Kisah Mualaf Ginno Albert, Dari Pendeta Menuju Cahaya Islam
Hidayah sering datang kepada orang yang berani mencari kebenaran dengan hati yang jujur. Demikian perjalanan hidup Ginno Albert E. Rey, seorang mantan pendeta Gereja Bethel Indonesia (GBI), yang memutuskan memeluk Islam setelah melalui pencarian yang panjang. Lahir dan dibesarkan dalam keluarga pendeta yang taat, kehidupan Ginno sejak kecil tidak pernah jauh dari pelayanan gereja. Setelah menyelesaikan pendidikan dan sempat bekerja di dunia perbankan, ia memilih meninggalkan kariernya untuk mengabdikan diri sebagai pelayan gereja. Pada tahun 2006, ia menjadi pembantu pendeta dan melayani jemaat dengan penuh kesungguhan. Tidak ada seorang pun yang membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, pencarian spiritualnya justru membawanya kepada Islam.
Menjelang tahun 2020, muncul kegelisahan dalam dirinya. Ia mulai mengikuti berbagai diskusi dan kajian yang membahas perbandingan ajaran Kristen dan Islam melalui berbagai kanal digital. Awalnya ia hanya ingin memahami sudut pandang lain. Namun semakin banyak membaca, mendengar, dan merenungkan, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul di dalam hatinya. Ia tidak ingin mengambil keputusan berdasarkan emosi atau prasangka. Ia memilih menelaah, membandingkan, dan mencari jawaban dengan pikiran yang terbuka. Baginya, kebenaran harus dicari dengan kejujuran, meskipun hasilnya mungkin mengubah seluruh arah hidupnya.
Perlahan-lahan, Ginno merasakan bahwa ajaran tauhid dalam Islam memberikan ketenangan yang selama ini ia cari. Semakin ia mempelajari Al-Qur’an, semakin ia melihat keselarasan antara akidah, ibadah, dan tuntunan hidup. Meski demikian, perjalanan itu tidak mudah. Ia mengaku pernah mengalami kebuntuan karena tidak memiliki seseorang yang dapat membimbingnya memahami Islam secara benar. Dalam kesendiriannya, ia terus berdoa agar Tuhan menunjukkan jalan yang benar apabila Islam memang merupakan petunjuk yang dikehendaki-Nya. Doa itu dipanjatkannya dengan penuh harap, tanpa mengetahui kapan dan bagaimana jawabannya akan datang.
Allah kemudian mempertemukannya dengan seorang Muslimah yang taat. Pertemuan itu menjadi titik balik dalam kehidupannya. Dengan kesabaran dan akhlak yang baik, Muslimah tersebut membimbing Ginno mempelajari dasar-dasar Islam, menjawab berbagai pertanyaannya, serta mendampinginya dalam proses mengenal ajaran Islam. Bagi Ginno, bimbingan yang tulus itu menjadi jawaban atas doa-doanya. Ia tidak hanya menemukan guru yang membantunya memahami Islam, tetapi juga menemukan keteladanan yang memperlihatkan keindahan akhlak seorang Muslim. Hubungan mereka kemudian berkembang hingga akhirnya keduanya menikah.
Setelah melalui proses belajar dan perenungan yang panjang, Ginno Albert mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi memeluk Islam. Momen tersebut disaksikan dalam sebuah tayangan di kanal YouTube Dondy Tan. Syahadat yang diucapkannya bukanlah keputusan yang lahir dalam semalam, melainkan buah dari pencarian bertahun-tahun, doa yang terus dipanjatkan, dan keyakinan yang tumbuh sedikit demi sedikit. Ia meninggalkan profesi yang telah menjadi bagian dari hidupnya demi mengikuti apa yang diyakininya sebagai kebenaran.
Menariknya, keputusan Ginno untuk memeluk Islam tidak memicu penolakan keras dari keluarganya. Ia menjelaskan bahwa keluarganya menghormati kebebasan setiap anggota keluarga dalam menentukan keyakinan. Sikap saling menghargai tersebut membuat proses perpindahan agamanya berlangsung dengan lebih tenang. Hal itu menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak selalu harus melahirkan permusuhan, tetapi dapat dihadapi dengan kedewasaan, penghormatan, dan kasih sayang antarsesama.
Kisah Ginno Albert menjadi pengingat bahwa hidayah adalah anugerah Allah yang diberikan kepada siapa saja yang bersungguh-sungguh mencari kebenaran. Perjalanan menuju Islam tidak selalu dimulai dari lingkungan Muslim, tetapi dapat berawal dari hati yang terus bertanya, akal yang mau berpikir, doa yang tidak pernah putus, dan pertemuan dengan orang-orang yang menunjukkan keindahan akhlak Islam. Kisahnya mengajarkan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh latar belakang seseorang, melainkan oleh keberanian untuk mengikuti petunjuk ketika Allah membukakan jalan. Sebagaimana firman Allah SWT, “Barang siapa yang Allah kehendaki mendapat petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk menerima Islam.” (QS. Al-An’am: 125).















Leave a Reply