MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

INSPIRASI TOKOH: Menulis, Berilmu, Mengabdi: Perjalanan Panjang Haedar Nashir.

INSPIRASI TOKOH MUSLIM: Menulis, Berilmu, Mengabdi: Perjalanan Panjang Haedar Nashir. Dari Ciparay hingga Muhammadiyah: Kisah Hidup, Ilmu, dan Kepemimpinan Haedar Nashir

Perjalanan Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si. adalah kisah tentang ilmu yang tumbuh dari kesederhanaan, gagasan yang ditempa oleh perjalanan panjang, dan pengabdian yang menemukan jalannya melalui Muhammadiyah. Dari Ciparay, Bandung, langkahnya bergerak melalui ruang pendidikan, jurnalistik, organisasi, dan dunia intelektual hingga dipercaya memimpin Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ia menulis, membaca, belajar, berorganisasi, dan mengolah gagasan jauh sebelum berada di panggung kepemimpinan. Setiap tahap menjadi bagian dari proses membangun karakter, memperluas wawasan, dan menjaga amanah. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak lahir dari popularitas yang datang seketika, tetapi dari ketekunan yang terus dirawat.

Kisah Haedar juga menghadirkan pesan penting bagi generasi muda di tengah derasnya arus informasi. Ilmu membutuhkan ketekunan, tulisan membutuhkan kejujuran, kepemimpinan membutuhkan tanggung jawab, dan pengabdian membutuhkan ketulusan. Melalui pengalaman sebagai cendekiawan Muslim, akademisi, jurnalis, aktivis, dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2015-2022 dan 2022-2027, Haedar memperlihatkan hubungan erat antara pendidikan, literasi, organisasi, kepemimpinan, dan pengabdian. Prinsip tabayun, integritas, konsistensi, dan kemampuan mengelola gagasan menjadi semakin penting di era digital. Perjalanannya mengajarkan bahwa masa depan dibangun sedikit demi sedikit, melalui ilmu yang dipelajari, amanah yang dijaga, karya yang dihasilkan, dan manfaat yang diberikan kepada sesama.

Setiap perjalanan besar memiliki titik awal. Perjalanan Haedar Nashir dimulai dari Ciparay, Bandung, kemudian bergerak melalui pendidikan, pesantren, organisasi, jurnalistik, dan dunia akademik. Ia tidak tumbuh dalam ruang yang langsung membawanya menuju kepemimpinan. Ia menempuh jalan panjang dengan membaca, belajar, menulis, berorganisasi, dan menempa diri. Dari proses itulah lahir seorang cendekiawan yang kemudian dipercaya menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kisah ini memperlihatkan bahwa ilmu tidak berhenti pada gelar, tetapi menemukan maknanya ketika digunakan untuk memahami kehidupan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Di era modern, perjalanan tersebut memiliki makna yang semakin kuat. Generasi muda hidup dalam dunia yang bergerak cepat, ketika informasi dapat tersebar dalam hitungan detik dan popularitas mudah berubah. Dalam keadaan seperti ini, kemampuan berpikir, membaca, menulis, memeriksa kebenaran, dan menjaga integritas menjadi sangat penting. Perjalanan Haedar Nashir memberikan teladan bahwa kepemimpinan tidak dibangun dalam waktu singkat. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan konsisten, dari ilmu yang terus dicari, tulisan yang terus dilahirkan, amanah yang terus dijaga, dan pengabdian yang terus diberikan. Dari Ciparay hingga Muhammadiyah, kisahnya menjadi pengingat bahwa seseorang dapat melangkah jauh ketika ilmu menjadi bekal, akhlak menjadi arah, dan pengabdian menjadi tujuan.

Dari Anak Desa Menjadi Cendekiawan

Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si. adalah salah satu cendekiawan Muslim Indonesia yang perjalanan hidupnya memperlihatkan kekuatan ilmu, organisasi, literasi, dan pengabdian. Ia lahir di Ciheulang, Ciparay, Bandung Selatan, pada 25 Februari 1958. Haedar tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dekat dengan kehidupan keagamaan. Pendidikan awalnya ditempuh di Madrasah Ibtidaiyah Ciparay, SMP Muhammadiyah III Bandung, SMA Negeri 10 Bandung, dan Pondok Pesantren Cintawana, Tasikmalaya.

Perjalanan pendidikannya terus berkembang. Ia menempuh studi Sosiatri di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa APMD Yogyakarta dan menyelesaikannya sebagai lulusan terbaik. Ia kemudian melanjutkan pendidikan magister dan doktoral Sosiologi di Universitas Gadjah Mada. Keduanya diselesaikan dengan predikat cum laude. Pada 2019, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Namun, perjalanan Haedar tidak hanya dibangun di ruang kuliah. Sejak muda, ia aktif dalam Muhammadiyah dan dunia kepemudaan. Ia bergabung dengan Muhammadiyah pada 1983 dan mendapat amanah dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Setelah itu, kiprahnya berkembang melalui Pemuda Muhammadiyah dan berbagai aktivitas kaderisasi. Dari pengalaman tersebut, ia belajar bahwa kepemimpinan bukan sekadar posisi. Kepemimpinan lahir dari proses belajar, bekerja, melayani, dan menjaga amanah.

Menempa Diri Lewat Jurnalistik, Ilmu, dan Organisasi

Dunia jurnalistik menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Haedar. Sejak 1984, ia menekuni dunia kewartawanan di Majalah Suara Muhammadiyah. Ia memulai dari wartawan, masuk ke jajaran redaksi, hingga dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi. Selama puluhan tahun, menulis menjadi bagian dari kehidupannya. Ia juga dikenal sebagai penulis dan intelektual yang aktif menyampaikan gagasan tentang Islam, Muhammadiyah, demokrasi, kebangsaan, dan kehidupan sosial.

Perjalanan sebagai wartawan tidak selalu mudah. Ada tulisan yang tidak diterbitkan. Ada naskah yang dicoret redaktur. Ada pengalaman pahit ketika karya yang sudah dibuat dengan susah payah harus ditolak. Namun, Haedar terus menulis. Setelah sekitar 42 tahun berkarya dalam dunia jurnalistik, pada 2026 ia menerima Kartu Wartawan Utama Khusus dari Dewan Pers. Penghargaan tersebut menjadi simbol perjalanan panjang yang dibangun dengan ketekunan.

Bagi generasi muda, bagian ini penting. Kesuksesan Haedar tidak lahir secara instan. Ia tidak langsung menjadi guru besar. Ia tidak langsung menjadi pemimpin organisasi besar. Ia melewati tahapan demi tahapan. Belajar, menulis, berorganisasi, mengalami kegagalan, memperbaiki diri, kemudian menerima amanah yang lebih besar.

Pada 2000 hingga 2005, Haedar dipercaya sebagai Sekretaris PP Muhammadiyah. Setelah itu, ia menjadi Ketua PP Muhammadiyah hingga 2015. Pengalaman panjang tersebut membawanya ke tingkat kepemimpinan tertinggi Muhammadiyah. Pada Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar pada 2015, ia terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2015-2022. Pada Muktamar ke-48 di Surakarta pada 2022, ia kembali dipercaya untuk periode 2022-2027.

Menjadi pemimpin tidak membuat Haedar meninggalkan dunia literasi. Menulis tetap menjadi bagian dari cara berpikirnya. Ia memandang jurnalistik sebagai ruang untuk memahami kehidupan, mengolah pikiran, dan menyampaikan kebenaran. Dalam perjalanan panjangnya, ia menunjukkan bahwa ilmu, tulisan, dan organisasi dapat saling menguatkan.

Memimpin Muhammadiyah di Era Modern: Ilmu, Islam Berkemajuan, dan Pengabdian

Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah terus mengembangkan gagasan Islam Berkemajuan serta memperkuat pendidikan, kesehatan, sosial, dan jejaring internasional. Pengembangan fakultas kedokteran di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah menjadi salah satu bagian dari penguatan bidang kesehatan. Muhammadiyah juga memperluas jejaring internasional melalui berbagai institusi dan pusat kegiatan di luar negeri.

Ketika pandemi Covid-19 melanda Indonesia, kepemimpinan Haedar menghadapi ujian besar. Muhammadiyah menggerakkan jaringan rumah sakit, perguruan tinggi, sekolah, tenaga kesehatan, dan kader melalui Muhammadiyah Covid-19 Command Center. Gerakan tersebut memperlihatkan bagaimana organisasi keagamaan dapat mengambil peran nyata dalam persoalan kemanusiaan dan kesehatan masyarakat.

Kiprah Haedar juga mendapat berbagai pengakuan. Ia menerima penghargaan Pendekar Kehormatan Tapak Suci pada 2018. Ia masuk dalam daftar ilmuwan sosial Indonesia yang diperingkat AD Scientific Index pada 2022. Muhammadiyah juga menerima Zayed Award for Human Fraternity 2024 sebagai pengakuan atas kontribusi terhadap kemanusiaan dan perdamaian.

Namun, ukuran seorang pemimpin tidak hanya terletak pada jumlah penghargaan. Ada nilai yang lebih dalam dari perjalanan Haedar, yaitu konsistensi. Ia tetap menulis ketika belum menjadi pemimpin. Ia tetap belajar ketika sudah menjadi pemimpin. Ia tetap berbicara tentang ilmu, akhlak, kebangsaan, dan kemanusiaan ketika memiliki ruang publik yang luas.

Pesannya sangat relevan bagi anak muda di era digital. Saat semua orang bisa membuat konten, tantangan terbesar bukan sekadar mendapatkan perhatian. Tantangannya adalah menjaga kebenaran. Informasi dapat menyebar dalam hitungan detik. Kesalahan juga dapat menyebar dengan kecepatan yang sama.

Karena itu, prinsip tabayun menjadi sangat penting. Periksa informasi sebelum membagikannya. Baca sumbernya. Cari konteks. Bedakan fakta dan opini. Jangan membuat kesimpulan hanya dari judul. Jangan mengejar viral dengan mengorbankan kebenaran.

Haedar menunjukkan bahwa ilmu dan kepemimpinan dapat berjalan bersama. Seorang pemimpin membutuhkan wawasan. Seorang intelektual membutuhkan kepedulian sosial. Seorang aktivis membutuhkan disiplin. Seorang jurnalis membutuhkan kejujuran. Ketika semuanya dipadukan, lahirlah kepemimpinan yang memiliki dasar pemikiran dan pengalaman.

Kisah Haedar Nashir memberi pelajaran penting bagi generasi muda. Jangan terburu-buru mengejar posisi. Bangun kualitas diri terlebih dahulu. Kalau kamu ingin menjadi pemimpin, belajar bertanggung jawab. Kalau kamu ingin menjadi intelektual, biasakan membaca dan berpikir. Kalau kamu ingin menjadi penulis, teruslah menulis. Kalau kamu ingin dipercaya, mulai dari menjaga amanah kecil.

Dari seorang anak desa di Ciparay, Haedar tumbuh menjadi akademisi, penulis, wartawan, aktivis, dan akhirnya Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Perjalanannya menunjukkan bahwa masa depan tidak dibangun dalam satu malam. Masa depan dibangun melalui ilmu, disiplin, pengalaman, kesabaran, dan pengabdian.

Di tengah budaya serba cepat, kisah Haedar Nashir mengingatkan generasi muda bahwa proses panjang tetap memiliki nilai. Popularitas bisa datang cepat. Kepercayaan membutuhkan waktu. Jabatan bisa diberikan. Integritas harus dibangun. Gelar bisa diraih. Kebijaksanaan membutuhkan pengalaman.

Karena itu, jangan hanya bertanya, “Kapan saya sukses?” Tanyakan juga, “Apa yang sedang saya bangun hari ini?” Pemimpin besar tidak lahir ketika mendapatkan jabatan. Ia dibentuk jauh sebelumnya, ketika belum dikenal, ketika masih belajar, ketika masih menghadapi kegagalan, dan ketika hanya dirinya sendiri yang tahu seberapa keras ia berjuang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *