QIRA’AT AL-QUR’AN: Pengertian, Sejarah, Imam, Riwayat, dan Kedudukannya dalam Ilmu Al-Qur’an
Qira’at Al-Qur’an merupakan cabang ilmu Al-Qur’an yang membahas ragam bacaan yang dinisbatkan kepada imam qira’at melalui jalur periwayatan yang diterima. Qira’at bukanlah variasi bacaan yang bebas dipilih, melainkan bacaan yang memiliki dasar transmisi dan kaidah tertentu. Ilmu ini berkaitan erat dengan sejarah transmisi Al-Qur’an, rasm Utsmani, bahasa Arab, tajwid, tafsir, dan fikih. Artikel ini membahas pengertian qira’at, sejarah perkembangannya, perbedaan qira’at, riwayat, thariq dan wajah, qira’at sab‘ah dan ‘asyrah, sepuluh imam qira’at, hubungan qira’at dengan rasm Utsmani, serta prinsip dasar mempelajarinya.
Pengertian Qira’at
- Secara bahasa, qira’ah berarti bacaan atau cara membaca.
- Secara istilah, qira’at adalah ragam bacaan Al-Qur’an yang dinisbatkan kepada imam qira’at melalui jalur periwayatan tertentu dan memiliki dasar penerimaan dalam tradisi keilmuan Al-Qur’an.
- Karena itu, qira’at tidak sama dengan variasi pelafalan yang muncul karena kesalahan membaca. Setiap qira’at memiliki jalur transmisi dan ketentuan yang harus dijaga.

Unsur Dasar dalam Qira’at
- Struktur dasar ilmu qira’at dapat dipahami melalui urutan: Imam → Rawi → Thariq → Wajah
| Istilah | Pengertian |
|---|---|
| Imam qira’at | Tokoh yang menjadi sumber penisbatan suatu qira’at |
| Rawi | Perawi yang menerima dan meriwayatkan bacaan dari imam |
| Riwayat | Bacaan yang dinisbatkan kepada seorang rawi |
| Thariq | Jalur periwayatan setelah rawi |
| Wajah | Bentuk bacaan yang dibenarkan dalam suatu jalur |
| Usul | Kaidah umum yang berlaku dalam suatu qira’at |
| Farsh | Perbedaan bacaan pada lafaz tertentu |
- Contoh:
- ‘Āṣim → Hafs → riwayat Hafs dari ‘Āṣim
- Karena itu, istilah yang tepat adalah Hafs ‘an ‘Āṣim, bukan “qira’at Hafs” apabila yang dimaksud adalah hubungan rawi dengan imam.
Sejarah Perkembangan Qira’at
- Qira’at berakar dari proses pengajaran Al-Qur’an oleh Nabi Muhammad ﷺ kepada para sahabat. Para sahabat kemudian mengajarkan bacaan tersebut kepada generasi berikutnya.
- Perkembangan Islam ke berbagai wilayah menyebabkan tradisi bacaan berkembang di sejumlah pusat ilmu, terutama:
- Madinah
- Makkah
- Kufah
- Basrah
- Syam
- Dari pusat-pusat tersebut muncul para imam dan ahli qira’at yang kemudian menjadi rujukan dalam periwayatan bacaan.
Qira’at dan Mushaf Utsmani
- Pada masa Khalifah Utsman bin Affan رضي الله عنه dilakukan standardisasi mushaf untuk menjaga kesatuan umat dan mencegah perselisihan bacaan yang berkembang di berbagai wilayah.
- Mushaf Utsmani memiliki karakter rasm tertentu yang dapat mengakomodasi sejumlah bacaan yang diterima.
- Karena itu, qira’at memiliki hubungan erat dengan rasm Utsmani.
- Namun qira’at tidak hanya ditentukan oleh tulisan. Transmisi bacaan melalui periwayatan tetap merupakan unsur penting.
Qira’at dan Sab‘atu Ahruf
- Qira’at sering dikaitkan dengan hadis tentang sab‘atu ahruf atau tujuh huruf.
- Namun keduanya tidak boleh disamakan.
- Sab‘atu ahruf adalah konsep yang dibahas berdasarkan hadis Nabi ﷺ dan memiliki berbagai penafsiran ulama.
- Sedangkan qira’at sab‘ah adalah istilah yang digunakan kemudian untuk menunjuk tujuh imam qira’at tertentu.
- Jadi: Sab‘atu ahruf ≠ qira’at sab‘ah.
Qira’at Sab‘ah
Tujuh imam yang dikenal dalam qira’at sab‘ah adalah:
| No. | Imam | Wilayah |
|---|---|---|
| 1 | Nāfi‘ al-Madanī | Madinah |
| 2 | Ibn Kathīr al-Makkī | Makkah |
| 3 | Abū ‘Amr al-Baṣrī | Basrah |
| 4 | Ibn ‘Āmir asy-Syāmī | Syam |
| 5 | ‘Āṣim al-Kūfī | Kufah |
| 6 | Ḥamzah al-Kūfī | Kufah |
| 7 | Al-Kisā’ī al-Kūfī | Kufah |
Qira’at sab‘ah bukan berarti hanya ada tujuh bacaan Al-Qur’an yang diterima. Dalam perkembangan ilmu qira’at dikenal pula qira’at ‘asyrah.

Jelajahi ratusan kajian Al-Qur’an yang lengkap, ilmiah, dan mencerahkan untuk memahami ayat Allah, memperluas wawasan, dan mengamalkannya dalam kehidupan, klik di bawah ini

Sepuluh Imam Qira’at dan Perawi
| Imam | Dua perawi yang masyhur |
|---|---|
| Nāfi‘ al-Madanī | Qālūn, Warsh |
| Ibn Kathīr al-Makkī | Al-Bazzī, Qunbul |
| Abū ‘Amr al-Baṣrī | Ad-Dūrī, As-Sūsī |
| Ibn ‘Āmir asy-Syāmī | Hishām, Ibn Dhakwān |
| ‘Āṣim al-Kūfī | Hafs, Syu‘bah |
| Ḥamzah al-Kūfī | Khalaf, Khallād |
| Al-Kisā’ī | Abū al-Ḥārith, Ad-Dūrī |
| Abū Ja‘far al-Madanī | Ibn Wardān, Ibn Jammaz |
| Ya‘qūb al-Ḥaḍramī | Ruways, Rawḥ |
| Khalaf al-‘Āshir | Isḥāq, Idrīs |
Catatan: Khalaf sebagai perawi Hamzah berbeda dengan Khalaf al-‘Āshir sebagai imam qira’at kesepuluh.
Mengapa Riwayat Hafs Sangat Populer?
- Di Indonesia, bacaan yang paling umum adalah: Hafs ‘an ‘Āṣim.
- Popularitas riwayat ini tidak berarti qira’at lain tidak diakui dalam tradisi qira’at. Penggunaan suatu riwayat dapat dipengaruhi oleh sejarah pendidikan, tradisi keilmuan, pencetakan mushaf, dan perkembangan lembaga pendidikan Al-Qur’an.
- Di sejumlah wilayah Afrika Utara, misalnya, Warsh ‘an Nāfi‘ memiliki tradisi penggunaan yang kuat.
Bentuk Perbedaan Qira’at
- Perbedaan qira’at dapat terjadi dalam beberapa bentuk, antara lain:
- harakat,
- panjang-pendek bacaan,
- pengucapan hamzah,
- idgham dan izhar,
- bentuk morfologi kata,
- bentuk tunggal dan jamak,
- serta variasi lafaz tertentu.
- Perbedaan tersebut harus dilihat berdasarkan riwayat, bukan berdasarkan kemungkinan bahasa semata.
- Kemungkinan linguistik tidak otomatis menjadi qira’at.
Usul dan Farsh
- Pembahasan qira’at umumnya mencakup dua bidang besar.
- Usul
- Usul adalah kaidah umum yang berlaku berulang dalam suatu qira’at, misalnya berkaitan dengan:
- mad,
- qashr,
- hamzah,
- idgham,
- imalah,
- dan hukum bacaan lainnya.
- Farsh
- Farsh membahas perbedaan bacaan pada lafaz tertentu di tempat tertentu dalam Al-Qur’an.
- Perbedaan farsh tidak selalu dapat dirumuskan sebagai satu kaidah umum sehingga perlu dipelajari berdasarkan riwayat dan lokasi ayat.
Kriteria Penerimaan Qira’at
- Dalam literatur qira’at dikenal pembahasan tentang tiga unsur utama penerimaan suatu bacaan:
- sesuai dengan bahasa Arab,
- sesuai dengan rasm Utsmani walaupun secara kemungkinan,
- memiliki sanad yang sahih.
- Perincian mengenai definisi, tingkat kemutawatiran, dan penerapan kriteria tersebut dibahas secara lebih luas oleh para ulama qira’at.
- Karena itu, tidak setiap bacaan yang ditemukan dalam literatur otomatis dapat diposisikan sebagai qira’at yang digunakan untuk tilawah.
Qira’at Syadz
- Qira’at syadz secara umum merujuk kepada bacaan yang tidak memenuhi kriteria qira’at yang diterima sebagai bacaan Al-Qur’an untuk tilawah.
- Walaupun demikian, bacaan syadz dapat memiliki nilai ilmiah dalam kajian:
- tafsir,
- bahasa Arab,
- nahwu,
- dan sejarah perkembangan bacaan.
- Yang perlu dibedakan adalah nilai ilmiah sebuah riwayat dengan statusnya sebagai bacaan Al-Qur’an yang digunakan dalam tilawah.
Qira’at dan Tajwid
Qira’at dan tajwid memiliki hubungan erat tetapi berbeda objek.
| Qira’at | Tajwid |
|---|---|
| Ragam bacaan yang diriwayatkan | Kaidah pelafalan |
| Berkaitan dengan imam dan sanad | Berkaitan dengan makhraj dan sifat |
| Membahas variasi bacaan | Membahas cara melafalkan |
| Memiliki riwayat dan thuruq | Memiliki hukum bacaan |
Seseorang dapat mempelajari tajwid tanpa menguasai seluruh qira’at. Namun pembelajaran qira’at membutuhkan dasar tajwid yang kuat.
Qira’at, Tahsin dan Tartil
Ketiganya juga memiliki fungsi berbeda.
| Ilmu/konsep | Fokus |
|---|---|
| Tahsin | Memperbaiki bacaan |
| Tajwid | Menguasai kaidah bacaan |
| Tartil | Membaca secara jelas, teratur dan tepat |
| Qira’at | Mengenal dan menjaga ragam bacaan yang diriwayatkan |
- Hubungannya dapat digambarkan: Makhraj + sifat huruf → tajwid → tahsin → tartil
- Sedangkan qira’at menentukan bentuk bacaan yang digunakan berdasarkan riwayat.
Qira’at dan Tafsir
- Qira’at memiliki kontribusi penting dalam tafsir karena perbedaan bacaan tertentu dapat memberikan variasi perspektif linguistik dan makna.
- Qira’at dapat membantu menjelaskan:
- struktur kata,
- bentuk gramatikal,
- makna lafaz,
- hubungan antarfrasa,
- dan keluasan makna ayat.
- Karena itu, ulama tafsir sering menjadikan qira’at sebagai salah satu bahan dalam memahami ayat.
Qira’at dan Fikih
- Sebagian perbedaan qira’at memiliki implikasi terhadap pemahaman hukum.
- Namun penggunaannya harus hati-hati. Status suatu qira’at harus dipastikan terlebih dahulu sebelum dijadikan dasar argumentasi.
- Dengan demikian, qira’at dapat berkontribusi pada kajian fikih melalui analisis bahasa dan makna ayat.
Pentingnya Sanad dan Talaqqi
- Qira’at merupakan ilmu yang sangat kuat tradisi transmisi lisannya.
- Pembelajaran ideal dilakukan melalui: Guru membaca → murid menyimak → murid membaca → guru mengoreksi → murid mengulang → guru memberikan pengakuan kompetensi.
- Karena itu, membaca kitab qira’at saja belum tentu membuat seseorang mampu mempraktikkan suatu riwayat secara benar.
- Teori dapat dipelajari dari kitab, tetapi praktik bacaan membutuhkan talaqqi.
Ijazah Qira’at
- Dalam tradisi keilmuan Al-Qur’an terdapat ijazah, yaitu pengakuan guru terhadap kemampuan murid setelah melalui proses pembelajaran dan pengujian.
- Ijazah dapat berkaitan dengan:
- satu riwayat,
- satu qira’at,
- beberapa qira’at,
- atau cakupan qira’at tertentu.
- Dalam konteks tradisional, ijazah berkaitan dengan kesinambungan transmisi keilmuan, bukan sekadar sertifikat administratif.
Tahapan Mempelajari Qira’at
Pembelajaran qira’at sebaiknya dilakukan bertahap.
| Tahap | Materi |
|---|---|
| 1 | Huruf dan harakat |
| 2 | Makhraj dan sifat |
| 3 | Tajwid |
| 4 | Tahsin |
| 5 | Tartil |
| 6 | Penguasaan satu riwayat |
| 7 | Pengenalan sepuluh imam |
| 8 | Dua rawi setiap imam |
| 9 | Usul |
| 10 | Farsh |
| 11 | Thuruq |
| 12 | Talaqqi dan ijazah |
Urutan ini membantu mencegah pencampuran bacaan sebelum peserta didik memahami struktur masing-masing riwayat.
Kesalahan Umum dalam Memahami Qira’at
- Qira’at berarti bebas memilih bacaan
- Tidak. Qira’at memiliki dasar periwayatan.
- Qira’at sab‘ah berarti hanya ada tujuh bacaan
- Tidak. Istilah tersebut merujuk kepada tujuh imam tertentu.
- Semua variasi bacaan adalah qira’at
- Tidak. Variasi harus memiliki dasar dan memenuhi kriteria penerimaan.
- Hafs adalah imam qira’at
- Hafs adalah rawi dari imam ‘Āṣim.
- Qira’at sama dengan tajwid
- Tidak. Qira’at membahas ragam bacaan, sedangkan tajwid membahas kaidah pelafalan.
- Setiap kemungkinan bahasa Arab dapat menjadi qira’at
- Tidak. Kemungkinan linguistik tidak cukup tanpa dasar periwayatan.
Peta Konsep Qira’at
Al-Qur’an
↓
Transmisi bacaan
↓
Imam qira’at
↓
Rawi
↓
Riwayat
↓
Thariq
↓
Wajah
- Dalam kajian yang lebih luas, qira’at juga berhubungan dengan:
- Rasm Utsmani + Bahasa Arab + Tajwid + Tafsir + Fikih
Pesan Kunci
- Qira’at adalah ilmu tentang ragam bacaan Al-Qur’an yang memiliki dasar periwayatan.
- Qira’at bukan variasi membaca secara bebas.
- Qira’at sab‘ah berbeda dengan sab‘atu ahruf.
- Qira’at ‘asyrah mencakup sepuluh imam qira’at.
- Hafs adalah rawi dari ‘Āṣim.
- Riwayat, thariq dan wajah merupakan tingkatan penting dalam memahami transmisi qira’at.
- Rasm Utsmani, bahasa Arab dan sanad menjadi bagian penting dalam pembahasan penerimaan qira’at.
- Qira’at berbeda dari tajwid, tahsin dan tartil.
- Pembelajaran qira’at tingkat lanjut membutuhkan talaqqi dan guru yang kompeten.
Kesimpulan
- Qira’at Al-Qur’an adalah ilmu yang membahas ragam bacaan Al-Qur’an yang dinisbatkan kepada imam qira’at melalui jalur periwayatan yang diterima. Ilmu ini berkembang dari tradisi transmisi bacaan sejak masa Nabi Muhammad ﷺ, kemudian diteruskan oleh para sahabat, tabi‘in dan para imam qira’at di berbagai pusat keilmuan Islam.
- Dalam perkembangannya dikenal qira’at sab‘ah dan qira’at ‘asyrah. Setiap imam memiliki riwayat yang ditransmisikan melalui para perawi dan jalur periwayatan tertentu. Karena itu, struktur imam, rawi, riwayat, thariq dan wajah menjadi dasar penting dalam memahami ilmu qira’at.
- Qira’at berhubungan erat dengan rasm Utsmani, bahasa Arab, tajwid, tafsir dan fikih. Namun qira’at tidak boleh dipahami sebagai variasi bacaan yang dapat dibuat atau dipilih secara bebas. Bacaan harus memiliki dasar periwayatan dan memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam tradisi keilmuan qira’at.
- Dalam pendidikan Al-Qur’an, qira’at sebaiknya dipelajari setelah peserta didik memiliki dasar membaca yang kuat, terutama makhraj, sifat huruf, tajwid, tahsin dan tartil. Dengan demikian, qira’at dapat dipahami bukan sekadar sebagai kumpulan perbedaan bacaan, tetapi sebagai ilmu yang menjaga dan mendokumentasikan ragam bacaan Al-Qur’an melalui tradisi transmisi yang terstruktur.
- Versi ini menghilangkan pengulangan definisi dan hubungan antarcabang ilmu, sehingga alurnya lebih padat tetapi tetap mempertahankan bagian inti imam, rawi, riwayat, thariq, qira’at sab‘ah, qira’at ‘asyrah, rasm, sanad, usul, farsh, dan penerapannya.

Jelajahi ratusan kajian Al-Qur’an yang lengkap, ilmiah, dan mencerahkan untuk memahami ayat Allah, memperluas wawasan, dan mengamalkannya dalam kehidupan, klik di bawah ini















Leave a Reply