Persamaan dan Perbedaan Tauhid Muhammadiyah, Salafi, dan Asy’ari
Abstrak
Tulisan ini membahas persamaan dan perbedaan konsep ketauhidan antara tiga arus pemikiran besar dalam Islam Sunni: Muhammadiyah, Salafi, dan Asy’ariyah. Ketiganya sama-sama berada dalam kerangka Ahlus Sunnah wal Jama’ah, namun memiliki pendekatan metodologis, epistemologis, dan teologis yang tidak sepenuhnya identik. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif berbasis literatur klasik ulama Ahlus Sunnah serta hasil tarjih dan fatwa kontemporer. Hasil kajian menunjukkan adanya kesatuan pada aspek uluhiyyah, rububiyyah, dan akidah dasar, tetapi juga perbedaan dalam pendekatan terhadap sifat-sifat Allah, metodologi tafsir ayat mutasyabihat, serta penggunaan akal dalam teologi.
Kajian mengenai perbandingan aliran teologi Islam selalu relevan, terutama ketika menyangkut tiga kelompok pemikiran penting: Muhammadiyah, Salafi, dan Asy’ariyah. Ketiganya banyak mempengaruhi perkembangan pemikiran umat Islam di Indonesia. Meskipun berasal dari latar historis yang berbeda, ketiganya memiliki klaim sebagai bagian dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan mempertahankan tauhid sebagai inti ajaran Islam.
Di era modern, perbedaan tersebut sering menimbulkan diskusi bahkan ketegangan, terutama terkait persoalan sifat Allah, takwil, peran akal, dan metode memahami nash. Penelitian komparatif ini bertujuan memberikan pemahaman ilmiah, adil, dan proporsional, sehingga umat dapat melihat persamaan fundamental yang menyatukan, sekaligus memahami keragaman ijtihad yang memperkaya khazanah pemikiran Islam.
Ketuganya dalam kesamaanmetode memahami tauhid pada dasarnya sama—yakni sama-sama menetapkan keesaan Allah dalam dzat, sifat, perbuatan/af‘al, dan uluhiyyah. Saya juga menambahkan kalimat penghubung yang menunjukkan bahwa HPT Muhammadiyah (Kitab al-Iman) menegaskan hal yang sejalan dengan Asy‘ariyah dan Salafi dalam aspek keesaan Allah secara menyeluruh.
Persamaan Tauhid Muhammadiyah – Salafi – Asy’ariyah
Meskipun lahir dari latar sejarah dan metodologi yang berbeda, Muhammadiyah, Salafi, dan Asy’ariyah memiliki persamaan fundamental dalam prinsip tauhid. Ketiganya sepakat bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Esa, satu-satunya yang berhak disembah, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam uluhiyyah, rububiyyah, maupun sifat-sifat-Nya. Dalam Kitab al-Iman (HPT Muhammadiyah), tauhid ditegaskan sebagai tauhid al-ahadiyyah, yaitu mengesakan Allah dalam dzat, sifat, dan af‘al-Nya—sejalan dengan rumusan Salafi dalam tiga kategori tauhid dan rumusan Asy‘ariyah yang menetapkan keesaan Allah dalam dzat, sifat, dan perbuatan-Nya. Dengan demikian, secara prinsip dasar, ketiganya berada dalam satu fondasi tauhid yang sama.
Ketiga kelompok ini juga sama-sama menolak segala bentuk syirik, baik syirik besar maupun syirik kecil. Syirik dianggap sebagai dosa terbesar yang membatalkan tauhid dan tidak diampuni bila tidak ditaubati sebelum mati. Ketiganya menegaskan bahwa akidah harus dibangun di atas dalil Al-Qur’an, Sunnah sahih, dan ijma’ ulama. Perbedaan metodologis dalam memahami sifat Allah tidak menggugurkan kesatuan akidah mereka, selama tetap berada pada koridor Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Persamaan lainnya terletak pada komitmen terhadap pembersihan ajaran Islam dari praktik bid’ah, khurafat, dan keyakinan yang dapat merusak kemurnian tauhid. Perbedaan mereka bukan terletak pada tujuan, tetapi pada batasan dan metodologi penetapan suatu amalan disebut bid’ah. Salafi paling ketat secara tekstual; Muhammadiyah moderat dan berbasis tarjih kontekstual; sedangkan Asy‘ariyah memberi ruang pada tradisi umat selama tidak bertentangan dengan prinsip dasar tauhid. Namun ketiganya tetap sepakat bahwa kemurnian akidah adalah pusat pembentukan umat yang kuat secara spiritual dan moral.
Definisi Tauhid Menurut Tiga Kelompok
1. Tauhid Menurut Muhammadiyah
Muhammadiyah mendefinisikan tauhid sebagai pemurnian seluruh praktik ibadah, keyakinan, dan hubungan sosial kepada Allah semata berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah sahih. Dalam Himpunan Putusan Tarjih, khususnya Kitab al-Iman, tauhid ditegaskan sebagai mengesakan Allah (al-Ahad) dalam uluhiyyah, rububiyyah, sifat-sifat-Nya, dan af‘al-Nya. Muhammadiyah menetapkan seluruh sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam nash tanpa tasybih (penyerupaan) dan tanpa ta‘thil (penolakan), serta membuka ruang takwil yang sangat terbatas bila darurat dan sesuai kaidah bahasa Arab.
Selain aspek teologis, tauhid bagi Muhammadiyah memiliki dimensi sosial: menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, keadilan, dan pemberdayaan umat. Karena itu, tauhid tidak dipandang semata doktrin metafisik, tetapi menjadi dasar etika sosial, pendidikan, dan kemanusiaan. Pendekatan ini lebih moderat, menghindari penilaian sesat terhadap sesama Muslim selama tidak terdapat syirik besar atau penolakan terhadap perkara ma‘lum minad-din bid-dharurah.
2. Tauhid Menurut Salafi
Gerakan Salafi—yang merujuk kepada manhaj ulama Hanbali klasik seperti Imam Ahmad, Ibn Taymiyyah, dan Ibn Qayyim—menekankan tauhid dalam tiga kategori: tauhid uluhiyyah, tauhid rububiyyah, dan tauhid asma’ wa sifat. Penegasan terbesar berada pada tauhid asma’ wa sifat, yaitu menetapkan seluruh sifat Allah sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah tanpa takwil, tanpa tasybih, tanpa ta‘thil, dan tanpa takyif. Salafi cenderung menolak takwil kecuali dalam keadaan sangat terbatas dan mengutamakan metode tafwidh makna kaifiyah (menyerahkan bagaimana hakikatnya kepada Allah).
Gerakan ini memandang pemurnian tauhid sebagai inti dakwah dan dasar dalam menilai praktik keagamaan. Karena itu, Salafi sangat menolak bid’ah dalam ibadah dan lebih bersifat tekstual dalam memahami nash. Mereka menempatkan kemurnian akidah dan keteladanan generasi salaf sebagai fondasi utama dalam ibadah ritual dan kesalehan pribadi.
3. Tauhid Menurut Asy’ariyah
Aliran Asy’ariyah, yang dirumuskan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy‘ari (w. 324 H), mendefinisikan tauhid sebagai itsbāt al-wahdāniyyah—menetapkan bahwa Allah Esa dalam dzat, sifat, dan perbuatan-Nya. Konsep ini secara substansi sejalan dengan penggolongan modern mengenai tauhid uluhiyah, rububiyah, dan asma’–sifat, meskipun Asy‘ariyah menggunakan terminologi yang berbeda. Mereka menegaskan keberadaan sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis, namun tidak memahaminya secara antropomorfis. Ketika teks mutasyabihat berpotensi menimbulkan tasybih, Asy’ariyah menerapkan takwil ijmali (penyerahan makna secara global) atau takwil tafsili (penafsiran makna secara lebih spesifik) berdasarkan kaidah bahasa Arab dan dalil-dalil yang lebih kuat.
Dalam kerangka epistemologis, Asy’ariyah memberikan ruang yang luas bagi rasionalitas (al-‘aql) sebagai perangkat analisis, tetapi tetap menempatkannya di bawah otoritas wahyu (an-naql). Pendekatan ini berfungsi sebagai penengah antara ekstremisme rasionalitas Muktazilah dan ekstremisme literalisme sebagian kelompok. Secara metodologi, teologi Asy’ariyah memiliki kecenderungan lebih filosofis dibandingkan pendekatan tajdid-skripturalis Muhammadiyah maupun pendekatan tekstual-murni pada mazhab Salafi. Tidak mengherankan bila Asy’ariyah kemudian menjadi fondasi teologi resmi di berbagai institusi Islam klasik, seperti Al-Azhar, Zaitunah, dan madrasah-madrasah tradisional di dunia Islam.
Tabel Persamaan Tauhid Muhammadiyah – Salafi – Asy’ari
| Aspek | Muhammadiyah | Salafi | Asy’ariyah | Persamaan |
|---|---|---|---|---|
| Status Sunni | Ya | Ya | Ya | Semua Ahlus Sunnah wal Jama’ah |
| Tauhid Uluhiyyah | Diterima | Sangat ditekankan | Diterima | Sama-sama menegakkan ibadah hanya kepada Allah |
| Tauhid Rububiyyah | Diterima | Ditekankan | Diterima | Allah satu-satunya pencipta dan pengatur |
| Larangan Syirik | Tegas | Sangat tegas | Tegas | Ketiganya sepakat syirik adalah dosa terbesar |
| Dalil | Al-Qur’an & Sunnah | Al-Qur’an & Sunnah | Al-Qur’an & Sunnah | Dasar dalil sama |
| Bid’ah | Dihindari | Sangat ditolak | Dihindari | Sama-sama ingin memurnikan ibadah |
Meskipun Muhammadiyah, Salafi, dan Asy’ariyah memiliki perbedaan metodologi dalam memahami sifat-sifat Allah dan pendekatan terhadap teks mutasyabihat, ketiganya memiliki persamaan mendasar dalam hal prinsip tauhid. Ketiganya menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah (tauhid uluhiyah), satu-satunya Pencipta dan Pengatur alam semesta (tauhid rububiyah), serta memiliki nama dan sifat yang sempurna (tauhid asma’–sifat) sesuai dengan ketentuan syariat. Tidak satu pun dari ketiga aliran ini yang membolehkan syirik, tathaght, atau bentuk perantara yang menyalahi prinsip tauhid. Semua sepakat bahwa ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah semata, bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya, serta bahwa tidak ada makhluk yang memiliki kekuasaan hakiki selain Dia.
Di samping itu, ketiga aliran sepakat bahwa dalil tauhid bersumber dari Al-Qur’an, hadis sahih, dan ijma’ umat. Perbedaan yang ada hanya terletak pada cara memahami dalil tersebut, bukan pada hakikat tauhid itu sendiri. Dalam konteks akidah inti, seluruh aliran menolak ateisme, politeisme, dan konsep ketuhanan non-Islam. Kesamaan ini menunjukkan bahwa meskipun umat Islam memiliki keberagaman metode teologis—apakah lebih tekstual (Salafi), lebih rasional moderat (Asy’ariyah), atau lebih tajdid-skripturalis modern (Muhammadiyah)—semuanya tetap berada dalam koridor akidah Islam Ahlus Sunnah yang berdiri di atas fondasi tauhid yang sama. Kesamaan ini menjadi dasar kokoh persatuan umat di tengah perbedaan ijtihad teologis.
Tabel Perbedaan Tauhid Muhammadiyah – Salafi – Asy’ari
| Aspek | Muhammadiyah | Salafi | Asy’ariyah |
|---|---|---|---|
| Pendekatan Ayat Mutasyabihat | Tawbidh + takwil terbatas | Tawbidh tanpa takwil | Takwil luas jika perlu |
| Peran Akal | Moderat | Minim, tekstual | Kuat, rasional |
| Sifat Allah | Ditapkan sesuai nash, takwil jika darurat | Ditapkan tanpa takwil | Ditapkan tetapi boleh ditakwil |
| Metode Teologi | Salaf namun moderat | Murni salaf | Teologi rasional-moderat |
| Dalil Akal vs Dalil Naqli | Naqli utama | Naqli dominan | Sintesis akal–naqli |
| Sikap terhadap Bid’ah | Moderat | Ketat | Moderat |
| Basis Literatur | Al-Qur’an, Sunnah, tarjih | Ulama Hanbali klasik | Ulama Asy’ari klasik |
Perbedaan terbesar terletak pada metode memahami sifat-sifat Allah. Salafi cenderung tekstual dan menolak takwil; Asy’ari menerima takwil dalam batas tertentu; sementara Muhammadiyah berada di antara keduanya: menetapkan seperti Salafi tetapi membuka ruang takwil jika diperlukan untuk menghindari makna yang tidak layak bagi Allah. Perbedaan berikutnya adalah posisi akal: Asy’ari menganggap akal berfungsi penting dalam memahami dalil; Salafi meminimalkan akal; Muhammadiyah mengambil posisi tengah.
Perbedaan ini tidak menyentuh inti tauhid rububiyyah dan uluhiyyah, melainkan berada pada wilayah metodologi. Karena itu, secara substansi ketiganya tetap dalam payung Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Perbedaan metodologis ini justru menjadi kekayaan keilmuan Islam sepanjang sejarah.
Penutup
Kajian ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah, Salafi, dan Asy’ari memiliki persamaan fundamental sebagai bagian dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah: sama-sama menegakkan tauhid, menjauhi syirik, dan menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber utama. Perbedaannya lebih bersifat metodologis terkait penafsiran sifat Allah, takwil, dan peran akal. Pemahaman yang adil dan ilmiah terhadap ketiganya diharapkan dapat mengurangi polarisasi dan memperkuat ukhuwah Islamiyah. Keragaman metode teologi dalam Islam merupakan hal yang sah dan telah diakui ulama sepanjang sejarah.
Daftar Pustaka
- Ibn Taymiyyah. Majmu’ al-Fatawa. Riyadh: Dar al-Wafa. Karya ini membahas metode Salaf dalam memahami sifat Allah tanpa takwil dan menjadi rujukan utama gerakan Salafi kontemporer.
- Abu al-Hasan al-Asy‘ari. Al-Ibanah ‘an Ushul al-Diyanah. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah. Buku ini menjadi referensi primer teologi Asy‘ari mengenai sifat-sifat Allah, takwil, dan konsep tauhid klasik.
- Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah. Himpunan Putusan Tarjih. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah. Referensi utama pemikiran akidah dan manhaj Muhammadiyah yang menunjukkan posisi moderat dalam memahami sifat Allah dan bid’ah.
- Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ Ulumuddin. Darul Ma’rifah. Sebuah karya monumental yang mewakili teologi Asy’ari dalam pendekatan etika dan tasawuf sekaligus menampilkan moderasi dalam pemahaman tauhid.
Dr Widodo Judarwanto, pediatrician


















Leave a Reply