Usia Bumi dan Alam Semesta dalam Perspektif Al-Qur’an dan Kosmologi Modern. Analisis Konseptual Surah Yunus Ayat 3 dan Surah Fussilat Ayat 9
Dr Widodo Judarwanto ped
Abstrak
Kosmologi modern memperkirakan usia alam semesta sekitar 13,8 miliar tahun dan usia bumi sekitar 4,5 miliar tahun. Di sisi lain, Al-Qur’an menyebut bahwa penciptaan langit dan bumi berlangsung dalam enam masa (sittati ayyām), serta secara khusus menyebut penciptaan bumi dalam dua masa sebagaimana termaktub dalam Surah Fussilat ayat 9. Artikel ini bertujuan mengkaji keterkaitan konseptual antara data kosmologi modern dan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut melalui pendekatan tafsir tematik dan analisis rasional-ilustratif. Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak memberikan angka kronologis, namun menyajikan kerangka penciptaan bertahap yang selaras dengan pemahaman ilmiah modern mengenai evolusi kosmik.
Kata kunci: usia bumi, usia alam semesta, enam masa penciptaan, Yunus ayat 3, Fussilat ayat 9, Al-Qur’an dan sains.
Perkembangan kosmologi modern telah menghasilkan estimasi usia alam semesta sekitar 13,8 miliar tahun, berdasarkan pengamatan radiasi latar gelombang mikro kosmik dan ekspansi alam semesta. Bumi sendiri diperkirakan terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu, jauh setelah alam semesta ada.
Temuan ilmiah ini sering dikaitkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas penciptaan langit dan bumi, terutama Surah Yunus ayat 3 dan Surah Fussilat ayat 9–12. Pertanyaan utama yang muncul adalah: apakah terdapat keterkaitan antara konsep “enam masa” dalam Al-Qur’an dengan rentang waktu kosmik yang sangat panjang sebagaimana dipahami dalam sains modern?
Ayat-Ayat Penciptaan yang Relevan
Surah Yunus Ayat 3
“Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa (sittati ayyām), kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy…”
(QS. Yunus: 3)
Surah Fussilat Ayat 9
“Katakanlah: Apakah kamu benar-benar kafir kepada (Allah) yang menciptakan bumi dalam dua masa…”
(QS. Fussilat: 9)
Ayat-ayat ini menegaskan dua hal penting:
- Total penciptaan langit dan bumi berlangsung dalam enam masa
- Bumi secara khusus diciptakan dalam dua masa
Makna “Yaum” dalam Tafsir Al-Qur’an
Dalam kajian bahasa Arab dan tafsir klasik, istilah yaum tidak selalu berarti satu hari (24 jam). Para mufassir seperti Ibnu Katsir, Ath-Thabari, dan Al-Qurthubi menjelaskan bahwa yaum dapat bermakna:
- Masa atau periode
- Tahapan waktu
- Urutan proses penciptaan
Hal ini logis, karena matahari dan sistem waktu harian baru diciptakan pada tahap selanjutnya (QS. Fussilat: 12). Dengan demikian, “enam masa” dipahami sebagai enam fase kosmik, bukan enam hari kalender.
Analisis Kosmologi: Usia Alam Semesta dan Enam Masa
- Ilmu kosmologi modern menetapkan usia alam semesta sekitar 13,8 miliar tahun. Jika angka ini digunakan sebagai pendekatan ilustratif-konseptual (bukan tafsir tekstual), maka pembagian ke dalam enam masa menghasilkan: 13,8 (miliqr taahun) : 6 6 = 2,3 (miliar tahun)
- Dengan pendekatan pembulatan konservatif, nilai ini sering dinyatakan sekitar ±2,1–2,3 miliar tahun per masa.
- Pendekatan ini tidak dimaksudkan untuk menetapkan makna ayat secara numerik, melainkan untuk menunjukkan bahwa satu “masa” dalam Al-Qur’an dapat mencakup rentang waktu kosmik yang sangat panjang.
Dua Masa Penciptaan Bumi (QS. Fussilat: 9)
- Surah Fussilat ayat 9 menyebut bahwa bumi diciptakan dalam dua masa. Jika dua masa tersebut dipahami secara ilustratif berdasarkan pembagian kosmik di atas, maka diperoleh: 2,3 (miliar tahun) x 2 = 4,6 (miliar tahun)
- Rentang ini sangat dekat dengan estimasi ilmiah usia bumi, yaitu sekitar 4,5 miliar tahun.
- Sekali lagi perlu ditekankan bahwa: Ini bukan tafsir matematis Al-Qur’an, Melainkan kesesuaian pola dan urutan, bukan klaim angka wahyu
Keterkaitan dengan Surah Yunus Ayat 3
Surah Yunus ayat 3 menyebut total penciptaan langit dan bumi dalam enam masa, sedangkan Surah Fussilat ayat 9 menjelaskan bahwa dua dari enam masa tersebut berkaitan dengan penciptaan bumi.
Secara konseptual, ini selaras dengan kosmologi modern:
- Alam semesta ada terlebih dahulu (13,8 miliar tahun)
- Bumi terbentuk pada fase akhir evolusi kosmik
- Usia bumi lebih muda dibanding usia alam semesta
Dengan demikian, QS. Yunus: 3 memberikan kerangka global penciptaan, sedangkan QS. Fussilat: 9 memberikan rincian khusus tentang bumi.
Secara ilustratif, jika usia alam semesta sekitar 13,8 miliar tahun dibagi ke dalam enam masa sebagaimana disebut dalam Surah Yunus ayat 3, maka setiap masa berdurasi sekitar 2,3 miliar tahun (13,8 ÷ 6 ≈ 2,3). Selanjutnya, mengingat Al-Qur’an menyebut penciptaan bumi berlangsung dalam dua masa, durasi 2,3 miliar tahun per masa dikalikan 2 menghasilkan sekitar 4,6 miliar tahun, mendekati perkiraan ilmiah usia bumi sekitar 4,5 miliar tahun. Perhitungan ini bersifat ilustratif, menunjukkan bahwa kerangka penciptaan bertahap dalam Al-Qur’an secara konseptual selaras dengan skala waktu kosmik dan evolusi bumi menurut sains, tanpa menuntut kesesuaian numerik literal.
Usia alam semesta sekitar 13,8 miliar tahun dan usia bumi sekitar 4,5 miliar tahun tidak bertentangan dengan Surah Yunus ayat 3 dan Surah Fussilat ayat 9. Konsep “enam masa” dalam Al-Qur’an menunjukkan penciptaan bertahap dalam skala kosmik, bukan satuan waktu manusia.
Pendekatan ilustratif pembagian usia alam semesta ke dalam enam masa—serta dua masa untuk penciptaan bumi—menunjukkan keselarasan konseptual dan urutan, bukan kesesuaian numerik mutlak. Al-Qur’an memberikan kerangka tauhid dan keteraturan kosmik, sementara sains menjelaskan mekanisme dan kronologi berdasarkan observasi.
Batasan Metodologis dan Kehati-hatian Tafsir
Penting ditegaskan bahwa:
- Al-Qur’an tidak diturunkan sebagai buku kosmologi
- Al-Qur’an tidak menyebut angka tahun penciptaan
- Pendekatan pembagian usia kosmik ini bersifat taqrīb (pendekatan ilustratif)
Para ulama menegaskan bahwa tafsir ilmiah harus:
- Tidak memaksakan teori sains ke dalam ayat
- Bersifat isyarat dan reflektif
- Tetap berpijak pada kaidah tafsir yang sahih
Penutup
Kajian ini menunjukkan bahwa dialog antara Al-Qur’an dan sains tidak perlu bersifat konfrontatif. Justru, pemahaman yang proporsional dan metodologis dapat memperkuat keimanan dan membuka ruang refleksi ilmiah yang sehat tentang kebesaran Allah dalam penciptaan alam semesta.
Daftar Pustaka
- Nasution RS. Konsep Penciptaan Alam Semesta Dalam Al‑Qur’an dan Sains. Jurnal Akhlak: Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Filsafat. [Internet]. 2020 [cited 2025 Dec 18]; Available from: https://ejournal.aripafi.or.id/index.php/Akhlak/article/view/634
- Wikipedia contributors. Ledakan Besar (Big Bang) [Internet]. Wikipedia bahasa Indonesia. 2025 [cited 2025 Dec 18]. Available from: https://id.wikipedia.org/wiki/Ledakan_Besar
- Detikcom. Berapa Perkiraan Usia Alam Semesta? [Internet]. Detik.com. 2025 [cited 2025 Dec 18]. Available from: https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6929791/berapa-perkiraan-usia-alam-semesta-simak-beberapa-teorinya
- Kompas.com. Sebenarnya, Berapa Umur Bumi? [Internet]. Kompas.com. 2020 [cited 2025 Dec 18]. Available from: https://www.kompas.com/sains/read/2020/01/15/190300523/sebenarnya-berapa-umur-bumi
- Assajad A. A Study of Cosmology and Its Implications on Islamic Education. In: Proceedings of ISETH. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta; 2021 [cited 2025 Dec 18]. p. 45–57. Available from: https://proceedings.ums.ac.id/iseth/article/download/5065/4366/8246
















Leave a Reply