Konsep Parenting Islami dalam Kisah Maryam binti ‘Imran: Telaah Al-Qur’an, Hadits, dan Pandangan Ulama
Abstrak
Konsep parenting Islami dengan menelaah kisah Maryam binti ‘Imran dalam Al-Qur’an, khususnya pada QS. Ali ‘Imran ayat 32, 33, 35, 36, dan 37. Nilai-nilai pendidikan yang dapat diambil dari kisah tersebut, yaitu ketaatan kepada Allah, pemilihan pasangan yang shalih/shalihah, doa dan nadzar orang tua, penerimaan penuh syukur terhadap anak, pemberian nama yang baik, serta pendidikan akal, fisik, ruhani, dan lingkungan anak. Parenting dalam Islam tidak hanya berorientasi pada keberhasilan duniawi, tetapi juga bertujuan menyelamatkan anak dari kebinasaan dunia dan akhirat. Nilai-nilai ini sejalan dengan perintah Allah dalam QS. At-Tahrim: 6 dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang fitrah anak.
Parenting atau pola asuh anak merupakan amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Al-Qur’an dan hadits memberikan panduan jelas tentang kewajiban orang tua dalam mendidik anak agar mereka tumbuh menjadi generasi beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Tulisan ini hadir sebagai refleksi untuk orang tua Muslim agar tidak terjebak pada orientasi duniawi semata, melainkan menempatkan pendidikan ruhani sebagai prioritas utama.
Dalam Islam, anak adalah amanah yang harus dijaga. Allah ﷻ berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6). Ayat ini menegaskan kewajiban orang tua bukan hanya menafkahi anak secara materi, tetapi juga membimbing mereka agar selamat dunia dan akhirat. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyebut hati anak bagaikan permata yang polos, siap dibentuk sesuai arahan orang tua.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menegaskan bahwa arah pendidikan anak sangat ditentukan oleh peran orang tua. Kesalahan dalam parenting, seperti hanya menekankan prestasi duniawi, berpotensi merusak fitrah iman anak.
Parenting Islami dalam Kisah Maryam binti ‘Imrān
Kisah Maryam binti ‘Imrān dalam Al-Qur’an bukan sekadar narasi sejarah, melainkan sebuah pedoman pendidikan anak yang sarat dengan nilai ketauhidan, kesucian, dan kesabaran. Allah ﷻ mengabadikan kisah Maryam dalam beberapa surah, di antaranya Surah Āli ‘Imrān dan Surah Maryam, sebagai bukti bahwa perjalanan hidup seorang wanita shalihah dapat menjadi inspirasi pendidikan lintas zaman. Para ulama kontemporer seperti Prof. Wahbah az-Zuhaili dan Dr. Yusuf al-Qaradawi menekankan bahwa kisah-kisah Al-Qur’an bukan hanya untuk direnungkan, melainkan untuk diimplementasikan dalam kehidupan nyata, termasuk dalam mendidik anak. Parenting Islami dalam kisah Maryam menunjukkan pentingnya peran keluarga, doa orang tua, serta penjagaan terhadap fitrah anak agar tumbuh dalam iman dan ketaatan.
Salah satu nilai utama dalam parenting kisah Maryam adalah peran doa orang tua sebelum dan sesudah kelahiran anak. Ibu Maryam, Hannah binti Faqudz, berdoa agar anaknya menjadi hamba Allah yang ikhlas, bahkan sebelum Maryam lahir ke dunia (QS. Āli ‘Imrān: 35–36). Ulama kontemporer seperti Syekh Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan bahwa doa orang tua adalah investasi ruhani yang menentukan arah pendidikan anak. Hal ini menjadi pengingat bagi orang tua Muslim masa kini bahwa parenting tidak dimulai ketika anak lahir, melainkan sejak dalam kandungan bahkan sejak niat menikah. Pendidikan anak yang hanya berorientasi dunia tanpa doa dan tawakkal akan melahirkan generasi cerdas secara intelektual tetapi rapuh secara spiritual.
Nilai kedua adalah penjagaan kesucian dan lingkungan pendidikan anak. Maryam ditempatkan di mihrab, tumbuh dalam lingkungan ibadah, jauh dari keburukan dunia, dan selalu dijaga oleh Allah ﷻ (QS. Āli ‘Imrān: 37). Ulama besar seperti Ibn Katsir menafsirkan bahwa penjagaan Allah ini datang melalui kesungguhan keluarga dalam memilih lingkungan terbaik bagi anak. Di era modern, parenting Islami harus menekankan lingkungan yang sehat secara akhlak dan iman: sekolah, teman sebaya, bahkan dunia digital. Prof. Quraish Shihab menambahkan bahwa kisah Maryam memberi pesan penting tentang peran keluarga dan masyarakat dalam membentuk karakter anak, bukan sekadar menyerahkan sepenuhnya kepada institusi pendidikan formal.
Nilai ketiga adalah keteladanan kesabaran dan ketaatan anak kepada Allah. Maryam menerima ujian berat ketika mengandung Nabi Isa ‘alaihissalam, menghadapi stigma masyarakat, dan menanggung penderitaan lahiriah maupun batiniah. Namun, ia tetap bersandar penuh kepada Allah ﷻ, hingga Allah menguatkannya dengan wahyu dan mukjizat (QS. Maryam: 23–26). Ulama seperti Dr. Said Ramadhan al-Buthi menegaskan bahwa parenting Islami bukan hanya tentang memberi kenyamanan, tetapi juga melatih anak menghadapi ujian hidup dengan iman, sabar, dan tawakkal. Anak yang hanya diasuh dalam kenyamanan duniawi akan mudah rapuh saat menghadapi masalah, sedangkan anak yang dibimbing dengan kesabaran ruhani akan tumbuh menjadi generasi tangguh.
Akhirnya, parenting dalam kisah Maryam binti ‘Imrān mengajarkan bahwa pendidikan anak sejati adalah pembinaan iman sejak dini, doa yang tulus, lingkungan yang bersih, dan teladan kesabaran. Ulama kontemporer seperti Sheikh Ali Jum’ah menekankan bahwa kisah Maryam relevan untuk menjawab tantangan parenting modern: disrupsi teknologi, krisis akhlak, dan orientasi duniawi yang berlebihan. Dengan menjadikan Maryam sebagai teladan, orang tua Muslim dapat menyeimbangkan pendidikan duniawi dan ukhrawi, sehingga anak-anak bukan hanya menjadi cerdas dan berprestasi, tetapi juga menjadi hamba Allah yang taat, kuat imannya, dan siap menghadapi tantangan zaman. Kisah Maryam adalah pesan abadi bahwa parenting Islami sejati adalah melahirkan generasi yang selamat di dunia sekaligus mulia di akhirat.
Telaah Al-Qur’an, Hadits, dan Pandangan Ulama
QS. Ali ‘Imran ayat 35–37 menggambarkan doa dan nadzar istri ‘Imran yang menghendaki anaknya menjadi hamba Allah yang shalih. Meski lahir seorang perempuan, orang tua Maryam tetap menerima dengan syukur, memberi nama yang baik, serta berdoa agar anak mereka dilindungi dari godaan setan. Kisah ini menunjukkan prinsip utama parenting: doa yang tulus, penerimaan penuh syukur, dan pendidikan ruhani sejak kandungan.
Dalam Tafsir Ibn Katsir, ketika menafsirkan QS. Āli ‘Imrān ayat 35–37, Ibn Katsir menjelaskan bahwa doa ibu Maryam (Hannah binti Faqudz) adalah bentuk ketulusan orang tua menyerahkan anaknya kepada Allah sebelum lahir. Ia bernadzar agar anak yang dikandungnya menjadi hamba Allah yang taat dan berkhidmat di Baitul Maqdis. Namun ketika ternyata anak yang lahir adalah seorang perempuan, ia pasrah kepada ketetapan Allah dan tetap menyerahkannya dalam penjagaan-Nya. Ibn Katsir menegaskan bahwa meskipun Maryam seorang perempuan, Allah ﷻ justru memuliakannya dengan keutamaan-keutamaan luar biasa, menjaga kesuciannya, memberinya rezeki yang tak disangka-sangka, bahkan menjadikannya ibu dari salah satu nabi besar, Isa ‘alaihissalam. Tafsir ini memberikan pesan bahwa doa tulus orang tua tidak pernah sia-sia, dan Allah lebih mengetahui potensi seorang anak melebihi perhitungan manusia.
Selain itu, pada QS. Āli ‘Imrān ayat 37, Ibn Katsir menekankan bahwa penjagaan Allah kepada Maryam terwujud dengan ditempatkannya ia di mihrab dan dijaga oleh Nabi Zakariya ‘alaihissalam. Setiap kali Nabi Zakariya masuk ke mihrab, ia mendapati rezeki berupa makanan yang tidak biasa ada pada musimnya, dan Maryam menjawab bahwa semua itu datang dari Allah. Ibn Katsir menafsirkan bahwa hal ini adalah bentuk karamah (kemuliaan) yang Allah anugerahkan kepada Maryam sebagai balasan atas ketakwaan dan penjagaan dirinya. Dari sisi parenting, tafsir ini memberi pelajaran bahwa lingkungan yang penuh ibadah dan pengawasan dari orang-orang shalih sangat penting bagi pertumbuhan anak. Lebih jauh, Allah sendiri yang akan mencukupi kebutuhan anak yang dibesarkan dalam ketaatan. Ini menjadi teladan bagi orang tua Muslim untuk mengutamakan pendidikan iman, adab, dan lingkungan ruhani yang baik bagi anak-anak mereka.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Tuhfatul Maudud menjelaskan bahwa banyak kerusakan anak disebabkan kelalaian orang tua yang hanya sibuk memenuhi kebutuhan jasad, namun mengabaikan ruh dan hati anak. Ulama kontemporer seperti Syekh Abdul Malik Ramadhani juga menekankan bahwa keberhasilan parenting bukan diukur dari jabatan atau harta anak, tetapi dari keteguhan iman dan akhlak mereka.
Fakta sosial menunjukkan banyak orang tua masa kini lebih mengutamakan pendidikan akademik, karier, dan status sosial. Padahal, tanpa pendidikan ruhani, anak mudah rapuh menghadapi masalah hidup, cenderung mencari pelarian negatif, bahkan bisa mengalami trauma psikologis. Inilah yang disebut toxic parenting, di mana orang tua tanpa sadar menjadi sumber luka batin bagi anak-anak mereka.
Parenting Islami hadir sebagai solusi untuk melahirkan dhurriyyah thayyibah (generasi yang baik). Dengan meneladani kisah Maryam binti ‘Imran, orang tua didorong untuk membangun keharmonisan (sakinah), kasih sayang (mawaddah), dan rahmat dalam keluarga. Pendidikan yang berimbang antara akal, fisik, ruhani, dan lingkungan menjadikan anak tumbuh sehat, cerdas, dan berakhlak mulia.
Sikap Orang Tua yang Seharusnya
- Orang tua harus menanamkan tauhid sejak dini, membimbing anak agar mengenal Allah, cinta Rasulullah, dan terbiasa beribadah. Seperti doa istri ‘Imran dalam QS. Ali ‘Imran ayat 36, doa yang tulus harus menjadi bekal utama dalam mendidik anak.
- Orang tua harus menerima anak dengan penuh syukur, baik laki-laki maupun perempuan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa diuji dengan anak perempuan lalu ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak itu akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
- Orang tua wajib memperhatikan pendidikan akhlak dan adab anak, bukan hanya aspek akademik. Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa mendidik akhlak sejak kecil lebih mudah daripada memperbaikinya ketika dewasa.
- Orang tua hendaknya menjadi teladan utama. Sebab, anak belajar lebih banyak dari perilaku nyata orang tuanya dibanding sekadar nasihat. Dengan keteladanan, kasih sayang, doa, dan pendidikan ruhani, anak akan tumbuh menjadi generasi mukmin yang kokoh.
Kesimpulan
Parenting Islami adalah amanah besar yang harus dijalankan dengan berlandaskan Al-Qur’an, sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta pandangan para ulama. Kisah Maryam binti ‘Imran memberikan pelajaran bahwa doa, nadzar, syukur, dan pendidikan ruhani sejak dini adalah fondasi utama dalam mendidik anak. Kesalahan terbesar orang tua adalah ketika terlalu menekankan aspek duniawi dan mengabaikan kebutuhan ruhani anak. Dengan menerapkan konsep parenting Islami, orang tua tidak hanya melahirkan anak yang cerdas secara akademik, tetapi juga membangun generasi yang kuat imannya, mulia akhlaknya, dan selamat dunia-akhirat.














Leave a Reply