MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Puasa Ramadhan Terlama di dunia dan Fatwa Ulama Saudi

 

Durasi puasa selama bulan Ramadan bervariasi di seluruh dunia, dipengaruhi oleh letak geografis dan musim yang sedang berlangsung. Negara-negara yang berada di lintang tinggi, terutama di dekat Kutub Utara atau Selatan, mengalami perbedaan panjang siang dan malam yang signifikan antara musim panas dan musim dingin. Hal ini menyebabkan variasi durasi puasa yang cukup ekstrem di beberapa wilayah.

Durasi puasa Ramadan di berbagai belahan dunia sangat bervariasi tergantung pada lokasi geografis dan musim. Negara-negara yang terletak di dekat Kutub Utara, seperti Swedia, Finlandia, dan Islandia, mengalami durasi puasa terlama yang bisa mencapai lebih dari 20 jam. Misalnya, di Kiruna, Swedia, umat Muslim harus berpuasa sekitar 20 jam 30 menit karena matahari hanya terbenam sebentar. Hal serupa juga terjadi di Reykjavik, Islandia, di mana durasi puasa hampir 20 jam. Tantangan ini membuat sebagian umat Muslim di daerah tersebut mengikuti fatwa yang memperbolehkan mereka mengikuti waktu puasa di Mekah atau negara terdekat yang memiliki durasi puasa lebih wajar.

Sebaliknya, negara-negara yang berada dekat dengan garis khatulistiwa, seperti Indonesia dan Malaysia, memiliki durasi puasa yang lebih stabil, berkisar antara 12 hingga 14 jam. Namun, umat Muslim di wilayah yang mengalami malam yang sangat singkat atau bahkan matahari tidak terbenam sama sekali, seperti di Norwegia atau Greenland, sering kali menghadapi tantangan besar dalam menjalankan ibadah puasa. Fatwa ulama memperbolehkan mereka untuk mengadopsi jadwal puasa dari Mekah atau negara dengan durasi siang dan malam yang lebih seimbang, sehingga ibadah dapat dilakukan dengan lebih wajar tanpa mengorbankan kesehatan.

Beberapa negara di dunia mengalami durasi puasa Ramadan yang sangat panjang, terutama di wilayah dekat Kutub Utara seperti Swedia, Islandia, dan Finlandia, di mana umat Muslim harus berpuasa hingga lebih dari 20 jam karena matahari hampir tidak terbenam. Sebagai respons terhadap tantangan ini, ulama di Arab Saudi mengeluarkan fatwa yang membolehkan umat Muslim di daerah ekstrem tersebut untuk mengikuti jadwal puasa Mekah atau negara dengan durasi siang dan malam yang lebih seimbang. Fatwa ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara ibadah dan kesehatan, serta memastikan umat Islam tetap dapat menjalankan puasa dengan baik meskipun dalam kondisi geografis yang menantang.

Pada tahun 2025, beberapa negara akan mengalami durasi puasa yang cukup panjang. Berikut adalah enam negara dengan durasi puasa terlama:

1. Kiruna, Swedia:

Kiruna, kota yang terletak di ujung utara Swedia, dikenal dengan fenomena matahari tengah malam saat musim panas, di mana matahari tidak terbenam sama sekali. Selama bulan Ramadan yang jatuh pada musim panas, umat Muslim di Kiruna menghadapi tantangan berpuasa hingga 20 jam 30 menit. Durasi puasa yang panjang ini memerlukan persiapan fisik dan spiritual yang matang. Beberapa umat Muslim memilih untuk mengikuti jadwal puasa berdasarkan waktu Mekah atau negara-negara dengan durasi siang dan malam yang lebih seimbang, sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi ekstrem tersebut.

2. Helsinki, Finlandia:

Di Helsinki, ibu kota Finlandia, durasi puasa selama Ramadan mencapai sekitar 17 jam 9 menit. Fenomena “white nights” atau malam putih, di mana matahari hampir tidak terbenam, membuat waktu berbuka dan sahur sangat berdekatan. Komunitas Muslim di Helsinki biasanya berkumpul di masjid-masjid untuk melaksanakan shalat Tarawih dan berbuka puasa bersama, memperkuat solidaritas dan kebersamaan di tengah tantangan durasi puasa yang panjang.

3. Reykjavik, Islandia:

Reykjavik, ibu kota Islandia, mengalami durasi puasa sekitar 17 jam 25 menit selama Ramadan. Dengan waktu malam yang sangat singkat, umat Muslim di Reykjavik harus cermat dalam mengatur waktu istirahat, sahur, dan berbuka. Beberapa dari mereka mengikuti jadwal puasa berdasarkan waktu di negara-negara dengan durasi siang dan malam yang lebih seimbang, sesuai dengan fatwa ulama yang membolehkan hal tersebut dalam kondisi ekstrem.

4. Nuuk, Greenland:

Di Nuuk, ibu kota Greenland, umat Muslim menjalankan puasa selama sekitar 17 jam 52 menit. Durasi puasa yang panjang ini menuntut ketahanan fisik dan mental yang lebih dari para pelaksana ibadah. Komunitas Muslim di Nuuk, meskipun kecil, tetap berusaha menjalankan ibadah puasa dengan penuh semangat, seringkali mengikuti jadwal puasa berdasarkan waktu di Mekah atau negara-negara dengan durasi siang dan malam yang lebih seimbang.

5. Oslo, Norwegia:

Di Oslo, ibu kota Norwegia, umat Muslim berpuasa selama sekitar 16 jam 54 menit. Durasi puasa yang panjang ini memerlukan persiapan fisik dan mental yang baik. Komunitas Muslim di Oslo biasanya mengadakan buka puasa bersama dan shalat Tarawih di masjid-masjid setempat, memperkuat ikatan sosial dan spiritual di antara mereka.

6. Glasgow, Skotlandia:

Di Glasgow, umat Muslim menjalankan puasa selama sekitar 16 jam 7 menit. Meskipun durasi puasa cukup panjang, komunitas Muslim di Glasgow tetap antusias dalam menjalankan ibadah Ramadan, dengan mengadakan berbagai kegiatan keagamaan dan sosial untuk mempererat tali silaturahmi.

Fatwa Ulama Mekah tentang Durasi Puasa di Negara dengan Waktu Puasa Panjang:

Ulama di Mekah telah memberikan panduan bagi umat Muslim yang tinggal di negara-negara dengan durasi siang yang sangat panjang atau sangat pendek. Mereka menyarankan agar umat Islam di wilayah tersebut mengikuti waktu shalat dan puasa di Mekah atau waktu di wilayah terdekat yang memiliki durasi siang dan malam yang lebih seimbang. Pendapat ini didasarkan pada penghormatan terhadap Mekah sebagai Ummul Qura (induk dari semua kota) dan untuk memudahkan pelaksanaan ibadah puasa secara proporsional.

Selain itu, beberapa ulama menetapkan batas maksimal durasi siang di mana Muslim boleh mengikuti fatwa tersebut, yakni negara dengan durasi siang tak kurang dari 18 jam dan malam tak lebih dari 6 jam. Pertimbangannya bukan hanya pada penentuan waktu shalat maghrib hingga subuh, tapi juga pada segi kesehatan.

Dengan adanya panduan ini, diharapkan umat Muslim yang tinggal di negara-negara dengan durasi puasa yang ekstrem dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih mudah dan sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *