Widodo Judarwanto, Dr, pediatrician
Seiring anak-anak memasuki usia sekolah, mereka mungkin menghadapi tekanan dari berbagai sumber. Tekanan ini bisa datang dari dalam diri anak itu sendiri, serta dari orang tua, guru, teman sebaya, dan masyarakat luas. Tekanan ini dapat muncul dalam berbagai bentuk, yang harus dihadapi dan disesuaikan oleh anak. Baik itu peristiwa yang berlangsung lama, seperti perceraian orang tua mereka, atau hanya masalah kecil seperti kehilangan pekerjaan rumah, tekanan atau stres ini merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak.
Stres dapat memberikan dorongan positif, seperti memotivasi anak untuk berlatih kepribadian atau mendorong remaja belajar lebih giat, namun stres kronis, seperti tekanan sekolah yang terus-menerus, keresahan sosial, atau kekerasan, memiliki dampak serius jika tidak ditangani. Stres berkepanjangan dapat memicu berbagai masalah kesehatan fisik, termasuk tekanan darah tinggi, melemahnya sistem kekebalan tubuh, obesitas, dan penyakit jantung, serta gangguan mental seperti kecemasan dan depresi, yang kini semakin umum di kalangan remaja. Bahkan, antara 2016 dan 2020, diagnosis kecemasan pada anak usia 3–17 tahun meningkat 29%, dan depresi meningkat 27%, menurut studi JAMA Pediatrics tahun 2022. Meski stres pada anak muda mungkin tampak berbeda dari orang dewasa, mereka tetap dapat belajar mengelola stres secara sehat dengan dukungan orang tua atau pengasuh, melalui pengenalan tanda-tanda stres berlebihan dan penerapan strategi penanganan yang tepat.
Ada sisi positifnya, yaitu ketika anak-anak diberi kesempatan untuk menghadapi kemunduran pada usia muda. Mereka mengembangkan ketahanan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjadi orang dewasa yang mandiri dan menghadapi tantangan di masa depan.
Penyebab
Stres pada anak dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik dari lingkungan keluarga, sekolah, maupun sosial. Salah satu penyebab utama adalah perubahan besar dalam kehidupan, seperti perceraian orang tua, pindah rumah, atau kehilangan orang yang disayangi. Stres juga dapat timbul akibat tekanan akademis, seperti tuntutan untuk mendapatkan nilai tinggi, atau masalah sosial, seperti perundungan (bullying) atau kesulitan dalam berteman. Selain itu, masalah kesehatan, baik fisik maupun mental, juga dapat menjadi pemicu stres pada anak. Faktor lingkungan yang tidak stabil atau kurangnya dukungan emosional dari orang tua atau teman juga dapat memperburuk kondisi stres pada anak.
Pada anak kecil, stres sering berasal dari ketegangan di rumah, seperti perselisihan keluarga, perceraian, kehilangan, atau perubahan besar seperti pindah rumah atau kedatangan saudara baru. Sekolah juga menjadi sumber stres, termasuk tekanan untuk berteman, menghadapi perundungan, berinteraksi dengan guru, serta kecemasan terhadap ujian dan nilai. Selama pandemi, kunjungan ke unit gawat darurat anak terkait kesehatan mental meningkat, menurut CDC (2022).
Pada remaja, sumber stres meluas ke luar rumah, seperti tekanan akademik, hubungan sosial, dan tekanan teman sebaya terkait penggunaan zat terlarang atau seks. Krisis kesehatan mental meningkat di kelompok usia ini, termasuk kasus menyakiti diri sendiri, keracunan obat, dan gangguan makan sejak pandemi (CDC, 2022). Data Healthy Minds Study (2022) menunjukkan lebih dari 60% mahasiswa mengalami masalah kesehatan mental, mencerminkan dampak stres yang signifikan pada anak muda.
Gejala
- Gejala stres pada anak dapat muncul dalam berbagai bentuk, baik secara fisik, emosional, maupun perilaku.
- Secara fisik, anak dapat mengalami sakit kepala, perut mual, gangguan tidur, atau penurunan nafsu makan. Secara emosional, anak mungkin merasa cemas, mudah marah, atau menjadi lebih sensitif dari biasanya.
- Perubahan perilaku juga sering terlihat, seperti menarik diri dari aktivitas yang biasa disukai, kesulitan berkonsentrasi, atau penurunan prestasi di sekolah.
- Dalam beberapa kasus, anak juga dapat menunjukkan perilaku regresi, seperti mengompol atau berbicara dengan cara yang lebih kekanak-kanakan.
- Mengenali gejala-gejala ini dengan cepat sangat penting agar anak dapat mendapatkan dukungan yang tepat untuk mengatasi stres yang mereka alami.
Stres yang Baik dan Buruk
- Tidak semua stres adalah hal yang buruk. Tekanan yang moderat dari seorang guru atau pelatih, misalnya, dapat memotivasi anak untuk menjaga nilai-nilai mereka di sekolah atau berpartisipasi lebih penuh dalam kegiatan olahraga. Berhasil mengelola situasi atau peristiwa yang penuh stres meningkatkan kemampuan anak untuk menghadapinya di masa depan.
- Anak-anak adalah orang dewasa masa depan, dan melalui pengalaman ini, mereka mengembangkan ketahanan dan belajar bagaimana mengatasi rintangan dan hambatan kehidupan yang tak terhindarkan. Namun, ketika stres berlangsung terus-menerus atau sangat intens, hal ini dapat mempengaruhi baik pikiran maupun tubuh.
- Peristiwa besar, terutama yang mengubah keluarga anak secara permanen, seperti meninggalnya orang tua, dapat berdampak lama pada kesehatan psikologis dan kesejahteraan anak. Stres minor sehari-hari juga bisa memiliki konsekuensi.
- Peristiwa stres mendadak akan mempercepat pernapasan dan detak jantung anak, menyempitkan pembuluh darah, meningkatkan tekanan darah dan ketegangan otot, serta mungkin menyebabkan gangguan pencernaan dan sakit kepala. Seiring berlanjutnya stres, hal ini dapat membuat anak lebih rentan terhadap penyakit dan mengalami kelelahan, kurang tidur, mimpi buruk, menggertakkan gigi, nafsu makan yang buruk, ledakan emosi, atau depresi. Anak-anak mungkin menjadi mudah marah atau nilai sekolah mereka bisa menurun. Perilaku mereka dan kesiapan mereka untuk bekerja sama juga bisa berubah.
Bagaimana Stres Dapat Mempengaruhi Anak
- Usia dan perkembangan anak akan membantu menentukan seberapa stresful situasi tertentu bagi mereka. Pergantian guru di tengah tahun bisa menjadi peristiwa besar bagi anak kelas satu dan hanya menjadi gangguan bagi anak kelas enam. Bagaimana anak memandang dan merespons stres sebagian bergantung pada perkembangan, sebagian pada pengalaman, dan sebagian pada temperamen individu anak.
Bagaimana Anak-Anak Menghadapi Stres
Temperamen anak bervariasi, begitu pula kemampuan mereka untuk mengatasi stres dan masalah sehari-hari. Beberapa anak secara alami mudah beradaptasi dengan peristiwa dan situasi baru. Lainnya bisa terganggu oleh perubahan dalam hidup mereka.
Semua anak akan meningkat dalam kemampuan mereka untuk menangani stres jika mereka:
- sebelumnya berhasil mengelola tantangan dan merasa mampu melakukannya
- memiliki rasa harga diri yang kuat
- mendapatkan dukungan emosional dari keluarga dan teman-teman
Anak-anak yang memiliki rasa kompetensi pribadi yang jelas, dan merasa dicintai serta didukung, umumnya akan berkembang dengan baik.
Membantu Menghadapi Stres Pada Anak Berdasarkan Islam
- Mengajarkan anak untuk mengatasi stres menurut Islam berlandaskan pada prinsip-prinsip ketenangan hati dan pengelolaan emosi dengan cara yang sehat. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman dalam Surah At-Tawbah (9:51): “Katakanlah, ‘Tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah ditentukan oleh Allah untuk kami; Dia adalah pelindung kami.’ Dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” Ayat ini mengajarkan anak untuk percaya bahwa segala peristiwa dalam hidup, baik yang menyenangkan maupun yang penuh tantangan, adalah takdir Allah, dan mereka harus belajar untuk tawakal (berserah diri) serta menerima kenyataan dengan hati yang lapang. Mengajarkan anak untuk selalu berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah dalam menghadapi kesulitan adalah langkah penting dalam membantu mereka mengelola stres.
- Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga memberikan teladan dalam mengatasi stres dan kesulitan hidup. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi bersabda: “Barang siapa yang merasa cemas atau tertekan, maka hendaknya membaca doa ini: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesedihan dan kecemasan.'” (HR. Muslim). Hadits ini menunjukkan pentingnya doa sebagai sarana untuk menenangkan hati. Mengajarkan anak untuk berdoa ketika mereka merasa cemas atau stres dapat membantu mereka mengelola perasaan dan memperoleh ketenangan batin. Selain itu, ajaran Islam mendorong anak-anak untuk beribadah, seperti shalat, yang dapat menjadi sarana untuk mengurangi kecemasan dan memperkuat hubungan mereka dengan Allah.
- Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental sebagai bagian dari ibadah. Dalam Surah Al-Baqarah (2:286), Allah berfirman: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Ayat ini mengingatkan anak bahwa Allah tidak akan memberikan ujian yang tidak bisa mereka hadapi, dan mereka memiliki kekuatan untuk mengatasi tantangan hidup. Oleh karena itu, mengajarkan anak untuk menjaga keseimbangan antara aktivitas fisik, seperti olahraga dan waktu istirahat yang cukup, serta waktu untuk belajar dan beribadah, dapat membantu mereka mengatasi stres dengan lebih baik. Dengan cara ini, anak-anak diajarkan untuk mengelola stres secara holistik, dengan mengandalkan iman, doa, dan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari.
- Pendekatan secara Praktis Parenting Islam
- Tanamkan Nilai Spiritual: Ajak anak untuk rutin berdoa, membaca Al-Qur’an, dan melaksanakan ibadah, sehingga mereka merasa dekat dengan Allah dan memperoleh ketenangan batin.
- Bangun Komunikasi Positif: Jadilah pendengar yang baik dan ajak anak berbicara tentang perasaan mereka tanpa menghakimi.
- Ajarkan Pengelolaan Emosi: Bantu anak mengenali dan mengelola emosinya dengan cara yang sehat, seperti melalui dzikir atau teknik pernapasan dalam.
- Ciptakan Lingkungan Positif: Pastikan rumah menjadi tempat yang aman dan nyaman, jauh dari konflik yang dapat meningkatkan stres.
- Berikan Contoh yang Baik: Tunjukkan ketenangan dan kesabaran dalam menghadapi masalah, sehingga anak dapat mencontoh perilaku positif ini.
- Konsultasi dengan Ahli: Jika stres anak berlanjut atau memburuk, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan ahli, seperti psikolog anak atau konselor Islami, untuk mendapatkan bantuan yang tepat.
Pendekatan ini tidak hanya membantu anak menghadapi stres tetapi juga memperkuat iman dan karakter mereka dalam menghadapi tantangan hidup.
Menghadapi Stres dalam Kehidupan Sehari-hari
- Anak-anak menyambut beberapa peristiwa dan mampu menyesuaikan diri dengan relatif mudah. Peristiwa lainnya mungkin terasa seperti ancaman terhadap rutinitas harian mereka atau kesejahteraan keluarga secara umum. Stres semacam ini bisa lebih mengganggu. Sebagian besar stres yang dihadapi anak-anak berada di tengah-tengah: tidak disambut dengan baik namun juga tidak sangat merusak, melainkan bagian dari menyelesaikan tugas-tugas masa kanak-kanak dan mempelajari diri mereka sendiri.
- Anak-anak mungkin harus menghadapi perundungan di taman bermain, pindah ke lingkungan baru, penyakit serius orang tua, atau kekecewaan karena performa olahraga yang buruk. Mereka mungkin merasakan tekanan konstan untuk berpakaian dengan cara yang “benar”, atau mencapai nilai tinggi yang dapat membawa mereka ke perguruan tinggi yang “tepat”. Anak-anak juga bisa khawatir tentang membuat teman, menghadapi tekanan teman sebaya, atau mengatasi cedera fisik atau kecacatan.
- Anak-anak peka tidak hanya terhadap perubahan di sekitar mereka, tetapi juga terhadap perasaan dan reaksi orang tua mereka. Hal ini berlaku meskipun perasaan tersebut tidak disampaikan secara langsung dengan kata-kata. Jika seorang orang tua kehilangan pekerjaan, anak-anak harus menyesuaikan diri dengan krisis keuangan keluarga mereka; mereka harus menghadapi tidak hanya perubahan anggaran keluarga yang jelas, tetapi juga perubahan dalam kondisi emosional orang tua mereka.
- Tidur dengan baik. Tidur sangat penting untuk kesejahteraan fisik dan emosional. Para ahli merekomendasikan sembilan hingga 12 jam tidur per malam untuk anak-anak berusia 6 hingga 12 tahun. Remaja membutuhkan delapan hingga 10 jam per malam. Tidur harus menjadi prioritas untuk mengendalikan stres. Untuk melindungi waktu tidur, batasi penggunaan layar di malam hari dan hindari menyimpan perangkat digital di kamar tidur.
- Bagaimana orang tua dapat membantu
- Orang tua dan pengasuh lainnya memiliki peran penting untuk dimainkan, dengan mengadopsi kebiasaan sehat mereka sendiri dan membantu anak-anak dan remaja menemukan strategi pengelolaan stres. Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua: Contoh cara mengatasi stres yang sehat. Pengasuh dapat berbicara dengan anak-anak tentang bagaimana mereka memikirkan dan menangani situasi stres mereka sendiri.
- Biarkan anak-anak menjadi pemecah masalah. Wajar untuk ingin memperbaiki masalah anak Anda. Namun, ketika orang tua turun tangan untuk menyelesaikan setiap kesalahan kecil, anak-anak mereka tidak memiliki kesempatan untuk mempelajari keterampilan mengatasi stres yang sehat. Biarkan anak-anak Anda mencoba memecahkan masalah berisiko rendah mereka sendiri, dan mereka akan memperoleh kepercayaan diri bahwa mereka dapat mengatasi pemicu stres dan kemunduran.
- Dorong literasi media. Anak-anak masa kini menghabiskan banyak waktu daring, di mana mereka dapat menemukan konten yang meragukan, perundungan siber, atau tekanan dari teman sebaya di media sosial. Orang tua dapat membantu dengan mengajarkan anak-anak mereka untuk menjadi konsumen digital yang cerdas, dan dengan membatasi waktu layar.
- Atasi pikiran negatif. “Saya buruk dalam matematika.” “Saya benci rambut saya.” “Saya tidak akan pernah masuk tim. Untuk apa mencoba?” Anak-anak dan remaja dapat dengan mudah terjebak dalam pikiran negatif. Namun, ketika anak-anak menggunakan self-talk negatif, jangan hanya tidak setuju. Minta mereka untuk benar-benar memikirkan apakah apa yang mereka katakan itu benar, atau ingatkan mereka tentang saat-saat mereka bekerja keras dan meningkat. Belajar untuk membingkai sesuatu secara positif akan membantu mereka mengembangkan ketahanan terhadap stres.
- Bagaimana psikolog dapat membantu Psikolog adalah ahli dalam membantu orang mengelola stres dan membangun kebiasaan kesehatan mental yang positif. Kunjungi ahli untuk saran tentang memilih psikolog dan informasi tentang perawatan berbasis bukti.
Kesimpulan
Dalam parenting Islam, membantu anak menghadapi stres melibatkan pendekatan holistik yang mencakup aspek spiritual, emosional, dan fisik. Islam mengajarkan pentingnya ketenangan hati melalui ibadah, doa, dan tawakal kepada Allah. Selain itu, komunikasi yang baik antara orang tua dan anak sangat penting untuk memahami kebutuhan dan kekhawatiran anak, sementara lingkungan keluarga yang penuh kasih dan dukungan memberikan rasa aman yang esensial. Pendekatan ini tidak hanya membantu anak menghadapi stres tetapi juga memperkuat iman dan karakter mereka dalam menghadapi tantangan hidup.











Link Slot Terbaru
Saya sangat menikmati membaca artikel ini! Saya selalu menunggu tulisan terbaru dari blog ini. Teruslah berkarya!