MAB

MAB (MASJID AL-FALAH BENHIL) JAKARTA. Ilmu, Ibadah, dan Amal: untuk Semua Generasi dan Semua Kalangan

Dzikir Pagi dan Petang Sesuai Sunnah

9Dzikir Pagi dan Petang Sesuai Sunnah 

Dzikir pagi dan petang adalah amalan yang sangat dianjurkan dalam hadis-hadis sahih sebagai bentuk perlindungan, penguatan iman, dan wujud syukur kepada Allah. Waktu dzikir pagi dimulai setelah Subuh hingga sebelum matahari tergelincir, sedangkan dzikir petang dimulai sejak setelah Ashar hingga masuknya malam. Rasulullah ﷺ mengajarkan dzikir-dzikir khusus pada dua waktu ini, seperti membaca ta’awudz, Ayat Kursi, Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas, sebagai perlindungan dari gangguan syaitan dan keburukan makhluk.

Keutamaan dan Hikmah Dzikir Pagi-Petang

Hadis-hadis sahih menjelaskan keutamaan besar bagi orang yang menjaga dzikir pagi dan petang: perlindungan dari sihir, gangguan jin dan manusia, dijaga dari bahaya, serta dianugerahi ketenangan hati. Dzikir ini juga menjadi penghapus dosa, penambah pahala, dan penjaga iman sepanjang hari. Rasulullah ﷺ mengajarkan agar dzikir pagi-petang dibaca secara konsisten setiap hari, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, agar seorang Muslim selalu berada dalam lindungan Allah yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang.

Dzikir Pokok Pagi dan Petang yang Paling Ditekankan

Beberapa dzikir yang paling ditekankan oleh Nabi ﷺ antara lain membaca Ayat Kursi satu kali, yang dalam hadis disebut sebagai penjaga hingga pagi atau petang berikutnya. Selain itu, membaca tiga surat terakhir Al-Qur’an—Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas—masing-masing tiga kali, juga merupakan sunnah yang sangat kuat berdasarkan hadis riwayat At-Tirmidzi dan Ahmad. Rasulullah ﷺ juga memulai dzikir dengan membaca: “A‘ūdzu billāhi minasy-syaithānir-rajīm”, sebagai permohonan perlindungan sebelum mengingat Allah dengan lebih sempurna.

Dzikir Pagi dan Petang Khusus yang Diajarkan Nabi ﷺ

  • Di antara dzikir khusus pagi adalah doa: Ashbahna ‘alā fitratil-Islām…”, doa perlindungan panjang: “Allahumma innī as-alukal ‘afwa wal ‘āfiyah…”, serta doa keselamatan tubuh, pendengaran, dan penglihatan. Ada pula dzikir agung yang disebut Sayyidul Istighfar, yang jika dibaca di pagi hari dan seseorang meninggal sebelum sore maka ia masuk surga, begitu pula sebaliknya jika dibaca di sore hari. Pada waktu petang, dzikir yang sama tetap dibaca, namun beberapa lafaz diganti dari ashbahna (kami memasuki waktu pagi) menjadi amsayna (kami memasuki waktu sore), sesuai sunnah


Dzikir Pagi dan Petang Sesuai Sunnah 

1. Membaca Taawudz

  • أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
  • Bacaan latin: Audzubillahiminasyaitonirojim.
    Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.”
  • Nabi ﷺ mengajarkan bahwa setiap bacaan Al-Qur’an dan setiap dzikir pembuka harus diawali dengan ta‘awwudz. Allah berfirman: “Apabila engkau membaca Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. an-Nahl: 98). Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dalil kuat bahwa ta‘awwudz adalah sunnah sebelum dzikir dan bacaan, sehingga dianjurkan pada pagi dan petang.

2. Membaca Ayat Kursi 1x

  • اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ ٢٥٥
  • Bacaan latin: Allahu laa ilaa haillaa huwa hayyul qoyyuum, laa ta’khudzu sinatuu wa laa naum, lahuu maa fissamaawaati wamaa fil ardhi, mandzalladzii yasyfa’u ‘indahu illaa bi’idznihi ya’lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum, wa laa yukhiithuuna bi syai’im min ‘ilmihi illa bi maa syaa’, wa si’a kursiyyuhus samaawaati wal ardhi, wa laa yaudhuhu hifdzu humaa wa huwal aliyyul ‘adhiim.
  • Artinya: “Allah tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang (berada) dihadapan mereka, dan dibelakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari Ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” [Al-Baqarah/2: 255]
  • Membaca Ayat Kursi (QS. Al-Baqarah: 255) satu kali termasuk dzikir pagi–petang yang dianjurkan berdasarkan hadis sahih. Dalam riwayat Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu yang terkenal, Rasulullah ﷺ bersabda setelah mendengar penjelasan dari “tamu” yang datang (yaitu malaikat yang datang dalam rupa manusia dan kemudian diakui Nabi sebagai setan): “Jika engkau membaca Ayat Kursi pada malam hari, maka Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi.” (HR. Bukhari no. 2311). Para ulama seperti Ibn Hajar dan al-Nawawi menjelaskan bahwa keutamaan ini berlaku pula untuk pagi dan petang karena Ayat Kursi merupakan dzikir penjaga (ḥirz) yang dibaca pada dua waktu perlindungan harian. Oleh karena itu, membaca Ayat Kursi 1 kali setiap pagi dan 1 kali setiap petang termasuk amalan dzikir paling kuat dalam sunnah Nabi ﷺ.

3. Membaca Surat Al-Ikhlas 3x

  • قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ ١ اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ ٢ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ ٣ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ࣖ ٤
  • Bacaan latin: Qul huwa Allahu ahad Allahus Shamad Lam yalid wa lam yuulad Wa lam ya kullahu kufuwan ahad.
  • Artinya: “Katakanlah, Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah (Rabb) yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.'” [Al-Ikhlash/112: 1-4]

4. Membaca Surat Al-Falaq 3x

  • قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ ١ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ ٢ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ ٣ وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ ٤ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ
  • Bacaan latin: Qul a’uudzu birabbil falaq Min syarri maa khalaq Wa min syarri ghaasiqin idza waqab Wa min syarrin naffathaati fil ‘uqad Wa min syarri haasidin idza hasad.
  • Artinya: “Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Rabb Yang menguasai (waktu) Shubuh dari kejahatan makhluk Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Serta dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” [Al-Falaq/113: 1-5]

5. Membaca Surat An-Naas 3x

  • قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ ١ مَلِكِ النَّاسِۙ ٢ اِلٰهِ النَّاسِۙ ٣ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ ٤ الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ ٥ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ࣖ ٦
  • Bacaan latin: Qul a’uudzu bi rabbin naas Malikin naas Ilahinaas Min syarril waswaasil khannaas Alladzii yuwaswisu fii shuduurin naas Minal jinnati wannaas.
  • Artinya: “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan (Ilah) manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada-dada manusia. Dari golongan jin dan manusia.'” [An-Naas/114: 1-6]
  • Dalil: Membaca Al-Ikhlāṣ, Al-Falaq, dan An-Nās termasuk dzikir pagi–petang yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ, berdasarkan hadis sahih. Dari ‘Abdullah bin Khubaib radhiyallāhu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku: ‘Bacalah.’ Aku berkata: ‘Apa yang harus aku baca, wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda: ‘Bacalah Qul huwallāhu aḥad, Qul a‘ūdzu birabbil-falaq, dan Qul a‘ūdzu birabbin-nās, setiap pagi dan petang tiga kali, niscaya itu akan mencukupkanmu dari segala sesuatu’.” (HR. Abu Dawud no. 5082, at-Tirmidzi no. 3575 — hasan sahih). Adapun Surah Al-Kāfirūn, tidak ada hadis sahih yang menunjukkan bahwa ia dibaca khusus untuk dzikir pagi atau petang; ia dianjurkan dalam shalat malam, terutama sebelum tidur atau dalam rakaat shalat sunnah, namun bukan sebagai dzikir pagi–petang khusus sebagaimana tiga surah sebelumnya.

6. Membaca Dzikir Pagi Pertama 1x

  • أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ، حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
  • Bacaan latin: Ashbahnaa ‘ala fithrotil Islam, wa ‘ala kalimatil ikhlash, wa ‘ala diini nabiiyinaa muhammad shallallahu alaihi wa sallam, wa ‘ala millati abaina ibrahim haniifan muslimaw wa maa kaana minal musyrikiin.
  • Artinya: “Di waktu pagi kami berada diatas fitrah agama Islam, kalimat ikhlas, agama Nabi kami Muhammad صلى الله عليه وسلم dan agama ayah kami, Ibrahim, yang berdiri di atas jalan yang lurus, muslim dan tidak tergolong orang-orang musyrik.
  • Dalil: Dzikir ini bersumber dari hadis Abdullah bin ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā, bahwa ketika memasuki waktu pagi dan petang Rasulullah ﷺ mengajarkan doa: “Ashbaḥnā ‘alā fiṭratil-Islām, wa ‘alā kalimatil ikhlāṣ, wa ‘alā dīni nabiyyinā Muḥammad ﷺ, wa ‘alā millati abīnā Ibrāhīm ḥanīfan musliman wa mā kāna minal musyrikīn.”
  • Pada waktu petang diganti menjadi: “Amsaynā ‘alā fiṭratil-Islām…” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 2669) dan oleh an-Nasā’ī dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah (no. 24), serta dinilai hasan oleh para ulama seperti Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Aḥādīts aṣ-Ṣaḥīḥah (no. 2989). Para ulama sepakat bahwa doa ini diajarkan Nabi ﷺ untuk pagi dan petang karena isinya menyatakan masuknya waktu pagi (ashbaḥnā) dan waktu petang (amsaynā)

7. Membaca Dzikir Pagi Kedua 3x

  • رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا
  • Bacaan latin: Radhiitu billahi rabba, wa bil islaama diina, wa bimuhammadin nabiyya.
  • Artinya: “Aku rela (ridha) Allah sebagai Rabb-ku (untukku dan orang lain), Islam sebagai agamaku dan Muhammad صلى الله عليه وسلم sebagai Nabiku (yang diutus oleh Allah).”
  • Dalil: Doa dzikir pagi‑petang “Raḍītu billāhi Rabb‑an, wa bil‑Islām dīnan, wa bi Muḥammadin nabiyyā” diriwayatkan dari Thawbân r.a. bahwa Nabi ﷺ bersabda: barang siapa membaca doa ini setiap pagi dan sore sebanyak tiga kali, Allah akan meridhoi dirinya pada Hari Kiamat. Hadits ini tercatat dalam Sunan Ibn Mājah no. 3870 dan Sunan Abī Dāwūd no. 1529, dan para ulama menilai sanadnya hasan hingga shahih. Dzikir ini menegaskan kepuasan hati seorang Muslim kepada Allah sebagai Rabb, kepada Islam sebagai agama, dan kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai rasul, sehingga menjadi amalan rutin pagi dan petang yang sangat dianjurkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh ridha-Nya.

8. Membaca Dzikir Pagi Ketiga 1x

  • اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ، وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ
  • Bacaan latin: Allahumma bika ashbahna wa bika amsaynaa wa bika nahyaa, wa bika namuutu wa ilaikan nusyuur.
  • Artinya: “Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore. Dengan rahmat dan kehendak-Mu kami hidup dan dengan rahmat dan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu kebangkitan (bagi semua makhluk).”
  • Dalil: Doa “Allāhumma bika ashbaḥnā wa bika amsaynā, wa bika naḥyā wa bika namūt, wa ilayka an-nuṣyūr” adalah dzikir pagi‑petang yang diriwayatkan shahih dari ‘Abdullah bin ‘Amr r.a., bahwa Nabi ﷺ mengajarkan agar setiap Muslim membacanya di waktu pagi dan sore sebagai pengakuan bahwa hidup dan mati hanya di tangan Allah, serta menyadari bahwa pada akhirnya semua makhluk akan kembali kepada-Nya. Hadits ini tercatat dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī no. 6310 dan Ṣaḥīḥ Muslim no. 2723, menegaskan pentingnya kesadaran tauhid dalam setiap awal dan akhir hari, sekaligus menjadi bentuk ibadah dzikir yang menjaga hati dari lupa akan keesaan Allah dan akhirat.

9. Membaca Dzikir Pagi Keempat 1x

  • أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ
  • Bacaan latin: Ashbahnaa wa ashbahal mulku lillahi, walhamdulillah, laa ilahaillallah wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku wa lahulhamdu, wa huwa ‘ala kulli syai’in qadiir, rabbi as’aluka khaira maa fii haadhihil lailah wa khaira maa ba’dahu, wa a’uudzu bika min syarri maa fii hadhihil lailah wa syarrimaa ba’daha, rabbi a’uudzubika minal kasali, wa suu’ul kibri, rabbi auudzu bika min ‘adzaabin naari, wa ‘adzaabilqabri.
  • Artinya: “Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. Bagi-Nya kerajaan dan bagiNya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala se-suatu. Hai Tuhan, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Tuhan, aku berlin-dung kepadaMu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Tuhan! Aku berlindung kepadaMu dari siksaan di Neraka dan kubur.”
  • Dalil:Hadis yang diriwayatkan Imam Muslim no. 2723 ini berisi dzikir perlindungan pagi dan petang yang sangat lengkap, karena mencakup pujian kepada Allah, pengakuan tauhid, permohonan kebaikan hari, dan perlindungan dari berbagai keburukan dunia–akhirat. Bagian awalnya “Ashbaḥnā wa ashbaḥal-mulku lillāh…” adalah pernyataan bahwa seseorang memasuki pagi dalam keadaan semua kerajaan, kekuasaan, dan seluruh makhluk berada di bawah kendali Allah semata, disertai kalimat tauhid yang menegaskan keesaan-Nya dan kekuasaan-Nya atas segala sesuatu. Lalu Nabi ﷺ mengajarkan agar seorang Muslim meminta kebaikan pada hari itu dan setelahnya, serta berlindung dari keburukan hari itu dan keburukan setelahnya, menunjukkan bahwa seorang hamba mengharapkan semua takdir baik dan dijauhkan dari takdir buruk. Kemudian terdapat permohonan perlindungan dari malas (al-kasal) yang merusak amal, dan dari buruknya usia tua (sū’ul-kibr) yaitu keadaan pikun, lemah, atau tidak mampu beribadah. Bagian terakhir memohon perlindungan dari azab neraka dan azab kubur, dua bentuk siksa akhirat yang sangat ditekankan Nabi ﷺ untuk selalu diwaspadai. Inilah sebabnya para ulama menyebut hadis ini sebagai dzikir penjagaan pagi–petang yang sangat sempurna dalam makna dan manfaatnya.

10. Membaca Sayyidul Istighfar 1x

  • اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
  • Bacaan latin: Allahumma anta rabby laa ilaa hailla anta, khalaqtanii wa ana ‘abduka, wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas tatho’tu. ‘a uudzu bika min syarrimaa shana’tu, abuu ‘u laka bini’matika ‘alayya wa abuu’u bidhanbii, faghfirlii, fainnahu laa yaghfiru dzunuuba illa anta.
  • Artinya: “Ya Allah, Engkau lah Tuhanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di dalam hidayahmu, dan perjanjian dengan-Mu. Sebisa yang aku mampu. Aku berlindung kepada-Mu, dari segala kejelekan yang aku perbuat. Aku bersyukur atas nikmat yang Engkau limpahkan kepada kami, dan aku menyesal atas segala yang dosa yang aku perbuat. Maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.”
  • Dalil: Dzikir yang paling agung pada pagi dan petang adalah Sayyidul Istighfar. Hadits ini diriwayatkan shahih oleh Imam al-Bukhārī no. 6306 dari Syaddād bin Aus radhiyallāhu ‘anhu, di mana Nabi ﷺ bersabda: “Sayyidul Istighfar adalah seseorang yang membaca doa ini dengan penuh kesadaran; barang siapa mengucapkannya di pagi hari dengan yakin lalu meninggal sebelum sore, ia masuk surga, dan barang siapa membacanya di sore hari lalu meninggal sebelum pagi, ia masuk surga.” Hadits ini menunjukkan keutamaan luar biasa bagi yang membacanya dengan hati ikhlas, sebagai bentuk permohonan ampun, pengakuan kekhilafahan diri, dan penguatan ikatan dengan Allah setiap hari.

11. Membaca Dzikir Pagi Keenam 1x

  • اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ
  • رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنَ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي
  • Bacaan latin: Allahumma inni as-alukal ‘afwa wal ‘afiyata fid dunya wal akhiroh. Allahumma inni as-alukal a’fwa wal ‘afiyata fi dini wa dunyaya wa ahli wa mali. Allahummastur ‘auroti wa amin row’ati. Allahummahfadzni min baini yadayya wa min kholfi wa min yamini wa ‘an syimali wa min fauqi wa a’uzubika bi ‘adzamatika an ughtala min tahti.
  • Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tentramkan-lah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri dan dari atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (aku berlindung dari dibenamkan ke dalam bumi).
  • Dalil: Doa yang diajarkan Nabi ﷺ ini untuk dzikir pagi dan petang, diriwayatkan secara shahih dalam Sunan Abī Dāwūd no. 5074, juga dikuatkan oleh Ibn Mājah no. 3871 dan Ahmad. Dalam hadits itu Nabi ﷺ memerintahkan membaca doa ini setiap pagi dan sore sebagai permohonan menyeluruh agar diberikan ampunan, keselamatan agama–dunia, penjagaan keluarga dan harta, ditutupi aib, diteguhkan hati, serta dilindungi dari segala arah termasuk bahaya yang datang dari bawah, sebagai bentuk tawakkal dan permohonan penjagaan total kepada Allah.

12. Membaca Dzikir Pagi Ketujuh 1x

  • لَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
  • اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
  • Bacaan latin: Allahumma ‘aafinii fii badani, Allahumma ‘aafini fii sasm’ii, Allahumma ‘Aafini fii basharii, laa ilaa haillah anta, Allahumma inni ‘auudzubika minal kufri walfaqri, Allahumma innii ‘audzubika min ‘adzaabil qabri, laa ilahaillaa anta.
  • Artinya: “Ya Allah, selamatkanlah tubuhku (dari penyakit dan dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, sehatkanlah pendengaranku. Ya Allah, sehatkanlah penglihatanku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau. Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.
  • Dalil: Doa ini diajarkan Nabi ﷺ sebagai bagian dari dzikir pagi dan petang untuk memohon kesehatan jasmani, pendengaran, penglihatan, perlindungan dari kekufuran, kefakiran, dan siksa kubur. Hadits ini diriwayatkan secara shahih oleh Imam al-Tirmidzi no. 3385, dan juga terdapat dalam Sunan Abī Dāwūd no. 5075, yang menegaskan keutamaan membaca doa tersebut setiap pagi dan sore sebagai penjagaan diri secara menyeluruh dari segala bentuk bahaya dunia maupun akhirat.

13. Membaca Dzikir Pagi Kedelapan 1x

  • اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ
  • Bacaan latin: Allahumma ‘aalimal ghaibi was syahaadah, faathiras samaawaati wal ardhi, rabba kulli syain in wa maliikahu, asyhadu allaa ilaa hailla anta, a’udzuu bika min syarri nafsii, wa min syarri syaithoni wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘alaa nafsi suu’aan au ajurrohu ila muslim.
  • Artinya: “Ya Allah Yang Mahamengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Rabb Pencipta langit dan bumi, Rabb atas segala sesuatu dan Yang Merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau. Aku berlindung kepada Mu dari kejahatan diriku, syaitan dan ajakannya menyekutukan Allah (aku berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan atas diriku atau mendorong seorang muslim kepadanya.
  • Dalil: Doa dzikir pagi dan petang ini untuk memohon perlindungan dari kejahatan diri sendiri, gangguan setan, dan dosa terhadap sesama Muslim, sekaligus menegaskan tauhid dan pengakuan kekuasaan Allah atas seluruh ciptaan. Hadits ini diriwayatkan secara shahih oleh Imam al-Tirmidzi no. 3386 dan juga disebutkan dalam beberapa kitab doa shahih lainnya, menekankan pentingnya membaca doa ini setiap pagi dan sore sebagai penjagaan jiwa dan penguatan iman.

14. Membaca Dzikir Pagi Kesembilan 3x

  • بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
  • Bacaan latin:Bismillahi ladzi laa yadhurru ma’a smihi syaiun fil ardhi wa laa fis samaa’ i wa huwassamii’ul ‘aliim.
  • Artinya: “Dengan Menyebut Nama Allah, yang dengan Nama-Nya tidak ada satupun yang membahayakan, baik di bumi maupun dilangit. Dia-lah Yang Mahamendengar dan Maha mengetahui.”
  • Dalil: Dari ‘Utsman bin ‘Affan r.a., ia berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda:
    “Barangsiapa yang setiap pagi dan petang membaca tiga kali: ‘Bismillāhil‑ladzī … wa Huwa‑s‑Samīʿu‑l‑‘Alīm’, maka tidak akan ada sesuatu pun yang membahayakannya.”
    Hadits ini tercatat dalam Sunan Abu Dawud (no. 5088/5089) dan Sunan At‑Tirmidzi (no. 3388), dan keduanya menilai hadits tersebut sebagai hasan/ṣaḥīḥ
  • Nabi ﷺ bersabda bahwa siapa saja yang membaca kalimat ini tiga kali setiap pagi dan tiga kali setiap petang, maka tidak akan ditimpa bahaya apa pun.
  • Dalil / status hadits: riwayat Sunan Abu Dawud dan Jamiʿ at‑Tirmidhi (juga diriwayatkan oleh Ibn Majah dan Imam Ahmad bin Hanbal). Para ulama menilai hadits ini “hasan shahih”. Kalimat ini sangat populer dalam himpunan dzikir pagi‑petang karena di‑“promosikan” dalam kitab‑kitab amaliyah sehari-hari sebagai penjagaan dari segala mara bahaya bagi yang membacanya secara istiqamah.

15. Membaca Dzikir Pagi Kesepuluh 1x

  • يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ
  • Bacaan latin: Ya Hayyu ya Qayyumu birahmatika astaghiistu, ashlih lii sya’nii kullahu walaa takilnii ilaa nafsii tharfata ‘ainin.
  • Artinya: “Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekalipun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).”
  • Dalil: doa ini diajarkan Nabi ﷺ untuk dibaca pada pagi dan petang sebagai permohonan pertolongan Allah, agar segala urusan diperbaiki dan tidak diserahkan kepada diri sendiri walau sesaat. Doa ini diriwayatkan melalui jalur yang dipercaya dari Anas ibn Malik radhiyallāhu ‘anhu, dan dinilai hasan atau sahih oleh beberapa ulama hadits kontemporer, meski tidak tercatat dalam Ṣaḥīḥ Bukhārī atau Ṣaḥīḥ Muslim. Dzikir ini menjadi amalan sunnah yang sangat dianjurkan untuk memohon perlindungan Allah, kekuatan dalam menjalankan urusan harian, serta menjadikan hati selalu bergantung kepada-Nya di setiap awal dan akhir hari.

16. Membaca Dzikir Pagi Kesebelas 3x

  • سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ: عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
  • Bacaan latin: Subahnallah wa bihamdihi; ‘adada khalqihi, wa ridha nafsihi, wa zinata ‘arsyihi, wa midaada kalimatihi.
  • Artinya: “Mahasuci Allah, aku memuji-Nya sebanyak bilangan makhluk-Nya, Mahasuci Allah sesuai ke-ridhaan-Nya, Mahasuci seberat timbangan ‘Arsy-Nya, dan Mahasuci sebanyak tinta (yang menulis) kalimat-Nya.”
  • Dalil , Doa ini adalah dzikir yang sangat utama dibaca setiap pagi dan petang untuk memuji Allah dengan jumlah ciptaan-Nya, keridhaan-Nya, kemegahan Arsy, dan sebanyak kata-kata yang dapat ditulis. Hadits ini diriwayatkan secara shahih oleh Imam Muslim no. 2691 dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa membaca dzikir ini, Allah menulis baginya seribu kebaikan dan menghapus seribu dosa setiap kali membacanya.” Hadits ini menegaskan keutamaan dzikir pagi‑petang sebagai amalan yang mendatangkan pahala besar, pengampunan dosa, dan mendekatkan hamba kepada Allah sepanjang hari.

17. Membaca Dzikir Pagi Keduabelas 1x, 10x, atau 100x

  • سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ
  • Bacaan latin: Subhanallahi wabihamdihi.
  • Artinya: “Mahasuci Allah, aku memuji-Nya.”
  • Dzikir “Subḥānallāhi wa biḥamdihi” termasuk dzikir yang sangat utama dan dianjurkan setiap waktu, termasuk pagi dan petang. Hadits ini diriwayatkan secara shahih oleh Imam Muslim no. 2691 dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa mengucapkan ‘Subḥānallāhi wa biḥamdihi’ seratus kali dalam sehari, maka dosa-dosanya dihapuskan meskipun sebanyak buih di lautan.” Hadits ini menegaskan bahwa dzikir ini termasuk amalan ringan namun penuh pahala, efektif untuk pengampunan dosa, serta menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah dengan memuji-Nya setiap saat.

18. Membaca Dzikir Pagi Ketigabelas 1x, 10x, atau 100x

  • لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ
  • Bacaan latin: Laa ilaahaillallah wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu wa huwa alaa kulli syain qadiiru.
  • Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Allah, Yang Mahaesa tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan dan bagi-Nya pujian dan Dia Mahaberkuasa atas segala sesuatu.”
  • Sqlil: Doa ini adalah dzikir pagi dan petang yang sangat dianjurkan, karena mengandung pengakuan tauhid, pengakuan kekuasaan Allah atas seluruh ciptaan, serta pujian kepada-Nya. Hadits ini diriwayatkan secara shahih oleh Imam Muslim no. 2723 dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, di mana Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa mengucapkan dzikir ini di pagi hari, maka ia akan mendapatkan perlindungan Allah sampai sore; dan siapa yang mengucapkannya di sore hari, Allah akan menjaganya sampai pagi.” Hadits ini menegaskan keutamaan dzikir ini sebagai penjagaan diri, penguat iman, dan sarana mendekatkan diri kepada Allah setiap hari.

19. Membaca Dzikir Pagi Ke-empat Belas 100x

  • أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
  • Bacaan latin: Astaghfirullah wa atuubu ilaihi.
  • Artinya: “Aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.”
  • Dalil : Dzikir “Astaghfirullāh wa atūbu ilaih” adalah amalan memohon ampunan Allah dan bertaubat yang sangat dianjurkan setiap waktu, termasuk pagi dan petang. Hadits shahih yang mendasarinya diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa yang membaca ‘Astaghfirullāh wa atūbu ilaih’ sebanyak tiga kali setiap hari, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan.” (Diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi no. 3558, dan dikategorikan shahih oleh al-Albani). Hadits ini menegaskan keutamaan dzikir dan taubat rutin, sebagai sarana pembersihan hati, pengampunan dosa, dan mendekatkan diri kepada Allah setiap hari.

Bacaan Dzikir Petang
Berbeda dengan dzikir pagi, dzikir petang dibaca setelah sholat Ashar hingga matahari tenggelam saat menjelang waktu sholat Isya.

1. Membaca Taawudz

  • أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
  • Bacaan latin: Audzubillahiminasyaitonirojim
  • Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.”

2. Membaca Ayat Kursi 1x

  • اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ ٢٥٥
  • Bacaan latin: Allahu laa ilaa haillaa huwa hayyul qoyyuum, laa ta’khudzu sinatuu wa laa naum, lahuu maa fissamaawaati wamaa fil ardhi, mandzalladzii yasyfa’u ‘indahu illaa bi’idznihi ya’lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum, wa laa yukhiithuuna bi syai’im min ‘ilmihi illa bi maa syaa’, wa si’a kursiyyuhus samaawaati wal ardhi, wa laa yaudhuhu hifdzu humaa wa huwal aliyyul ‘adhiim.
  • Artinya: “Allah tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang (berada) dihadapan mereka, dan dibelakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari Ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” [Al-Baqarah/2: 255]

3. Membaca Surat Al-Ikhlas 3x

  • قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ ١ اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ ٢ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ ٣ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ࣖ
  • Bacaan latin: Qul huwa Allahu ahad Allahus Shamad Lam yalid wa lam yuulad Wa lam ya kullahu kufuwan ahad.
  • Artinya: “Katakanlah, Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah (Rabb) yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.'” [Al-Ikhlash/112: 1-4]

4. Membaca Surat Al-Falaq 3x

  • قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ ١ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ ٢ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ ٣ وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ ٤ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ ࣖ ٥
  • Bacaan latin: Qul a’uudzu birabbil falaq Min syarri maa khalaq Wa min syarri ghaasiqin idza waqab Wa min syarrin naffathaati fil ‘uqad Wa min syarri haasidin idza hasad.
  • Artinya: “Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Rabb Yang menguasai (waktu) Shubuh dari kejahatan makhluk Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Serta dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” [Al-Falaq/113: 1-5]

5. Membaca Surat An-Naas 3x

  • قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ ١ مَلِكِ النَّاسِۙ ٢ اِلٰهِ النَّاسِۙ ٣ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ ٤ الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ ٥ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ࣖ ٦
  • Bacaan latin: Qul a’uudzu bi rabbin naas Malikin naas Ilahinaas Min syarril waswaasil khannaas Alladzii yuwaswisu fii shuduurin naas Minal jinnati wannaas.
  • Artinya: “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan (Ilah) manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada-dada manusia. Dari golongan jin dan manusia.'” [An-Naas/114: 1-6]

6. Membaca Dzikir Petang Pertama 1x

  • أَمْسَيْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ، حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
  • Bacaan latin: Amsaynaa ‘ala fithrotil Islam, wa ‘ala kalimatil ikhlash, wa ‘ala diini nabiiyinaa muhammad shallallahu alaihi wa sallam, wa ‘ala millati abaina ibrahim haniifan muslimaw wa maa kaana minal musyrikiin.
  • Artinya: “Di waktu petang kami berada diatas fitrah agama Islam, kalimat ikhlas, agama Nabi kami Muhammad صلى الله عليه وسلم dan agama ayah kami, Ibrahim, yang berdiri di atas jalan yang lurus, muslim dan tidak tergolong orang-orang musyrik.

7. Membaca Dzikir Petang Kedua 1x

  • رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا
  • Bacaan latin: Radhiitu billahi rabba, wa bil islaama diina, wa bimuhammadin nabiyya.
  • Artinya: “Aku rela (ridha) Allah sebagai Rabb-ku (untukku dan orang lain), Islam sebagai agamaku dan Muhammad صلى الله عليه وسلم sebagai Nabiku (yang diutus oleh Allah).”

8. Membaca Dzikir Petang Ketiga 1x

  • اللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ أَصْبَحْنَا ، وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوتُ، وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ
  • Bacaan latin: Allahumma bika amsaynaa wa bika ashbahnaa wa bika nahyaa, wa bika namuutu wa ilaikal mashir.
  • Artinya: “Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu petang, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi. Dengan rahmat dan kehendak-Mu kami hidup dan dengan rahmat dan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu tempat kembali (bagi semua makhluk).”

9. Membaca Dzikir Petang Keempat 1x

  • أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ
  • Bacaan latin: Amsaynaa wa amsal mulku lillahi, walhamdulillah, laa ilahaillallah wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku wa lahulhamdu, wa huwa ‘ala kulli syai’in qadiir, rabbi as’aluka khaira maa fii hadzal yaumi wa khaira maa ba’dahu, wa a’uudzu bika min syarri maa fii hadzal yaumi wa syarrimaa ba’dahu, rabbi a’uudzubika minal kasali, wa suu’ul kibari, rabbi a’uudzu bika min ‘adzaabin naari, wa ‘adzaabilqabri.
  • Artinya: “Kami telah memasuki waktu petang dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. Bagi-Nya kerajaan dan bagiNya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala se-suatu. Hai Tuhan, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Tuhan, aku berlindung kepadaMu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Tuhan! Aku berlindung kepadaMu dari siksaan di Neraka dan kubur.”

10. Membaca Sayyidul Istighfar 1x

  • اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
  • Bacaan latin: Allahumma anta rabby laa ilaa hailla anta, khalaqtanii wa ana ‘abduka, wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas tatho’tu. ‘a uudzu bika min syarrimaa shana’tu, abuu ‘u laka bini’matika ‘alayya wa abuu’u bidhanbii, faghfirlii, fainnahu laa yaghfiru dzunuuba illa anta.
  • Artinya: “Ya Allah, Engkau lah Tuhanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di dalam hidayahmu, dan perjanjian dengan-Mu. Sebisa yang aku mampu. Aku berlindung kepada-Mu, dari segala kejelekan yang aku perbuat. Aku bersyukur atas nikmat yang Engkau limpahkan kepada kami, dan aku menyesal atas segala yang dosa yang aku perbuat. Maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.”
  • Dzikir yang paling agung pada pagi dan petang adalah Sayyidul Istighfar. Hadits ini diriwayatkan shahih oleh Imam al-Bukhārī no. 6306 dari Syaddād bin Aus radhiyallāhu ‘anhu, di mana Nabi ﷺ bersabda: “Sayyidul Istighfar adalah seseorang yang membaca doa ini dengan penuh kesadaran; barang siapa mengucapkannya di pagi hari dengan yakin lalu meninggal sebelum sore, ia masuk surga, dan barang siapa membacanya di sore hari lalu meninggal sebelum pagi, ia masuk surga.” Hadits ini menunjukkan keutamaan luar biasa bagi yang membacanya dengan hati ikhlas, sebagai bentuk permohonan ampun, pengakuan kekhilafahan diri, dan penguatan ikatan dengan Allah setiap hari.

11. Membaca Dzikir Petang Keenam 1x

  • اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ
  • رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنَ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي
  • Bacaan latin: Allahumma inni as-alukal ‘afwa wal ‘afiyata fid dunya wal akhiroh. Allahumma inni as-alukal a’fwa wal ‘afiyata fi dini wa dunyaya wa ahli wa mali. Allahummastur ‘auroti wa amin row’ati. Allahummahfadzni min baini yadayya wa min kholfi wa ‘an yamini wa ‘an syimali wa min fauqi wa a’uzubika bi ‘adzomatika an ughtala min tahti.
  • Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebaikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tentramkan-lah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri dan dari atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (aku berlindung dari dibenamkan ke dalam bumi).”
  • Di antara dzikir paling penting adalah doa perlindungan yang panjang: “Allāhumma innī as’alukal ‘afwa wal ‘āfiyah…” Hadisnya diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ahmad dari Ibn ‘Umar radhiyallāhu ‘anhumā, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Tidaklah seseorang diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih luas daripada ‘afiyah.” Dan beliau mengajarkan doa ini untuk dibaca setiap pagi dan petang. Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkan doa memohon keselamatan agama, dunia, tubuh, pendengaran, dan penglihatan pada waktu pagi dan sore.

12. Membaca Dzikir Petang Ketujuh 3x

  • َّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
  • اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
  • Bacaan latin: Allahumma ‘aafinii fii badani, Allahumma ‘aafini fii sasm’ii, Allahumma ‘Aafini fii basharii, laa ilaa haillah anta, Allahumma inni ‘auudzubika minal kufri walfaqri, Allahumma innii ‘audzubika min ‘adzaabil qabri, laa ilahaillaa anta.
  • Artinya: “Ya Allah, selamatkanlah tubuhku (dari penyakit dan dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah pendengaranku. Ya Allah, selamatkanlah penglihatanku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dar kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.
  • Doa khusus yang mencakup perlindungan anggota tubuh adalah: “Allāhumma ‘āfinī fī badanī, Allāhumma ‘āfinī fī sam‘ī, Allāhumma ‘āfinī fī basharī…” Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ahmad dari ‘Abdurrahman bin Abzi. Nabi ﷺ mengajarkan agar doa ini diulang tiga kali pada pagi dan petang. Ulama menerangkan bahwa doa ini mencakup keselamatan fisik, indra, dan keimanan seseorang, sehingga menjadi amalan yang sangat dianjurkan.

13. Membaca Dzikir Petang Kedelapan 1x

  • اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ
  • Bacaan latin: Allahumma ‘aalimal ghaibi was syahaadah, faathiris samaawaati wal ardhi, rabbi kulli syain wa maliikahu, asyhadu allaa ilaa hailla anta, a’udzuu bika min syarri nafsii, wa syarri sysyaitahaai wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘alaa nafsi suu’aan au ajurrohu ila muslim.
  • Artinya: “Ya Allah Yang Mahamengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Rabb Pencipta langit dan bumi, Rabb atas segala sesuatu dan Yang Merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, syaitan dan ajakannya menyekutukan Allah (aku berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan atas diriku atau mendorong seorang muslim kepadanya.

14. Membaca Dzikir Petang Kesembilan 4x

  • بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
  • Bacaan latin: Bismillahi laa yadhurru ma’a smihi syaiun fil ardhi wa laa fis samaa’I wa huwa ssmii’ul aliim.
  • Artinya: “Dengan Menyebut Nama Allah, yang dengan Nama-Nya tidak ada satupun yang membahayakan, baik di bumi maupun dilangit. Dia-lah Yang Mahamendengar dan Maha mengetahui.”

15. Membaca Dzikir Petang Kesepuluh 1x

  • يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ
  • Bacaan latin: Ya Hayyun ya Qayyum, birahmatika astaghiistu, ashlih lii sya’nii kullihi walaa takilnii ilaa nafsii tharfata ‘ainin.
  • Artinya: “Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekalipun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).

16. Membaca Dzikir Kesebelas 3x

  • أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّآمَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
  • Bacaan latin: A’udzu bikalimaatil lahit tammaa ti mins syarri maa kholaq.
  • Artinya: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan sesuatu yang diciptakan-Nya.”

17. Membaca Dzikir Petang Keduabelas 100x

  • سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ
  • Bacaan latin: Subhanallahi wabihamdihi.
  • Artinya: “Mahasuci Allah, aku memuji-Nya.”

18. Membaca Dzikir Petang Ketigabelas 1x, 10x, atau 100x

  • لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ
  • Bacaan latin: Laa ilaahaillallah wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu wa huwa alaa kulli syain qadiir.
  • Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Allah, Yang Mahaesa tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan dan bagi-Nya pujian dan Dia Mahaberkuasa atas segala sesuatu.”

Hadis-hadis di atas menunjukkan bahwa dzikir pagi dan petang bersifat tawqīfī, yakni harus bersumber dari Nabi ﷺ. Karena itu, lafaz ashbahna (kami memasuki pagi) diganti menjadi amsaynā (kami memasuki sore) ketika dibaca di waktu petang. Perubahan ini bukan sekadar tata bahasa, tetapi bagian dari ketelitian Rasulullah ﷺ dalam membimbing umat agar dzikir mereka tepat sesuai waktu dan makna.

Dengan menjaga dzikir-dzikir sahih ini, seorang Muslim berada dalam penjagaan Allah sepanjang hari. Para sahabat mencontohkan bahwa dzikir pagi dibaca setelah masuk waktu Subuh hingga terbit matahari, sementara dzikir petang dibaca setelah masuk waktu Ashar hingga tenggelam matahari. Dzikir-dzikir yang diajarkan Nabi ﷺ ini mencakup permohonan hidayah, perlindungan dari keburukan, penjagaan fisik dan ruhani, serta penghapusan dosa. Itulah warisan dzikir yang paling sempurna, paling selamat, dan paling diberkahi.


Dzikir Pagi-Petang yang Tidak Sesuai Sunnah

  • Sebagai catatan, jumlah dzikir-dzikir Nabi terbanyak adalah seratus di pagi hari dan seratus di sore hari. Sementara riwayat yang menyebutkan dzikir hingga seribu, seratus ribu, atau suatu bilangan yang diada-adakan itu munkar karena haditsnya dha’if bahkan palsu. (Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha-‘iifah no. 5296).
  • Tidak semua bacaan yang tersebar sebagai dzikir pagi-petang memiliki dasar dari Nabi ﷺ. Dzikir yang tidak memiliki dalil dari Al-Qur’an atau hadis sahih—atau yang hanya dijadikan rutinitas harian tanpa panduan syariat—termasuk amalan yang tidak sesuai sunnah. Para ulama menegaskan bahwa dzikir pagi-petang harus mengikuti kaidah tawqîf, yaitu ibadah yang hanya boleh dilakukan sesuai perintah Nabi ﷺ tanpa tambahan atau pengurangan.
  • Salah satu bentuk dzikir yang tidak sesuai sunnah adalah menetapkan jumlah tertentu yang tidak pernah ditetapkan oleh Rasulullah ﷺ, seperti bacaan tertentu 1000 kali setiap pagi, atau menambah lafaz-lafaz yang tidak ada rujukannya. Dzikir seperti ini menjadi bid‘ah idhâfiyah, yaitu dzikir yang sebenarnya lafaznya baik tetapi tata cara, waktu, atau jumlahnya tidak sesuai tuntunan. Para ulama besar seperti Ibn Taimiyah, Ibn al-Qayyim, dan al-Suyuthi mengingatkan bahwa menambah-nambahi tata cara dzikir tanpa dalil adalah bentuk menyelisihi petunjuk Nabi.
  • Bentuk lain yang tidak sesuai sunnah adalah dzikir kolektif yang dilantunkan dengan satu suara secara teratur setiap pagi-petang, karena tidak ada satu pun hadis sahih yang menunjukkan Nabi ﷺ atau para sahabat melakukan dzikir harian secara berjamaah dengan lantunan tertentu. Dzikir berjamaah tidak terlarang secara mutlak, tetapi tidak boleh dijadikan ritual harian dengan format baku, irama seragam, atau dipimpin komando—kecuali dzikir yang memang ada tuntunannya seperti zikir setelah shalat.
  • Selain itu, dzikir yang mengandung lafaz-lafaz asing—misal bacaan panjang yang tidak jelas maknanya, atau hizib tertentu yang diyakini memiliki kekuatan magis—juga termasuk tidak sesuai sunnah. Dzikir yang benar adalah yang maknanya jelas, bersumber dari wahyu, dan membawa ketenangan melalui pengagungan Allah, bukan yang mengandung unsur mistik atau keyakinan bahwa bacaan tertentu bisa menjadi tameng tanpa keimanan dan ketaatan. Dengan mengikuti dzikir sahih, seorang muslim mendapatkan perlindungan Allah secara benar, sebagaimana janji Rasulullah ﷺ dalam banyak hadis shahih

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *