberikan ijazah tanpa membangun kemampuan belajar sepanjang hayat berisiko menghasilkan lulusan untuk dunia yang sudah berubah.
China: Ketika Universitas Dipaksa Membaca Masa Depan
China memberikan gambaran besar tentang perubahan tersebut. Kementerian Pendidikan China secara resmi mendorong perguruan tinggi melakukan penyesuaian dinamis terhadap program studi. Pada 2024, sebanyak 1.839 program baru disetujui, 1.428 program dicabut dan 2.220 program menghentikan penerimaan mahasiswa. Program baru diarahkan antara lain pada kecerdasan buatan, pendidikan AI, teknologi cerdas, semikonduktor, bioteknologi, perangkat medis, energi baru dan berbagai bidang strategis lainnya. Dalam periode sekitar dua belas tahun, China menyebut sekitar 21.000 titik program baru telah ditambahkan, sementara sekitar 12.000 titik dihentikan atau ditangguhkan karena dianggap tidak lagi sesuai dengan kebutuhan ekonomi dan sosial. Karena itu, berita bahwa “China menghapus 12.200 prodi karena AI” harus dibaca secara hati-hati. Bukan AI sendirian yang menghapusnya. AI merupakan salah satu kekuatan yang mempercepat perubahan. Yang sesungguhnya terjadi adalah operasi besar terhadap struktur pendidikan tinggi: universitas membaca pasar kerja, program studi membaca perkembangan teknologi, kurikulum membaca kebutuhan industri, dan negara membaca masa depan.
Dunia Bergerak, Kampus Tidak Boleh Diam
Universitas tidak boleh menjadi museum. Tradisi ilmu harus dihormati, tetapi tradisi tidak boleh berubah menjadi alasan untuk berhenti berpikir. Ilmu kedokteran berubah, teknik berubah, ekonomi berubah, media berubah, hukum berubah dan teknologi berubah. Maka pendidikan juga harus berubah. Namun perubahan tidak berarti semua ilmu lama harus dibuang. Justru dunia masa depan membutuhkan fondasi ilmu yang kuat. AI dapat menghitung, tetapi manusia harus memahami makna; AI dapat menemukan pola, tetapi manusia harus menentukan tujuan; AI dapat menghasilkan jawaban, tetapi manusia harus menguji kebenarannya; AI dapat membantu mengambil keputusan berdasarkan data, tetapi manusia tetap harus mempertimbangkan keadilan dan dampaknya. Karena itu, universitas masa depan tidak cukup menjadi knowledge-based education, tetapi harus menjadi learning-to-learn education. Yang paling berharga bukan manusia yang menghafal paling banyak, melainkan manusia yang mampu belajar kembali ketika dunia berubah.
Indonesia: Jangan Meniru Angka, Tirulah Keberanian Mengevaluasi
Indonesia tidak perlu meniru China dengan menghapus ribuan program studi sekaligus. Yang perlu dipelajari adalah keberanian melakukan evaluasi berdasarkan data. Setiap program studi seharusnya berani menghadapi pertanyaan sederhana tetapi keras: berapa lulusannya bekerja, berapa lama masa tunggu mereka, apakah pekerjaan sesuai dengan bidang studi, bagaimana kualitas dosen, bagaimana laboratorium, bagaimana hubungan dengan industri, bagaimana kualitas riset, dan apakah kurikulumnya masih relevan. Pertanyaan paling penting adalah apakah kompetensi yang diajarkan hari ini masih dibutuhkan sepuluh tahun mendatang. Program studi yang lemah tidak selalu harus langsung ditutup; sebagian dapat diperbaiki, digabung, diperkuat atau diarahkan menjadi multidisiplin. Tetapi jika sebuah program benar-benar tidak lagi memiliki relevansi akademik dan sosial, keberanian untuk mengevaluasinya adalah bagian dari tanggung jawab pendidikan. Mempertahankan program hanya karena tradisi bukanlah menjaga mutu; dalam kondisi tertentu, itu justru dapat menjadi bentuk kemalasan kelembagaan.
Jangan Semua Menjadi Jurusan AI
Indonesia juga harus menghindari kesalahan baru berupa demam membuka program studi AI. Tidak semua universitas harus menjadi universitas AI. Yang jauh lebih penting adalah membangun model AI plus bidang keahlian. Kedokteran plus AI, pertanian plus AI, hukum plus AI, ekonomi plus AI, pendidikan plus AI, teknik plus AI, psikologi plus AI, humaniora plus AI, bahkan syariah plus AI. Dengan pendekatan ini, AI tidak menjadi menara teknologi yang berdiri sendiri, tetapi menjadi alat yang memperkuat berbagai disiplin ilmu. Dokter masa depan tidak harus menjadi programmer, tetapi harus memahami bagaimana AI membantu diagnosis dan apa batas etiknya. Ulama tidak harus menjadi insinyur perangkat lunak, tetapi perlu memahami teknologi yang akan menjadi objek fatwanya. Guru tidak harus menjadi ilmuwan komputer, tetapi harus memahami bagaimana AI mengubah cara anak belajar. Inilah pendidikan interdisipliner yang sesungguhnya.
Pendidikan Islam: Jangan Sampai Wahyu Berjalan, Tetapi Pendidikan Tertinggal
Di sinilah persoalan menjadi lebih besar bagi umat Islam. Islam tidak pernah memusuhi ilmu. Wahyu pertama justru dimulai dengan perintah, اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan” (QS. Al-‘Alaq: 1). Allah juga mengajarkan doa, وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا, “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu” (QS. Thaha: 114). Karena itu, ketika dunia memasuki zaman AI, umat Islam tidak seharusnya merespons ilmu baru hanya dengan ketakutan. Pendidikan Islam harus naik kelas tanpa kehilangan akar wahyunya. Pesantren perlu memperluas literasi teknologi dan data, madrasah perlu memperkuat sains, perguruan tinggi Islam perlu mempertemukan ilmu agama dengan teknologi modern, fakultas syariah perlu memahami AI, ekonomi digital, privasi data, deepfake, robotika dan teknologi finansial, sedangkan pusat studi Al-Qur’an dan hadis dapat bekerja sama dengan ilmuwan komputer untuk membangun sistem pencarian literatur yang dapat diverifikasi. Al-Qur’an tetap wahyu dan AI tetap alat, tetapi umat Islam harus menguasai keduanya sesuai tempat dan fungsinya.
Teknologi Harus Berjalan Bersama Nilai Ilahi
Pandangan M. Quraish Shihab mengenai ilmu dan teknologi sangat relevan dalam membaca era AI. Dalam pembahasannya mengenai Islam dan teknologi, ia menekankan pentingnya ilmu dan teknologi yang diarahkan kepada kemanfaatan serta tidak dilepaskan dari nilai-nilai agama. Teknologi tidak boleh membuat manusia lupa bahwa kemampuan memahami dan mengembangkan ilmu merupakan bagian dari karunia Allah. Perspektif ini menjadi penting karena persoalan AI bukan sekadar apakah manusia mampu menciptakannya, tetapi untuk apa kecerdasan itu digunakan. AI untuk pendidikan, penelitian, kesehatan dan pelayanan publik dapat menjadi kemaslahatan, sedangkan AI untuk penipuan, manipulasi, fitnah, pencurian karya, propaganda kebencian dan deepfake yang merusak kehormatan manusia dapat menjadi sumber kerusakan. Teknologi tidak otomatis menjadi baik hanya karena canggih. Kecanggihan tanpa akhlak dapat berubah menjadi kekuatan yang berbahaya. Karena itu, pendidikan Islam harus membangun manusia yang bukan hanya cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga mampu mengendalikan teknologi dengan iman, etika dan tanggung jawab.
Gagasan Yusuf al-Qaradawi mengenai pentingnya memahami realitas atau fiqh al-waqi’ memberikan pelajaran besar bagi umat Islam dalam menghadapi AI. Persoalan baru tidak cukup dijawab hanya dengan mengulang jawaban lama tanpa memahami perubahan konteks. Seorang ulama yang membahas AI tidak harus menjadi programmer, tetapi harus memahami apa itu AI, bagaimana algoritma bekerja, bagaimana data digunakan, apa kemampuan dan keterbatasannya, siapa yang mengendalikan teknologi tersebut dan apa dampaknya terhadap manusia. Prinsip ini sejalan dengan kaidah bahwa penetapan hukum terhadap sesuatu merupakan cabang dari pemahaman yang benar terhadap sesuatu itu. Karena itu, persoalan AI menuntut dialog antara ulama dan ilmuwan. Ulama membutuhkan ilmuwan untuk memahami realitas teknis, sedangkan ilmuwan membutuhkan ulama untuk memahami dimensi etika, hukum dan kemaslahatan. Inilah bentuk ijtihad yang semakin relevan di zaman teknologi.
Syekh Abdullah bin Bayyah juga memberikan perhatian terhadap persoalan teknologi modern dan etika kecerdasan buatan. Perspektif tersebut mengingatkan bahwa AI bukan sekadar persoalan kemampuan teknis, melainkan persoalan tanggung jawab manusia. Siapa yang memiliki data, siapa yang mengendalikan algoritma, siapa yang bertanggung jawab ketika sistem membuat kesalahan, bagaimana mencegah diskriminasi algoritmik, bagaimana menjaga privasi, dan bagaimana mencegah teknologi digunakan untuk kezaliman adalah pertanyaan yang tidak dapat diselesaikan oleh programmer seorang diri. Di sinilah ulama, ilmuwan, akademisi, praktisi teknologi dan pembuat kebijakan harus duduk bersama. AI membutuhkan kecerdasan teknis, tetapi masyarakat membutuhkan lebih dari itu: AI membutuhkan kompas moral.
AI Bukan Ulama, dan Ulama Tidak Boleh Menyerahkan Fatwa kepada Mesin
Ada batas yang tidak boleh dikaburkan. AI dapat mencari hadis, menerjemahkan kitab, menemukan ayat, membandingkan pendapat ulama, mengelompokkan literatur dan membantu peneliti membaca ribuan dokumen. Tetapi AI bukan mufti, bukan sumber wahyu, bukan sanad dan bukan pengganti guru. AI dapat menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan tetapi keliru. Karena itu, fatwa tetap membutuhkan ilmu, metodologi, bahasa Arab, Al-Qur’an, hadis, usul fikih, kaidah fikih, maqashid al-syari‘ah, pemahaman konteks serta pertimbangan maslahat dan mafsadat. AI dapat menjadi pustakawan yang sangat cepat, tetapi ulama tetap harus melakukan tahqiq, verifikasi, penilaian dalil, penalaran hukum dan pengambilan keputusan. Masa depan bukan AI menggantikan ulama, melainkan AI membantu ulama. Mesin mencari, manusia memeriksa; mesin mengelompokkan, ulama menilai; mesin mempercepat, ilmu memberikan arah.
Ada ironi besar dalam sejarah. Istilah algorithm memiliki hubungan dengan bentuk Latin nama Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi, ilmuwan Muslim yang memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan matematika. Peradaban modern kemudian membangun dunia komputasi dengan algoritma sebagai salah satu fondasinya. Maka umat Islam seharusnya tidak hanya menjadi konsumen teknologi. Umat Islam harus kembali menjadi pencipta ilmu. Al-Khwarizmi tidak takut kepada matematika, Ibnu Sina tidak takut kepada kedokteran, Al-Biruni tidak takut kepada astronomi, dan Ibnu al-Haytham tidak takut kepada eksperimen. Mereka membaca alam sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah dan mengembangkan ilmu dengan ketekunan. Karena itu, pertanyaan umat Islam hari ini tidak boleh berhenti pada “Apakah AI halal?” Pertanyaan yang lebih berani adalah: Mengapa umat Islam tidak ikut menciptakan AI yang aman, adil, bermanfaat dan bermoral?
Generasi Muda Muslim: Jangan Menjadi Generasi yang Dikalahkan Mesin
Generasi muda Muslim harus memahami bahwa ijazah tetap penting, tetapi ijazah tidak lagi cukup. Dunia membutuhkan kemampuan membaca data, berpikir kritis, melakukan penelitian, berkomunikasi, memahami teknologi dan belajar sepanjang hayat. Jangan takut kepada AI, tetapi jangan pula menyerahkan seluruh pikiran kepada AI. Gunakan AI untuk mencari informasi, tetapi gunakan ilmu untuk memeriksanya. Gunakan AI untuk mempercepat pekerjaan, tetapi jangan biarkan teknologi menggantikan proses berpikir. Gunakan AI untuk membuka kemungkinan, tetapi gunakan akal, pengalaman dan nilai agama untuk menentukan pilihan. Generasi yang paling kuat bukan generasi yang menolak teknologi dan bukan pula generasi yang menyerahkan dirinya kepada teknologi, melainkan generasi yang mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan akal, iman dan akhlak.
Pendidikan Islam Masa Depan: Al-Qur’an dan Algoritma
Bayangkan pesantren memiliki laboratorium AI, santri mempelajari kitab klasik sekaligus literasi data, madrasah mengajarkan tafsir sekaligus teknologi bahasa, mahasiswa syariah mempelajari dasar-dasar AI untuk memahami teknologi yang kelak menjadi objek hukum, dan ulama duduk bersama dokter, insinyur, ekonom serta ilmuwan komputer untuk membahas AI medis, robotika, rekayasa genetika, deepfake, keamanan data dan masa depan pekerjaan. Itulah pendidikan Islam yang hidup. Pendidikan yang tidak meninggalkan kitab klasik, tetapi membawa warisan ilmu ke medan persoalan baru. Pendidikan yang tidak mempertentangkan agama dengan teknologi, tetapi menjadikan nilai agama sebagai kompas dalam penggunaan teknologi. Al-Qur’an tetap wahyu, algoritma tetap alat. Keduanya tidak boleh dipertukarkan, tetapi keduanya dapat hadir dalam satu peradaban yang menjadikan ilmu sebagai jalan menuju kemaslahatan.
Pesan Peradaban
China sedang menata ulang pendidikan tinggi karena dunia berubah. Negara-negara lain berlomba mengembangkan AI, semikonduktor, robotika, bioteknologi, energi baru dan berbagai teknologi strategis. Indonesia tidak boleh menjadi penonton, dan umat Islam tidak boleh hanya menjadi pengguna. Kita tidak harus menutup 12.200 program studi, tetapi kita harus berani menutup cara berpikir yang sudah tidak relevan. Jangan mempertahankan program hanya karena tradisi, jangan membuka program hanya karena tren, dan jangan menghasilkan sarjana hanya untuk memenuhi angka. Pendidikan harus berani bertanya: manusia seperti apa yang dibutuhkan Indonesia dan dunia sepuluh, dua puluh bahkan tiga puluh tahun mendatang? Di situlah masa depan pendidikan ditentukan.
Mesin Boleh Cerdas, Manusia Harus Bijaksana
AI boleh semakin pintar, tetapi manusia harus semakin bijaksana. AI boleh semakin cepat, tetapi ilmu harus semakin dalam. AI boleh mengerjakan semakin banyak tugas, tetapi manusia harus tetap memegang tujuan. Dan bagi umat Islam, masa depan bukan memilih antara Al-Qur’an atau algoritma. Masa depan adalah melahirkan generasi yang mampu membaca wahyu dan zaman, memahami kitab dan teknologi, menguasai ilmu agama dan ilmu dunia, serta menjadikan kecerdasan buatan sebagai alat untuk memperluas kemaslahatan. Sebab mesin dapat menghitung lebih cepat daripada manusia, tetapi mesin tidak boleh menentukan nilai kemanusiaan. Mesin dapat menghasilkan jawaban, tetapi manusia tetap bertanggung jawab atas keputusan. Mesin boleh belajar dari manusia, tetapi manusia harus terus belajar dari kehidupan. Dan umat Islam harus terus belajar dengan nama Allah.












Leave a Reply