10 Pandangan Para Pakar Dunia tentang Kemukjizatan Bahasa Al-Qur’an
Menurut banyak pakar bahasa Arab klasik maupun modern, kemukjizatan bahasa (i’jaz lughawi) Al-Qur’an merupakan salah satu aspek yang paling banyak dikaji dalam tradisi keilmuan Islam. Dalam perspektif Islam, Al-Qur’an dipandang memiliki susunan bahasa (nazm), balaghah (retorika), kefasihan (fasahah), ketepatan pemilihan kata (diksi), serta kedalaman makna yang tidak dapat ditandingi manusia. Penting dipahami bahwa penilaian ini merupakan pandangan teologis dan ilmiah dalam tradisi Islam, sedangkan sebagian sarjana non-Muslim mengkajinya terutama dari sudut linguistik, sastra, dan sejarah.
10 Pandangan Para Pakar Dunia tentang Kemukjizatan Bahasa Al-Qur’an
1. Al-Baqillani (w. 1013 M): Perintis Kajian Sistematis I’jaz Al-Qur’an
melalui karya monumentalnya I’jaz al-Qur’an dianggap sebagai salah satu tokoh pertama yang membahas kemukjizatan Al-Qur’an secara sistematis. Menurutnya, keistimewaan Al-Qur’an bukan hanya terletak pada isi kandungannya, tetapi juga pada susunan bahasa yang tidak mampu ditiru oleh manusia. Ia menjelaskan bahwa keseimbangan antara pilihan kata, keindahan retorika, makna yang mendalam, serta keserasian struktur kalimat menjadikan Al-Qur’an berada di luar kemampuan sastra Arab biasa.
2. Abd al-Qahir al-Jurjani (w. 1078 M): Teori Nazm sebagai Rahasia Kemukjizatan
mengembangkan teori nazm (susunan bahasa) dalam kitab Dalā’il al-I’jaz. Ia berpendapat bahwa kemukjizatan Al-Qur’an tidak terletak pada kata-kata secara terpisah, melainkan pada hubungan antarkata, susunan kalimat, dan keserasian makna yang membentuk satu kesatuan yang sempurna. Teori nazm hingga kini menjadi salah satu teori linguistik Arab paling berpengaruh dalam studi Al-Qur’an.
3. Al-Zamakhshari (w. 1144 M): Keindahan Balaghah Al-Qur’an
melalui tafsir Al-Kashshaf menunjukkan bagaimana Al-Qur’an menggunakan gaya bahasa yang sangat tinggi. Ia menjelaskan berbagai aspek balaghah seperti metafora, perumpamaan, penekanan makna, irama bahasa, serta keindahan susunan ayat. Tafsirnya menjadi salah satu rujukan utama dalam kajian retorika Al-Qur’an.
4. Fakhr al-Din al-Razi (w. 1210 M): Harmoni Bahasa, Logika, dan Makna
dalam Mafatih al-Ghayb mengulas kemukjizatan Al-Qur’an dari berbagai disiplin ilmu, termasuk bahasa, logika, filsafat, dan teologi. Menurutnya, setiap ayat memiliki hubungan makna yang sangat mendalam sehingga menunjukkan kesempurnaan penyusunan wahyu yang tidak mungkin dihasilkan manusia biasa.
5. Jalal al-Din al-Suyuti (w. 1505 M): Ensiklopedia Ulumul Qur’an
melalui karya Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an mengumpulkan berbagai pembahasan mengenai ilmu-ilmu Al-Qur’an, termasuk aspek kemukjizatan bahasanya. Ia menjelaskan bahwa i’jaz mencakup kefasihan bahasa, kedalaman makna, berita gaib, hukum-hukum, serta kesempurnaan susunan yang tetap relevan sepanjang zaman.
6. Mustafa Sadiq al-Rafi’i (1880–1937): Membela Keindahan Bahasa Al-Qur’an di Era Modern
melalui I’jaz al-Qur’an wa al-Balaghah al-Nabawiyyah menegaskan bahwa tidak ada karya sastra Arab yang mampu menyamai kekuatan ekspresi Al-Qur’an. Ia menunjukkan bahwa keindahan Al-Qur’an tetap mampu memengaruhi hati pembaca lintas zaman, meskipun bahasa Arab telah berkembang selama berabad-abad.
7. Sayyid Qutb (1906–1966): Keindahan Artistik Al-Qur’an
menulis Al-Taswir al-Fanni fi al-Qur’an yang mengupas keindahan artistik Al-Qur’an. Ia menjelaskan bagaimana pilihan kata, irama ayat, gambaran visual, dialog, dan pengulangan dalam Al-Qur’an menciptakan efek emosional dan spiritual yang sangat kuat bagi pembacanya.
8. Muhammad Abdullah Draz (1894–1958): Kesatuan Struktur dan Pesan Al-Qur’an
melalui An-Naba’ al-‘Azim menjelaskan bahwa Al-Qur’an memiliki kesatuan tema yang sangat rapi meskipun diturunkan secara bertahap selama sekitar 23 tahun. Menurutnya, konsistensi gaya bahasa, kandungan, dan tujuan Al-Qur’an merupakan salah satu bukti keistimewaannya.
9. Angelika Neuwirth: Kajian Akademik Modern tentang Al-Qur’an
merupakan salah satu sarjana Barat terkemuka yang meneliti Al-Qur’an sebagai karya sastra Arab klasik. Ia menekankan pentingnya memahami Al-Qur’an dalam konteks budaya Arab awal dan mengakui pengaruh besar struktur serta gaya bahasanya terhadap perkembangan sastra Arab, meskipun tidak membahasnya dari sudut pandang keimanan.
10. Arthur John Arberry (1905–1969): Penerjemah yang Mengakui Keunikan Gaya Bahasa Al-Qur’an
dikenal melalui terjemahannya The Koran Interpreted. Ia menyatakan bahwa gaya bahasa Al-Qur’an memiliki kualitas sastra yang sangat tinggi sehingga hampir mustahil diterjemahkan secara sempurna ke dalam bahasa lain tanpa kehilangan sebagian keindahan ritme, struktur, dan nuansa maknanya.
Landasan Al-Qur’an tentang Tantangan Kemukjizatan
Dalam ajaran Islam, keyakinan mengenai kemukjizatan bahasa Al-Qur’an didasarkan antara lain pada firman Allah:
- QS. Al-Isra’ [17]: 88 — Allah menantang seluruh manusia dan jin untuk membuat sesuatu yang serupa dengan Al-Qur’an, namun mereka tidak akan mampu melakukannya sekalipun saling membantu.
- QS. Yunus [10]: 38 — Allah menantang orang-orang yang meragukan Al-Qur’an untuk membuat satu kitab yang sebanding dengannya.
- QS. Al-Baqarah [2]: 23 — Allah menantang manusia untuk membuat satu surah saja yang semisal dengan Al-Qur’an apabila mereka meragukan bahwa Al-Qur’an berasal dari-Nya.
Kajian mengenai i’jaz Al-Qur’an hingga kini tetap menjadi salah satu bidang penting dalam ‘Ulum al-Qur’an, linguistik Arab, balaghah, tafsir, serta studi sastra Arab klasik dan modern.












Leave a Reply