Dasar-Dasar Membaca Al-Qur’an
Kemampuan membaca Al-Qur’an merupakan keterampilan dasar yang menjadi pintu masuk untuk memahami dan berinteraksi dengan Al-Qur’an. Kemampuan ini tidak hanya mencakup pengenalan huruf hijaiyah, tetapi juga mencakup kemampuan menggabungkan huruf, mengenali harakat, membaca tanwin, sukun, tasydid, mad, hamzah, alif lam, serta memahami tanda-tanda yang terdapat dalam mushaf. Penguasaan dasar yang baik menjadi fondasi bagi pembelajaran makhraj al-huruf, sifat al-huruf, ilmu tajwid, tahsin, waqaf dan ibtida, serta tilawah.
Pembelajaran membaca Al-Qur’an idealnya berlangsung secara bertahap. Peserta didik terlebih dahulu mengenali bentuk dan bunyi huruf, kemudian mempelajari perubahan bentuk huruf sesuai posisinya dalam kata. Setelah itu, pembelajaran dilanjutkan dengan harakat, penggabungan huruf, sukun, tasydid, tanwin, mad dan tanda-tanda bacaan. Pada tahap berikutnya, peserta didik mulai menerapkan kemampuan tersebut pada kata, potongan ayat dan ayat Al-Qur’an secara utuh. Pembelajaran langsung melalui talaqqi dan koreksi guru sangat membantu memastikan bahwa bentuk tulisan telah diterjemahkan menjadi bunyi yang tepat.
Membaca Al-Qur’an dimulai dari kemampuan yang sangat mendasar, yaitu mengenali huruf dan menghubungkan simbol tulisan dengan bunyi yang benar. Berbeda dengan membaca bahasa Indonesia menggunakan alfabet Latin, pembacaan Al-Qur’an menggunakan sistem tulisan Arab yang memiliki karakteristik tersendiri.
Satu huruf dapat berubah bentuk berdasarkan posisinya dalam kata. Huruf juga dapat memperoleh harakat yang mengubah bunyi vokalnya. Selain itu terdapat tanda seperti sukun, tasydid, tanwin dan berbagai tanda mad yang harus dikenali pembaca.
Karena itu, seseorang yang baru belajar membaca Al-Qur’an perlu membangun beberapa kemampuan secara berurutan. Ia perlu mengenali huruf, membedakan huruf yang bentuknya mirip, memahami harakat, menggabungkan huruf menjadi suku kata dan kata, kemudian membaca rangkaian kata dalam ayat.
Dasar membaca yang kuat akan memudahkan pembelajaran tajwid. Sebaliknya, apabila kemampuan dasar belum stabil, pembelajaran tajwid yang terlalu cepat dapat menyebabkan peserta didik menghafal istilah tanpa mampu menerapkannya dalam bacaan.
Tujuan Pembelajaran Dasar
Pembelajaran dasar membaca Al-Qur’an memiliki beberapa tujuan utama.
| Tujuan | Kompetensi yang diharapkan |
|---|---|
| Mengenali huruf | Mampu membedakan seluruh huruf hijaiyah |
| Mengenali bentuk | Mampu membaca huruf dalam berbagai posisi |
| Mengenali harakat | Mampu membunyikan fathah, kasrah dan dhammah |
| Membaca suku kata | Mampu menggabungkan huruf dan harakat |
| Membaca kata | Mampu membaca rangkaian beberapa huruf |
| Mengenali sukun | Mampu membaca huruf tanpa vokal |
| Mengenali tasydid | Mampu membaca huruf yang digandakan |
| Mengenali tanwin | Mampu membaca an, in dan un |
| Mengenali mad | Mampu membaca pemanjangan dasar |
| Membaca ayat | Mampu membaca ayat secara berurutan |
| Membaca dengan benar | Mampu menghindari kesalahan dasar pelafalan |
Huruf Hijaiyah
- Huruf hijaiyah merupakan dasar utama pembacaan Al-Qur’an. Pembelajaran tidak cukup dengan menghafal nama huruf. Peserta didik perlu mampu mengenali bentuk huruf dan membedakannya dari huruf lain yang memiliki bentuk serupa.
- Contoh kelompok huruf yang perlu dibedakan secara visual antara lain:
- ب ت ث
- ج ح خ
- د ذ
- ر ز
- س ش
- ص ض
- ط ظ
- ع غ
- ف ق
- ك ل
- ن ي
Perbedaan titik menjadi bagian penting dalam identifikasi huruf.
| Huruf | Nama | Ciri visual utama |
|---|---|---|
| ب | Ba | Satu titik di bawah |
| ت | Ta | Dua titik di atas |
| ث | Tsa | Tiga titik di atas |
| ج | Jim | Satu titik di bawah |
| ح | Ha | Tanpa titik |
| خ | Kha | Satu titik di atas |
| د | Dal | Tanpa titik |
| ذ | Dzal | Satu titik di atas |
| ر | Ra | Tanpa titik |
| ز | Zai | Satu titik di atas |
| س | Sin | Tiga bentuk gigi tanpa titik |
| ش | Syin | Tiga titik di atas |
| ص | Shad | Tanpa titik |
| ض | Dhad | Satu titik |
| ط | Tha | Satu titik |
| ظ | Zha | Satu titik di atas |
| ع | ‘Ain | Tanpa titik |
| غ | Ghain | Satu titik di atas |
| ف | Fa | Satu titik di atas dalam penulisan yang umum di mushaf Indonesia |
| ق | Qaf | Dua titik di atas dalam penulisan yang umum |
| ك | Kaf | Bentuk khas kaf |
| ل | Lam | Bentuk panjang |
| م | Mim | Bentuk khas mim |
| ن | Nun | Satu titik di atas |
| ه | Ha | Bentuk khas ha |
| و | Waw | Bentuk khas waw |
| ي | Ya | Dua titik di bawah |
Bentuk Huruf dalam Kata
- Huruf Arab dapat memiliki bentuk berbeda sesuai posisinya dalam kata.
Secara umum, posisi tersebut meliputi:
| Posisi | Keterangan |
|---|---|
| Terpisah | Huruf berdiri sendiri |
| Awal | Huruf berada di awal kata |
| Tengah | Huruf berada di tengah kata |
| Akhir | Huruf berada di akhir kata |
Tidak semua huruf dapat menyambung dengan huruf setelahnya. Beberapa huruf memiliki karakter khusus dalam penyambungan.
- Huruf yang secara umum tidak menyambung ke huruf sesudahnya adalah:
- ا د ذ ر ز و
- Kemampuan mengenali bentuk sambungan merupakan salah satu tahap penting sebelum peserta didik membaca kata dengan lancar.
Harakat
- Harakat merupakan tanda vokal yang membantu menentukan cara membaca huruf.
Tiga harakat dasar adalah fathah, kasrah dan dhammah.
| Harakat | Bentuk | Bunyi dasar | Contoh |
|---|---|---|---|
| Fathah | ـَ | a | بَ |
| Kasrah | ـِ | i | بِ |
| Dhammah | ـُ | u | بُ |
- Perbedaan harakat menghasilkan bunyi yang berbeda.
- بَ = ba
- بِ = bi
- بُ = bu
- Karena itu, peserta didik perlu membangun kemampuan membedakan bentuk tanda dan menghasilkan bunyi secara konsisten.
- Tanwin
- Tanwin merupakan tanda yang menunjukkan bunyi nun pada akhir kata dalam keadaan tertentu.
Tiga bentuk dasarnya adalah:
| Jenis | Tanda | Bunyi |
|---|---|---|
| Fathatain | ـً | an |
| Kasratain | ـٍ | in |
| Dhammatain | ـٌ | un |
- Contoh:
- ـً = an
- ـٍ = in
- ـٌ = un
- Tanwin merupakan materi dasar sebelum peserta didik mempelajari hukum nun sukun dan tanwin dalam ilmu tajwid.
Sukun
- Sukun menunjukkan bahwa huruf tidak memiliki harakat vokal tersendiri.
- Tanda sukun umumnya ditulis: ـْ
- Contoh:
- أَبْ
- مِنْ
- يَكْ
- Pada pembelajaran awal, peserta didik perlu memahami bahwa huruf dengan sukun harus dibaca bersama huruf sebelumnya sehingga menghasilkan satu rangkaian bunyi.
Tasydid
- Tasydid menunjukkan adanya penggandaan atau penekanan huruf dalam pembacaan.
- Tandanya: ـّ
- Contoh:
- رَبِّ
- إِنَّ
- الْحَقُّ
- Dalam pembelajaran dasar, peserta didik perlu memahami bahwa tasydid tidak boleh diabaikan. Huruf yang bertanda tasydid dibaca dengan karakter penggandaan.
- Pada tahap tajwid, tasydid pada nun dan mim memiliki pembahasan khusus terkait ghunnah.
Hamzah
- Hamzah merupakan salah satu unsur penting dalam pembacaan Al-Qur’an.
- Hamzah dapat muncul dalam berbagai bentuk penulisan, termasuk:
- أ
- إ
- ؤ
- ئ
- ء
- Peserta didik perlu membedakan hamzah dari alif.
- Alif dan hamzah bukan dua istilah yang selalu identik. Alif dapat berfungsi sebagai salah satu huruf mad, sedangkan hamzah merupakan huruf yang memiliki karakter artikulasi tersendiri.
Alif
- Alif memiliki beberapa fungsi dalam tulisan Al-Qur’an.
- Pada tahap dasar, peserta didik terutama perlu mengenali alif dalam posisi sebagai bagian dari struktur kata dan sebagai salah satu huruf mad.
- Contoh:
- قَالَ
- كِتَاب
- Dalam bacaan dasar, alif yang berfungsi sebagai mad menghasilkan pemanjangan suara sesuai kaidah.
Mad Dasar
- Mad berarti memanjangkan suara pada kondisi tertentu.
- Pada tahap awal, peserta didik perlu mengenal mad asli atau mad thabi’i.
- Tiga huruf mad utama adalah:
- ا
- و
- ي
dengan kondisi dan harakat tertentu.
| Huruf mad | Harakat sebelumnya | Contoh pola |
|---|---|---|
| ا | Fathah | قَا |
| و | Dhammah | قُو |
| ي | Kasrah | قِي |
Dalam pembelajaran dasar, peserta didik harus membedakan bacaan pendek dan panjang.
- Contoh:
- بَ
- berbeda dengan
- بَا
- Perbedaan panjang tersebut perlu dilatih secara auditori dan artikulatoris.
Perbedaan Bacaan Pendek dan Panjang
- Kemampuan membedakan durasi suara merupakan fondasi penting.
| Bacaan | Karakter |
|---|---|
| بَ | Pendek |
| بَا | Panjang |
| بِ | Pendek |
| بِي | Panjang |
| بُ | Pendek |
| بُو | Panjang |
Peserta didik sebaiknya tidak hanya menghitung panjang secara mekanis. Mereka juga perlu mendengar contoh dari guru dan menirukannya.
Lam dan Alif Lam
- Alif lam merupakan bentuk yang sangat sering ditemukan dalam Al-Qur’an.
- Contoh:
- الْحَمْدُ
- الْعَالَمِينَ
- الرَّحْمَنِ
- Pada tahap dasar, peserta didik perlu mengenali bahwa alif lam memiliki hukum bacaan yang berbeda tergantung huruf setelahnya.
- Pembahasan tersebut kemudian berkembang menjadi:
- alif lam qamariyah
- alif lam syamsiyah
Alif Lam Qamariyah
- Pada alif lam qamariyah, lam dibaca jelas.
- Contoh:
- الْحَمْدُ
- الْكِتَابُ
- الْقَمَرُ
- Pada tahap awal, peserta didik cukup mengenali bahwa bunyi lam masih terdengar.
Alif Lam Syamsiyah
- Pada alif lam syamsiyah, lam tidak dibaca sebagai bunyi lam yang jelas. Huruf setelahnya menjadi lebih menonjol sesuai kaidah idgham.
- Contoh:
- الشَّمْسُ
- الرَّحْمَنُ
- النَّاسُ
- Pembelajaran ini menjadi jembatan menuju ilmu tajwid.
Huruf yang Berdekatan dalam Pelafalan
Setelah peserta didik mengenal bentuk huruf, perhatian perlu diberikan pada huruf yang memiliki kemiripan bunyi atau tempat artikulasi.
| Pasangan | Fokus pembelajaran |
|---|---|
| ت dan ط | Perbedaan karakter artikulasi |
| س dan ص | Perbedaan sifat suara |
| ح dan ه | Perbedaan artikulasi |
| ع dan ء | Perbedaan makhraj |
| ك dan ق | Perbedaan posisi artikulasi |
| د dan ض | Perbedaan artikulasi |
| ذ dan ز | Perbedaan bunyi |
| ث dan س | Perbedaan bunyi |
Kesalahan pada pasangan huruf tersebut sering muncul pada pembaca pemula.
Makhraj sebagai Dasar Membaca
- Setelah pengenalan huruf dan tanda baca, peserta didik mulai diarahkan pada makhraj.
Makhraj adalah tempat keluarnya huruf ketika diucapkan.
| Kelompok | Area |
|---|---|
| Jauf | Rongga mulut |
| Halq | Tenggorokan |
| Lisan | Lidah |
| Syafatain | Dua bibir |
| Khaisyum | Rongga hidung |
Pada tahap dasar, tujuan utamanya bukan menghafalkan seluruh teori makhraj, tetapi mulai membiasakan peserta didik mengucapkan huruf dari tempat yang benar.
Membaca Huruf Menjadi Suku Kata
- Setelah mengenali huruf dan harakat, pembelajaran dilanjutkan dengan penggabungan.
- Contoh pola:
- بَ + تَ = بَتَ
- مَ + لَ = مَلَ
- كَ + تَ + بَ = كَتَبَ
- Latihan seperti ini membangun kemampuan decoding, yaitu mengubah simbol tulisan menjadi bunyi secara otomatis.
Membaca Kata
- Tahap berikutnya adalah membaca kata secara utuh.
- Contoh:
- كِتَاب
- رَبّ
- عَلِيم
- رَحْمَة
- مَاء
- Pada tahap ini peserta didik mulai belajar membaca tanpa mengeja setiap huruf secara terpisah.
Membaca Ayat Pendek
- Setelah kemampuan membaca kata cukup stabil, peserta didik mulai membaca rangkaian kata dalam ayat.
- Contoh materi dapat dimulai dari surat-surat pendek yang familiar.
Tujuan utamanya adalah:
| Kompetensi | Target |
|---|---|
| Kelancaran | Tidak berhenti pada setiap huruf |
| Ketepatan | Tidak mengubah huruf |
| Harakat | Tidak mengubah vokal |
| Panjang | Mulai mengenali mad |
| Tasydid | Tidak menghilangkan penggandaan |
| Sukun | Tidak memberikan vokal tambahan |
| Waqaf | Mulai mengenali tempat berhenti |
Tanda-Tanda dalam Mushaf
Selain huruf dan harakat, mushaf memiliki berbagai tanda yang membantu pembaca.
| Tanda | Fungsi umum |
|---|---|
| Fathah | Vokal a |
| Kasrah | Vokal i |
| Dhammah | Vokal u |
| Sukun | Menandai tidak adanya vokal |
| Tasydid | Menandai penggandaan |
| Tanwin | Menandai nunasi |
| Tanda mad | Membantu menunjukkan pemanjangan |
| Tanda waqaf | Memberikan petunjuk berhenti |
| Tanda ayat | Menunjukkan batas ayat |
| Nomor ayat | Identifikasi ayat |

Jelajahi ratusan kajian Al-Qur’an yang lengkap, ilmiah, dan mencerahkan untuk memahami ayat Allah, memperluas wawasan, dan mengamalkannya dalam kehidupan, klik di bawah ini

Tanda Waqaf Dasar
- Peserta didik yang mulai membaca mushaf perlu mengenali bahwa tanda tertentu berkaitan dengan tempat berhenti.
- Namun, tanda waqaf bukan sekadar simbol untuk mengambil napas. Penentuan waqaf juga berkaitan dengan struktur makna.
Pada tingkat dasar, peserta didik dapat terlebih dahulu memahami:
| Kemampuan | Target |
|---|---|
| Mengenali tanda waqaf | Ya |
| Mengetahui kapan berhenti | Dasar |
| Mengetahui alasan linguistik | Tahap lanjut |
| Menganalisis hubungan antarfrasa | Tahap lanjut |
Kesalahan Dasar yang Sering Terjadi
Kesalahan pada pembaca pemula dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis.
| Jenis kesalahan | Contoh masalah |
|---|---|
| Visual | Salah mengenali huruf |
| Harakat | Salah membaca vokal |
| Sukun | Memberikan vokal tambahan |
| Tasydid | Tidak menggandakan huruf |
| Mad | Bacaan terlalu pendek atau terlalu panjang |
| Makhraj | Huruf keluar dari tempat yang tidak tepat |
| Kelancaran | Terlalu sering mengeja |
| Waqaf | Berhenti pada tempat yang tidak tepat |
| Pergantian huruf | Huruf dibaca sebagai huruf lain |
| Penghilangan | Sebagian huruf tidak terbaca |
Urutan Pembelajaran Dasar
Pembelajaran sebaiknya mengikuti tingkat kesulitan yang meningkat secara bertahap.
| Tahap | Materi | Indikator keberhasilan |
|---|---|---|
| 1 | Huruf hijaiyah | Mengenali huruf |
| 2 | Bentuk sambung | Mengenali huruf dalam kata |
| 3 | Fathah | Membaca bunyi a |
| 4 | Kasrah | Membaca bunyi i |
| 5 | Dhammah | Membaca bunyi u |
| 6 | Tanwin | Membaca an, in, un |
| 7 | Sukun | Membaca huruf mati |
| 8 | Tasydid | Membaca huruf ganda |
| 9 | Mad | Membaca panjang dasar |
| 10 | Alif lam | Mengenali qamariyah dan syamsiyah |
| 11 | Makhraj | Memperbaiki artikulasi |
| 12 | Kata | Membaca tanpa mengeja |
| 13 | Ayat | Membaca rangkaian kata |
| 14 | Waqaf dasar | Mengenali tanda berhenti |
| 15 | Tahsin | Koreksi menyeluruh |
| 16 | Tajwid dasar | Mempelajari hukum bacaan |
Metode Belajar
Pembelajaran membaca Al-Qur’an membutuhkan kombinasi penglihatan, pendengaran, gerakan artikulatoris dan pengulangan.
| Metode | Fungsi |
|---|---|
| Melihat mushaf | Mengenali simbol |
| Mendengarkan guru | Membentuk model suara |
| Menirukan | Melatih artikulasi |
| Membaca bersama | Membangun kelancaran |
| Membaca individual | Menguji kemampuan |
| Talaqqi | Koreksi langsung |
| Pengulangan | Membentuk otomatisasi |
| Muraja’ah | Mempertahankan kemampuan |
Peran Guru dalam Pembelajaran Dasar
- Guru tidak hanya mengajarkan nama huruf dan hukum bacaan. Guru perlu mendengarkan bacaan peserta didik secara langsung.
Koreksi sebaiknya dilakukan pada beberapa aspek.
| Aspek | Yang diperiksa |
|---|---|
| Huruf | Apakah huruf benar |
| Makhraj | Apakah tempat keluarnya tepat |
| Harakat | Apakah vokal benar |
| Sukun | Apakah huruf dibaca dengan benar |
| Tasydid | Apakah penggandaan terdengar |
| Mad | Apakah panjang sesuai |
| Kelancaran | Apakah bacaan tidak terputus-putus |
| Waqaf | Apakah berhenti pada tempat yang sesuai |
Evaluasi Kemampuan Dasar
- Evaluasi tidak cukup dilakukan dengan pertanyaan teori.
Peserta didik sebaiknya diuji melalui bacaan langsung.
| Kompetensi | Bentuk evaluasi |
|---|---|
| Huruf | Menyebutkan dan membaca huruf |
| Harakat | Membaca kombinasi huruf |
| Sukun | Membaca kata bersukun |
| Tasydid | Membaca kata bertasydid |
| Tanwin | Membaca kata bertanwin |
| Mad | Membaca bacaan panjang |
| Makhraj | Membaca huruf yang sulit |
| Kelancaran | Membaca ayat |
| Waqaf | Membaca dengan berhenti yang tepat |
Kapan Mulai Belajar Tajwid?
- Tajwid dapat mulai diperkenalkan setelah peserta didik memiliki kemampuan dasar membaca.
- Tidak harus menunggu sampai bacaan sempurna. Namun, pembelajaran tajwid akan lebih efektif apabila peserta didik sudah mampu:
- mengenali huruf
- membaca harakat
- membaca sukun
- membaca tasydid
- membaca tanwin
- membedakan bacaan pendek dan panjang
- membaca kata sederhana
- Setelah fondasi tersebut terbentuk, peserta didik dapat mulai mempelajari hukum tajwid secara sistematis.
Hubungan Dasar Membaca dengan Tahsin
- Dasar membaca menjawab pertanyaan: “Apa yang tertulis dan bagaimana membacanya?”
- Tahsin menjawab pertanyaan: “Apakah bacaan saya sudah benar?”
- Tajwid menjawab pertanyaan: “Kaedah apa yang berlaku pada bacaan tersebut?”
Ketiganya saling berhubungan.
| Bidang | Pertanyaan utama |
|---|---|
| Dasar membaca | Apa huruf dan tandanya? |
| Makhraj | Dari mana huruf keluar? |
| Sifat huruf | Bagaimana karakter huruf dibaca? |
| Tajwid | Apa hukum bacaannya? |
| Tahsin | Apakah penerapannya sudah benar? |
| Tilawah | Bagaimana membaca secara lancar? |
Kompetensi Akhir Dasar Membaca Al-Qur’an
Seseorang dapat dikatakan telah menguasai dasar membaca apabila mampu:
| Kompetensi | Target |
|---|---|
| Mengenali huruf | Baik |
| Membaca huruf bersambung | Baik |
| Membaca harakat | Baik |
| Membaca tanwin | Baik |
| Membaca sukun | Baik |
| Membaca tasydid | Baik |
| Membaca mad dasar | Baik |
| Membaca kata | Lancar |
| Membaca ayat sederhana | Lancar |
| Mengenali tanda waqaf | Dasar |
| Menjaga makhraj | Dasar |
| Menerapkan tajwid dasar | Mulai berkembang |
Peta Kompetensi Membaca Al-Qur’an
Secara keseluruhan, perjalanan belajar dapat diringkas sebagai berikut:
Huruf hijaiyah
↓
Bentuk huruf
↓
Harakat
↓
Gabungan huruf
↓
Kata
↓
Sukun dan tasydid
↓
Tanwin
↓
Mad
↓
Alif lam
↓
Makhraj
↓
Ayat
↓
Waqaf dasar
↓
Tahsin
↓
Tajwid
↓
Tartil
↓
Tilawah
↓
Tahfiz dan pembelajaran lanjutan
Kesimpulan
- Dasar-dasar membaca Al-Qur’an merupakan fondasi bagi seluruh pembelajaran Al-Qur’an. Kemampuan tersebut dimulai dari pengenalan huruf hijaiyah, bentuk huruf dalam berbagai posisi, harakat, tanwin, sukun, tasydid, hamzah, alif dan mad.
- Setelah mampu membaca simbol dengan benar, peserta didik perlu belajar menggabungkan huruf menjadi kata dan kata menjadi ayat. Pada tahap yang sama, perhatian mulai diarahkan pada makhraj agar huruf tidak hanya dikenali secara visual tetapi juga diucapkan dengan tepat.
- Pembelajaran dasar kemudian menjadi landasan untuk tahsin dan tajwid. Tahsin memperbaiki praktik bacaan, sedangkan tajwid memberikan kerangka kaidah yang mengatur bacaan. Setelah kemampuan tersebut kuat, pembelajaran dapat dilanjutkan ke tartil, tilawah, waqaf dan ibtida, tahfiz serta ilmu-ilmu Al-Qur’an yang lebih lanjut.
- Dengan demikian, pembelajaran membaca Al-Qur’an sebaiknya tidak dimulai dari hafalan istilah tajwid semata. Fondasi yang paling penting adalah kemampuan melihat huruf, mengenali tanda, mengucapkan bunyi, menggabungkan bacaan, menerima koreksi dan mengulang sampai bacaan menjadi tepat dan lancar.
Pesan Kunci
- Huruf adalah fondasi pertama.
- Harakat menentukan bunyi dasar.
- Sukun menunjukkan huruf tanpa vokal.
- Tasydid menunjukkan penggandaan huruf.
- Tanwin memberikan bunyi an, in atau un.
- Mad membutuhkan pemanjangan sesuai kaidah.
- Makhraj menentukan tempat keluarnya huruf.
- Tahsin memperbaiki penerapan bacaan.
- Tajwid memberikan kaidah membaca.
- Talaqqi dan koreksi langsung membantu membentuk bacaan yang tepat.
- Dasar membaca yang kuat akan memudahkan pembelajaran Al-Qur’an pada tingkat berikutnya.














Leave a Reply