MAB Portal Islam

MASJID AL-FALAH BENHIL JAKARTA. “Dari Masjid untuk Umat, Menebarkan Ilmu dan Kebaikan”

SIKAP ISLAM TERHADAP BIBLE: Kajian Teologis dan Al-Qur’ani tentang Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an

SIKAP ISLAM TERHADAP BIBLE: Kajian Teologis dan Al-Qur’ani tentang Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an

Islam memiliki hubungan yang erat dengan tradisi Yahudi dan Kristen karena Islam mengajarkan bahwa Allah telah mengutus para nabi sebelum Nabi Muhammad ﷺ dan menurunkan wahyu kepada mereka. Al-Qur’an menyebut Taurat, Zabur, dan Injil sebagai bagian dari rangkaian wahyu Allah. Karena itu, Islam tidak mengajarkan penolakan terhadap seluruh kitab yang dikenal dalam tradisi Yahudi dan Kristen. Namun, Islam juga tidak menyamakan begitu saja Bible yang ada sekarang dengan Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa. Al-Qur’an menempatkan dirinya sebagai kitab yang membenarkan wahyu sebelumnya sekaligus menjadi muhaymin, yaitu penjaga, penguji, dan tolok ukur terhadap kitab-kitab sebelumnya. Artikel ini membahas bagaimana Islam memandang Bible, kedudukan Injil, konsep tahrif, kedudukan Isa Al-Masih, serta prinsip seorang Muslim dalam membaca dan membandingkan Bible dengan Al-Qur’an.

Islam memandang sejarah agama sebagai rangkaian wahyu Allah yang disampaikan melalui para nabi dan rasul. Nabi Muhammad ﷺ bukanlah nabi pertama yang membawa ajaran tentang keesaan Allah. Sebelumnya terdapat Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Dawud, Isa, dan para nabi lainnya. Karena itu, seorang Muslim wajib beriman kepada para nabi Allah dan tidak boleh membeda-bedakan mereka dalam hal keimanan terhadap kenabian mereka.

Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah menurunkan Taurat dan Injil sebelum Al-Qur’an. Allah berfirman dalam QS Ali ‘Imran 3:3 bahwa Dia menurunkan Al-Qur’an dengan kebenaran, membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya, dan sebelumnya Dia telah menurunkan Taurat dan Injil. Dengan demikian, Islam mempunyai hubungan teologis yang kuat dengan tradisi kitab-kitab sebelumnya.

Namun, persoalan menjadi lebih kompleks ketika istilah Injil dalam Al-Qur’an dibandingkan dengan Bible yang dikenal sekarang. Dalam Islam, Injil merupakan wahyu yang diberikan Allah kepada Isa Al-Masih. Sementara Bible dalam tradisi Kristen merupakan kumpulan berbagai kitab yang terdiri atas Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Karena itu, keduanya tidak dapat begitu saja dianggap identik tanpa kajian lebih lanjut.


Wahyu Allah Sebelum Al-Qur’an

Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah telah menurunkan wahyu kepada umat manusia sebelum Nabi Muhammad ﷺ. Taurat dikaitkan dengan Nabi Musa, Zabur dengan Nabi Dawud, sedangkan Injil dikaitkan dengan Nabi Isa Al-Masih.

Allah berfirman:

“Dia menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya, membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya. Dan Dia menurunkan Taurat dan Injil.”
QS Ali ‘Imran 3:3

Dalam QS Al-Ma’idah 5:46 disebutkan bahwa Allah memberikan Injil kepada Isa dan di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Ayat tersebut sangat penting karena menunjukkan bahwa Islam tidak menolak konsep Injil. Sebaliknya, Islam mengimani bahwa pada asalnya Injil merupakan wahyu Allah.

Dengan demikian, seorang Muslim yang mengatakan bahwa “Islam tidak percaya kepada Injil” perlu memperjelas maksudnya. Jika yang dimaksud adalah Injil sebagai wahyu Allah kepada Nabi Isa, maka pernyataan tersebut tidak sesuai dengan ajaran Al-Qur’an. Yang menjadi persoalan adalah apakah seluruh isi dan bentuk Bible yang tersedia sekarang dapat disamakan dengan wahyu Injil yang diberikan kepada Isa.


Injil dalam Al-Qur’an dan Bible dalam Tradisi Kristen

  • Istilah Injil dalam Al-Qur’an mempunyai makna yang berbeda dari istilah Bible sebagai kumpulan kitab dalam tradisi Kristen. Al-Qur’an berbicara tentang Injil sebagai kitab atau wahyu yang Allah berikan kepada Isa Al-Masih.
  • Sementara itu, Bible merupakan kumpulan berbagai tulisan yang berkembang dalam sejarah komunitas Yahudi dan Kristen. Perjanjian Baru, misalnya, terdiri atas empat Injil kanonik—Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes—serta Kisah Para Rasul, surat-surat, dan kitab Wahyu.
  • Karena itu, secara akademik perlu dilakukan pembedaan antara Injil sebagai wahyu kepada Isa dan empat kitab Injil sebagai teks kanonik dalam Perjanjian Baru. Keduanya memiliki hubungan historis dan teologis dalam tradisi Kristen, tetapi tidak otomatis merupakan dua hal yang identik menurut kerangka teologi Islam.

Al-Qur’an sebagai Pembenar dan Muhaymin

Salah satu ayat terpenting dalam memahami sikap Islam terhadap kitab sebelumnya adalah QS Al-Ma’idah 5:48. Allah menyatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab sebelumnya, dan menjadi muhaymin atasnya.

Konsep muhaymin mempunyai kedudukan penting. Dalam pemahaman Islam, Al-Qur’an tidak datang untuk menghapus seluruh kebenaran yang terdapat dalam wahyu sebelumnya. Al-Qur’an membenarkan kebenaran yang berasal dari Allah, tetapi sekaligus menjadi standar terakhir untuk menilai persoalan agama dan akidah.

Dengan prinsip ini, seorang Muslim tidak diperintahkan untuk menerima seluruh isi tradisi kitab sebelumnya secara otomatis. Sebaliknya, isi yang selaras dengan Al-Qur’an dapat diterima sebagai sesuatu yang sesuai dengan wahyu, sedangkan persoalan yang bertentangan dengan prinsip Al-Qur’an harus ditolak dalam kerangka akidah Islam. Adapun hal-hal yang tidak ditegaskan oleh Al-Qur’an tidak semestinya langsung dipastikan benar ataupun salah tanpa dasar.


Konsep Tahrif dalam Pemikiran Islam

Salah satu tema penting dalam pembahasan Islam dan Bible adalah konsep tahrif. Secara umum, tahrif berkaitan dengan penyimpangan, perubahan, atau pemalingan dari makna yang benar.

Para ulama Muslim tidak selalu menjelaskan tahrif dengan satu formulasi yang sama. Sebagian pembahasan menekankan perubahan atau penyimpangan makna dan penafsiran, sedangkan sebagian lainnya membicarakan kemungkinan perubahan teks atau lafaz. Karena itu, dalam kajian ilmiah sebaiknya tidak dikatakan bahwa semua ulama Muslim mempunyai pandangan yang persis sama mengenai bagaimana perubahan tersebut terjadi.

Al-Qur’an menyebut adanya sebagian manusia yang mengubah perkataan dari tempatnya dan memutarbalikkan perkataan dengan lidah mereka. QS Al-Baqarah 2:79 juga memberikan kritik terhadap orang yang menulis sesuatu kemudian mengatakan bahwa hal tersebut berasal dari Allah.

Namun, ayat-ayat tersebut harus dipahami dengan hati-hati. Kesimpulan bahwa setiap bagian Bible modern pasti palsu merupakan pernyataan yang terlalu sederhana dan tidak mencerminkan kompleksitas perdebatan tafsir dan sejarah pemikiran Islam mengenai tahrif.


Islam Tidak Menolak Seluruh Kebenaran dalam Bible

Sikap Islam terhadap Bible bukanlah penolakan total terhadap segala sesuatu yang terdapat di dalamnya. Al-Qur’an sendiri mengakui adanya petunjuk dalam wahyu sebelumnya.

Allah berfirman mengenai Injil:

“Dan Kami berikan kepadanya Injil yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya.”
QS Al-Ma’idah 5:46

Karena itu, seorang Muslim dapat menemukan ajaran tentang keesaan Allah, moralitas, kasih sayang, kejujuran, keadilan, ibadah, dan berbagai nilai kemanusiaan dalam tradisi Bible yang memiliki kesesuaian dengan prinsip Islam.

Namun, dalam persoalan akidah, Islam mempunyai standar yang jelas. Apabila suatu doktrin bertentangan dengan prinsip tauhid Al-Qur’an, maka seorang Muslim tidak dapat menerimanya hanya karena doktrin tersebut ditemukan dalam teks yang dianggap suci oleh tradisi lain.


Sikap Islam terhadap Ahlul Kitab

Perbedaan Islam dengan Yahudi dan Kristen dalam persoalan teologi tidak berarti Islam mengajarkan permusuhan terhadap seluruh pemeluknya. Al-Qur’an menyebut mereka sebagai Ahlul Kitab dan memberikan berbagai ketentuan mengenai hubungan dengan mereka.

Al-Qur’an bahkan menyatakan:

“Tidaklah mereka semua sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang berlaku lurus…”
QS Ali ‘Imran 3:113

Al-Qur’an juga memerintahkan umat Islam berdialog dengan Ahlul Kitab dengan cara yang terbaik:

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang paling baik…”
QS Al-‘Ankabut 29:46

Ayat tersebut memberikan prinsip penting dalam perbandingan agama. Kritik terhadap suatu doktrin tidak boleh berubah menjadi penghinaan terhadap manusia. Seorang Muslim dapat meyakini bahwa suatu doktrin teologis keliru, tetapi tetap memperlakukan pemeluk agama lain secara adil dan bermartabat.


Pembaptisan Yesus di Sungai Yordan

Salah satu contoh yang menarik untuk dibandingkan adalah kisah pembaptisan Yesus di Sungai Yordan. Dalam Matius 3:16–17, setelah Yesus dibaptis, langit terbuka, Roh Allah turun seperti burung merpati, dan terdengar suara dari langit yang menyatakan Yesus sebagai Anak yang dikasihi. Kisah yang serupa juga terdapat dalam Markus 1:10–11 dan Lukas 3:21–22.

Dari perspektif Kristen, bagian tersebut kemudian mempunyai hubungan dengan perkembangan pemahaman mengenai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Namun, seorang Muslim membaca peristiwa tersebut melalui kerangka tauhid Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak menjadikan kisah tersebut sebagai dasar bahwa Allah mempunyai tiga pribadi atau bahwa Isa merupakan bagian dari Tuhan.

Al-Qur’an justru memberikan peringatan yang sangat tegas:

“Janganlah kamu mengatakan, ‘Tiga’. Berhentilah dari ucapan itu. Itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa. Mahasuci Dia dari mempunyai anak.”
QS An-Nisa’ 4:171

Dengan demikian, terdapat perbedaan mendasar antara bagaimana kisah tersebut dipahami dalam perkembangan teologi Kristen dan bagaimana seorang Muslim menilainya berdasarkan prinsip tauhid Al-Qur’an.


Kedudukan Isa Al-Masih dalam Islam

Islam memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada Isa Al-Masih. Ia bukan nabi biasa dalam pengertian yang merendahkan. Isa disebut sebagai Al-Masih, lahir secara mukjizat dari Maryam, melakukan berbagai mukjizat dengan izin Allah, dan merupakan salah seorang rasul Allah yang mulia.

Namun, kemuliaan tersebut tidak menjadikan Isa sebagai Tuhan dalam akidah Islam.

Al-Qur’an menyatakan:

“Al-Masih Isa putra Maryam itu hanyalah seorang utusan Allah dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam serta roh dari-Nya.”
QS An-Nisa’ 4:171

Karena itu, Islam menempatkan Isa sebagai hamba dan utusan Allah, bukan sebagai Allah atau bagian dari Tuhan.


Tauhid sebagai Pembeda Utama

Pusat perbedaan antara Islam dan doktrin Trinitas bukan sekadar persoalan istilah, tetapi menyangkut konsep tentang hakikat Tuhan.

Islam mengajarkan bahwa Allah adalah satu secara mutlak. Allah tidak memiliki anak, tidak diperanakkan, dan tidak memiliki sesuatu pun yang setara dengan-Nya.

QS Al-Ikhlas memberikan formulasi tauhid yang sangat ringkas dan tegas:

“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya.”

Dalam perspektif Islam, Isa dapat disebut Al-Masih, Kalimatullah, dan Rasulullah, tetapi seluruh istilah tersebut tidak mengubah statusnya sebagai makhluk dan utusan Allah.


Prinsip Muslim dalam Membaca Bible

Seorang Muslim yang membaca Bible idealnya menggunakan sikap ilmiah sekaligus teologis. Ia tidak perlu menganggap bahwa seluruh Bible adalah kebohongan, tetapi juga tidak diwajibkan menerima seluruh isinya sebagai wahyu yang tidak berubah.

Apa yang sesuai dengan Al-Qur’an dapat dipandang sebagai sesuatu yang selaras dengan ajaran Islam. Apa yang secara jelas bertentangan dengan Al-Qur’an tidak dapat dijadikan dasar akidah Islam. Sementara hal-hal yang tidak diberikan penjelasan tegas oleh Al-Qur’an perlu disikapi secara hati-hati.

Dengan pendekatan tersebut, perbandingan agama tidak berubah menjadi sekadar pertentangan, tetapi menjadi kajian terhadap teks, sejarah, bahasa, konteks, dan perkembangan doktrin.


Kesimpulan

Sikap Islam terhadap Bible pada dasarnya memiliki beberapa lapisan. Islam mengimani bahwa Allah menurunkan wahyu kepada para nabi sebelum Muhammad ﷺ, termasuk Taurat kepada Musa dan Injil kepada Isa. Islam juga menghormati para nabi tersebut dan mengakui hubungan khusus dengan Ahlul Kitab.

Namun, Islam tidak menyamakan Injil sebagai wahyu kepada Isa dengan seluruh Bible yang ada sekarang. Al-Qur’an menjadi wahyu terakhir dan berfungsi sebagai muhaymin—pembenar sekaligus standar penguji terhadap kitab-kitab sebelumnya.

Dalam persoalan akidah, prinsip yang paling fundamental adalah tauhid. Karena itu, Islam menerima Isa sebagai Al-Masih dan rasul Allah, tetapi tidak menerima pengangkatan Isa menjadi Tuhan. Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah Maha Esa dan memperingatkan manusia agar tidak mengatakan “Tiga” dalam persoalan ketuhanan.

Dengan demikian, sikap Islam terhadap Bible bukanlah menerima semuanya secara buta maupun menolak semuanya secara total, melainkan mengimani wahyu Allah yang asli, menghormati kitab dan nabi terdahulu, melakukan verifikasi terhadap ajaran yang ada, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai tolok ukur terakhir dalam persoalan akidah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *