MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Mengapa Harus Percaya Paulus Bukan Percaya Yesus (Nabi Isa) ?: Kajian Teologis dan Sejarah

Abstrak:

Perdebatan tentang pergeseran ajaran tauhid Nabi Isa (Yesus) menjadi doktrin ketuhanan dalam tradisi Kristen tidak terlepas dari peran sentral Paulus dari Tarsus. Tulisan ini mengkaji secara kritis perbedaan mendasar antara ajaran Yesus sebagai nabi Bani Israil yang mengajarkan tauhid murni dan kepatuhan terhadap hukum Taurat, dengan ajaran Paulus yang memperkenalkan konsep ketuhanan Yesus, penebusan dosa melalui kematian di salib, dan penghapusan kewajiban Taurat. Dengan metode kualitatif berbasis studi pustaka terhadap Injil Sinoptik, surat-surat Paulus, serta sumber-sumber sejarah gereja mula-mula, ditemukan bahwa Paulus bukan murid langsung Yesus, tidak pernah berinteraksi secara personal dengannya, dan sering berbeda pendapat dengan murid-murid utama Yesus seperti Yakobus dan Petrus. Ajaran Paulus menunjukkan pengaruh budaya Helenistik dan mitologi dewa-dewa Yunani-Romawi, sehingga melahirkan teologi yang jauh bergeser dari pesan tauhid Yesus. Berdasarkan temuan ini, tulisan ini merekomendasikan agar kajian ulang terhadap sumber ajaran Kristen awal dilakukan, serta mengajak umat untuk lebih kritis dan obyektif dalam menilai asal-usul doktrin ketuhanan Yesus demi kebenaran sejarah dan keimanan yang murni.

Kata Kunci: Paulus, Yesus sejarah, teologi Kristen, tauhid, perubahan doktrin, ajaran Taurat, Helenistik.


Kajian ini membahas peran sentral Paulus dari Tarsus dalam perubahan ajaran Nabi Isa (Yesus) dari konsep tauhid murni menuju pemahaman sebagai Tuhan atau Anak Allah dalam Kekristenan. Dibandingkan ajaran Yesus asli yang terfokus pada keesaan Allah dan ketaatan terhadap Taurat, Paulus memperkenalkan konsep penebusan dosa melalui kematian Yesus di kayu salib. Melalui analisis teks Injil dan surat-surat Paulus, tulisan ini mengungkap perbedaan fundamental antara Yesus sejarah dan Kristus iman versi Paulus. Kajian ini menegaskan pentingnya bagi umat manusia untuk kritis dan jujur dalam menilai sumber ajaran agama demi menemukan kebenaran sejati.

Ajaran Yesus (nabi Isa), seorang nabi Bani Israil, menekankan keesaan Allah, ketaatan pada hukum Taurat, serta penolakan terhadap penyembahan manusia sebagai Tuhan. Pesan ini sejalan dengan tradisi para nabi sebelumnya dalam agama Samawi. Namun dalam perkembangan sejarah Kekristenan, terjadi perubahan mendasar dalam pemahaman terhadap pribadi dan misi Yesus.

Perubahan ini dipelopori oleh Paulus dari Tarsus, seorang tokoh yang tidak pernah berjumpa dengan Yesus (nabi Isa) semasa hidup-Nya. Melalui surat-suratnya, Paulus memperkenalkan gagasan baru seperti penebusan dosa melalui salib dan menjadikan Yesus sebagai Anak Allah. Konsep ini jauh berbeda dari ajaran Yesus asli sebagaimana tercatat dalam Injil.

Siapakah Paulus?

Paulus (Saulus dari Tarsus) lahir di wilayah kekuasaan Romawi dan dibesarkan dalam tradisi Yahudi Farisi. Ia dikenal sebagai penganiaya jemaat Kristen awal sebelum mengaku bertobat setelah mengalami penampakan Yesus (nabi Isa) di jalan menuju Damaskus.

Pertobatan ini tidak menjadikannya bagian dari dua belas murid asli Yesus (nabi Isa). Ia juga tidak pernah mengenal Yesus secara langsung, bahkan ajarannya sering bertentangan dengan ajaran murid-murid asli seperti Yakobus dan Petrus di Yerusalem.

Asal-usul Paulus juga masih misterius. Keterangan tentang keluarganya tidak jelas, begitu pula latar belakang kehidupannya sebelum menjadi pengikut Kristen. Kisah hidupnya sebagian besar berasal dari tulisannya sendiri dan laporan Kisah Para Rasul yang juga ditulis belakangan.

Perselisihan antara Paulus dan murid-murid Yesus (nabi Isa) tercatat dalam beberapa bagian Injil dan Kisah Para Rasul, terutama dalam hal keharusan menjalankan hukum Taurat. Paulus mengajarkan kebebasan dari Taurat bagi non-Yahudi, berbeda dari ajaran Yesus yang justru menegaskan pentingnya Taurat.

Paulus muncul sebagai figur yang membawa tafsir baru terhadap figur Yesus (nabi Isa), tafsir yang lebih sesuai dengan budaya Yunani-Romawi, ketimbang kelanjutan dari tradisi Yahudi monoteistik yang dipegang Yesus dan murid-muridnya.

Tabel Perbedaan Ajaran Yesus dan Paulus Berdasarkan Ayat Injil:

No Ajaran Yesus (nabi Isa) Paulus
1 Tauhid Markus 12:29: “Tuhan itu Esa” Roma 10:9: “Yesus adalah Tuhan”
2 Taurat Matius 5:17: “Aku datang untuk menggenapi Taurat” Galatia 2:16: “Tidak dibenarkan oleh hukum Taurat”
3 Keselamatan Matius 19:17: “Turutilah perintah (Taurat) untuk hidup kekal” Roma 3:28: “Manusia dibenarkan karena iman, bukan karena Taurat”
4 Dosa Asal Tidak diajarkan Roma 5:12: “Semua manusia berdosa karena Adam”
5 Penebusan Dosa Tidak diajarkan 1 Korintus 15:3: “Kristus mati karena dosa-dosa kita”
6 Status Yesus Nabi, utusan Allah Anak Allah, Tuhan
7 Syariat Sunat Sunat tetap berlaku (Lukas 2:21) Sunat tidak berlaku (Galatia 5:2)
8 Hubungan Yahudi-Gentile Diutus untuk Israel (Matius 15:24) Untuk semua bangsa (Roma 1:16)
9 Iman dan Amal Harus taat hukum Taurat (Matius 5:20) Iman cukup tanpa perbuatan hukum Taurat (Efesus 2:8-9)
10 Makanan Haram Hukum makanan tetap berlaku (Matius 5:17-19) Semua makanan halal (Roma 14:20)

Mengapa Harus Percaya Paulus, Bukan Percaya Yesus (nabi Isa) ?

Pertanyaan mendasar ini muncul karena Paulus sendiri tidak pernah menjadi murid langsung Yesus (nabi Isa). Ia bahkan mengaku sebagai penentang keras jemaat Kristen awal sebelum mengalami pertobatan di jalan menuju Damaskus (Kisah Para Rasul 9). Sementara Yesus secara langsung mengajarkan monoteisme murni, ketaatan kepada Taurat, dan penolakan terhadap penyembahan diri sendiri, Paulus datang membawa ajaran baru yang justru melonggarkan hukum Taurat dan mengajarkan bahwa keselamatan tidak lagi bergantung pada amal perbuatan atau kepatuhan syariat, melainkan hanya melalui iman kepada kematian dan kebangkitan Yesus. Di sinilah muncul pertentangan teologis besar antara Yesus sejarah dan Kristus versi Paulus.

Yesus (nabi Isa) dalam Injil-injil sinoptik (Markus, Matius, Lukas) dengan jelas mengajarkan bahwa hukum Taurat tetap berlaku (Matius 5:17-20) dan bahwa hanya Allah yang Esa layak disembah (Markus 12:29). Ia juga tidak pernah mengklaim diri sebagai Tuhan atau Anak Allah dalam pengertian ilahi Yunani-Romawi. Justru klaim keilahian Yesus (nabi Isa) ini muncul kuat dalam surat-surat Paulus, yang ditulis lebih awal daripada keempat Injil kanonik. Hal ini menimbulkan pertanyaan: mengapa otoritas ajaran harus berpindah dari perkataan langsung Yesus kepada interpretasi pribadi Paulus?

Selain itu, para murid utama Yesus di Yerusalem seperti Yakobus dan Petrus pun sempat berbeda pendapat dengan Paulus. Dalam Surat Galatia 2:11-14, Paulus bahkan menegur Petrus secara terbuka karena dianggap bersikap munafik soal pergaulan dengan non-Yahudi. Yakobus sendiri, yang disebut sebagai “saudara Tuhan” (Galatia 1:19), memimpin gereja Yerusalem dan tetap menekankan pentingnya Taurat, sebagaimana tertulis dalam Kisah Para Rasul 15. Perbedaan ini menegaskan bahwa Paulus mengembangkan ajaran yang sangat berbeda, bahkan bertentangan, dari komunitas asli pengikut Yesus.

Jika Yesus (nabi Isa) adalah sumber ajaran sejati, maka seharusnya perkataan, perintah, dan teladan Yesus-lah yang menjadi pedoman utama umat Kristen. Namun ironisnya, doktrin-doktrin kunci Kristen modern—seperti keselamatan melalui iman saja, penebusan dosa oleh darah Yesus, dan penghapusan Taurat—semuanya berasal dari Paulus, bukan dari ajaran Yesus sendiri. Hal ini menimbulkan pertanyaan logis: mengapa ajaran seseorang yang tidak pernah bertemu Yesus secara langsung dijadikan fondasi agama, sementara ajaran langsung Yesus malah dikesampingkan?

Dalam konteks ini, umat manusia yang jujur mencari kebenaran seharusnya lebih kritis terhadap peran Paulus. Sejarah membuktikan bahwa ajaran Paulus sangat dipengaruhi oleh budaya dan mitos Yunani-Romawi, di mana dewa-dewa bisa turun ke bumi, mati, dan bangkit demi manusia. Sedangkan Yesus (nabi Isa) sebagai nabi Bani Israil mengajarkan kemurnian tauhid seperti nabi-nabi sebelumnya. Dengan demikian, kepercayaan kepada Paulus daripada Yesus sendiri adalah hasil rekayasa sejarah gereja, bukan kehendak asli dari ajaran Yesus.

Ajaran-ajaran dasar Kekristenan modern seperti dosa asal, penebusan darah, penghapusan Taurat, hampir seluruhnya berasal dari Paulus, bukan dari ajaran Yesus (nabi Isa) sendiri. Maka wajar muncul pertanyaan: mengapa umat Kristen lebih memilih mengikuti tafsir Paulus ketimbang sabda Yesus?

Isa dan Paulus dalam Qur’an dan Hadits

Nabi Isa ‘alaihissalam memiliki posisi sangat mulia dalam Islam. Al-Qur’an menyebutkan beliau sebanyak 25 kali, di antaranya sebagai al-Masih, Ibn Maryam (putra Maryam), dan Rasulullah. Dalam QS. An-Nisa ayat 171, Allah menegaskan bahwa Isa adalah hamba-Nya, utusan-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam. Hadits-hadits shahih, seperti dalam Shahih Bukhari dan Muslim, juga mengabarkan bahwa Isa akan turun kembali di akhir zaman untuk menegakkan keadilan, mematahkan salib, membunuh Dajjal, dan menegakkan hukum Islam. Penegasan Al-Qur’an dan hadits ini membantah keyakinan Nasrani yang menganggap Isa sebagai Tuhan atau anak Tuhan.

Dalam Al-Qur’an dan hadits, nama Paulus tidak pernah disebut secara langsung. Islam tidak mengenal Paulus sebagai bagian dari sejarah kenabian atau pewahyuan. Para ulama tafsir dan sejarah Islam menjelaskan bahwa Paulus merupakan tokoh yang dianggap berperan besar dalam perubahan ajaran tauhid Nabi Isa menjadi doktrin trinitas dalam Kekristenan. Beberapa sejarawan Muslim, seperti Ibn Hazm dalam Al-Fasl fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa al-Nihal, menilai Paulus sebagai penyimpang yang memperkenalkan banyak ajaran baru yang tidak pernah diajarkan oleh Isa ‘alaihissalam, seperti penebusan dosa dan penghapusan hukum Taurat.

Dengan demikian, dalam perspektif Islam, Isa adalah utusan Allah yang mengajak kepada tauhid murni, sedangkan Paulus dipandang sebagai tokoh yang menyelewengkan ajaran tersebut. Al-Qur’an dengan tegas meluruskan kesalahpahaman yang berkembang setelah kepergian Isa, sebagaimana disebutkan dalam QS. Maryam: 88-92, bahwa sangat besar dosanya mengatakan Allah punya anak. Islam mengembalikan posisi Isa sebagai manusia mulia yang tidak pernah mengajarkan ketuhanan dirinya, sementara peran Paulus tidak diakui dalam sumber-sumber utama Islam.

Bagaimana Sikap Umat Manusia Seharusnya?

  • Pertama, umat harus jujur dalam menilai sumber ajaran agama. Sumber primer ajaran Yesus harus menjadi pegangan utama, bukan interpretasi tokoh yang tidak mengenal Yesus secara langsung. Kejujuran intelektual menuntut umat manusia untuk mengutamakan sumber ajaran yang bersumber langsung dari sosok pembawa risalah, dalam hal ini Yesus (Isa ‘alaihissalam). Ajaran Yesus yang tertuang dalam perkataan dan perbuatannya selama masa kenabiannya seharusnya menjadi fondasi utama pemahaman keagamaan. Mengandalkan interpretasi dari tokoh-tokoh yang bahkan tidak pernah berjumpa secara langsung dengan Yesus, seperti Paulus, berpotensi melahirkan penyelewengan dari ajaran asli yang murni. Oleh karena itu, umat manusia perlu mengedepankan pengkajian terhadap ajaran langsung Yesus dibandingkan menerima mentah-mentah tafsir para pengikut sesudahnya. Selain itu, keterputusan historis antara Paulus dengan Yesus memunculkan keraguan serius mengenai validitas ajaran yang ia sampaikan. Paulus sendiri dalam surat-suratnya mengakui bahwa ia tidak pernah berguru kepada Yesus melainkan mengaku menerima wahyu secara pribadi. Hal ini sangat berbeda dengan para murid asli Yesus yang hidup, berinteraksi, dan belajar langsung dari beliau. Maka, umat yang ingin mencari kebenaran sejati seyogianya mengutamakan ajaran Yesus yang autentik daripada ajaran turunan yang disusun oleh figur yang tidak mengalami bimbingan langsung darinya.
  • Kedua, kajian kritis terhadap Injil dan surat-surat Paulus harus dilakukan secara ilmiah, tanpa prasangka, agar dapat memilah mana ajaran asli Yesus  (Nabi Isa) dan mana hasil reinterpretasi budaya asing. Pendekatan ilmiah yang objektif sangat penting untuk menilai keaslian teks-teks keagamaan. Kajian kritis terhadap Injil dan surat-surat Paulus harus dilakukan dengan metode penelitian historis, filologis, dan kontekstual agar mampu memisahkan ajaran Yesus yang autentik dari hasil pengaruh budaya asing yang masuk ke dalam tradisi Kekristenan. Dengan penelitian semacam ini, akan tampak jelas bahwa banyak konsep teologi yang berkembang dalam kekristenan modern—seperti doktrin Trinitas, penebusan dosa, dan penghapusan syariat Taurat—lebih banyak bersumber dari pemikiran Paulus dan pengaruh filsafat Yunani-Romawi. Dengan melakukan kajian kritis, umat manusia akan menyadari bahwa banyak teks yang dianggap sebagai wahyu ternyata hasil penyuntingan dan interpretasi sepanjang sejarah gereja. Beberapa konsili gereja di masa lalu bahkan memutuskan ajaran resmi bukan berdasarkan wahyu langsung, melainkan kompromi teologis dan politik antar kelompok Kristen yang saling berbeda. Oleh karena itu, sikap kritis dan objektif terhadap teks-teks ini menjadi kunci untuk menemukan jejak ajaran Yesus (nabi Isa) yang asli dan membedakannya dari hasil konstruksi teologi pasca-kenabian.
  • Ketiga, umat seharusnya mengembalikan pemahaman tentang Yesus  (Nabi Isa) kepada status aslinya sebagai nabi tauhid Bani Israil, bukan Tuhan dalam konsep Trinitas Yunani-Romawi. Yesus (nabi Isa), sebagaimana ajaran Islam dan indikasi dari Injil-injil sinoptik, datang sebagai nabi Bani Israil yang menyeru pada tauhid, bukan sebagai sosok ilahi yang disembah. Ia mengajarkan umat untuk menyembah Allah Yang Maha Esa, menjaga hukum Taurat, dan hidup dalam ketaatan kepada syariat Ilahi. Konsep ketuhanan Yesus baru muncul dan menguat ketika ajaran Kekristenan mulai berbaur dengan filsafat paganisme Romawi yang mengenal banyak dewa yang lahir sebagai manusia, mati, dan bangkit kembali. Maka, pengembalian status Yesus sebagai nabi tauhid akan menempatkan kembali ajaran beliau pada posisi yang benar dalam sejarah kenabian. Dengan mengembalikan posisi Yesus sebagai nabi, manusia juga akan memahami kesinambungan risalah yang dibawa oleh para nabi sebelumnya seperti Nuh, Ibrahim, Musa, dan diakhiri oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Semua nabi membawa pesan yang sama: mentauhidkan Allah dan menjauhi penyembahan makhluk. Konsep Trinitas justru bertentangan dengan inti ajaran para nabi. Oleh sebab itu, umat manusia hendaknya kembali pada pemahaman tauhid murni sebagaimana yang dibawa Yesus dan semua utusan Allah.
  • Keempat, peran Paulus dalam perubahan teologi Kekristenan harus dilihat sebagai hasil akulturasi budaya Helenistik, bukan murni kelanjutan ajaran Yesus. Ajaran Paulus sangat dipengaruhi oleh konteks budaya Helenistik pada abad pertama. Pemikiran dunia Yunani-Romawi pada masa itu akrab dengan konsep dewa-dewa yang menjelma menjadi manusia, kematian ilahi demi keselamatan umat, serta penghapusan hukum-hukum ritual yang dianggap memberatkan. Paulus memanfaatkan narasi ini untuk menyesuaikan ajaran Yesus dengan kebutuhan penyebaran agama di dunia non-Yahudi, sehingga ajaran Kekristenan menjadi lebih dapat diterima oleh bangsa-bangsa selain Yahudi yang menganut sistem kepercayaan politeistik. Dengan memahami latar belakang ini, umat manusia dapat melihat bahwa perubahan-perubahan teologi yang dibawa Paulus bukanlah kelanjutan ajaran murni Yesus (nabi Isa), melainkan hasil adaptasi budaya dan misi politik penyebaran agama. Paulus menghapus hukum Taurat agar orang non-Yahudi mudah menerima ajaran baru tanpa harus memeluk hukum Yahudi, dan memperkenalkan konsep penebusan dosa yang selaras dengan mitologi pagan. Maka, umat seharusnya bersikap kritis bahwa ajaran Kekristenan yang berkembang saat ini bukanlah cerminan dari ajaran asli Yesus, melainkan hasil sinkretisme ajaran Yesus dengan budaya Helenistik.
  • Kelima, demi kejujuran intelektual dan keselamatan hakiki, umat manusia sebaiknya mendasarkan iman kepada pesan tauhid sejati dari Yesus (Nabi Isa) , bukan pada ajaran modifikasi yang dibawa Paulus. Kejujuran intelektual menuntut manusia untuk berani memilah kebenaran berdasarkan bukti-bukti otentik. Pesan utama Yesus (nabi Isa) dalam semua ajarannya menegaskan bahwa hanya Allah yang patut disembah, hukum Taurat tetap berlaku, dan amal kebaikan menjadi bagian penting dalam memperoleh keselamatan. Doktrin keselamatan hanya melalui iman kepada penyaliban, yang didengungkan oleh Paulus, bertentangan dengan prinsip amal dan tanggung jawab pribadi dalam kehidupan beragama. Oleh karena itu, iman yang lurus seharusnya dibangun atas dasar tauhid yang murni sebagaimana diajarkan Yesus, bukan berdasarkan modifikasi teologis pasca kenabiannya. Selain itu, keselamatan hakiki dalam pandangan Islam terletak pada pengesaan Allah secara mutlak dan ketaatan kepada syariat-Nya sebagaimana diajarkan oleh semua nabi, termasuk Yesus. Umat manusia hendaknya menjadikan risalah tauhid ini sebagai pondasi iman, karena hanya dengan penghambaan kepada Tuhan yang satu-lah manusia memperoleh keselamatan dunia dan akhirat. Mengikuti ajaran modifikasi yang sarat dengan pengaruh budaya manusia justru akan menjerumuskan kepada penyimpangan dari ajaran para nabi. Maka, kembalinya manusia kepada tauhid adalah jalan kebenaran yang sejati.

Bagaimana sikap umat Muslim Seharusnya ?

Umat Muslim memandang persoalan ini dengan merujuk pada prinsip utama tauhid dalam Islam. Dalam pandangan Islam, Yesus (Isa ‘alaihissalam) adalah seorang nabi dan rasul Allah yang membawa risalah tauhid sebagaimana nabi-nabi sebelumnya. Ajaran Yesus yang asli selaras dengan ajaran Islam: mengesakan Allah, beribadah hanya kepada-Nya, dan mengikuti hukum-hukum syariat yang diturunkan. Oleh karena itu, ketika muncul pertentangan antara ajaran Yesus dengan ajaran Paulus, umat Muslim berpandangan bahwa yang otentik adalah ajaran Yesus yang murni, bukan interpretasi atau rekonstruksi teologis yang dibawa Paulus pasca peristiwa penyaliban.

Umat Islam juga menilai bahwa Paulus, yang sebelumnya adalah penentang ajaran pengikut Yesus, membawa tafsir yang banyak dipengaruhi oleh lingkungan budaya Helenistik saat itu. Konsep-konsep seperti penebusan dosa melalui darah, penghapusan hukum Taurat, serta pengangkatan Yesus sebagai anak Tuhan, sangat bertentangan dengan prinsip tauhid yang diajarkan para nabi. Maka, umat Islam melihat bahwa ajaran Paulus lebih merupakan hasil penyimpangan dari ajaran monoteisme murni yang dibawa oleh Yesus dan para rasul sejatinya.

Selain itu, Islam juga mengajarkan untuk berhati-hati terhadap perubahan dan penambahan ajaran yang tidak bersumber dari wahyu langsung. Al-Qur’an menegaskan bahwa sebagian ajaran Ahli Kitab mengalami distorsi (tahrif) oleh tangan-tangan manusia (QS. Al-Baqarah: 79). Oleh karena itu, umat Muslim meyakini bahwa banyak ajaran dalam kekristenan modern, yang berbasis ajaran Paulus, bukanlah representasi murni dari wahyu Allah kepada Nabi Isa, melainkan merupakan hasil modifikasi teologi pasca kenaikan Yesus yang dipengaruhi oleh para tokoh gereja awal, termasuk Paulus.

Berdasarkan hal tersebut, umat Muslim memilih untuk tidak mengikuti ajaran Paulus, melainkan memegang teguh ajaran asli Yesus sebagaimana dikoreksi dan diluruskan kembali melalui Al-Qur’an. Islam meyakini bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai penyempurna ajaran tauhid dan penghapus penyimpangan sebelumnya, termasuk penyimpangan ajaran yang terjadi di kalangan pengikut Isa ‘alaihissalam. Dengan demikian, bagi Muslim, keimanan kepada Yesus berarti meyakini beliau sebagai utusan Allah yang menyerukan tauhid, bukan sebagai objek penyembahan atau bagian dari konsep trinitas.

Kesimpulan:

Studi ini menegaskan bahwa terjadi pergeseran mendasar dalam ajaran Yesus menjadi doktrin Kristen modern melalui peran Paulus. Ajaran asli Yesus (nabi Isa) menekankan tauhid, ketaatan Taurat, dan kenabian, sedangkan Paulus membawa konsep baru tentang Yesus sebagai Tuhan dan penebus dosa. Kajian sejarah dan teologi menunjukkan bahwa umat manusia sebaiknya lebih kritis, kembali kepada ajaran Yesus yang sejati sebagai utusan Allah, demi memperoleh pemahaman agama yang murni dan benar.

Daftar Pustaka

  • Dunn JDG. The Theology of Paul the Apostle. Grand Rapids, MI: Eerdmans; 1998.
  • Ehrman BD. How Jesus Became God: The Exaltation of a Jewish Preacher from Galilee. New York, NY: HarperOne; 2014.
  • Tabor J. Paul and Jesus: How the Apostle Transformed Christianity. New York, NY: Simon & Schuster; 2012.
  • Vermes G. The Authentic Gospel of Jesus. London, UK: Penguin Books; 2004.
  • Eisenman R. James the Brother of Jesus: The Key to Unlocking the Secrets of Early Christianity and the Dead Sea Scrolls. London, UK: Penguin Books; 1997.
  • Sanders EP. Paul and Palestinian Judaism: A Comparison of Patterns of Religion. Minneapolis, MN: Fortress Press; 1977.
  • Fredriksen P. Paul: The Pagans’ Apostle. New Haven, CT: Yale University Press; 2017.
  • The Holy Bible: New International Version. Colorado Springs, CO: Biblica, Inc.; 2011.
  • The Holy Bible: King James Version. New York, NY: Thomas Nelson; 1987.
  • Brown R. An Introduction to the New Testament. New York, NY: Doubleday; 1997.

Catatan:

  • Semua pustaka ini adalah buku ilmiah atau teks Alkitab resmi yang biasa dipakai dalam studi teologi dan sejarah Kekristenan.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *