Pesan Prof. Dr. Abdul Mu’ti kepada Remaja: Larangan Menjadi “Manusia Kelelawar” dan Praktik Sleep Call dalam Tinjauan Islam dan Ilmu Kedokteran
Pengaruh Kebiasaan Tidur Teratur terhadap Kesehatan Remaja: Telaah Interdisipliner antara Perspektif Pendidikan Islam dan Ilmu Kedokteran
Dr Widodo Judarwanto, pediatrician
Tidur yang cukup dan berkualitas merupakan kebutuhan fisiologis esensial pada remaja untuk mendukung pertumbuhan, fungsi kognitif, kesehatan mental, serta perkembangan sosial-emosional. Artikel ini meninjau pesan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., yang mengingatkan pelajar agar tidak menjadi “manusia kelelawar”, yaitu kebiasaan berkeliaran pada malam hari dan melakukan aktivitas tidak terarah seperti nongkrong hingga praktik sleep call yang mengganggu pola tidur. Kajian ini menggunakan pendekatan interdisipliner dengan menelaah literatur kedokteran tentang dampak kurang tidur pada remaja serta nilai-nilai Islam terkait pengelolaan waktu, keseimbangan hidup, dan amanah menjaga kesehatan tubuh. Hasil kajian menunjukkan bahwa tidur yang cukup berperan penting dalam menjaga kesehatan fisik dan mental remaja, meningkatkan kesiapan belajar, serta membentuk disiplin diri, dan secara substansial selaras dengan prinsip Islam yang menekankan keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Remaja merupakan fase penting dalam perkembangan manusia yang ditandai oleh perubahan biologis, psikologis, dan sosial yang signifikan. Pada fase ini, kebutuhan tidur memiliki peran krusial karena otak dan sistem hormonal masih berada dalam tahap pematangan. Secara medis, remaja membutuhkan waktu tidur sekitar 8–10 jam setiap malam untuk menjaga fungsi kognitif, kestabilan emosi, dan kemampuan regulasi perilaku. Kurang tidur yang berlangsung secara kronis diketahui dapat menurunkan daya konsentrasi, mengganggu suasana hati, serta berdampak negatif terhadap prestasi akademik dan kesehatan jangka panjang remaja.
Fenomena kebiasaan begadang dan aktivitas malam hari yang tidak terarah di kalangan pelajar menjadi perhatian serius dalam konteks pendidikan dan kesehatan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., menegaskan pesan tersebut saat memberikan pengarahan kepada siswa-siswi dalam acara Revitalisasi Mewujudkan Sekolah Aman, Nyaman, dan Rukun di SMP Negeri 1 Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada Kamis (8/1/2026), sebagaimana dilansir Antara. Dalam arahannya, beliau mengingatkan agar pelajar tidak menjadi manusia “kelelawar” yang berkeliaran malam hari, baik sekadar nongkrong, berjalan-jalan tanpa tujuan jelas, maupun menggunakan telepon seluler secara berlebihan hingga lupa waktu, termasuk kebiasaan sleep call yang menyebabkan terganggunya pola tidur dan kesulitan bangun pagi.
Prof. Dr. Abdul Mu’ti menekankan bahwa sebagai generasi bangsa yang hebat, pelajar perlu membangun tujuh kebiasaan positif, salah satunya membiasakan tidur lebih cepat agar dapat bangun lebih awal sebelum matahari terbit. Tidur yang teratur dipandang mampu membentuk disiplin, meningkatkan kesehatan, dan mempersiapkan kesiapan fisik serta mental dalam menerima pelajaran di sekolah. Pandangan ini selaras dengan temuan kedokteran modern mengenai pentingnya ritme sirkadian dan kualitas tidur bagi fungsi kognitif, kesehatan metabolik, serta stabilitas emosi remaja, sekaligus sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan keseimbangan hidup, pengelolaan waktu, dan kewajiban menjaga tubuh sebagai amanah dari Allah. Oleh karena itu, pembentukan budaya tidur sehat tidak dapat dibebankan pada siswa semata, melainkan memerlukan peran aktif orang tua, guru, dan lingkungan secara kolektif melalui kontrol, pembiasaan, dan keteladanan yang berkelanjutan.
Metode Kajian
Kajian ini menggunakan pendekatan literatur review dengan sumber sekunder dari artikel berita, jurnal ilmiah di bidang kedokteran tidur remaja, dan prinsip-prinsip kesehatan dalam Islam yang tertuang dalam teks klasik kedokteran Islam. Fokus analisis adalah hubungan antara pola tidur yang sehat, dampaknya terhadap kesehatan remaja, dan relevansi kebiasaan tersebut dalam pendidikan karakter siswa.
Dampak Kurang Tidur pada Remaja dari Perspektif Ilmu Kedokteran
Kurang tidur pada remaja merupakan isu serius dalam ilmu kedokteran modern karena fase remaja adalah periode kritis perkembangan otak, hormonal, dan psikososial. Penelitian neurologi menunjukkan bahwa otak remaja masih mengalami pematangan korteks prefrontal, bagian yang berperan dalam pengambilan keputusan, pengendalian emosi, dan konsentrasi. Studi dalam Journal of Adolescent Health (2022) menegaskan bahwa durasi tidur kurang dari 7 jam per malam secara konsisten berkorelasi dengan penurunan fungsi atensi, lambatnya pemrosesan informasi, serta meningkatnya kesalahan kognitif pada pelajar, yang secara langsung berdampak pada prestasi akademik dan kemampuan belajar jangka panjang.
Dari aspek kesehatan mental, berbagai penelitian terkini menunjukkan hubungan kuat antara kurang tidur dengan gangguan mood pada remaja. Meta-analisis dalam The Lancet Psychiatry (2023) melaporkan bahwa remaja dengan pola tidur buruk memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecemasan, depresi, iritabilitas, dan penurunan regulasi emosi. Kurang tidur menyebabkan ketidakseimbangan neurotransmiter seperti serotonin dan dopamin, yang berperan penting dalam kestabilan suasana hati. Kondisi ini membuat remaja lebih mudah stres, impulsif, dan rentan terhadap konflik sosial, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga.
Dari perspektif metabolik dan fisik, kurang tidur kronis terbukti berdampak pada sistem endokrin dan metabolisme tubuh. Penelitian dalam Sleep Medicine Reviews (2021) menunjukkan bahwa gangguan tidur pada remaja berhubungan dengan peningkatan resistensi insulin, gangguan hormon leptin dan ghrelin, serta risiko obesitas dan sindrom metabolik di usia muda. Tidur yang tidak cukup juga melemahkan sistem imun, meningkatkan peradangan sistemik, dan menurunkan daya tahan tubuh, sehingga remaja lebih mudah sakit dan mengalami kelelahan kronis yang menghambat aktivitas belajar dan fisik.
Aktivitas malam hari seperti penggunaan gawai berlebihan dan kebiasaan sleep call hingga tertidur memperparah gangguan tidur remaja karena paparan cahaya biru dari layar menghambat sekresi melatonin, hormon utama pengatur tidur. Studi eksperimental dalam Journal of Clinical Sleep Medicine (2022) membuktikan bahwa penggunaan ponsel sebelum tidur secara signifikan menggeser ritme sirkadian, menyebabkan keterlambatan waktu tidur, kesulitan bangun pagi, dan rasa mengantuk berlebihan di siang hari. Gangguan ritme biologis ini tidak hanya menurunkan produktivitas akademik, tetapi juga berdampak jangka panjang terhadap kesehatan otak dan keseimbangan psikologis remaja, sehingga pengendalian aktivitas malam menjadi kebutuhan medis sekaligus edukatif yang mendesak.
Relevansi Pesan Mendikdasmen Prof Dr Abdul Mu’ti dalam Konteks Kesehatan
Pesan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., yang menekankan pentingnya membiasakan tidur lebih cepat dan bangun lebih awal memiliki relevansi kuat dalam konteks kesehatan remaja. Anjuran untuk menghindari aktivitas malam yang tidak produktif, termasuk penggunaan telepon seluler secara berlebihan hingga lupa waktu, bertujuan menjaga keteraturan pola tidur agar pelajar dapat memulai hari dengan kondisi fisik dan mental yang optimal. Kebiasaan tidur yang baik tidak hanya membentuk disiplin, tetapi juga mempersiapkan kesiapan belajar siswa sehingga mampu mengikuti kegiatan akademik secara fokus dan produktif.
Dari perspektif ilmu kedokteran, tidur yang cukup dan teratur berperan penting dalam menjaga fungsi kognitif remaja, termasuk konsentrasi, memori, dan kemampuan mengambil keputusan. Tidur malam yang berkualitas mendukung proses konsolidasi memori di otak, menjaga keseimbangan hormon, serta membantu regulasi emosi. Sebaliknya, penggunaan gawai hingga larut malam terbukti mengganggu ritme sirkadian dan menurunkan kualitas tidur, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan prestasi belajar, gangguan suasana hati, serta meningkatnya kelelahan di siang hari.
Selain berdampak pada aspek kognitif, pola tidur yang sehat juga berkontribusi terhadap daya tahan tubuh dan kesehatan mental remaja. Tidur yang cukup memperkuat sistem imun, menurunkan respons stres, dan membantu menjaga kestabilan mood, sehingga remaja lebih tahan terhadap tekanan akademik maupun sosial. Dengan demikian, pesan Prof. Dr. Abdul Mu’ti tidak hanya relevan sebagai nasihat pendidikan dan pembentukan karakter, tetapi juga sejalan dengan rekomendasi medis modern tentang pentingnya tidur teratur sebagai fondasi kesehatan fisik, mental, dan keberhasilan belajar remaja.
Integrasi Nilai Islam dan Ilmu Kedokteran terhadap Kesehatan Tidur
Dalam Islam, menjaga kesehatan jasmani dan rohani merupakan bagian dari amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu” (HR. al-Bukhari no. 5199 dan Muslim no. 1867), yang oleh para ulama dijelaskan sebagai kewajiban menjaga tubuh dari kebiasaan yang merusak, termasuk begadang tanpa kebutuhan yang dibenarkan. Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani رحمه الله dalam Fath al-Bari menegaskan bahwa hadits ini menjadi dasar pentingnya keseimbangan antara ibadah, aktivitas, dan istirahat, karena kelelahan fisik yang berlebihan akan melemahkan kemampuan seseorang dalam menjalankan kewajiban agama maupun aktivitas duniawi, sebuah prinsip yang sejalan dengan temuan kedokteran modern tentang dampak buruk kurang tidur terhadap fungsi otak dan kesehatan metabolik.
Prinsip moderasi (tawazun) dalam Islam juga tercermin dalam larangan Nabi ﷺ terhadap kebiasaan begadang tanpa manfaat. Dalam hadits shahih disebutkan, “Rasulullah ﷺ tidak menyukai tidur sebelum Isya dan berbincang-bincang setelahnya” (HR. al-Bukhari no. 568 dan Muslim no. 647), yang oleh Imam an-Nawawi رحمه الله dijelaskan sebagai anjuran untuk menjaga pola tidur agar tidak melalaikan shalat, bangun pagi, dan aktivitas produktif. Ulama menyatakan bahwa kebiasaan berbincang atau beraktivitas malam hari tanpa keperluan syar’i dapat menyebabkan kelalaian, melemahkan tubuh, dan mengganggu keteraturan hidup, suatu kondisi yang dalam perspektif medis terbukti mengacaukan ritme sirkadian dan kualitas tidur remaja.
Lebih jauh, anjuran tidur lebih awal dan bangun pagi memiliki dimensi spiritual sekaligus kesehatan. Rasulullah ﷺ mendoakan keberkahan bagi umatnya di waktu pagi, “Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya” (HR. Abu Dawud no. 2606 dan at-Tirmidzi no. 1212, dinilai hasan shahih), yang oleh Imam al-Munawi رحمه الله dijelaskan sebagai isyarat bahwa aktivitas pagi yang diawali dengan kondisi tubuh segar akan membawa keberkahan, produktivitas, dan kejernihan akal. Integrasi nilai ini dengan ilmu kedokteran menunjukkan keselarasan yang kuat antara sunnah Nabi ﷺ dan rekomendasi medis modern, di mana tidur cukup dan teratur bukan hanya menjaga kesehatan fisik dan mental, tetapi juga menjadi sarana untuk meraih keberkahan hidup dan kualitas amal yang lebih baik.
Kesimpulan
Kebiasaan tidur yang sehat merupakan fondasi penting dalam kesehatan fisik, mental, dan akademik remaja. Imbauan Mendikdasmen Prif Dr Abdul Mu’ti untuk menghindari aktivitas yang mengganggu pola tidur selaras dengan rekomendasi medis tentang pentingnya tidur yang cukup bagi remaja. Integrasi nilai-nilai Islam dan ilmu kedokteran dapat mendorong pembentukan kebiasaan hidup sehat sebagai bagian dari pendidikan karakter siswa.
Saran
Berdasarkan hasil kajian ini, disarankan agar pelajar membangun kesadaran dan kedisiplinan pribadi dalam mengelola waktu, khususnya dengan membiasakan tidur lebih awal dan menghindari aktivitas malam hari yang tidak produktif seperti begadang tanpa tujuan dan praktik sleep call. Penggunaan telepon seluler dan gawai perlu dibatasi secara bijak, terutama pada malam hari, agar tidak mengganggu kualitas tidur dan kesiapan fisik serta mental untuk belajar di keesokan harinya. Kesadaran ini penting ditanamkan sebagai bagian dari tanggung jawab menjaga kesehatan diri dan masa depan.
Peran orang tua dan guru sangat krusial dalam membentuk budaya tidur sehat pada remaja. Orang tua diharapkan dapat melakukan pengawasan, memberikan teladan, serta menetapkan aturan yang konsisten terkait waktu tidur dan penggunaan gawai di rumah, sementara guru dan pihak sekolah dapat mengintegrasikan edukasi tentang kesehatan tidur ke dalam program pembinaan karakter dan kesehatan siswa. Pendekatan yang kolaboratif dan berkelanjutan diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang mendukung terbentuknya kebiasaan hidup sehat, selaras dengan prinsip ilmu kedokteran dan nilai-nilai Islam, demi terwujudnya generasi muda yang sehat, berakhlak, dan berdaya saing.
Daftar Pustaka
- National Sleep Foundation. Sleep Needs Across the Life Span. (2020).
- Yudharia. Masalah Begadang dan Dampaknya pada Siswa. Jurnal Lingkar Mutu Pendidikan (2025).
- Owens JA, Weiss MR. Insufficient sleep in adolescents: causes and consequences. Minerva Pediatr. 2017;69(4):326–336.
- Short MA, Louca M. Sleep deprivation leads to mood deficits in healthy adolescents. Sleep Med. 2015;16(8):987–993.
- Shochat T, Tavor O, Tibi L. Sleep fragmentation and daytime sleepiness in adolescents: associations with emotional and cognitive functioning. Nat Sci Sleep. 2021;13:313–324.
- Minges KE, Redeker NS. Delayed school start times and adolescent sleep: a systematic review. Sleep Med Rev. 2016;28:82–91.
- Fatima Y, Doi SA, Mamun AA. Sleep problems in adolescence and young adulthood: a meta-analysis of prevalence. Sleep Med Rev. 2017;33:13–23.
- Hale L, Guan S. Screen time and sleep among school-aged children and adolescents: a systematic literature review. Sleep Med Rev. 2015;21:50–58.
- Carter B, Rees P, Hale L, Bhattacharjee D, Paradkar MS. Association between portable screen-based media device access or use and sleep outcomes. JAMA Pediatr. 2016;170(12):1202–1208.
- Crowley SJ, Wolfson AR, Tarokh L, Carskadon MA. An update on adolescent sleep: new evidence informing the perfect storm model. J Adolesc. 2018;67:55–65.Antara News. Mendikdasmen Ingatkan Siswa Jangan Jadi Manusia “Kelelawar” Berkeliaran Malam Hari. (2026).
- Al-Bukhari M ibn Ismail. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Beirut: Dar Iprof Dr bn Kathir; 2002.
- Muslim ibn al-Hajjaj. Ṣaḥīḥ Muslim. Riyadh: Dar Taibah; 2006.
- An-Nawawi Y ibn Sharaf. Sharḥ Ṣaḥīḥ Muslim. Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi; 2004.
- Ibn Hajar al-‘Asqalani A. Fath al-Bari bi Sharh Sahih al-Bukhari. Beirut: Dar al-Ma’rifah; 2005.
- Al-Munawi Z al-Din. Fayd al-Qadir Sharh al-Jami‘ al-Saghir. Cairo: Dar al-Hadith; 1998.
- Abu Dawud S ibn al-Ash‘ath. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar al-Risalah al-‘Alamiyyah; 2009.
- At-Tirmidhi M ibn ‘Isa. Sunan al-Tirmidhi. Riyadh: Maktabah al-Ma‘arif; 2016.
- Al-Qaradawi Y. Fiqh al-Hayah. Cairo: Dar al-Shuruq; 2011.














Leave a Reply