NABI ISA DAN YESUS SAMA ? Yesus dalam Injil dan Nabi Isa dalam Al-Qur’an, Persamaan dan Perbedaan dalam Perspektif Perbandingan Agama
Yesus merupakan tokoh sentral dalam Kekristenan dan juga memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam sebagai Nabi Isa putra Maryam. Kedua agama sama-sama menghormati beliau, namun memiliki perbedaan mendasar mengenai identitas, kedudukan, misi, serta peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupannya. Artikel ini bertujuan menguraikan persamaan dan perbedaan antara Yesus menurut Injil dan Nabi Isa menurut Al-Qur’an berdasarkan sumber utama masing-masing agama. Pendekatan yang digunakan adalah studi perbandingan agama secara deskriptif dengan menampilkan titik temu dan perbedaan secara objektif. Pembahasan ini tidak bertujuan menentukan kebenaran salah satu keyakinan, melainkan membantu pembaca memahami bagaimana kedua tradisi memandang sosok yang sama dari perspektif yang berbeda.
Yesus atau Isa merupakan salah satu tokoh agama yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia. Bagi umat Kristen, Yesus adalah pusat iman dan keselamatan. Bagi umat Islam, Nabi Isa merupakan salah satu rasul terbesar yang diutus Allah kepada Bani Israil dan termasuk Ulul Azmi. Al-Qur’an menyebut nama Isa sebanyak 25 kali dan Maryam lebih banyak disebut dibandingkan perempuan lain.
Kajian perbandingan agama mengenai Yesus dan Nabi Isa memiliki nilai akademik yang penting karena membantu memahami persamaan sejarah, ajaran, dan perbedaan teologi antara Islam dan Kristen. Pemahaman yang benar terhadap sumber primer masing-masing agama dapat mengurangi kesalahpahaman serta mendorong dialog yang lebih ilmiah dan saling menghormati.
Tambahan Tabel Persamaan Yesus dalam Injil dan Nabi Isa dalam Al-Qur’an Beserta Rujukan
| Aspek | Injil | Al-Qur’an |
|---|---|---|
| Lahir dari Perawan Maria atau Maryam | Matius 1:18-25, Lukas 1:26-35 | QS. Ali Imran: 45-47, QS. Maryam: 16-22 |
| Disebut Mesias atau Al-Masih | Yohanes 4:25-26 | QS. Ali Imran: 45 |
| Melakukan mukjizat | Matius 11:4-5, Yohanes 11:43-44 | QS. Ali Imran: 49, QS. Al-Ma’idah: 110 |
| Menghidupkan orang mati | Yohanes 11:43-44 | QS. Ali Imran: 49 |
| Menyembuhkan orang sakit | Markus 1:40-42 | QS. Ali Imran: 49 |
| Diutus kepada Bani Israil | Matius 15:24 | QS. Ash-Shaff: 6 |
| Mengajarkan menyembah Allah | Matius 4:10, Markus 12:29 | QS. Maryam: 36, QS. Az-Zukhruf: 64 |
| Memiliki murid | Matius 10:1-4 | QS. Ash-Shaff: 14 |
| Akan datang kembali | Matius 24:30 | QS. Az-Zukhruf: 61 menurut sebagian besar mufasir |
Baik Injil maupun Al-Qur’an sepakat bahwa Yesus atau Nabi Isa lahir secara mukjizat dari Maryam, diutus kepada Bani Israil, melakukan berbagai mukjizat atas izin Allah, mengajak manusia beribadah kepada Allah, memiliki para pengikut yang setia, serta memiliki peranan penting pada akhir zaman. Persamaan tersebut menunjukkan adanya sejumlah titik temu historis dan naratif antara kedua kitab suci, meskipun penafsiran teologinya berbeda.
Tambahan Tabel Perbedaan Beserta Rujukan
| Aspek | Injil | Al-Qur’an |
|---|---|---|
| Kedudukan Yesus | Yohanes 1:1, Yohanes 20:28 menjadi dasar bagi banyak umat Kristen mengenai keilahian Yesus | QS. Al-Ma’idah: 72-75, QS. Al-Ikhlas: 1-4 menegaskan Isa adalah rasul dan Allah Maha Esa |
| Penyaliban | Markus 15:24-39, Lukas 23 | QS. An-Nisa: 157-158 |
| Penebusan dosa | Yohanes 3:16, Roma 5:8 | QS. Al-An’am: 164, QS. An-Najm: 38-39 |
| Nabi terakhir | Tidak terdapat konsep nabi terakhir setelah Yesus | QS. Al-Ahzab: 40 |
Tabel Praktik Nabi Isa atau Yesus yang Memiliki Kemiripan dengan Ajaran Islam
| Praktik | Rujukan dalam Injil | Rujukan dalam Al-Qur’an atau Islam |
|---|---|---|
| Menyembah Allah | Matius 4:10, Yohanes 17:3 | QS. Maryam: 36 |
| Berdoa dengan bersujud | Matius 26:39 | QS. Al-Hajj: 77 |
| Berpuasa | Matius 4:2 | QS. Al-Baqarah: 183 |
| Dikhitan | Lukas 2:21 | Sunnah Nabi Ibrahim dan syariat Islam |
| Mengucapkan salam | Lukas 24:36 | QS. An-Nur: 61 |
| Tidak memakan makanan haram menurut syariat Bani Israil | Matius 5:17-19 | QS. Ali Imran: 50 |
| Memakai jubah sederhana | Yohanes 19:23 | Sunnah berpakaian sederhana |
| Berdoa kepada Allah | Yohanes 17:1-26 | Banyak ayat Al-Qur’an yang memerintahkan doa hanya kepada Allah |
| Mengajarkan kasih sayang | Markus 12:29-31 | QS. An-Nahl: 90 |
| Mengajarkan sedekah | Matius 6:1-4 | QS. Al-Baqarah: 261 |
Catatan Akademik
Beberapa hal yang sering disebut dalam diskusi publik, seperti “Yesus tidak makan babi”, “Yesus tidak minum alkohol”, atau “Yesus meninggal dikafani”, memerlukan kehati-hatian karena sumber primer tidak selalu menyatakannya secara eksplisit. Misalnya, Injil menggambarkan Yesus hidup sebagai orang Yahudi yang berada di bawah hukum Taurat, sehingga pembahasan mengenai makanan mengikuti hukum Yahudi pada zamannya. Mengenai minuman beralkohol, Injil memuat beberapa bagian yang menyebut penggunaan anggur, sehingga tidak tepat menyatakan bahwa Injil secara eksplisit mengajarkan Yesus tidak pernah mengonsumsi minuman beralkohol. Demikian pula, menurut keyakinan Islam Nabi Isa tidak wafat melalui penyaliban, sehingga tidak ada konsep pengafanan jenazah Nabi Isa dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu, dalam kajian ilmiah perbandingan agama, setiap pernyataan sebaiknya dibatasi pada hal-hal yang benar-benar didukung oleh sumber primer masing-masing tradisi.
Baik Injil maupun Al-Qur’an sama-sama menggambarkan Yesus atau Isa sebagai sosok yang luar biasa. Keduanya menyatakan bahwa beliau lahir dari seorang perempuan suci bernama Maria atau Maryam tanpa ayah biologis melalui kehendak Allah. Kedua kitab juga menyebut beliau sebagai Al-Masih atau Mesias yang diutus kepada Bani Israil untuk menyampaikan ajaran Tuhan dan membimbing umat kepada kehidupan yang benar. Mukjizat seperti menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang mati dengan izin Allah menurut Al-Qur’an, serta berbagai mukjizat lain juga ditemukan dalam kedua tradisi.
Persamaan lainnya adalah penghormatan yang tinggi terhadap pribadi Yesus atau Isa. Kedua agama mengakui kesucian Maryam, mengakui adanya para pengikut setia Yesus, serta meyakini bahwa beliau memiliki peranan penting dalam sejarah keselamatan manusia. Islam dan Kristen juga sama-sama memiliki keyakinan bahwa Yesus atau Isa akan hadir kembali menjelang akhir zaman, meskipun rincian mengenai peristiwa tersebut berbeda menurut ajaran masing-masing.
Perbedaan Yesus dalam Injil dan Nabi Isa dalam Al-Qur’an
| Aspek | Injil | Al-Qur’an |
|---|---|---|
| Kedudukan Yesus | Anak Allah dan bagian dari Tritunggal menurut mayoritas denominasi Kristen | Nabi dan Rasul Allah |
| Ketuhanan | Diakui sebagai Tuhan oleh mayoritas umat Kristen | Ditolak, Allah Maha Esa |
| Penyaliban | Disalib, wafat, lalu bangkit | Tidak disalib, Allah mengangkat Isa kepada-Nya |
| Penebusan dosa | Kematian Yesus dipahami sebagai penebusan dosa | Setiap manusia bertanggung jawab atas dosanya sendiri |
| Konsep keselamatan | Melalui iman kepada Kristus, dengan rincian berbeda antar denominasi | Melalui iman kepada Allah, amal saleh, dan rahmat Allah |
| Nabi terakhir | Tidak ada konsep nabi terakhir setelah Yesus | Muhammad ﷺ adalah nabi dan rasul terakhir |
| Kitab suci | Injil dalam Perjanjian Baru | Al-Qur’an sebagai wahyu terakhir |
Penjelasan Perbedaan
Perbedaan terbesar antara Islam dan Kristen terletak pada pemahaman mengenai identitas Yesus. Dalam arus utama Kekristenan, Yesus dipahami sebagai Anak Allah dan bagian dari Tritunggal. Dalam Islam, Nabi Isa adalah manusia pilihan yang diutus Allah sebagai nabi dan rasul, bukan Tuhan dan bukan anak Allah. Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah Maha Esa dan tidak beranak serta tidak diperanakkan.
Perbedaan berikutnya berkaitan dengan penyaliban, keselamatan, dan kenabian. Kekristenan pada umumnya mengajarkan bahwa Yesus disalib, wafat, kemudian bangkit sebagai dasar keselamatan. Islam mengajarkan bahwa Nabi Isa tidak disalib, melainkan diangkat oleh Allah, serta setiap manusia bertanggung jawab atas amalnya sendiri. Islam juga mengajarkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah penutup para nabi, sedangkan Nabi Isa merupakan salah satu nabi besar yang akan kembali pada akhir zaman.
Menurut ajaran Islam, Yesus yang dikenal dalam tradisi Kristen adalah Nabi Isa bin Maryam yang disebut dalam Al-Qur’an. Islam meyakini bahwa keduanya merujuk kepada pribadi sejarah yang sama, yaitu seorang nabi dan rasul yang diutus Allah kepada Bani Israil. Nabi Isa lahir secara mukjizat dari Maryam tanpa ayah, diberi berbagai mukjizat dengan izin Allah, menyeru manusia untuk menyembah Allah Yang Maha Esa, serta termasuk salah satu rasul Ulul Azmi. Al-Qur’an menegaskan bahwa Nabi Isa bukan Tuhan, bukan anak Allah, melainkan hamba dan utusan Allah yang dimuliakan. Islam juga meyakini bahwa Nabi Isa tidak disalib, tetapi diangkat oleh Allah dan akan kembali menjelang hari kiamat untuk menegakkan keadilan serta menegaskan kembali ajaran tauhid.
Dengan demikian, menurut perspektif Islam, Yesus dan Nabi Isa adalah satu pribadi yang sama, tetapi terdapat perbedaan mendasar antara ajaran Islam dan keyakinan mayoritas umat Kristen mengenai identitas dan kedudukannya. Islam menghormati Nabi Isa sebagai nabi yang agung, mengimani seluruh mukjizatnya, mencintainya sebagai bagian dari rukun iman kepada para rasul, serta menolak segala bentuk pengkultusan yang menempatkannya sebagai Tuhan atau bagian dari ketuhanan. Keimanan seorang Muslim tidak dianggap sempurna apabila tidak beriman kepada Nabi Isa sebagai salah satu rasul Allah yang mulia.
Saran
Kajian mengenai Yesus dan Nabi Isa hendaknya dilakukan dengan merujuk kepada sumber primer masing-masing agama, yaitu Alkitab bagi tradisi Kristen dan Al-Qur’an serta hadis yang sahih bagi tradisi Islam. Penelitian juga perlu memperhatikan konteks sejarah, bahasa asli, dan perkembangan penafsiran agar menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif.
Dialog mengenai perbedaan keyakinan sebaiknya dilaksanakan dengan pendekatan akademik, menghormati kebebasan beragama, menghindari penghinaan terhadap keyakinan pihak lain, serta mengedepankan etika ilmiah. Pendekatan seperti ini akan memperkuat literasi keagamaan sekaligus menjaga hubungan yang baik di tengah masyarakat yang majemuk.
Kesimpulan
Islam dan Kristen memiliki banyak persamaan dalam memandang sosok Yesus atau Nabi Isa, terutama mengenai kelahiran yang ajaib, kedudukan sebagai Al-Masih, mukjizat, dan perannya sebagai utusan Allah kepada Bani Israil. Namun, kedua agama juga memiliki perbedaan teologis yang mendasar mengenai ketuhanan Yesus, penyaliban, konsep keselamatan, dan kenabian. Memahami persamaan dan perbedaan tersebut melalui sumber yang sahih dapat memperkaya wawasan, meningkatkan kualitas dialog antaragama, dan menumbuhkan sikap saling menghormati di tengah keberagaman keyakinan.











Leave a Reply