Apakah Ulama Hadis Sekaranag Boleh Mengkritisi, Meneliti Ulang Kesahihan hadis Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim ?
Apakah ulama hadis pada masa sekarang boleh mengkritisi, meneliti ulang, atau mempertanyakan kesahihan hadis yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, mengingat kedua kitab tersebut memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam tradisi ilmu hadis, dan jika boleh, sejauh mana batas kritik tersebut serta metode apa yang harus digunakan agar kritik terhadap sanad, matan, ‘illah, maupun pemahaman hadis tetap sesuai dengan kaidah ilmu hadis yang diakui para ulama?
Boleh. Dalam tradisi ilmu hadis, hadis yang tercantum dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim tetap dapat dikaji, diteliti, dan dikritisi oleh ulama setelah keduanya. Namun, kritik tersebut harus dilakukan dengan kaidah ilmu hadis yang ketat, bukan sekadar karena hadis tersebut tidak sesuai dengan pendapat atau pemahaman pribadi.
Ada beberapa bentuk kritik:
- Kritik sanad — meneliti perawi, kesinambungan sanad, dan kemungkinan adanya kekeliruan dalam periwayatan.
- Kritik matan — menelaah redaksi hadis, kemungkinan kesalahan riwayat, dan kesesuaiannya dengan riwayat lain yang lebih kuat.
- Kritik perbandingan riwayat — membandingkan jalur-jalur hadis yang sama untuk mengetahui apakah ada ‘illah (cacat tersembunyi).
- Kritik pemahaman — hadisnya diterima sebagai sahih, tetapi maknanya ditafsirkan berbeda berdasarkan bahasa Arab, hadis lain, Al-Qur’an, dan penjelasan ulama.
- Kritik ‘illah — ini merupakan salah satu bentuk kritik paling sulit, karena sebuah hadis dapat tampak memenuhi syarat kesahihan tetapi setelah penelitian mendalam ditemukan persoalan tersembunyi dalam sanad atau matannya.
Ulama hadis yang pernah mengkritik sebagian riwayat dalam Shahih al-Bukhari
Ulama hadis yang pernah mengkritik sebagian riwayat dalam Shahih al-Bukhari, beberapa nama penting adalah:
- Ali bin Umar al-Daraquthni (w. 385 H). Ini tokoh paling terkenal. Ia menulis al-Ilzamat wa al-Tatabbu‘ yang membahas sejumlah riwayat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Kritiknya menyangkut sanad, perawi, bentuk periwayatan, tambahan lafaz, serta perbedaan antara riwayat marfu‘ dan mauquf. Kajian akademik juga menilai al-Daraquthni tetap sangat menghargai kedua Shahih tersebut dan kritiknya merupakan kritik teknis dalam ilmu hadis. (OUP Academic)
- Abu al-Hasan al-Daraquthni juga memberikan kritik terhadap sejumlah hadis al-Bukhari melalui kitab al-‘Ilal. Ibn Hajar kemudian membahas kritik-kritik tersebut secara rinci dalam Hady al-Sari, pendahuluan Fath al-Bari.
- Abu Mas‘ud al-Dimasyqi. Namanya lebih banyak dikenal dalam pembahasan kritik terhadap Shahih Muslim, tetapi ia berada dalam tradisi ulama yang menanggapi persoalan sanad dan riwayat yang dipersoalkan oleh al-Daraquthni. (
- Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H). Ini perlu dipahami secara tepat. Ibn Hajar bukan pengkritik Shahih al-Bukhari dalam arti menolak kitab tersebut. Ia justru menjadi salah satu pembela dan pensyarah terpentingnya. Dalam Hady al-Sari dan Fath al-Bari, ia menyebut kritik al-Daraquthni dan ulama lain, kemudian membahas dan menjawabnya satu per satu. (
- Ibn Abi Hatim al-Razi dan sejumlah ahli ‘ilal generasi awal juga mengembangkan metode kritik sanad dan matan yang kemudian menjadi bagian dari tradisi kritik terhadap riwayat-riwayat yang terdapat dalam kitab hadis. Namun, untuk menyebut sebuah hadis tertentu dalam Shahih al-Bukhari sebagai objek kritik mereka, perlu dilihat riwayat dan sumber kritiknya secara spesifik.
Perlu dibedakan
- Mengkritik hadis ≠ menghina Bukhari-Muslim.
- Seorang ulama dapat mengatakan: “Hadis ini sahih menurut kriteria al-Bukhari, tetapi saya menemukan ‘illah pada jalur tertentu.” atau: “Hadisnya sahih, tetapi pemahaman terhadap hadis tersebut perlu ditinjau karena ada riwayat lain yang menjelaskannya.” Itu merupakan bagian dari tradisi ilmiah hadis.
- Sebaliknya, pernyataan seperti “hadis ini tidak cocok dengan logika saya, maka Bukhari salah” bukanlah kritik hadis dalam pengertian ilmiah.
- Hal terpenting adalah membedakan dua hal. Mengkritik satu sanad atau satu riwayat dalam Shahih al-Bukhari tidak sama dengan menolak Shahih al-Bukhari secara keseluruhan. Tradisi ulama hadis memang mengenal penelitian ulang terhadap sebagian riwayat. Ibn al-Shalah sendiri menjelaskan bahwa terdapat sejumlah kecil riwayat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim yang pernah dikritik oleh para hafizh seperti al-Daraquthni. (Islam-QA). Imam al-Daraquthni. Ia memang melakukan kritik ilmiah terhadap sejumlah hadis dalam Shahih al-Bukhari, sementara Ibn Hajar kemudian meneliti dan menjawab banyak kritik tersebut. Ini menunjukkan bahwa penghormatan terhadap Shahih al-Bukhari tidak berarti seluruh rincian sanad dan riwayat di dalamnya tidak pernah menjadi objek penelitian ulama hadis. (OUP Academic)
Mengapa Hadits Shaleh Bukhari Bisa dikritisi
Mengapa Hadits Shaleh Bukhari Bisa dikritisi, dasar kebolehannya justru terdapat dalam tradisi kritik hadis itu sendiri. Yang perlu dibedakan adalah mengkritisi hadis tertentu dengan merendahkan atau menolak seluruh Shahih Bukhari-Muslim. Dalam tradisi ulama hadis, kritik terhadap riwayat tertentu dapat dilakukan apabila ditemukan persoalan sanad, matan, ‘illah tersembunyi, perbedaan jalur periwayatan, atau kekeliruan dalam memahami hadis.
1. Mengapa boleh dikritisi?
- Dasar utamanya adalah bahwa yang ma‘shum (terjaga dari kesalahan) bukan kitab karya manusia. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim adalah imam besar hadis, tetapi keduanya bukan nabi. Karena itu, hasil ijtihad mereka dalam menilai dan memilih hadis pada prinsipnya dapat diteliti kembali.
- Al-Qur’an sendiri memerintahkan tabayyun: فَتَبَيَّنُوا
“Maka telitilah/klarifikasilah…” QS. Al-Hujurat: 6 - Dalam ilmu hadis, prinsip penelitian bahkan jauh lebih ketat: sanad diperiksa, perawi dinilai, jalur riwayat dibandingkan, dan kemungkinan ‘illah diteliti.
- Yang penting: kritik tidak berarti otomatis menyatakan hadis itu palsu atau Imam Bukhari/Muslim keliru. Kritik adalah proses ilmiah untuk menguji kembali suatu riwayat.
2. Ada dasar kuat dari ulama klasik
- Contoh paling penting adalah Imam al-Daraquthni (w. 385 H). Ia menulis al-Ilzamat wa al-Tatabbu‘ yang antara lain memberikan kritik terhadap sejumlah riwayat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Kajian akademik Jonathan A.C. Brown di Oxford menjelaskan bahwa al-Daraquthni sangat menghormati kedua kitab tersebut dan kritiknya bertujuan menemukan kemungkinan kekurangan atau perbedaan metodologis dalam sejumlah riwayat, bukan menghancurkan otoritas keduanya.
- Ini penting: kalau ulama besar generasi setelah Bukhari dan Muslim saja melakukan kritik terhadap sebagian riwayat dalam Shahihain, maka secara metodologis tidak tepat mengatakan bahwa hadis dalam Shahihain sama sekali tidak boleh diteliti.
3. Bagaimana pandangan ahli hadis kontemporer? Di kalangan ahli hadis kontemporer, terdapat dua kecenderungan utama.
- Pertama, kelompok yang menerima kemungkinan kritik ilmiah. Mereka mempertahankan kedudukan sangat tinggi Shahih Bukhari dan Muslim, tetapi mengakui bahwa penelitian terhadap hadis tertentu tetap dapat dilakukan. Kajian tahun 2026 mengenai kritik terhadap Shahih Bukhari bahkan menunjukkan bahwa beberapa sarjana hadis kontemporer—antara lain Nashiruddin al-Albani, Muhibbin Noor, dan Burhan Djamaluddin—pernah memberikan penilaian berbeda terhadap hadis-hadis tertentu dalam Shahih Bukhari. Namun penelitian tersebut juga menekankan bahwa kritik harus mempertimbangkan mutaba‘ah, syawahid, posisi hadis dalam struktur kitab, serta metodologi Imam Bukhari secara keseluruhan.
- Kedua, kelompok yang sangat berhati-hati terhadap kritik kontemporer. Mereka berpendapat bahwa seseorang tidak cukup hanya menemukan kelemahan pada satu sanad atau menemukan sesuatu yang tampak bertentangan dengan akal. Harus dipelajari seluruh jalur hadis, ilmu rijal, jarh wa ta‘dil, ‘ilal, syarah hadis, konteks bab, serta metode khusus Imam Bukhari atau Imam Muslim. Penelitian 2026 tentang kritik terhadap salah satu riwayat Bukhari, misalnya, menyimpulkan bahwa kritik terhadap satu sanad saja tidak cukup untuk mengubah status hadis tanpa penelitian komprehensif.
Bagaimana dengan ulama hadis kontemporer seperti Mustafa al-A’zami?
- Muhammad Mustafa al-A’zami justru merupakan contoh penting bahwa penelitian kritis terhadap hadis tetap diperlukan. Ia melakukan penelitian historis dan metodologis untuk menjawab kritik orientalis seperti Joseph Schacht terhadap transmisi hadis. Dengan kata lain, al-A’zami tidak memandang hadis sebagai sesuatu yang kebal dari penelitian; tetapi ia menuntut agar kritik dilakukan berdasarkan bukti sejarah dan metodologi yang kuat, bukan sekadar asumsi.
- Demikian pula sarjana hadis kontemporer seperti Nuruddin ‘Itr, Salah al-Din al-Adlabi, Mustafa al-Siba’i, dan Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib mengembangkan kembali pembahasan kritik sanad dan matan. Kajian kontemporer mencatat bahwa mereka menegaskan bahwa kritik sanad dan matan sebenarnya sudah mempunyai akar dalam tradisi hadis klasik.
Tetapi ada batasnya
- Maka, seorang ulama kontemporer yang hendak mengkritisi hadis dalam Shahih Bukhari-Muslim idealnya tidak cukup berkata: “Hadis ini bertentangan dengan akal, maka hadisnya salah.”
- Metodologinya harus lebih lengkap: Sanad → perawi → kesinambungan sanad → berbagai jalur → mutaba‘ah dan syawahid → ‘illah → matan → perbandingan dengan hadis lain → Al-Qur’an → bahasa Arab → konteks → syarah ulama → metode Imam Bukhari/Muslim.
- Baru kemudian dapat diberikan kesimpulan apakah masalahnya terletak pada sanad, redaksi tertentu, pemahaman, konteks, atau memang terdapat ‘illah yang berpengaruh terhadap penilaian hadis.
Jadi bagaimana kedudukan Shahih Bukhari-Muslim?
- Keduanya tetap mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam tradisi Sunni. Kajian akademik kontemporer juga menggambarkan Sahihayn sebagai dua koleksi hadis yang memperoleh status kanonik dalam Sunni. Tetapi kedudukan tinggi tersebut tidak berarti setiap penelitian ulang dilarang.
- Mayoritas ulama Sunni menempatkan Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim sebagai dua kitab hadis paling otoritatif setelah Al-Qur’an. Karena itu, sikap yang tepat bukan mengatakan “semua hadis di dalamnya pasti tidak boleh diteliti”, tetapi juga bukan “kalau saya menemukan masalah berarti hadisnya pasti salah.”
- Sejumlah ulama memang melakukan penelitian terhadap hadis-hadis tertentu dalam kedua kitab tersebut. Bahkan ulama besar seperti Imam al-Daraquthni melakukan kritik terhadap sejumlah riwayat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Kritik tersebut kemudian dijawab atau dibahas oleh ulama setelahnya, antara lain dalam karya-karya yang membahas al-Istidrakat dan ‘Ilal.
Jadi, “sahih menurut al-Bukhari atau Muslim” tidak berarti “tidak boleh diteliti lagi.” Yang tidak tepat adalah melakukan kritik tanpa menguasai metodologi ilmu hadis.
- Dengan demikian, rumus yang lebih tepat adalah: “Shahih Bukhari dan Shahih Muslim adalah kitab hadis yang memiliki otoritas sangat tinggi, tetapi hadis-hadis di dalamnya tetap menjadi objek penelitian ilmiah. Kritik terhadap riwayat tertentu diperbolehkan apabila dilakukan dengan ilmu, bukti, dan metodologi kritik hadis yang memadai.”
- Bahkan penelitian terbaru tahun 2026 mengenai kritik kontemporer terhadap Sahihayn menyimpulkan bahwa kritik terhadap sebagian riwayat tidak dengan sendirinya menghilangkan kedudukan Shahih Bukhari dan Shahih Muslim sebagai rujukan utama, sehingga yang perlu dijaga adalah keseimbangan antara penghormatan terhadap tradisi dan penelitian ilmiah.
- Intinya: boleh mengkritisi, tetapi bukan berarti bebas menolak. Semakin besar otoritas sebuah kitab, semakin tinggi pula tuntutan ilmiah bagi orang yang ingin mengkritisi isinya.
Penutup
Dengan demikian, sikap yang paling tepat adalah melihat persoalan ini secara ilmiah dan proporsional. Beberapa ulama memang melakukan kritik terhadap sejumlah kecil riwayat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Namun mereka tetap menghormati kedua kitab tersebut dan memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Perbedaan pendapat mengenai beberapa riwayat merupakan bagian dari diskusi ilmu hadis, bukan alasan untuk menggambarkan bahwa ulama tersebut menolak atau merendahkan kedua kitab tersebut. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam tradisi hadis Sunni, tetapi tidak berada di atas penelitian ilmiah dan tidak setara dengan Al-Qur’an. Hadis-hadis di dalamnya tetap dapat diteliti sanad, matan, ‘illah, serta pemahamannya oleh ulama yang memiliki kompetensi ilmu hadis.















Leave a Reply