Editorial MAB: Abdul Mu’ti dan Kepemimpinan Sekolah yang Luas dan Luwes
Dari “Luas dan Luwes” menuju Kepemimpinan Sekolah yang Berorientasi pada Pembelajaran, Guru, dan Masa Depan Anak
Editorial
Sekolah pada akhirnya bukan sekadar gedung, papan nama, kurikulum, atau deretan prestasi. Sekolah adalah ruang tempat manusia tumbuh. Di dalamnya ada guru yang mengajar dengan ketulusan, anak-anak yang membawa harapan, orang tua yang menitipkan masa depan, dan seorang pemimpin yang menentukan ke mana seluruh perjalanan itu diarahkan.
Karena itu, membicarakan sekolah unggul berarti membicarakan kepemimpinan. Kepala sekolah bukan hanya orang yang mengurus administrasi dan memastikan kegiatan berjalan sesuai jadwal. Ia adalah pemimpin pembelajaran, penggerak guru, penjaga budaya sekolah, sekaligus seseorang yang harus mampu membaca perubahan masyarakat.
Pesan tersebut terasa kuat dalam Kuliah Subuh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., dalam Rakornas Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Unggul 2026 di Masjid Al Hijri, Depok, Jawa Barat, Rabu, 30 September 2026. Di hadapan para kepala sekolah dan madrasah Muhammadiyah, Abdul Mu’ti menekankan pentingnya pemimpin yang memiliki wawasan luas, bersikap luwes, mau belajar, membangun jejaring, serta mampu mengambil pelajaran dari keberhasilan dan kegagalan.
Pemikiran tersebut sejalan dengan perkembangan ilmu kepemimpinan pendidikan modern. Laporan UNESCO Global Education Monitoring Report 2024/5: Leadership in Education menempatkan kepemimpinan sebagai salah satu unsur penting dalam kualitas pendidikan. UNESCO merumuskan empat dimensi utama kepemimpinan pendidikan: menetapkan arah dan harapan, memusatkan perhatian pada pembelajaran, membangun kolaborasi, serta mengembangkan kapasitas manusia.
Dengan demikian, gagasan “luas dan luwes” yang disampaikan Abdul Mu’ti dapat dibaca sebagai sebuah filosofi kepemimpinan yang sangat relevan dengan perkembangan manajemen sekolah modern.
“Luas dan Luwes”: Pemimpin yang Tidak Berhenti Belajar
Abdul Mu’ti mengingatkan kembali gagasan almarhum Prof. Malik Fadjar tentang pemimpin yang “luas dan luwes”. Luas berarti tidak berhenti belajar dan tidak membatasi pandangan hanya pada lingkungan sendiri. Luwes berarti mampu menghadapi persoalan dengan cara yang lentur, terbuka, dan tidak kaku.
Dalam kehidupan sekolah, makna tersebut sangat manusiawi. Kepala sekolah yang luas tidak merasa dirinya telah selesai belajar. Ia bersedia melihat sekolah lain, mendengar pengalaman guru, berdialog dengan orang tua, belajar dari perguruan tinggi, dan membuka diri terhadap pengalaman baru.
Kepala sekolah yang luwes juga memahami bahwa manusia tidak dapat dikelola seperti angka dalam tabel. Ada guru yang membutuhkan kepercayaan, ada yang membutuhkan pendampingan, ada siswa yang membutuhkan disiplin, tetapi ada pula yang terlebih dahulu membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.
Di sinilah kepemimpinan modern bertemu dengan pesan Abdul Mu’ti. Keluwesan bukan berarti tidak memiliki prinsip. Keluwesan berarti mampu menyesuaikan cara tanpa kehilangan arah.
Dari Kepala Sekolah sebagai Administrator Menjadi Pemimpin Pembelajaran
Selama bertahun-tahun, kepala sekolah sering dipahami terutama sebagai administrator. Namun penelitian kepemimpinan pendidikan modern memperluas peran tersebut. Kepala sekolah diharapkan semakin dekat dengan proses pembelajaran dan perkembangan profesional guru.
Viviane Robinson, melalui bukunya Student-Centered Leadership, menempatkan kepemimpinan yang berpusat pada siswa sebagai pendekatan penting dalam meningkatkan kualitas pengajaran dan pembelajaran. Fokus kepemimpinan bukan semata-mata pada bagaimana sekolah dikelola, tetapi bagaimana keputusan pemimpin akhirnya memberi dampak pada kualitas belajar anak.
Gagasan tersebut memberi pesan sederhana: kepala sekolah tidak boleh terlalu jauh dari ruang kelas.
Ia perlu mengetahui bagaimana guru mengajar, bagaimana siswa belajar, apa yang membuat pembelajaran berhasil, dan di mana anak-anak mengalami kesulitan. Kepemimpinan sekolah menjadi bermakna ketika perhatian terhadap administrasi berjalan bersama perhatian terhadap manusia dan pembelajaran.
Visi Bukan Hiasan di Dinding
Abdul Mu’ti juga menekankan bahwa sekolah membutuhkan visi yang jelas dan terukur. Visi tidak boleh berhenti sebagai dokumen formal.
Pandangan ini sejalan dengan kajian kepemimpinan transformasional dalam pendidikan. UNESCO merangkum bahwa salah satu dimensi utama kepemimpinan adalah kemampuan menetapkan harapan, arah, dan tujuan bersama. Pemimpin perlu membantu seluruh warga sekolah memahami ke mana mereka sedang berjalan.
Sebuah visi yang baik akhirnya harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Jika sekolah ingin menghasilkan anak yang mandiri, maka budaya sekolah harus memberi ruang bagi kemandirian. Jika ingin menghasilkan anak yang berkarakter, maka guru dan pemimpin harus menjadi teladan karakter. Jika ingin unggul dalam sains, maka rasa ingin tahu dan budaya penelitian harus tumbuh dalam keseharian.
Visi yang hidup bukan kalimat yang paling indah. Visi yang hidup adalah nilai yang dapat dirasakan.
Kepemimpinan Tidak Harus Berpusat pada Satu Orang
Abdul Mu’ti mengingatkan agar kepala sekolah tidak mengisolasi diri di ruang kerja. Pemimpin harus membangun jaringan dan belajar dari lingkungan di luar sekolah.
Gagasan tersebut memiliki hubungan erat dengan konsep distributed leadership yang dikembangkan dalam kajian kepemimpinan pendidikan. Alma Harris melalui karya-karyanya tentang distributed leadership menunjukkan pergeseran perhatian dari kepemimpinan yang hanya berpusat pada seorang pemimpin menuju kepemimpinan yang melibatkan banyak aktor dalam organisasi sekolah.
Artinya, kepala sekolah yang kuat tidak harus menjadi orang yang paling banyak bekerja. Ia justru perlu menciptakan kondisi agar orang lain dapat mengambil tanggung jawab.
Guru dapat menjadi pemimpin pembelajaran. Wakil kepala sekolah dapat menjadi penggerak program. Koordinator bidang dapat mengambil keputusan sesuai tanggung jawabnya. Bahkan siswa dan orang tua dapat diberi ruang untuk menyampaikan gagasan.
UNESCO juga menekankan bahwa kepemimpinan yang dibagikan dapat membangun lingkungan belajar yang lebih kolaboratif dan memberikan ruang kepada guru, siswa, orang tua, serta masyarakat untuk berkontribusi.
Kepala sekolah bukan kehilangan kewibawaan ketika berbagi kepemimpinan. Justru di situlah kepemimpinan menjadi lebih matang.
Guru adalah Jantung Sekolah
Tidak ada sekolah yang dapat menjadi unggul jika gurunya berhenti berkembang.
UNESCO menemukan bahwa kepemimpinan sekolah berkaitan dengan pengembangan profesional guru, kolaborasi, dan praktik pembelajaran. Kepala sekolah yang mudah diakses dan mendukung perencanaan pembelajaran juga berkaitan dengan kepuasan kerja guru yang lebih tinggi dalam sejumlah data internasional.
Karena itu, tugas kepala sekolah bukan hanya mengevaluasi guru, tetapi membantu guru berkembang.
Sekolah membutuhkan budaya di mana guru dapat berdiskusi tanpa takut dihakimi, mencoba pendekatan baru secara bertanggung jawab, menerima umpan balik, dan belajar dari rekan sejawat.
Guru yang merasa dihargai akan lebih mudah membangun hubungan yang sehat dengan siswa. Dan sekolah yang memberi ruang kepada guru untuk terus belajar pada akhirnya sedang membangun masa depan sekolah itu sendiri.
Penelitian Leithwood: Kepemimpinan Bekerja melalui Banyak Jalan
Kenneth Leithwood dan koleganya melalui penelitian mengenai Four Paths Model menunjukkan bahwa pengaruh kepemimpinan sekolah terhadap pembelajaran siswa tidak berlangsung melalui satu jalur sederhana. Kepemimpinan bekerja melalui berbagai kondisi organisasi dan proses yang memengaruhi praktik pendidikan serta pengalaman belajar siswa. Penelitian tersebut menguji model melalui data 1.779 guru di 81 sekolah dasar di Texas.
Temuan seperti ini penting karena mengingatkan bahwa kepala sekolah tidak dapat mengharapkan satu program langsung mengubah seluruh sekolah.
Perubahan pendidikan adalah perjalanan. Kepemimpinan memengaruhi budaya, kondisi kerja guru, arah organisasi, proses pembelajaran, dan berbagai faktor lain yang pada akhirnya berhubungan dengan pengalaman siswa.
Karena itu, pemimpin sekolah membutuhkan kesabaran sekaligus ketekunan. Tidak semua perubahan akan terlihat dalam satu semester.
Sekolah sebagai Organisasi yang Belajar
Sekolah yang sehat adalah sekolah yang mau belajar dari dirinya sendiri.
Abdul Mu’ti menekankan pentingnya belajar dari keberhasilan maupun kegagalan. Prinsip tersebut sebenarnya sangat dekat dengan gagasan learning organization dalam manajemen modern: organisasi tidak hanya bekerja, tetapi juga merefleksikan cara kerjanya.
Ketika sebuah program gagal, sekolah tidak semestinya hanya mencari siapa yang salah. Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang dapat dipelajari.
Mengapa program tidak berjalan? Apakah komunikasinya kurang? Apakah guru membutuhkan dukungan? Apakah target terlalu tinggi? Apakah orang tua belum dilibatkan? Apakah strategi perlu diperbaiki?
Kegagalan yang direfleksikan dapat menjadi pengetahuan. Sebaliknya, keberhasilan yang tidak dipelajari hanya akan menjadi kenangan.
Sekolah Tidak Berdiri Sendiri
Sekolah adalah bagian dari masyarakat. Anak tidak hanya hidup di ruang kelas. Ia tumbuh di rumah, lingkungan sosial, komunitas, dan berbagai ruang kehidupan lainnya.
Karena itu, kepala sekolah perlu membangun hubungan dengan orang tua, perguruan tinggi, alumni, pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan komunitas.
UNESCO menempatkan kolaborasi sebagai salah satu dari empat dimensi inti kepemimpinan pendidikan. Pemimpin tidak bekerja sendirian; ia menggerakkan berbagai pihak menuju tujuan bersama.
Bagi sekolah Muhammadiyah, jejaring tersebut memiliki kekuatan tersendiri. Sekolah dapat terhubung dengan perguruan tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah, jaringan sekolah Muhammadiyah, organisasi otonom, alumni, Lazismu, masyarakat, dan berbagai mitra pendidikan.
Sekolah yang membuka pintunya kepada masyarakat akan lebih mudah mendengar perubahan yang sedang berlangsung di luar pagar sekolah.
Prestasi Akademik dan Akhlak
Sekolah unggul tidak cukup menghasilkan anak yang pandai menjawab soal. Pendidikan memiliki tugas yang jauh lebih panjang: membantu anak menjadi manusia.
Dalam tradisi Muhammadiyah, ilmu dan amal memiliki hubungan yang erat. Pengetahuan tidak berhenti di kepala, tetapi diharapkan hadir dalam tindakan dan memberi manfaat.
Karena itu, perhatian terhadap infak, sedekah, filantropi, dan kepedulian sosial dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter. Anak belajar bahwa keberhasilan bukan hanya tentang memperoleh, tetapi juga tentang memberi.
Di tengah persaingan pendidikan yang semakin kuat, sekolah perlu menjaga keseimbangan antara prestasi akademik dan kematangan manusia. Anak yang berilmu membutuhkan akhlak. Anak yang berprestasi membutuhkan empati. Dan anak yang memiliki masa depan membutuhkan kemampuan untuk hidup bersama orang lain.
Tajdid: Berubah Tanpa Kehilangan Akar
Semangat tajdid memberi warna penting bagi kepemimpinan sekolah Muhammadiyah. Pembaruan bukan berarti memutus hubungan dengan masa lalu. Pembaruan berarti menemukan cara yang lebih baik agar nilai-nilai pendidikan tetap hidup menghadapi zaman.
Inilah titik temu yang menarik antara pesan Abdul Mu’ti dan teori kepemimpinan modern. Pemimpin harus terbuka terhadap perubahan, tetapi perubahan membutuhkan arah. Pemimpin harus fleksibel, tetapi fleksibilitas membutuhkan prinsip. Pemimpin harus berani mencoba, tetapi keberanian membutuhkan tanggung jawab.
Dengan kata lain, luwes bukan berarti kehilangan arah; modern bukan berarti kehilangan akar.
Kepemimpinan yang Hadir, Bukan Sekadar Jabatan
Pada akhirnya, kepemimpinan sekolah bukan terutama tentang jabatan. Ia tentang kehadiran.
Guru akan mengingat bagaimana kepala sekolah memperlakukan mereka ketika menghadapi kesulitan. Siswa akan mengingat apakah pemimpinnya pernah benar-benar mendengarkan. Orang tua akan merasakan apakah sekolah melihat mereka sebagai mitra atau hanya sebagai pihak yang harus memenuhi kewajiban.
UNESCO mengingatkan bahwa pemimpin sekolah tidak seharusnya dipandang sebagai “pahlawan” yang bekerja sendirian. Kepemimpinan yang kuat justru tumbuh melalui integritas, kemanusiaan, kolaborasi, pembagian tanggung jawab, dan kepercayaan.
Pesan “luas dan luwes” Abdul Mu’ti dengan demikian memperoleh makna yang semakin luas. Luas dalam wawasan, luwes dalam menghadapi manusia dan perubahan; kuat dalam visi, tetapi rendah hati untuk mendengar; berani mengambil keputusan, tetapi bersedia mengevaluasi ketika kenyataan menunjukkan bahwa sesuatu perlu diperbaiki.
Sekolah yang berkemajuan pada akhirnya bukan hanya sekolah yang memiliki gedung bagus atau banyak piala. Ia adalah sekolah yang membuat anak-anak merasa aman untuk belajar, guru merasa dihargai untuk berkembang, orang tua merasa dipercaya sebagai mitra, dan masyarakat melihat sekolah sebagai sumber kebaikan.
Luas dalam wawasan. Luwes dalam kepemimpinan. Teguh dalam nilai. Terbuka dalam belajar. Hadir untuk manusia.
Di sanalah kepemimpinan kepala sekolah menemukan maknanya: bukan sekadar mengelola sekolah, tetapi menjaga agar ilmu tumbuh, akhlak hidup, guru berkembang, dan harapan anak-anak tetap menyala.
Rujukan:
- UNESCO, Global Education Monitoring Report 2024/5: Leadership in Education;
- Viviane Robinson, Student-Centered Leadership (2011); Alma Harris (ed.), Distributed Leadership: Different Perspectives (2010);
- Kenneth Leithwood, Jingping Sun & Randall Schumacker, “How School Leadership Influences Student Learning: A Test of the Four Paths Model,” Educational Administration Quarterly (2020).
.














Leave a Reply