MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

ISA (YESUS) UNTUK BANI ISRAIL, MUHAMMAD ﷺ UNTUK SELURUH UMAT MANUSIA

ISA (YESUS) UNTUK BANI ISRAIL, MUHAMMAD ﷺ UNTUK SELURUH UMAT MANUSIA

Perspektif Al-Qur’an dan Bibel tentang Misi Kenabian serta Sikap Manusia terhadap Risalah

Islam mengajarkan bahwa Allah mengutus para nabi dan rasul kepada umat manusia dalam rangka menyampaikan petunjuk dan mengajak kepada tauhid. Namun, misi setiap nabi memiliki konteks umat dan zaman masing-masing. Al-Qur’an secara tegas menyebut Nabi Isa عليه السلام sebagai rasul kepada Bani Israil, sedangkan Nabi Muhammad ﷺ diutus untuk seluruh manusia. Artikel ini membahas konsep tersebut melalui perspektif Al-Qur’an dan perbandingan dengan teks Bibel, khususnya ayat-ayat yang menggambarkan misi Yesus kepada Israel serta ayat-ayat Al-Qur’an mengenai universalitas risalah Muhammad ﷺ. Kajian ini menunjukkan bahwa dalam perspektif Islam, Isa عليه السلام adalah nabi dan rasul Allah yang membawa Injil serta membenarkan Taurat, dengan misi khusus kepada Bani Israil. Sementara itu, Muhammad ﷺ merupakan rasul terakhir dengan risalah yang bersifat universal. Perbedaan cakupan misi tersebut tidak berarti Islam merendahkan Nabi Isa, tetapi justru menempatkannya sebagai salah satu nabi mulia dalam rangkaian risalah Allah. Umat manusia setelah datangnya risalah Muhammad ﷺ hendaknya mengenal ajaran para nabi dengan objektif, menghormati seluruh nabi Allah, berpegang pada tauhid, dan mengikuti risalah terakhir yang diyakini Islam sebagai petunjuk universal.

Allah mengutus para nabi dan rasul untuk membimbing manusia kepada tauhid, ibadah kepada Allah, akhlak, dan kehidupan yang benar. Dalam perspektif Islam, seluruh nabi membawa inti ajaran yang sama, yaitu menyembah Allah Yang Esa, meskipun syariat dan konteks umat yang mereka hadapi dapat berbeda. Karena itu, Islam mengajarkan penghormatan kepada seluruh nabi, termasuk Musa, Isa, dan Muhammad ﷺ.

Salah satu persoalan penting dalam memahami sejarah kenabian adalah cakupan misi setiap rasul. Al-Qur’an menyebut Nabi Isa عليه السلام sebagai rasul kepada Bani Israil, sedangkan Nabi Muhammad ﷺ digambarkan sebagai rasul bagi seluruh manusia. Perbandingan dengan Bibel juga menarik karena terdapat sejumlah pernyataan dalam Perjanjian Baru yang menggambarkan misi Yesus yang berorientasi kepada Israel. Dari sini muncul pertanyaan: bagaimana memahami perbedaan misi tersebut, dan bagaimana seharusnya manusia menyikapi risalah para nabi?

Nabi Isa عليه السلام: Rasul kepada Bani Israil Menurut Al-Qur’an

Al-Qur’an secara eksplisit menyebut Nabi Isa عليه السلام sebagai utusan Allah kepada Bani Israil. Allah berfirman:

  • وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ
  • “Dan sebagai seorang rasul kepada Bani Israil.”
  • QS. Ali ‘Imran [3]: 49
  • Ayat tersebut menunjukkan bahwa dalam perspektif Al-Qur’an, Isa عليه السلام mempunyai misi kenabian yang secara khusus ditujukan kepada Bani Israil. Ia membawa tanda-tanda kebesaran Allah dan mengajak kaumnya untuk kembali kepada penyembahan kepada Allah.

Al-Qur’an juga menggambarkan Isa عليه السلام sebagai pembenar terhadap Taurat yang telah ada sebelumnya. Allah berfirman bahwa Isa datang “membenarkan Taurat yang datang sebelumku” (QS. Ali ‘Imran [3]: 50). Dengan demikian, risalah Isa عليه السلام berada dalam rangkaian kenabian Bani Israil dan bukan merupakan risalah yang terpisah dari tauhid para nabi sebelumnya.

Nabi Muhammad ﷺ: Rasul bagi Seluruh Manusia

Berbeda dengan misi khusus Isa عليه السلام kepada Bani Israil, Al-Qur’an menjelaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ diutus dengan cakupan universal. Allah berfirman:

  • وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا
  • “Kami tidak mengutus engkau melainkan kepada seluruh manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” QS. Saba’ [34]: 28

Al-Qur’an juga menyatakan:

  • قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
  • “Katakanlah: Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kamu semua.” QS. Al-A‘raf [7]: 158
  • Ayat-ayat tersebut menjadi dasar penting dalam keyakinan Islam bahwa Muhammad ﷺ bukan hanya rasul bagi bangsa Arab, tetapi membawa risalah bagi seluruh umat manusia.

Allah juga menyebut Muhammad ﷺ sebagai:

  • خَاتَمَ النَّبِيِّينَ
  • “penutup para nabi.” QS. Al-Ahzab [33]: 40

Dengan demikian, dalam teologi Islam terdapat perbedaan penting antara cakupan misi Isa عليه السلام dan universalitas risalah Muhammad ﷺ.

Perbandingan Al-Qur’an dan Bibel

Perbandingan harus dilakukan secara hati-hati karena Al-Qur’an dan Bibel merupakan teks yang berada dalam tradisi keagamaan yang berbeda. Tujuan perbandingan bukan untuk merendahkan keyakinan umat lain, tetapi untuk melihat bagaimana masing-masing tradisi menggambarkan misi Yesus/Isa dan Muhammad ﷺ.

Aspek Al-Qur’an Bibel/Perjanjian Baru
Identitas Isa/Yesus Nabi dan rasul Allah Yesus/Jesus dalam tradisi Kristen memiliki kedudukan teologis yang berbeda
Sasaran misi Isa/Yesus Bani Israil Beberapa teks menekankan Israel
Risalah Muhammad ﷺ Universal bagi seluruh manusia Tidak menjadi bagian dari kanon Perjanjian Baru
Hubungan dengan nabi sebelumnya Meneruskan dan membenarkan risalah sebelumnya Yesus ditempatkan dalam kesinambungan sejarah Israel
Perspektif Islam tentang Isa Nabi mulia, al-Masih, bukan Tuhan Kekristenan arus utama memahami Yesus secara berbeda secara teologis

Kesaksian Bibel tentang Misi Yesus kepada Israel

  • Dalam Perjanjian Baru terdapat pernyataan yang sering digunakan dalam diskusi mengenai cakupan misi Yesus. Dalam Matius 15:24, Yesus digambarkan berkata bahwa ia diutus kepada “domba-domba yang hilang dari umat Israel”.
  • Pernyataan serupa juga muncul dalam Matius 10:5–6, ketika para murid diarahkan untuk tidak pergi kepada bangsa-bangsa lain pada tahap tertentu dari misi mereka, tetapi menuju “domba-domba yang hilang dari umat Israel”.
  • Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa dalam beberapa bagian Injil kanonik, terdapat penekanan kuat terhadap Israel sebagai sasaran awal atau utama misi Yesus. Namun, pembacaan Perjanjian Baru secara keseluruhan juga harus memperhatikan teks-teks lain yang menggambarkan perluasan misi kepada bangsa-bangsa. Karena itu, secara akademik tidak tepat menyederhanakan seluruh teologi Kristen hanya berdasarkan satu atau dua ayat.

Isa dan Muhammad dalam Perspektif Al-Qur’an

Al-Qur’an menempatkan Isa dan Muhammad ﷺ dalam satu rangkaian kenabian. Isa عليه السلام bukan tokoh yang ditolak oleh Islam, tetapi justru merupakan nabi yang wajib diimani oleh setiap Muslim. Allah berfirman:

  • آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ
  • “Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.” QS. Al-Baqarah [2]: 285
  • Islam dengan demikian tidak mengajarkan untuk memilih sebagian nabi dan menolak sebagian lainnya. Semua nabi Allah dihormati sebagai pembawa petunjuk dari Allah, sementara Muhammad ﷺ diyakini sebagai rasul terakhir.

Apakah Universalitas Muhammad ﷺ Berarti Menolak Isa?

  • Tidak. Dalam perspektif Islam, universalitas risalah Muhammad ﷺ justru ditempatkan dalam kesinambungan risalah para nabi sebelumnya. Isa عليه السلام tetap merupakan nabi dan rasul Allah yang wajib dihormati dan diimani.
  • Perbedaannya terletak pada cakupan risalah dan posisi kenabian, bukan pada penghormatan kepada Isa. Al-Qur’an bahkan memberikan kedudukan yang sangat mulia kepada Isa dan ibunya, Maryam. Isa disebut sebagai al-Masih, kalimat dari Allah, dan salah satu rasul-Nya.
  • Islam juga mengajarkan bahwa Muhammad ﷺ datang bukan untuk menghapus seluruh ajaran tauhid para nabi sebelumnya, tetapi untuk menyampaikan risalah terakhir dan menjadi pembawa petunjuk bagi manusia secara universal.

Mengapa Risalah Nabi Berbeda Sasaran?

Perbedaan sasaran dakwah tidak berarti pertentangan antara para nabi. Dalam sejarah kenabian, Allah mengutus nabi kepada masyarakat tertentu sesuai keadaan mereka. Musa عليه السلام diutus kepada Fir’aun dan Bani Israil, Isa عليه السلام diutus kepada Bani Israil, sedangkan Muhammad ﷺ diutus dengan risalah yang mencakup seluruh manusia.

  • Al-Qur’an menjelaskan bahwa setiap umat pernah mendapatkan pemberi peringatan. Allah berfirman:
  • وَإِن مِّنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ
  • “Tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” QS. Fathir [35]: 24
  • Hal tersebut menunjukkan adanya pola kenabian yang bertujuan membimbing manusia sesuai konteks umat masing-masing.

Universalitas Risalah Muhammad ﷺ

Universalitas Nabi Muhammad ﷺ dapat dilihat dari penggunaan seruan “ya ayyuhan-nas” — wahai manusia dalam Al-Qur’an. Risalahnya tidak dibatasi oleh bangsa Arab, wilayah, warna kulit, atau kelompok etnis. Allah berfirman:

  • وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
  • “Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” QS. Al-Anbiya’ [21]: 107
  • Ayat ini menjadi salah satu dasar bahwa misi Muhammad ﷺ memiliki cakupan universal. Pesan tauhid, ibadah, akhlak, keadilan, dan tanggung jawab manusia tidak dibatasi oleh identitas etnis tertentu.

Bagaimana Seharusnya Umat Manusia Menyikapi Risalah Para Nabi?

Manusia sebaiknya memandang sejarah kenabian dengan ilmu, kejujuran, dan sikap objektif. Dalam perspektif Islam, setiap Muslim wajib mengimani para nabi dan tidak boleh menghina atau merendahkan mereka. Allah berfirman:

  • لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ
  • “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara rasul-rasul-Nya.” QS. Al-Baqarah [2]: 285
  • Pada saat yang sama, Islam meminta manusia mengikuti petunjuk Allah yang telah disampaikan melalui rasul terakhir. Karena Muhammad ﷺ diyakini sebagai rasul terakhir dan risalahnya bersifat universal, umat manusia dalam perspektif Islam diajak untuk menerima tauhid dan mengikuti petunjuk Al-Qur’an serta Sunnah.

Sikap tersebut tidak harus diwujudkan dengan permusuhan kepada pemeluk agama lain. Al-Qur’an justru memberikan prinsip dialog:

  • ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
  • “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” QS. An-Nahl [16]: 125
  • Karena itu, dakwah kepada Islam harus dilakukan dengan argumentasi, keteladanan, kebijaksanaan, dan penghormatan terhadap manusia.

Kesimpulan

Dalam perspektif Al-Qur’an, Isa عليه السلام adalah nabi dan rasul Allah yang diutus kepada Bani Israil, sedangkan Muhammad ﷺ adalah rasul terakhir yang diutus untuk seluruh umat manusia. Perbedaan tersebut menunjukkan perkembangan dan cakupan risalah, bukan pertentangan antara para nabi.

Bibel juga memiliki sejumlah teks yang menggambarkan misi Yesus yang secara khusus berorientasi kepada Israel, seperti Matius 10:5–6 dan Matius 15:24. Namun, tradisi Kristen secara keseluruhan juga memiliki teks yang menggambarkan perluasan misi kepada bangsa-bangsa, sehingga perbandingan harus dilakukan secara menyeluruh dan tidak berdasarkan satu ayat saja.

Islam memandang Isa عليه السلام sebagai nabi yang mulia dan wajib diimani. Muhammad ﷺ dipandang sebagai penutup para nabi dengan risalah universal. Karena itu, sikap ideal manusia adalah mempelajari risalah para nabi dengan jujur, menghormati seluruh nabi Allah, berpegang kepada tauhid, dan—dalam perspektif Islam—mengikuti risalah terakhir yang dibawa Muhammad ﷺ.

Ringkasnya:

Nabi Sasaran Risalah dalam Perspektif Islam Kedudukan
Musa عليه السلام Bani Israil dan menghadapi Fir’aun Nabi dan rasul Allah
Isa عليه السلام Bani Israil Nabi, rasul, dan al-Masih
Muhammad ﷺ Seluruh umat manusia Rasul terakhir dan penutup para nabi

Perbedaan misi tersebut mengajarkan bahwa Allah membimbing manusia melalui rangkaian kenabian, dan dalam keyakinan Islam risalah universal tersebut mencapai penutupnya melalui Nabi Muhammad ﷺ. Oleh sebab itu, dialog antaragama sebaiknya dibangun bukan dengan penghinaan, tetapi dengan ilmu, dalil, keteladanan, dan adab.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *